
Selesai makan malam, Wafa mengantar Grietta untuk cuci muka, tangan dan gosok gigi. Gadis kecil itu harus tidur karena malam juga semakin larut.
"Okay, gigi kamu sudah bersih sekali. Sekarang, kamu tunggu kakak di ruang tengah, ya. Kakak mau cuci muka dan gosok gigi juga, hm?"
Grietta mengangguk. Gadis kecil itu duduk dengan tenang di ruang tengah sambil bermain dengan iPad-nya. Tidak lama setelah ia baru saja menyelesaikan level pertama permainannya, datang pak kyai menghampirinya.
"Sedang bermain apa kamu, Nak?" tanya pak kyai dengan lembut.
Tanpa takut lagi, Grietta menunjukkan iPad-nya.
"Oh, bermain game, ya?" sahut pak kyai. "Kak Wafa kemana?" tanya beliau.
"Mama?" sebut Grietta.
"Kakak," ucap pak kyai. "Kamu harusnya memanggilnya dengan sebutan kakak, bukan Mama." jelas beliau.
Grietta menggeleng kepala, gadis kecil itu kekeh memanggil Wafa dengan sebutan Mama. Tidak mungkin juga pak kyai ingin berdebat dengan seorang anak kecil berusia mau 6 tahun. Beliau pun mengangguk dan bertanya sekali lagi, "Dimana Mama Wafa?"
Gadis manis itu menunjuk ke arah kamar mandi dengan senyuman yang menandakan bahwa dirinya sangat puas karena pak kyai menyetujui sebutan Mama untuk Wafa.
Klek~
Pintu kamar mandi terbuka, Wafa melangkah menuju ruang tamu dan melihat pemandangan indah sekali. Pak kyai sedang bermain dengan Grietta seperti dahulu ketika bermain dengan Sari. Posisi Wafa saat ini, sama persis ketika dulu ia hanya bisa melihat pak kyai tertawa bersama dari kejauhan.
'Ingatan itu selalu saja ada. Bagaimana Abi melimpahkan seluruh cintanya untuk Mbak Sari. Hanya saja sekarang beda rasanya, jika dulu aku begitu iri dengan kedekatan Abi dan Mbak Sari, sekarang aku bahagia melihat senyum Grietta yang terpancar di bibirnya,' gumam Wafa dalam hati.
Wafa menghampiri mereka, duduk di sofa.
"Grietta, sudah cukup mainnya. Ayo, kita tidur, sudah malam ini," ajak Wafa.
"Sebentar lagi, kita masih bermain," sahut pak kyai.
Wafa hanya khawatir dengan punggung ayahnya karena saat itu mereka sedang bermain kuda-kudaan. Meski masih dalam keadaan bugar, tetap saja usia pak kyai sudah setengah abad lamanya.
"Abi, nanti Abi kecapekan. Ayo, Grietta, besok lagi bermainnya dengan Yeye, hm? Ayo, kita tidur dulu, besok kita akan bermain ke rumah Kak Inneke, kamu mau 'kan?" Wafa masih membujuk Grietta supaya mau.
Grietta menggelengkan kepala, tapi Wafa tetap memaksa gadis kecil itu untuk turun dari punggung ayahnya. "Grietta, ayo, Sayang. Besok masih ada waktu bermain dengan Yeye, sekarang bobok dulu, yuk!" ajaknya.
__ADS_1
"Ah, Mamamu tidak asik, Nduk. Turun dulu, dengarkan apa yang Mamamu katakan. Besok jika Abi, eh, Kakung, eh—Yeye sudah ada waktu luang lagi, kita bermain bersama, bagaimana?" pak kyai juga akhirnya meminta Grietta untuk segera tidur.
Namun sebutan 'Mama' itu lagi-lagi membuat Wafa terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika ayahnya saja seolah menyetujui Wafa menjadi ibu dari Grietta. Wafa mengedipkan mata, yang berarti dia sedang bertanya pada ayahnya.
'Sudahlah, kamu bawa dia ke kamar dulu,' batin pak kyai dengan gerakan mata dan bibirnya.
'Abi—' lenguh Wafa.
"Yeye, tidur?" ucap Grietta dengan suara imutnya.
Wafa semakin terkejut mendengar satu persatu kata keluar dari bibir mungil gadis kecil yang membawa kebahagiaan dalam hidupnya. "Grietta, kamu bisa bicara lagi?" Wafa begitu bahagia.
"Mama!"
"Yeye!"
"Mama!
"Yeye!"
Grietta menyebut sebutan untuk Wafa dan pak kyai, kemudian mencium masing-masing pipi sebelah kanannya.
"Nduk, tidur yang nyenyak, ya. Besok kita bermain lagi." bisik pak kyai sambil membelai kepala Grietta.
Gadis kecil itu mengangguk, kemudian menggandeng tangan Wafa dan segera pergi ke kamar. Wafa terus melihat sang Abi yang kelihatannya menyayangi Grietta dengan tulus.
'Abi, terima kasih.' ucap Wafa dalam hati.
Di hati pak kyai sendiri, beliau juga tidak tahu mengapa bisa langsung akrab seperti itu dengan Grietta, bahkan sampai menyukai gadis kecil yang manis itu. Pak kyai terus mempertanyakan mengapa dalam hatinya, tapi tetap saja jawabannya tidak ada.
Malam itu karena Wafa sudah menemani Grietta tidur, Ustadz Lana jadi tidak bisa berpamitan dengannya. Pria dengan suara yang lembut ini meminta pak kyai untuk menyampaikan salamnya pada putri bungsunya itu.
"Tenang saja, Ustadz Lana. Pasti saya akan menyampaikannya," ucap pak kyai pasti.
"Sebelumnya saya minta maaf karena hari ini sudah merepotkan pak kyai. Kemudian, saya juga berterima kasih karena pak kyai sudah menerima saya bertamu sampai selarut ini," Ustadz Lana bingung saja hendak mengatakan apa, dia hanya mengucapkan itu karena tidak mau menambah kesalahpahaman lagi.
"InsyaAllah …."
__ADS_1
***
Ketika shalat subuh Wafa melaksanakannya di rumah saja. Biasanya memang Wafa akan melaksanakan di pesantren berjamaah, tapi karena Grietta belum bangun, jadi Wafa tidak tega jika meninggalkannya sendiri di rumah.
"Shalat di kamar sajalah. Takutnya Grietta terbangun dan aku tidak ada di sisinya." gumam Wafa.
Usai shalat, disambung dengan tadarus. Suara tadarus Wafa sampai membangunkan Grietta pagi itu. Gadis kecil itu terbangun, menatap Wafa sejenak, kemudian menghampiri Wafa. Tangan mungil Grietta memeluk Wafa dari belakang. Tentu saja membuat Wafa terkejut.
"Eh, Grietta sudah bangun?"
Grietta mengangguk.
"Apakah kamu terganggu dengan suara kakak?" tanya Wafa lagi.
Grietta menggeleng. "Mama!" tegas si kecil Grietta.
"Baiklah, iya, Mama. Maaf jika Mama Wafa mengagetkan kamu. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Wafa menuntun Grietta supaya duduk di pangkuannya. Tangan satunya menyingkirkan Al-Qur'an yang ada di meja kecilnya.
Grietta menggelengkan kepala. Seolah dia menjawab bahwa dirinya tidak terganggu dengan suara Wafa mengaji.
"Selamat pagi, cantik. Ayo, salim dulu sama kakak," Wafa menyodorkan tangannya.
"Mama!" tegas Grietta lagi.
"Hehehe, baiklah, baiklah, Mama."
Wafa membalas panggilan itu dengan candaan. Gadis muda ini tidak tahu jika Grietta menganggapnya serius sebagai Mamanya.
Ketika keduanya sedang beberes kamar, ponsel Wafa berbunyi yang dimana bunyi tersebut adalah motif pesan. Segera Wafa memeriksa ponselnya dan melihat siapakah yang mengirim pesan padanya sepagi itu.
"Loh, Pak Bian?" gumamnya.
- pesan dari Bian.
Sepagi itu Wafa sudah mendapat pesan dari Bian sepanjang kenangan manis. Wafa jadi tidak enak hati jika harus menanyakan tentang jadwal les dan belajarnya Grietta.
- balas Wafa.
__ADS_1