Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Bian Pemaksaan


__ADS_3

Wafa dan Bian mengajak Grietta untuk duduk tepat di bawah pohon yang rindang sekali, cocok untuk mereka berbicara membicarakan tentang peringatan kematian ayah kandungnya Bian.


"Grietta, apa kamu marah pada Mama? Kenapa Grietta jadi tidak mau bicara seperti ini pada Mama? Bukankah sebelumnya Grietta sudah mulai ceriwis bertanya ini itu pada Mama?" tanya Wafa.


Sebutan 'Mama' yang begitu lantang itu membuat Bian terpana. Tiba-tiba pandangan mata Bian terhadap Wafa ini dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Bahkan Bian tidak fokus dengan apa yang dibicarakan oleh Wafa, padahal Wafa sudah mengatakan jika Grietta sudah mulai ceriwis.


'Apa-apaan ini? Mama? Sejak kapan dia menyebut dirinya sebagai Mama dari putriku?' batin Bian.


Berbeda dengan Bian yang masih terpaku terhadap Wafa, Grietta malah sedang melipat tangannya dan membuang muka dari Wafa. Sama persis yang dilakukan tadi ketika bertengkar dengan Sabrina.


"Grietta, ayolah. Kenapa Grietta jadi diam seperti ini? Bukankah papamu tadi mengatakan kalau Grietta sangat menyayangi kakek ketika kakek masih hidup?" tanya Wafa lagi.


Grietta masih saja diam.


Wafa melihat ke arah Bian. "Pak Bian, bagaimana?" tanyanya lirih.


Sayangnya, Bian malah salah fokus. Pria itu terdekat oleh kecantikan Wafa. Wajah ayu Wafa ini jika dilihat memang begitu meneduhkan. Sudah hampir 1 bulan biar baru melihat Wafa lagi. Hal itu membuat duda ini kembali jatuh hati pada gadis itu.


"Pak Bian!" Wafa menepuk bahu Bian.


Akhirnya Bian tersadar dari lamunannya. "Ma-maaf, saya tidak fokus," katanya. "Oh, iya. Bagaimana?" tanyanya.


Wafa pun mendiskusikan bagaimana cara bisa membuat Grietta pulang bersama Bian ke Tiongkok untuk memperingati hari kematian ayahnya Bian. Sejatinya memang Grietta tidak mau pulang bersama dengan Bian, hanya saja, Bian yang terus memaksa supaya Grietta mau pulang bersamanya.


Setelah berdiskusi lama, Bian pun akhirnya memiliki ide yang dirasa cukup untuk membuat Grietta mau pulang bersamanya.


"Ide apa?" tanya Wafa polos.


"Saya akan membawa Grietta pulang seminggu lagi. Kamu punya paspor yang masih aktif, 'kan? Bagaimana jika kamu turut serta ikut saya ke Tiongkok? Masalah visa dan lainnya bisa diurus oleh Zaka Yang," usul Bian.


Mendengar usulan dari ayahnya membuat Grietta bersemangat. Gadis kecil itu tersenyum puas dengan keputusan ayahnya. Bahkan Grietta juga mengangguk semangat pada Wafa.


"Hei, kenapa kamu juga mengangguk? Bagaimana mungkin saya ikut bersama kalian?" Wafa menolak. "Saya tidak mau lah!"

__ADS_1


"Wafa, ayolah ... ingat dengan kontrak kita—" ucapan Bian terhenti karena Wafa berdiri.


"Pak Bian berhenti mempermainkan saya dengan kontrak itu, ya. Kontrak itu ada karena saya setuju untuk membuat Putri anda ini pulih. Dan perlu anda ketahui bahwa Grietta su—" kini giliran ucapan Wafa yang terhenti karena dihentikan oleh Grietta.


"Grietta, ada apa? Kamu sudah menganggapku sebagai Mamamu, 'kan? Jadi, biarkan Mamamu ini bicara, Grietta!" tegas Wafa.


Wafa refleks seperti memarahi Grietta. Nadanya terdengar begitu keras sampai membuat Bian pun terkejut. Duda itu berdiri dan menatap tajam kearah Wafa.


"Wafa, mengapa kamu membentaknya? Apakah ada yang salah dari usulan saya ini? Kamu bisa saja menolak, tapi tolak lah ajakan saya dengan baik. Apa kamu tidak melihat putri saya sampai ketakutan seperti ini?" Bian menarik Grietta, kemudian memeluknya.


Saat itu memang Grietta terlihat sedih, membuat Wafa semakin tidak tega. Tapi untuk ikut pergi ke acara peringatan kematian itu, sungguh menebarkan bagi Wafa sendiri.


"Grietta, Sayang. Maafkan Mama, ya ... Mama tidak bermaksud membentak kamu, kok, Sungguh!" ucapnya. "Tapi bagaimana mungkin Mama ikut pulang bersamamu dan Papa ke Tiongkok? Bagaimana dengan pendidikan dan keluarga Mama?" jelas Wafa.


Grietta melepas pelukan Bian. Gadis kecil itu menatap muka dengan mata yang memelas. Sehingga Wafa lagi-lagi tidak bisa menolak apa yang diinginkan oleh gadis kecil itu.


"Astaghfirullah hal'adzim, Grietta, ayolah ... jangan seperti ini," Wafa sampai memohon.


"Untuk apa, Pak?" tanya Wafa.


"Berikan saja!" perintah duda kaya ini lagi.


Tidak tahu apa yang hendak dilakukan pada ponselnya, Wafa memberikan ponsel miliknya pada Bian secara cuma-cuma. Setelah mendapatkan ponselnya Wafa, Dian mencari kontak yang bernamakan Inneke, sahabatnya Wafa. Lalu memencet tombol telepon.


Beruntung sekali saat itu Inneke sedang bersantai di rumah, gadis itu langsung menjawab telepon yang ia duga dari sahabatnya itu.


'Iya, katakan, ada apa lagi?'


"Selamat sore, Nona Inneke. Saya Bian Hutomo, saat ini saya sedang bersama dengan Wafa. Satu minggu lagi saya hendak mengajak Wafa pergi ke Tiongkok bersama dengan anda. Tolong bersiap-siaplah dan jangan sampai ada yang tertinggal, berusahalah supaya bisa mendapatkan visa dalam satu minggu. Terima kasih, selamat sore."


Bian langsung menutup teleponnya. Kemudian memberikan ponsel tersebut kepada Wafa kembali. Dengan santainya, Bian meminta Wafa untuk bersiap juga dalam waktu satu minggu.


"Besok pagi, Zaka Yang akan datang ke rumahmu untuk meminta persyaratan yang dibutuhkan. Silahkan kamu menyiapkan semuanya," ucap Bian.

__ADS_1


"Grietta, ayo kita pulang. Mamamu ini sudah siap pulang bersama dengan kita. Apa kamu senang?" Bian membelai rambut putrinya dengan lembut.


Grietta mengangguk semangat, tak lupa memeluk Wafa sebelum pergi. Senyum lebarnya itu tak tega Wafa merusaknya. Ia pun akhirnya hanya bisa pasrah saja dengan keputusan Bian yang terdengar memaksa.


Setelah Bian membawa putrinya pergi, barulah Inneke menelepon kembali.


"Iya, Ke?"


'Iya, iya matamu! Ke Tiongkok apa? Seminggu apa? Kenapa duda itu bersamamu, lalu kapan dia kembali? Apa yang dia katakan tadi, hah! Apa dia sudah lelah hidup? Apa harus aku membunuhnya dengan kata-kata mautku?'


Tidak heran jika sahabatnya juga kesal karena keputusan mendadak dari Bian. Meski Inneke juga gadis yang terlahir dari keluarga berada, tetap saja waktu satu minggu untuk pergi ke luar negeri bukanlah mudah.


"Sabar, Ke, sabar! Biarkan aku menjelaskan padamu dulu, tolong dengarkan aku bicara!" tegas Wafa.


Wafa pun menceritakan semuanya dan tujuan Bian mengajaknya ke Tiongkok. Semua itu semata-mata supaya putrinya ikut pulang bersamanya untuk memperingati hari kematian ayahnya atau kakek Grietta.


Meski sudah dijelaskan baik-baik, tetap saja Inneke kesal karena ajakan mendadak itu tidak mungkin bisa ia lakukan. Tapi di sana Wafa terus memohon supaya sahabatnya itu mau menemaninya ke Tiongkok seminggu yang akan datang.


'Heh, apa maksudmu? Jadi, kamu setuju pergi bersama dengan pria yang baru kau kenal? Wah, Wafa, Daebak! Kau sangat pabo sekali!' tak heran jika Inneke masih kesal.


"Mau bagaimana lagi, demi kesembuhan Grietta, Ke," jelas Wafa.


'Kesembuhan, sih, kesembuhan. Tapi dengan tiba-tiba dia mengajak kita ke luar negeri, apa kamu tidak takut? Lagi pula gadis kecil itu juga sudah bisa bicara, bukan? Kenapa kamu masih harus mendampinginya?' protes Inneke.


"Entahlah, jika aku sedang bersama mereka berdua, (Bian dan Grietta) rasanya seperti terhipnotis dan tidak bisa menolak apa yang mereka inginkan dariku," sahut Wafa.


Helaan nafas kasar dari Inneke sangat terdengar lewat telepon.


'Okelah, aku akan menemanimu ke luar negeri. Tapi tolong setelah ini kamu harus memutuskan kontrak dengan Pak Bian itu. Ingat, Wafa, kamu dan dia tidak bisa bersama karena keyakinan yang berbeda. Sudah ada Ustadz Lana, kenapa pula kau mau tamak, dasar gadis sialan!'


Tuuut .... tuuuut ....


Inneke menutup teleponnya setelah marah-marah. Hal itu membuat Wafa menjadi tidak enak hati tehadap sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2