
Kedatangan Jia Mee membuat selera makan Bian jadi hilang. Wanita yang bersikap tidak seperti usianya itu hanya bisa membuat Bian muak saja. Ia pun memalingkan pandangannya dan malah menatap Wafa.
"Mas, kenapa menatap saya?" tanya Wafa berbisik. Wafa masih belum lancar memanggil Bian dengan sebutan terbarunya.
Bian menyudutkan bibirnya, tersenyum tipis karena merasa mendapatkan suntikan energi dari Wafa karena memanggilnya dengan sebutan Mas. 'Rupanya gadis ini bisa menyusahkan diri,' batinnya.
"Saya tidak ingin melihat wanita berisik itu. Jadi akan jauh lebih baik jika saya memandangimu saja," suara lembut Bian itu membuat Wafa tersipu.
Tapi seketika Wafa tersadar dengan apa yang ia rasakan. 'Astaghfirullah, kenapa aku malah tersipu. Tidak, ini hanya akting, bukan? Tapi apa yang sebelumnya Pak Bian katakan pada keluarganya?' batinnya mulai bergejolak.
"JiJi? Kenapa kamu terus bersamanya, siapa dia, lalu kenapa kamu mengabaikan aku!" Jia Mee sampai geram karena kecuekan Bian padanya.
"Wafa, kamu mau menambah kebabnya lagi? Aku akan panggilkan kokinya jika kaki mau nambah," Bian masih mengabaikan Jia Mee dan memilih menawarkan kebab pada Wafa. Sengaja Bian juga bicara menggunakan bahasa Inggris, tentunya Jia Mee juga mengerti.
"Um, baiklah, Mas. Saya mau nambah satu porsi lagi. Jika mau, bagaimana jika kita kongsi?" Wafa larut dalam sandiwara itu, meski ia tidak tahu jika Bian sudah memperkenalkan dia sebagai calon istrinya.
"Boleh, aku akan panggilkan koki-nya," Bian memberikan kode pada pelayan supaya dipanggilkan koki yang ia sewa malam itu supaya segera membuatkan satu porsi kebab untuknya.
Jia Mee yang tak terima diabaikan, dengan kasar mendorong Wafa dari kursinya sampai terjatuh. Inneke yang melihat itu langsung berdiri, ia tak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.
"Tenanglah~" bisik Zaka Yang.
Amarah Bian tak dapat lagi dibendung. Sebelumnya ia masih bisa sabar keluarganya menghina Wafa, tapi tidak bagi Jia Mee. Wanita itu berlaku kasar pada Wafat tentunya Bian tidak terima itu.
"Wafa, kemarilah ...." Bian membantu Wafa berdiri.
Gaun yang indah itu terkena orange jus juga, baru saja ditumpahkan oleh Jia Mee.
"Apa kau sudah gila?" sentak Bian pada wanita itu.
"JiJi, aku hanya ingin menahan gelas itu supaya tidak jatuh mengenai kepalanya, bahayakah? Eh, ketika aku hendak meraihnya, malah tidak sengaja tumpah, sorry ...." alasan Jia Mee..
Plak!!
Tanpa basa-basi dan banyak bicara lagi, Bian menampar keras pipi Jia Mee. Wanita manja itu sampai tersungkur karena tamparan maut Bian.
__ADS_1
Seluruh keluarga yang menyaksikan sama-sama terkejut. Tak menyangka jika Bian bisa seperti itu terhadap seorang wanita, apalagi wanita itu digadang-gadang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
"Gaunmu kotor, aku memesan satu gaun lagi untukmu ganti," Bian begitu mengkhawatirkan Wafa.
"Tidak perlu. Anda hanya perlu mengantar saya pulang saja, sepertinya saya harus pulang. Saya tidak cocok berada disini, Pak Bian," bisik Wafa.
Adik tiri Bian membantu Jia Mee berdiri. Wanita manja itu juga langsung menghampiri Bian yang saat itu sedang sibuk bersama dengan Wafa. "JiJi, teganya kamu melakukan ini padaku," desisnya.
"Kakak, kenapa kamu begitu kejam pada kak Jia Mee? Apa kesalahannya, mengapa kamu juga membela wanita ****** ini?" adik tiri Bian merasa tak terima.
"Aku sudah menegaskan bahwa dia adalah calon istriku. Jika aku sudah mengatakan demikian, maka keputusanku tidak bisa diubah lagi," tegas Bian, pada seluruh keluarganya.
"Kau, akan jauh lebih baik jika jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Jika kalian merasa tidak puas dengan keputusanku, maka silahkan saja angkat kaki di rumah ini," lanjut Bian dengan tatapan sengit.
"Ayo!" Bian memimpin jalan Wafa.
Tak mengerti apa yang dikatakan oleh Bian pada keluarganya, feeling Wafa sangat kuat. Dia merasa tidak enak hati pada keluarganya tentang sifat Bian itu.
"Pak Bian, saya ingin pulang," pinta Wafa. "Jika anda tidak bisa mengantar saya pulang, Anda bisa mengatakan dimana alamat apartemennya, saya akan pulang sendiri," lanjutnya.
"Tak bisakah kamu menemani saya sampai akhir acara? Akan ada pertemuan dengan klien setelah ini. Saya ingin kamu jadi pendamping saya dalam acara itu. Apa kamu tidak sudi?" pertanyaan yang mengandung keterpaksaan.
Wafa tidak sanggup untuk menolaknya. Akhirnya dia menyetujui Bian dan mau mengganti gaunya dengan yang baru. Gaun itu juga sudah sampai diantar langsung oleh Edrick.
***
Setelah makan malam bersama keluarga, pertemuan para pengusaha diadakan. Meski di keluarga Bian, Wafa dikenalkan sebagai calon istrinya, Bian belum mau mengatakan itu di pihak umum. Privasi dan keamanan Wafa penting baginya. Tapi tetap saja Bian memperkenalkan Wafa pada semua orang.
Bian sedang sibuk bertemu dengan orang penting, Wafa memilih duduk sendirian di kursi belakang. Jia Mee datang bersama dengan adik tiri Bian. Jia
"Kau!" sembur wanita itu.
Wafa berdiri.
"Kau—dasar jjalang tidak tahu diri!" hina Jia Mee pada Wafa. Saat itu dia menggunakan bahasa Inggris jadi Wafa langsung tahu apa yang dikatakannya.
__ADS_1
"Sampah tidak berguna sepertimu, tidak cocok disandingkan dengan JiJi-ku. Apa kau mengerti?!" tegas Jia Mee lagi.
Wafa menatap dengan wajah polosnya. "Saya tidak mengerti apa yang anda katakan, Nona. Maksudnya apa, ya?"
Seperti pahlawan, Grietta yang tidak terima ibunya di hina membelanya dan membuat semua orang terkejut karena gadis itu bisa bicara.
"Jangan ganggu Mamaku!" teriak gadis kecil itu.
Jia Mee gagal memberitahu apa yang Bian katakan pada keluarganya. Semua menoleh ke arah Grietta yang saat itu berlari ke arah perdebatan mereka.
"Mengapa kamu menindas Mamaku? Apa salahnya? Pergi!" Grietta mendorong Jia Mee dan adik tiri ayahnya.
"Grietta," Wafa langsung menarik gadis kecil itu dalam pelukannya.
"Iblis kecil, berani-beraninya kamu mendorongku?" sentak Jia Mee.
"Memangnya kenapa? Mamaku orang baik, tidak seperti bibi yang jahat! Bibi jelek, bibi jelek!" ledek Grietta dengan kemarahannya.
Saat itu, Jia Mee yang kesetanan mengangkat tangannya pada Grietta. Beruntung saja Wafa langsung menjadi garda terdepan bagi gadis kecil itu.
"Jika kamu berani menampar putriku, Apakah kamu akan berurusan denganku, Nona Hui!" desis Wafa.
Bian yang mendengar itu langsung menghampirinya.
"Ada apa lagi ini?" tanyanya.
"JiJi~" baru saja Jia Mee hendak memeluk Bian dengan manjanya, Bian langsung menghindarinya.
"Wafa, apa kamu baik-baik saja?" tanya Bian khawatir.
"Kakak!" teriak adik tiri Bian. "Dia yang salah, dia yang memulai dulu, mengapa kamu hanya bertanya padanya? Bagaimana dengan kakak Jia Mee?" lanjutnya.
Bian menoleh ke arah keduanya. Kemudian menghampiri Jia Mee yang sudah mulai bahagia karena merasa dipedulikan. "Apa dia sangat penting sampai aku harus memikirkan dirinya?" desisnya.
Duda kaya itu juga membela Wafa tentunya dan langsung membawanya pergi dari acara tanpa mengatakan apapun pada Jia Mee.
__ADS_1
"JiJi, aku hamil!"