Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kebersamaan Malam


__ADS_3

"Tapi bagaimana jika orang yang Wafa cintai itu adalah Pak Bian? Apakah menurut Ustadz, pak kyai akan menerima kenyataan itu?" sambung Ustadz Lana.


Ustadz Zamil terdiam. Masalah hati, memang tergantung individu, pria berusia 30 tahunan ini juga tidak mampu memutuskan apa yang terbaik intim Wafa karena dirinya hanya sebatas kakak ipar saja.


"Saya ingin Wafa mendapatkan pendamping yang sejalan dengannya. Keyakinan, latar belakang, juga sikap pria itu bagaimana, harus dipertimbangkan matang-matang. Apalagi ji—" ungkapan hati Ustadz Zamil terhenti karena suara adzan isya'.


Waktunya shalat isya', para lelaki pergi ke masjid pesantren dan wanita jamaah di rumah saja karena memang setelahnya harus memasak lagi. Saat itu, Grietta sendiri juga ingin ikutan shalat bersama dengan Wafa dan lainnya. Kebetulan saja masih ada mukena kecil milik Zira yang tertinggal di rumah itu dahulu.


"Ini dia. Wangi, kok! Soalnya setelah di cuci bersih, tidak pernah keluar dari lemari, itu aja masih di dalam plastik, semoga Grietta suka, ya ...." celetuk Zira, memberikan mukena kecilnya pada Grietta.


"Tapi apa Grietta tidak merasa terpaksa? Kak Wafa tidak mau sampai Grietta melakukan persis kegiatan Kak Wafa karena kami merasa terpaksa, loh!" Wafa sekali lagi mengingatkan Grietta.


Gadis kecil itu menggelengkan kepala, lalu tersenyum mengambil mukena kecil itu dari tangannya Wafa. Mukena itu diberikan kepada Sari dengan harapan Sari mau memakaikan padanya.


"Kamu mau Kak Sari yang memakaikan untuk kamu?" tanya Sari dengan suara lembutnya.


Grietta mengangguk semangat.


Sari tersenyum senang, ternyata Grietta juga menyukainya. Beberapa menit yang lalu, gadis kecil itu sama sekali tidak melihat kehadiran Sari disana. Tatapan matanya selalu tertuju pada Wafa dan yang lainnya.


"Kemarilah, Kak Sari akan memakaikan untukmu," ucap Sari dengan senyuman tulus. "Kakak pikir kamu tidak menyukai kakak karena sejak tadi kamu tidak melihat kakak," lanjutnya.


Grietta memelengkan kepala lagi, kemudian menggeleng. Dia menjawab salah bahwa dirinya tidak pernah mencuek pada Sari karena saat itu memang dirinya sedang bingung tiba-tiba bertemu dengan orang banyak dan semuanya menyambutnya dengan baik.


Pada dasarnya, Grietta belum pernah disambut dengan baik seperti sambutan yang keluarganya Wafa berikan. Ketika gadis kecil itu bertemu dengan nenek dari pihak ayahnya, dia sama sekali tidak pernah dilirik bahkan tidak pernah diakui bahwa dirinya adalah cucunya.

__ADS_1


Begitu pula di keluarga sang ayah. Hanya karena Grietta adalah anak perempuan, kehadirannya seperti tidak pernah dianggap ada. Apalagi terhadap bibi—adik ayahnya yang tidak pernah menyukainya. Padahal sang Bibi jika memperlakukan anak orang lain selalunya baik. Jadi saat itu, Grietta merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan keluarganya Wafa.


Saat itu yang jadi imamnya adalah Dian. Grietta ada di antara Wafa dan juga Sari. Setiap gerakan-gerakan shalat mampu gadis kecil ini ikuti tanpa mengeluh karena banyaknya rakaat yang ia lakukan, sebab saat itulah kali pertama Grietta mengikuti shalat.


Selesai shalat, para wanita ini kembali ke dapur dan melanjutkan memasaknya. Kecuali Zira yang saat itu memang ditugaskan oleh Wafa bermain dengan Grietta.


"Mama?" Grietta menyadari jika Wafa tidak muncul kembali setelah masuk ke kamarnya.


"Mama? Maksudnya Wafa? Kak Wafa masih ada di kamarnya. Mungkin sebentar lagi keluar. Kamu main dulu saja sama Kak Zira," sahut Zira.


Grietta mengangguk tenang.


Sementara itu di kamar, Wafa berusaha untuk menghubungi Bian. Ada beberapa hal yang ingin Ia tanyakan dan juga katakan tentang si kecil Grietta. Tapi sayangnya Bian sama sekali tidak menjawab telepon dari Wafa.


"Apakah dia sedang sibuk, kenapa dari tadi dia tidak menjawab telepon dariku?" gumam Wafa.


Wafa terus mondar-mandir berusaha terus menelepon Bian. Sayangnya, tetapi aja Wafa belum mendapatkan jawaban. Bian memang sedang sibuk sekali, ponselnya tidak ia bawa dan ia letakkan di tas kantornya.


"Sama sekali tidak ada jawaban. Sesibuk apa, sih?"


Wafa kembali ke dapur dan ikut menyiapkan makan malam. Sesekali dia juga melihat ke ruang tengah dimana Zira dan Grietta bermain. Senyum Grietta yang terus tersemat membuat Wafa lega, gadis kecil itu seperti menemukan kebahagiaannya di rumah itu.


'Semoga saja Grietta bisa jauh lebih membaik keadaannya,' batin Wafa


"Wafa," panggilan Sari.

__ADS_1


Terkejut dengan panggilan sang kakak, Wafa sampai hampir saja melompat. Ia pun langsung bertanya mengapa kakaknya mengejutkan dirinya. "Mbak Sari! Kaget tau!" serunya.


"Kenapa bisa kaget? Kamu ngelamun, ya?" sahut Sari.


"Eh, enggak, kok! Siapa juga yang ngelamun? Aku lagi liatin Grietta yang terus tertawa sampai terdengar suara tawanya bermain dengan Zira," alasan Wafa.


Sari melihat kebersamaan Zira dan Grietta juga. Kemudian menyimpulkan bahwa, "Grietta terlihat bahagia sekali. Apakah ini kali pertama dia tertawa seperti itu? Kamu menatapnya sampai segitunya, Wafa?"


"Benar, ini kali pertama aku melihat Grietta tertawa sampai terdengar suaranya," sahut Wafa.


"Alhamdulillah, bukankah itu bagus? Apakah kamu berpikir, bahwa obat mujarab dari penyakit yang gadis kecil itu alami hanyalah kebersamaan sebuah keluarga?" lanjut Sari.


Wafa menoleh ke arah kakaknya.


"Wafa, Mbak sangat yakin jika Grietta tinggal lama di rumah ini, akan cepat mengalami perubahan positif. Ja kehilangan kasih sayang orang tuanya ketika kecelakaan itu, meski kedua orang tuanya masih ada. Jadi, itulah penyebab dari Grietta yang lebih memilih untuk diam dan menutup diri," jelas Sari.


"Mbak Sari benar. Ketika tadi keluar bersama dengan Ustadz Lana pun, Grietta bisa mengatakan bahwa dia ingin ice cream lagi. Pada dasarnya gadis malang itu bukan bisu, jadi pasti lambat laun, tinggal bersama dengan kita, pasti dia akan normal kembali bicaranya."


Wafa sependapat dengan pemikiran Sari. Yang dibutuhkan oleh Grietta adalah kehangatan sebuah keluarga. Sementara Bian menitipkan pada Wafa, Wafa juga akan mengupayakan kesembuhan Grietta agar bisa bicara kembali.


***


Makan malam bersama berlangsung asik sekali. Semuanya berlomba-lomba memanjakan gadis kecil yang manis itu dengan makanan yang mereka buat. Bahkan para pria saja juga mau menyuapi Grietta sampai Grietta bingung mau makan suapan dari siapa.


"Grietta, lihat apa yang di sendok Kakak. Apa kamu mau mencoba? Sepertinya ini dimasak oleh Kak Wafa, ayo, buka mulutmu," Ustadz Lana siap menyuapi Grietta.

__ADS_1


"Kak Zamil juga punya sayur bening. Pasti ini buatan Kak Sari, apa Grietta mau coba?" Ustadz Zamil pun tidak mau kalah.


Grietta mengangguk dan melahap suapan Ustadz Zamil. Pak kyai pula juga tidak mau ketinggalan, beliau menyuapi ayam goreng ke mulut Grietta dan gadis kecil itu tersenyum manis pada beliau. Melihat situasi saat ini membuat Wafa begitu terharu. Pemikirannya akan sepi karena Grietta sendiri belum bisa bicara. Tapi kenyataannya, kebisuan Grietta tidak mempengaruhi kehangatan dan kehebohan malam itu.


__ADS_2