
Siang itu, Wafa mengajak Inneke untuk bertemu dengan Qia lagi. Tapi sebelumnya, Wafa harus mengantar Inneke ke gereja lebih dulu karena mau bertemu dengan seseorang. Wafa tidak tahu siapa seseorang itu, tapi dia tetap akan menunggu di dalam mobil.
"Buat apa dia ke Gereja setiap jam segini? Apakah dia sedang dekat dengan seseorang?" batin Wafa.
"Tapi, untuk apa mereka ketemuan di rumah Tuhannya? Huft, jangan-jangan Inneke sudah memiliki pacar tapi tidak bilang-bilang kepadaku?"
"Hmm, tidak bisa dibiarkan! Aku kepo!"
Wafa keluar dari mobil. Sebelumnya, dia tidak lupa mengunci mobil terlebih dahulu. Wafa memiliki sikap yang random juga memang. Terkadang lembut, kadang juga bisa sedikit menyebalkan. Terkadang kalem, tapi bisa lebih konyol jika berada di luar pesantren.
"Lah, dia tadi masuk yang mana, ya?" batin Wafa.
Ketika berjalan melihat tempat mana yang dimasuki sahabatnya, tak sengaja Wafa bertabrakan dengan seorang anak kecil.
"Aduh, Dek, jangan lari-larian, ya. Lain kali hati-hati, kalau nanti ja … Grietta?"
"Kamu di sini? Dengan siapa kamu kemari? Apa kamu tidak sekolah?" tanya Wafa. "Eh, aku lupa kalau dia bakal tidak menjawab," sambungnya lirih.
Grietta tersenyum manis kepada Wafa. Membuat jantung gadis berusia 20 tahun itu menjadi meleleh karena keimutan wajah Grietta. Wafa membelai pipi gadis manis itu dengan kelembutan. Terlihat Grietta begitu nyaman dibelai oleh Wafa.
"Gadis manis ini rupanya butuh kasih sayang. Nak, penderitaan apa yang kamu alami sampai kamu merindukan kasih sayang seperti ini?" batin Wafa.
"Grietta! Grietta!"
"Grietta, kamu dimana, Nak?"
Suara seorang wanita memanggil nama Grietta. Wanita itu mengenakan busana pengantin dan riasan yang sedikit tebal. Postur tubuh yang sangat ramping itu membuat Wafa bertanya-tanya.
"Grietta, kamu disini, Sayang?" tanya wanita itu. "Siapa kamu? Apa Putriku telah mengganggumu?" imbuhnya.
"Tidak. Dia malah bersikap baik kepada saya. Anda ini … Maminya Grietta?" tanya Wafa.
"Kamu mengenal anak saya? Siapa kamu? Tidak mungkin jika kamu gurunya. Anak saya tidak sekolah di sekolahan yang—." ucapan wanita itu terganti dan seperti mengomentari busana Wafa.
__ADS_1
"Saya paham dengan maksud Anda. Saya mengenal Grietta karena …." Wafa bingung mau menjelaskan karena situasinya.
"Karena dia adalah calon istri saya," tiba-tiba suara seorang pria yang terdengar familiar terdengar oleh Wafa. Membuat Wafa tercengang karena yang mengatakan itu adalah Bian.
Ibu Grietta ini bernama Flanella Natania. Berusia 27 tahun dan terlihat begitu membenci Bian. Flanella adalah seorang pengusaha juga dan memiliki salon kecantikan yang memiliki beberapa cabang. Begitu angkuh dan selalu memandang sebelah mata orang lain. Dia baru saja menikah dengan kekasihnya.
"Wafa, perkenalkan. Dia adalah ibunya Grietta. Dia mantan istri saya dan baru saja dia menikah dengan kekasihnya," Bian memperkenalkan Wafa kepada Flanella.
"Ta-tapi …"
Kembali ucapan Wafa dipotong oleh Bian. "Ah, saya lupa jika kamu begitu pemalu. Baiklah, bagaimana jika kita makan malam bersama? Saya akan memasak untuk kamu dan Grietta," ucap Bian.
Wafa hanya bingung saja mengapa Bian mengatakan itu tanpa meminta persetujuan darinya.
"Grietta, gandeng dan bawa kak Wafa ke mobil," pinta Bian. "Zaka, tolong kamu urus hadiah yang saya siapkan untuk Nona Flanella," perintahnya.
"Baik, Tuan!"
Flanella protes kepada Bian tentang Wafa yang diduganya sebagai calon ibu tiri putrinya. Tapi, Bian tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh mantan istrinya itu, karena memang sudah bukan urusannya setiap urusan Bian saat ini.
"Sampai kapanpun, saya tidak akan memberikan Putri kesayangan saya kepadanya. Bagaimanapun juga, Grietta dengan kondisi seperti ini, juga diakibatkan oleh dia!" umpat Bian dalam hati dengan mengepalkan tangannya.
Sementara itu, Wafa masih bingung dengan apa yang terjadi. Membuatnya semakin terlihat konyol karena seperti anak gadis yang baru saja tumbuh remaja, sedang dipermainkan boleh lelaki seusianya.
"Tunggu! Aku siapa? Aku di mana? Mengapa aku menggandeng seorang anak? Lalu siapa yang bisa memancing diriku keluar dari situasi ini, hah!" batin Wafa.
Tak lama kemudian, datanglah Bian. Dia datang dengan wajah yang tenang meski dalam hatinya bingung mau mengatakan apa. Suasana menjadi canggung karena Bian juga merasa tidak enak hati sudah memperkenalkan Wafa sebagai calon istri di depan mantan istrinya.
"Ucapan yang tadi, jangan dimasukkan ke dalam hati. Dia adalah mantan istri saya dan baru saja menikah. Jadi … ah, lupakan saja. Dia tidak penting. Mari, kita bicara lebih lanjut di dalam mobil." Bian benar-benar bingung sendiri juga.
Suasana menjadi canggung karena benar-benar pertemuan kedua mereka malah ada insiden yang membingungkan hati dan pikiran. Bian dan Wafa sama-sama memalingkan wajahnya karena tidak tahu darimana harus memulai.
"Itu—" ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
Heng~~~
Seketika sunyi lagi. Di luar ekspektasi jika seorang Bian bisa gugup menghadapi perempuan. Padahal, tiap-tiap saatnya selalu menghadapi kolega penting dan lebih formal.
"Haduh, kenapa aku tidak bisa mengatakan apapun di depannya?" batin Bian.
"Harus bisa! Jangan membuat dirimu malu sendiri, apalagi ini di depan seorang gadis kecil, Bian. Harus bisa!" sambungnya dengan menguatkan diri lagi.
Bian menatap Wafa kembali. Di saat itu juga, Wafa menoleh ke arahnya.
"Untuk sementara ini, bolehkah kita mengambil status pasangan? Hanya di depan mantan istriku saja. Tidak lebih. Saya akan membayar kamu sebagai biaya kompensasi," akhirnya Bian bisa mengatakannya dan merasa lega
"Maksudnya berpura-pura sebagai pasangan, gitu?" tanya Wafa.
"Cerdas! Seperti itu …." sahut Bian.
Wafa menjadi terdiam, menundukkan kepala dan kemudian, "saya tidak mau, itu pembohongan. Biarpun saya dibayar, maka uang itu tidak halal bagi saya," Wafa langsung menolak.
"Ka-kamu …." Bian kesal tapi tidak tega mau marah.
"Apa Anda belum bisa move on dari mantan istri anda, Tuan? Pak Bian, oke, mulai saat ini saya akan memanggil anda dengan sebutan Pak Bian," kata Wafa dengan menatap Bian.
Wafa mengangkat tangannya ke bahu Bian. "Move on, Pak. Dia sudah bersuami. Ayo, Bapak pasti bisa! Fighting, surely you will get a much better wife," Wafa malah menepuk-nepuk bahu Bian dengan lembut sambil mengangguk-angguk kepalanya.
"Astaga, sabar ..." lirih Bian. "Apa kamu melihat wajah saya ini sedang meratapi mantan istri saya menikah lagi?" tunjuk Bian ke wajahnya sendiri.
"Um … Tidak sepertinya," ucap Wafa setelah menatap wajah Bian.
"Ayo, sekali lagi lihat. Apakah saya terlihat masih mengharap mantan istri saya kembali?" lanjut Bian.
Wafa mendekati wajah Bian karena mereka memang sedang berbisik. Begitu jelas Bian bisa melihat wajah Wafa yang bersih dan mungil itu.
Deg!
__ADS_1
Deg!
Tiba-tiba terdengar genderang jantung berdebar. Semudah itu Bian terlena dengan tatapan Wafa. Apa yang terjadi selanjutnya?