Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Pengasuh Rusuh


__ADS_3

"Baiklah, baiklah ..."


"Maaf."


Permintaan maaf dari Bian membuat Wafa heran. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap mata Bian. Ketiga kalinya selama dua bulan mengenal Wafa, Bian berkontak langsung dengan mata Wafa.


"Untuk apa Bapak minta maaf pada saya?" tanya Wafa mendongakkan kepalanya.


"Saya membuat kamu kesal. Makanya saya harus minta maaf," jawab Bian. "Entah kenapa rasanya tidak menyenangkan ketika kamu kesal seperti itu pada saya," imbuhnya lirih.


Wafa tersipu malu, segera memalingkan wajahnya dan berkata, "Tidak masalah, Pak Bian. Saya juga hanya bercanda."


Tiba-tiba keadaan menjadi canggung. Beberapa saat diam, Bian mengajak Wafa berfoto menggunakan ponselnya. Awalnya Wafa sempat menolak.


"Berfoto?" tanya Wafa. "Saya dengan Bapak, gitu?"


Bian mengangguk. "Iya, memangnya kenapa?"


Wafa menjelaskan bahwa dirinya tidak mungkin foto dengan seorang pria yang bukan mahramnya. Takutnya, nanti akan terus dilihat oleh Bian malah akan menambah dosa jariyah saja.


"Saya hanya mengajakmu berfoto, bukan melakukan hal aneh. Mengapa ekspresimu seperti itu? Salahkah?" tanya Bian.


"Tidak salah, tapi saya mana mungkin berfoto dengan anda, Pak Bian." jawab Wafa dengan gugup.


Wafa kembali menundukkan kepalanya. Bian menghela nafas panjang, kemudian mengatakan jika dirinya tidak akan memaksa. Bian tidak mau membuat ada masalah diantara mereka, jadi cukup mengikuti apa yang memang tidak boleh dilakukan dalam keyakinannya Wafa saja.


"Terima kasih sudah menghormati keputusan saya, Pak Bian," ucap Wafa.


"Tenang saja. Untuk apa kamu berterima kasih? Lagipula jika dalam keyakinanmu saja tidak memperbolehkan, apa boleh buat? Saya tidak mungkin menentang kuasa Tuhan 'kan?" sahut Bian dengan senyuman.


Pengasuh yang menyukai Bian tadi datang menghampiri mereka. Dengan percaya dirinya ingin meminta berfoto bersama dengan Bian.


"Permisi mohon maaf ganggu waktunya sebentar, boleh?" tanya pengasuh itu.

__ADS_1


Wafa sudah membalas dengan senyuman. Namun tidak dengan Bian.


"Tidak!" jawab Bian.


Seketika senyumnya Wafa hilang, berubah menjadi rasa heran mengapa Bian menolaknya. Wafa memberi kode seolah-olah dia bertanya kenapa biar menjawab tidak.


"Kalau boleh tahu, kenapa tidak boleh, Tuan?" tanya pengasuh itu lagi. "Saya sudah lama mengagumi Tuan Hutomo. Saya minta waktunya sebentar untuk berfoto bersama dengan anda, Tuan." sambungnya.


Bian menggelengkan kepala. Dia tetap tidak mau diajak foto dengan pengasuh tersebut.


"Boleh saya tahu, alasan anda menolak saya ajak foto?" tanya pengasuh itu.


"Karena tidak penting," jawab Bian. "Apa kamu tidak melihat, siapa yang ada di samping saya?" Bian menatap Wafa.


Pengasuh itu menggertakkan gigi, tangannya mengepal, keningnya juga mengkerut. Tidak terima dengan jawaban Bian. Tapi karena tidak mau malu, pengasuh itu memohon pada Wafa.


"Nyonya Hutomo, boleh kah saya foto sebentar saja dengan suami Anda? Saya yakin sekali bahwa Nyonya adalah orang yang baik. Jadi tolong izinkan saya dan bujuk Tuan Hutomo untuk berfoto sama saya, ya ..." pinta pengasuh itu.


Wafa menjadi gugup, dia tidak tahu harus menjawab apa. Masih syok dengan permainan Nyonya dan Tuan Hutomo, kali itu dia harus berusaha menjadi istri yang baik supaya suaminya tidak direbut perusak rumah tangga.


Mata uang bulat karena masih syok dengan apa yang terjadi padanya hari itu. Menjadi Nyonya Hutomo, kemudian menjadi ibunya Grietta, lalu masih harus pura-pura menjadi istri yang begitu mencintai suaminya. Satu ketika pikiran Wafa jadi blank.


Sayangnya pengasuh itu masih terus mendesak Wafa supaya mengizinkan Bian berfoto dengannya. Tapi karena Bian pun juga sudah menyenggol-nyenggol lengannya supaya Wafa mau bicara akhirnya Wafa pun menjawab.


"Sebelumnya saya minta maaf. Tapi saya tidak rela ada wanita lain yang mengajak suami saya berfoto kecuali klien atau sesama pengusaha dan sedang ada urusan bisnis," jawaban Wafa sungguh mengejutkan Bian.


Sekilas pria bermata sipit itu jadi menyudutkan bibirnya. Dia tersenyum puas dengan jawaban Wafa itu. Tapi Bian merasakan ada sesuatu yang timbul dalam hatinya ketika melihat wajah Wafa kala mempertahankan hak pura-puranya menjadi seorang istri dari Tuan Hutomo atau Tuan Huang.


'Ada apa dengan mataku? Seketika aku melihat Wafa yang begitu menarik dan juga membuat hatiku resah?' batin Bian.


Melihat wajah murung dari pengasuh itu membuat Wafa tidak enak hati. Akhirnya dia pun memberikan keputusan. "Tapi jika kamu memaksa, saya memperbolehkan kamu foto dengan suami saya." ucapnya.


Pengasuh itu langsung sumringah mendengar ucapan Wafa. Bian menganga kaget. "Apa maksudnya?" tanyanya lirih.

__ADS_1


Wafa meminta Bian untuk tenang.


"Saya memberikan kamu izin untuk foto dengan suami saya dengan satu syarat, fotonya harus ada saya dan saya harus ada di tengah antara kalian, bagaimana?" Wafa mengatakan itu dengan senyum ramah.


Cinta memang membuat seorang buta akan apapun. Pengasuh itu menerima persyaratan dari Wafa dan mereka bertiga pun berfoto bersama. Tidak lupa Bian juga meminta pengasuh itu mengirimkan dirinya pada majikannya.


"Boleh, Tuan. Akan saya kirim. Mana nomor ponsel anda?" Pengasuh itu amat girang ketika Bian meminta fotonya di kirim.


"Sstt, apa ini? Untuk apa meminta foto itu?" reflek Wafa menegurnya.


"Itu ada foto kita berdua. Jarang sekali kita bisa foto berdua," jawab Bian lirih.


Tata cara bahasa Bian terhadap wanita lain memang berbeda ketika bicara dengan Wafa. Jika dengan wanita lain bisa tegas, dingin, dan terlihat arogan. Namun ketika bicara dengan gadis berjilbab itu, malah terdengar sangat lembut sekali.


"Nanti kita foto bersama, okay?" kata Wafa dengan senyum manisnya.


"Baiklah—"


Pengasuh itu tidak tahan melihat Bian bersama Wafa. Ia pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Bahkan malah pengasuh itu terus mengumpat tentang Wafa yang dinilainya sangat buruk.


"Pengasuh itu sudah pergi. Tepati janjimu, atau aku akan melaporkan pada Grietta," ancam Bian.


"Sttt, curang! Kenapa harus bawa nama Grietta? Sungguh menyebalkan!" kesal Wafa.


"Aku tidak peduli lagi. Ayo, kita foto bersama." Bian sudah menyiapkan ponselnya.


Mau tidak mau, Wafa pun akhirnya mau juga foto bersama dengan Bian, meski Bian harus berusaha membuat Wafa tersenyum. Tapi dia tidak tamak, dia mengambil satu foto saja untuk menjadi kenangan bahwa mereka pernah pergi bersama di tempat rekreasi tersebut.


"Terima kasih." ucap Bian lirih.


Deg!


Kembali jantung Wafa berdebar ketika mendengar ucapan terima kasih itu. Kali itu, bahkan rasanya berbeda ketika dirinya menyukai Ustadz Zamil dulu. Kembali Wafa menatap pria yang duduk disampingnya, kemudian meyakinkan diri bahwa dirinya benar-benar menyukainya.

__ADS_1


'Tidak. Tidak boleh, Wafa! Tidak boleh!'


Hati, bibir dan pileoan Wafa saling bertentangan. Wafa tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan mencintai seorang yang belum bisa ia miliki. Apalagi, Wafa juga tidak tahu bagaimana perasaan Bian padanya. Hanya akan sakit jika Wafa melanjutkan perasaannya yang baru saja timbul itu. Terlebih, keduanya juga baru mengenal selama dua bulan.


__ADS_2