Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kembalinya Pak Bian.


__ADS_3

[Aku merasa tidak enak pikirannya hari ini. Apa kamu baik-baik saja, Wafa?] - pesan dari Bian.


"Kenapa Pak Bian seolah tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja?" batin Wafa.


Segera Wafa membalas pesan dari Bian tersebut. Wafa mengatakan segalanya kepada Bian. Setelah membaca cerita dari Wafa, Bian langsung menelpon Wafa. Namun, ditolak oleh Wafa karena memang saat itu ada Ferdian di sisinya. Dia tidak merasa enak hati.


[Maaf, ada temanku di samping. Nanti saja jika mau telpon, Pak. Tapi aku baik-baik saja, kok, sekarang.]


Bian paham dan akan menunggu kabar dari Wafa lagi. Di Tiongkok sana, Bian juga merasa ada yang mengganjal di hatinya. Entah hal apa yang membuatnya terus kepikiran dengan Wafa, membuatnya tidak konsen bekerja.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pintu Zaka Yang memecah lamunan Bian. "Tuan, ada Tuan Zhang yang sudah menunggu Anda. Bisakah Anda ke ruang meeting sekarang juga?"


"Em," jawab Bian.


"Kenapa aku terus memikirkan Wafa, ya? Sepertinya aku merindukan gadis itu," batin Bian.


Meski begitu, Bian tetap profesional dalam bekerja. Dia tidak pernah mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaannya. Sebab, baginya bekerja itu untuk kelangsungan masa depan. Jadi, tidak bisa diganggu oleh hal lain, atau nantinya akan merugi sendiri.


***


Di Jogja,


"Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku berada di gudang?" tanya Wafa kepada Ferdian.


Ferdian pun menghela napas. "Aku tidak sengaja mendengar percakapan dari Mayumi yang mana, dia sedang menyuruh dua pria tadi itu untuk menjebak kamu di sini," jelasnya.


"Kalau begitu ... Terima kasih kamu sudah menolong aku. Aku jadi bawa tak budi kepadamu," ucap Wafa lirih.


Ferdian terus memainkan jarinya. Ada hal yang dia tanyakan kepada Wafa, tapi tidak sampai hati karena tidak mungkin dia tanyakan. Namun, rasa penasarannya terus saja menghantui dirinya. Sehingga, dia pun nekat bertanya. "Wafa," panggilnya lirih.


"Iya," jawab Wafa.


"Sebenarnya kamu ini gadis yang seperti apa, sih?" pertanyaan Ferdian itu membuat Wafa bingung.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Wafa balik.


"Pertama, kamu ini adalah anak orang berada yang mengaku miskin. Padahal, kebanyakan cewek tidak mau melakukan hal seperti yang kamu lakukan ini," ujar Ferdian.


"Kedua, kamu selalu melawan ancaman dari Mayumi. Padahal, jamu juga tahu konsekuensinya jika melawan cewek gila itu. Terakhir, kamu berhijab dan terlihat polos. Tapi ternyata, kamu bisa bela diri. Kamu ini gadis yang bagaimana, Wafa? Kenapa kamu begitu sempurna?" tukas Ferdian.


"Kesempurnaan hanya milik Allah, Kak. Aku hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari dosa," sahut Wafa. "Baiklah, lukamu sudah selesai aku balut. Karena sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku permisi dulu. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamitnya.


Wafa sudah tidak menyebut dirinya 'saya' lagi ketika bersama dengan Ferdian. Meski begitu, tetap saja bagi Wafa, Ferdian ini bukanlah orang yang spesial. Wafa hanya menganggap pria yang usianya lebih tua tiga tahun darinya ini hanyalah kenalan saja.


"Benar, 'kan? Dia memang cewek langka yang pernah gue jumpai. Huh, gue harus dapetin dia bagaimanapun juga caranya." Ferdian terus bergumam.


Ketika makan siang hingga sore hari, Wafa malah tidak lagi melihat Mayumi dan Dani berkeliaran di sekitarnya. Membuatnya sangat lega karena tidak tahu hasilnya jika Wafa melihat Mayumi. Wafa masih tidak menyangka jika Mayumi tega melakukan hal hina seperti itu terhadap kaumnya sendiri.


Di parkiran.


"Wafa!" Tian berteriak memanggil nama Wafa.


"Assalamu'alaikum. Iya, ada apa, Big?" tanya Wafa dengan sabar. Wafa merasa sedikit tidak suka saja jika Tian terus membuntutinya.


Tian terkekeh tanpa sebab. "Hehehe. Aku hanya mau ngajak kamu pulang bareng. Pulang bareng yuk!" ajaknya.


"Wafa," panggil seseorang dari belakang.


Deg!


Deg!


Suara yang memanggil nama Wafa itu membuat gadis berusia 20 tahunan ini berdebar. Suara yang tidak asing ditelinga. Segera Wafa membalikkan tubuhnya. Masih dengan jantungnya berdetak sangat kencang dan kini tangannya pun ikut mulai bergetar. Rupanya, Bian yang memanggilnya dengan senyuman manisnya di wajah tampannya.


"Pak Bian?" sebut Wafa lirih.


Bian pun berjalan mendekati Wafa. Kemudian tersenyum dengan getaran kehangatan. Sejak pagi, Bian merasakan perasaan yang tidak biasa dan terus kepikiran dengan Wafa. Setelah selesai meeting, Bian langsung menemui Wafa di kampusnya.


"Pak Bian, Anda di sini?" Wafa menatap mata Bian untuk yang pertama kalinya. "Bukankah Anda masih di Tiongkok?" hati kecil gadis ini masih saja belum percaya jika pria yang berdiri di depannya adalah Bian.

__ADS_1


"Siapa bilang saya masih di Tiongkok? Dua hari lalu saya tiba di kota ini. Hanya saja, saya memang belum memberimu kabar karena masih ada pertemuan penting di hari-hari itu," jelas Bian.


"Pak Bian, ini serius beneran Anda?" tanya Wafa lagi.


"Iya, kenapa? Apa kamu sedang mengharapkan kehadiran orang lain?" Bian kembali bertanya.


"Eh, bukan seperti itu. Tapi—" ucapan Wafa terhenti karena bingung juga mau menjawab apa.


"Kita pulang?" ajak Bian dengan manis.


"Hah?" Wafa hanya menganga saja.


"Ayo pulang," ajak Bian lagi.


"Kemana, Pak?" tanya Wafa masih bingung.


"Lah, ke rumah kamu. Masa iya mau ke rumah saya. Kebetulan Grietta masih di Tiongkok. Jadi kamu belum bisa menemuinya saat ini," jawab Bian.


"Oh ...." Wafa mulai grogi.


Tatapan mata Wafa yang sebelumnya terus memandang wajah Bian, kini dia turunkan kembali. Baru sadar jika diantara mereka hanya terikat karena adanya Grietta. Namun, Wafa sangat terharu karena Bian datang menjemputnya sampai ke kampus.


"Baiklah, Pak. Mari kita pulang," kata Wafa dengan senyuman tipis.


"Eh, Wafa tunggu!" teriak Tian.


Wafa hampir saja melupakan Tian. "Tian, kamu masih di sini?" tanyanya.


"Lah, sejak tadi kan, aku masih di sini, Fa. Kamu tidak menganggap aku ada, kah?" Tian menjadi murung karena Wafa.


"Bukan begitu, Tian. Maaf, ya ..." ucap Wafa tidak enak hati.


Tian pun mengangguk. Jika wanita yang disukainya berbuat salah apapun juga, tetap saja akan selalu dimaafkan. "Wafa, dia siapa? Kenapa kamu malah mau pulang dengannya?" tanya Tian penasaran.


Wafa pun menatap mata Bian kembali. Mereka saling kontak mata. Situasi seperti itu sebenarnya membuat Bian merasa ada getaran yang berbeda kala melihat cantiknya wajah Wafa dan indahnya mata gadis itu.

__ADS_1


"Um, dia ... Kami tidak perlu tahu siapa dia. Aku pulang dulu, ya. Assalamualaikum!" tanpa memberitahu siapa Bian baginya, Wafa langsung pergi begitu saja.


Bukan maksud Wafa tidak mau mengakui hubungan mereka sesuai dengan kesepakatan. Tapi itu terlalu mendadak jika harus diungkapkan kepada Tian yang orangnya sedikit kurang mudengan. Wafa tidak mau jika sampai ada kesalahpahaman antara dirinya dengan Tian. Hanya menjaga tali silaturahmi saja.


__ADS_2