Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
No Bapak, Tapi Mas


__ADS_3

"JiJi!"


Seorang wanita memanggil nama Bian dari kejauhan.


'Jijik? Kenapa manggilnya dengan nama itu?' Wafa sedang mode off telinganya.


Wanita itu langsung menerobos Wafa dan berdiri di sisi Bian. "JiJi, kamu kapan pulang? Mengapa ayah dan ibu tidak memberitahuku jika kamu sudah pulang?" tanyanya, merangkul lengan Bian.


"Apakah itu penting bagimu, Nona Hui?" Bian melepaskan rangkulan tangan wanita itu dengan pelan, kemudian menarik lengan Wafa supaya dia berdiri di sisinya.


"Kamu bisa mengenalku meski aku sudah memakai baju tertutup seperti ini? Astaga, apa orang lain juga bisa melihatku? Habislah aku, bagaimana jika ada yang menyerbu ingin berfoto dan meminta tanda tanganku?" celetuk wanita itu.


"Eh, lepaskan!" wanita itu menepis tangan Bian yang sejak tadi masih menggenggam bawah lengan Wafa.


"Siapa kau? Mengapa kau disini? Apa kau penggemarku? Hah, apa jangan-jangan kau adalah hatersku yang ingin membuat gosip buruk tentangku bersama dengan JiJi?"


Wafa sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh wanita itu, persis seperti Grietta waktu pertama kali ikut Wafa ke pesantren, hanya bisa diam dan matanya bertanya-tanya.


"Kamu jangan hiraukan dia. Ayo, sebaiknya kita segera pergi dari sini, atau kita akan repot sendiri karenanya," bisik Bian, menarik tangan Wafa kembali.


Meski tidak langsung menyentuh kulit, tetap saja Wafa sedikit terkejut karena Bian memegang tangannya.


"JiJi! Jangan pergi!"


Wanita bernama Hui Jia Mee itu lari mengikuti kemana Bian dan Wafa pergi. Tapi tetap saja Bian bersikap seolah jika dirinya sama sekali tidak mengenalnya. Tapi Jia Mee tidak menyerah, dia terus saja berusaha supaya Bian melihatnya.


"JiJi, untuk apa kamu belanja? Biasanya akan ada pelayan yang membeli semua kebutuhan dapur, 'kan? Hish, di sini banyak sekali orang, aku tidak nyaman," ujar Jia Mee.


"Bisakah kita segera pulang? Aku sudah sangat merindukanmu, JiJi," imbuh Jia Mee memasang wajah melas meski saat itu dia mengenakan kacamata hitam.

__ADS_1


Memakai hoodie oversize, sepatu boot hitam dan memakai kaca mata hitam, belum lagi memakai masker dan menutup kepalanya menggunakan topi hoodie, berasa dirinya takut dikenali banyak orang. Padahal hanya seorang putri dari keluarga kaya raya dan baru saja menjadi model sabun cuci piring.


"Pak Bi ... Mas Bian. Apakah tidak sebaiknya anda jangan mengabaikannya? Saya merasa kasihan padanya," Wafa sampai tak enak hati karena perlakuan Bian pada Jia Mee.


"Wanita ini menyebalkan, dia sangat berisik, akan lebih baik jika kita tidak terjebak bersamanya. Ayo, kita memilih daging," sahut Bian.


"Hei, apa yang kalian bicarakan?" tanya Jia Mee. "Eh, kalian mau kemana? Tunggu aku!" teriaknya.


Jia Mee masih saja mengikuti kemanapun Bian dan Wafa pergi. Bahkan sampai di kasir pun Jia Mee terus berada di belakang mereka berdua.


"Wafa, bisakah kamu membantu saya? Troli ini kita bawa sampai parkiran, nanti kamu bantu saya memasukkan belanjaan kita ke bagasi, ya ..." pinta Bian dengan suaranya yang lembut.


Wafa mengangguk dengan senyuman.


'JiJi, aku baru pertama kali ini dia bicara dengan lembut pada orang lain. Bahkan padaku saja selalu bersikap dan bicara dingin sekali, dia juga selalu angkuh jika berhadapan dengan kedua orang tuaku. Siapa wanita itu, mengapa JiJi-ku terus saja memandanginya dengan hangat?' batin Jia Mee.


Wafa senang sekali bisa membeli bahan-bahan pangan, sudah gatal tangannya ingin memasak sendiri daripada membeli. Produk yang ia beli juga semuanya dari tanah air, jadi tidak terlalu ragu jika suatu saat hendak memasaknya.


"Bisakah kita bertemu dengan Grietta? Saya sudah sangat merindukannya, M-Mas ..."


Wafa yang belum terbiasa cara memanggil Bian, membuat Bian merasa bersalah karena memaksanya. Tapi bagi Bian, sebutan Mas adalah sebutan yang indah di telinganya.


"Jika kamu masih belum terbiasa, kamu bisa memanggil saya dengan sebutan Bapak," suara yang terdengar lesu itu membuat Wafa sedih. "Grietta sudah menunggu di apartemen, jadi kita langsung pulang saja," imbuhnya masih dengan suara yang sama.


Kesedihan yang Wafa rasakan juga bukan tanpa alasan. Hati yang sebelumnya sudah mulai terbuka untuk Bian, membuatnya sedih mendengar ketidak sediaannya Bian dipanggil dengan sebutan 'Bapak' tapi duda itu tetap tak ingin memaksanya.


"Hei, kalian!" teriak Jia Mee.


Bian menoleh, "Kamu masih di sini?" tanyanya.

__ADS_1


"Ya! Aku masih disini dan melihat kalian selalu romantis seperti suami-istri. Apakah kalian tidak menganggap keberadaanku?!" Jia Mee merajuk seperti anak kecil.


"Nona Hui, mengapa kamu tidak pernah bersikap sesuai umurmu? Bahkan putriku yang berusia 6 tahun saja bisa jauh lebih dewasa darimu," ujar Bian.


Jia Mee langsung menekan dadanya. "Hah? Astaga ... astaga, astaga, astaga, teganya kamu mengatakan itu, JiJi?"


"Sudahlah, tidak ada waktu lagi untuk berurusan denganmu. Wafa, ayo kita pergi," lagi-lagi Bian meraih lengan Wafa.


"Hei!" teriak Jia Mee. "Ayo, lepaskan tanganmu itu dari tangan wanita ini, JiJi!" tegasnya. "Shhh, lepaskan!" dengan paksa Jia Mee menepisnya.


"Ada apa denganmu?" Bian pun protes.


Auranya langsung berbeda saat itu. Sebelumnya begitu hangat hingga hanya kelembutan dan juga kehangatan saja yang terpancar. Namun saat itu, mata yang dipenuhi amarah dan juga aura kegelapan seperti menyelimuti wajah serta tubuhnya. Jia Mee langsung mengkerut karena tahu akan berakhir seperti apa jika dirinya terus keras kepala.


"Mas, ayo ...." ajak Wafa.


Aura kegelapan seketika langsung sirna dengan awan putih dan membuat bunga-bunga bermekaran di sekitar wajahnya Bian begitu mendengar suara Wafa.


"Ayo," kembali Wafa mengajaknya pergi.


Bian mengangguk, dan mereka pun meninggalkan Jia Mee sendirian. Wanita yang baru saja menjadi model iklan sabun cuci piring.


"Siapa wanita itu? Mengapa JiJi-ku bisa ... tidak! Aku harus selidiki siapa wanita itu. Berani-beraninya dia mengambil priaku!" kesal Jia Mee.


Di mobil, Wafa masih diam saja karena mengingat betapa menegangkan ketika melihat Bian sudah marah. Bian memang tidak melakukan tindak kejahatan ataupun mengeluarkan kata-kata kasar. Namun dari tatapan matanya saja sudah membuat Wafa takut.


"Malam nanti kamu masih bertemu dengan wanita itu. Jadi persiapkan dirimu untuk menghadapinya," ucapan Bian memecah lamunan Wafa.


"Eh, gimana?" tanya Wafa.

__ADS_1


"Wanita tadi ... namanya Jia Mee. Sejak kecil kami sudah dijodohkan dan dia digadang-gadang akan cocok menjadi istri masa depan saya. Tapi saya tidak pernah menyetujui pembicaraan para orang tua ini," ungkap Bian. 'Karena hanya kamu yang ingin aku umumkan menjadi Nyonya Ji Xie malam nanti.' batinnya.


"Jika begitu, mengapa tadi anda tinggalkan dia? Apakah malah tidak akan menjadi masalah nantinya?" suara Wafa menjadi melemah. Sepertinya ia kecewa dengan kenyataan itu.


__ADS_2