
Setelah sampai di sekolah Grietta, Wafa melihat mobil yang sering dipakai Zaka Yang berhenti tepat di depannya. Terbuka pintu mobil dan terlihat juga senyum lebar dari wajahnya Grietta. Wafa pun melambaikan tangannya.
Gadis kecil itu turun, langsung memeluk Wafa.
"Selamat pagi, cantik." sapa Wafa.
Grietta mencium kedua pipi Wafa.
"Ayo, kakak akan antar kamu ke sekolah. Nanti, kakak juga yang akan menjemputmu. Malam ini, kamu menginap di rumah kakak, ya ...." ujar Wafa.
Langkah kaki Grietta terhenti, memandang seorang gadis dewasa yang saat ini menggandeng tangannya dengan tatapan heran. Rupanya, Grietta tidak tahu jika Bian menitipkan dirinya pada Wafa.
"Eh, kenapa berhenti?" tanya Wafa.
Grietta melepas pegangan tangannya, kemudian mengambil kartu bertuliskan 'Papa' di tas kecilnya. Gadis kecil itu menanyakan tentang ayahnya, dia benar bum tahu jika ayahnya sedang pergi dalam urusan pekerjaan.
"Nanti kakak ceritakan, sekarang kamu masuk sekolah dulu. Nanti kakak jemput, okay?" kata Wafa.
Grietta mengangguk pelan.
Sesampainya di depan gedung sekolah, Grietta sudah diraih oleh Miss Tammy. Memang seperti itu sekolah yang Grietta tempati, orang tua hanya mengantar sampai depan gedung saja dan akan ada guru yang menyambutnya di depan gedung sekolah.
"Selamat pagi, Grietta ... selamat pagi Mama Grietta," sapa Miss Tammy.
"Pagi, Miss," balas Wafa.
"Ayo, Grietta." Miss Tammy meraih tangan mungil Grietta.
__ADS_1
Wafa melambaikan tangannya, terlihat senyum Grietta terus berbentuk seperti bulan sabit ketika tahu bahwa dirinya akan tinggal bersama dengan Wafa sementara waktu sampai ayahnya kembali.
"Wafa!" seseorang memanggil Wafa dari kejauhan.
Ketika menoleh, rupanya yang memanggilnya adalah Hana. Segera Hana menghampiri Wafa dan meminta putrinya untuk segera masuk. Senyum sempurna yang Hana berikan pada Wafa membuat keadaan semakin akrab.
"Kamu pasti baru saja mengantar Grietta, ya?" tanya Hana.
Wafa mengangguk. "Iya," jawabnya.
"Bisa kita mengobrol sebentar?" Hanya nampak bersemangat hari itu.
"Tentu," jawab Wafa singkat.
Hana mengajak Wafa duduk tempat anak-anak makan siang. Saat itu memang ada beberapa orang tua wali yang masih berada di sana. Tapi Hana tidak peduli dengan mereka dan hanya ingin mengobrol dengan Wafa.
"Ahhh senang sekali aku rasanya. Setelah aku kehilangan sahabat, sekarang aku memiliki teman baru. Terima kasih, Wafa, karena kamu sudah mau berteman denganku," ucap Hana dengan senyum lebarnya.
"Cup! Aku mau menceritakan kisahku dengan sahabat lamaku itu padamu, okay? Dengarkan aku baik-baik, karena aku tidak menerima pertanyaan ketika aku sedang bercerita." sahut Hana, padahal Wafa belum menyelesaikan apa yang ingin Ia katakan.
Tidak ingin membuat Hana merasa disela, Wafa pun mengangguk dan mulai mendengarkan apa yang hendak Hana ceritakan padanya.
Dimulai dari kisah persahabatan Hana dengan Flanella. Keduanya menjalin persahabatan sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Kemudian tiba di mana, ketika Flanella masih bekerja di sebuah perusahaan di Tiongkok, tentunya bersama dengan Hana juga, bisa mengenal Bian yang saat itu usianya masih terbilang muda.
Kisah percintaan Flanella dan juga Bian sebenarnya tidak terlalu istimewa karena Bian tidak pernah mengistimewakan seorang Flanella. Sebelum keduanya menikah, memang mereka sedang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Keduanya memutuskan untuk menikah karena Flanella mengandung Grietta saat itu.
Hal itu Bian lakukan demi bentuk rasa tanggung jawabnya pada Flanella. Ada beberapa cerita yang tidak Hana ungkapkan karena baginya itu belum saatnya Wafa mengetahui. Tapi kisah percintaan Flanella dan juga Bian yang diceritakan oleh Hana, membuat Wafa tidak nyaman.
__ADS_1
Wafa hanya diam dan memperhatikan ocehan Hana saja. Meski dalam hati, dia menginginkan semua itu di sudah secepatnya.
"Kau tau, kenapa aku sangat kecewa padanya?" tanya Hana.
Wafa menggelengkan kepalanya.
"Karena ada rahasia besar yang dia sembunyikan dariku. Bagiku ... rahasia yang Flanella miliki saat itu, suatu hal yang sangat negatif. Itu yang membuatku kecewa padanya dan tidak mau berteman dengannya lagi!" ungkap Hama dengan amarahnya.
"Sebenarnya tidak baik juga berlama-lama saling menjauh seperti ini. Apalagi hubungan kalian sebelumnya sangat baik, bahkan terjalin di usia kalian yang masih terbilang anak-anak. Apa tidak sayang dengan hubungan yang terjalin lama, hancur begitu saja karena satu kesalahan yang dibuat oleh ibunya Grietta?" tutur Wafa.
"Coba kamu ingat-ingat hal yang indah di antara kalian berdua. Siapa tahu dengan mengingat hal indah di antara kalian, hubungan renggang kalian akan menjadi erat kembali." lanjut Wafa dengan suaranya yang lembut.
Hana seketika diam, merenungi kata-katanya Wafa yang memang ada benarnya. Tapi rasa kecewa itu sudah jauh lebih besar Karena Flanella tak ingin menemui dirinya dan juga Putri kandungnya sendiri. Bagi Hana, dia tidak suka dengan seorang wanita ataupun seorang ibu yang meninggalkan putrinya dan mengkhianati suaminya, kemudian memilih lari dengan lelaki lain.
"Aku tidak ingin ikut campur dengan urusan persahabatan kalian. Tapi saran tadi memang sepertinya harus dipertimbangkan. Tapi aku juga tidak memaksa," sambung Wafa.
"Maaf jika aku tidak sopan bicara padamu. Tapi ... kita sudah seperti sahabat, 'kan? Jadi, tidak masalah kan jika aku bicara non formal seperti ini denganmu?" tukas Wafa berhati-hati.
"Hahaha, kamu ini kenapa, Wafa? Aku malah senang kalau kamu menganggapku sebagai teman dekat. Bukankah itu akan jauh lebih baik daripada kita bicara formal dan isinya hanya akan membicarakan masalah anak, suami, anak, suami anak dan suami saja. Itu sangat membosankan!" celetuk Hana.
Wafa dibuat tertawa dengan celotehan Hana. Mereka pun membahas hal lain karena bagi Wafa sendiri juga tidak nyaman terus-menerus mendengar nama Flanella disebut. Gadis berusia 20 tahun ini juga tidak tahu mengapa dirinya tiba-tiba enggan mendengar namanya Flanella. Tetapi tidak membencinya.
"Oh, iya. Kalian kapan mau menikah resmi?" bisik Hana, menggoda Wafa tentunya.
"Apa, sih? Hubungan kami tidak seperti itu, Hana!" tepis Wafa juga berbisik. "Kita melakukan ini demi kesembuhan Grietta saja." jelasnya.
Tapi ketika piknik beberapa waktu yang lalu, Hana melihat ada ketertarikan di antara Bian dan juga Wafa. Hana bahkan berharap jika keduanya bisa benar-benar bersatu. Tapi ada hal yang ditakutkan oleh Hana juga jika keduanya bersatu.
__ADS_1
'Wafa, suatu saat kamu harus mengetahui hal ini. Aku harap kamu tidak marah padaku karena merahasiakan hal ini. Aku hanya ingin kamu menjadi Ibu yang baik bagi Grietta dan istri yang diidamkan oleh Bian sejak dulu.' batin Hana.
Meski Hana sahabatnya Flanella, tetap saja Hana memihak pada Bian. Hana tahu mana yang benar dan salah diantara keduanya. Setelah renggang hubungannya dengan Flanella, Hana malah dekat dengan Bian karena suaminya adalah rekan bisnisnya juga.