
Mayumi segara mengospek semua mahasiswa baru termasuk Wafa. Sebenarnya Wafa bisa saja tidak mengikuti ospek. Tapi karena memang itu keafdolan bagi setiap mahasiswa baru, jadi Wafa ngikut saja.
"Hey, sini lu!" teriak Mayumi memanggil Wafa yang duduk di samping Kristian.
"Saya?" tanya Wafa, menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lah, siapa lagi? Dungu banget, sih!" kata-kata dari Mayumi ini benar-benar sangat kasar. Padahal jika dipikir, Wafa ini jauh lebih tua setahun daripada Mayumi.
Ketika Wafa berjalan menuju arah Mayumi, tatapan Dani kepada Wafa berhasil membuat Mayumi sendiri cemburu. Begitulah awalnya Mayumi memiliki niat buruk kepada Wafa, dengan ingin membuat Wafa tidak betah kuliah di universitas tersebut. Tatapan Mayumi kepada Wafa juga sangat menusuk. Mayumi berpikir bahwa Wafa adalah orang yang paling berbahaya.
"Sebutkan nama!" Mayumi sampai membentak Wafa.
"Wafa Thahirah," jawab Wafa.
"Hahaha, Thahirah? Nama apa itu, anjir? Kampungan banget, sih!" seru Mayumi, menertawakan nama Wafa.
Semua senior pun ikut menertawakan nama Wafa yang dinilai kampungan, kecuali Dani. Ternyata Dani mulai tertarik dengan Wafa si wajah meneduhkan. Meskipun namanya dihina kampungan, Wafa sama sekali tidak marah. Ia hanya menatap datar wajah Mayumi. Seakan Wafa siap melakukan apapun jika orang tuanya dihina nanti. Sebab, Wafa merasa Jika orang-orang seperti seniornya ini, akan menyebut orang tuanya.
Tatapan Dani kepada Wafa membuat Mayumi semakin cemburu saja. Dia pun mengambil tindakan dengan membentak dan menghina Wafa lagi.
"Astaga, lu pakai jilbab, tapi matanya jelalatan seperti ini ya sama cowok orang. Gue paling nggak suka sama benih-benih pelakor kayak elu kayak gini. Jika lu macam-macam dan menggoda cowok gue, lu akan tahu akibatnya. Paham!" ancam Mayumi.
__ADS_1
Setelah Mayumi berbalik badan, barulah Wafa menjawab ancaman dari Mayumi. "Oh, Jadi kalau cowok orang ngeliatin cewek lain itu benar? Sedangkan cewek yang ditatapnya itu tidak peduli dan hanya meliriknya sedikit saja karena tidak merasa nyaman itu dinilai salah?" Wafa sangat berani.
Ucapan Wafa itu membuat para senior menatapnya. Bukan hanya para senior saja, bahkan junior junior di sana pun juga menganggap bahwa Wafa ini adalah gadis yang pemberani.
"Eh, kalau lu mau jadi pelakor, buka jilbab lu. Risih gue lihatnya!" Mayumi yang gemas itupun hampir saja hendak membuka jilbab milik Wafa.
Wafa sadar bahwa dirinya sedang di bully. Dengan tangkas, dia menepis tangan Mayumi yang ingin membuka paksa jilbabnya. Wafa memang terlihat kalem dan lembut, namun dia tak suka jika seseorang meragukan jati dirinya sebagai seorang muslimah.
"Singkirkan tangan kotormu itu dari jilbabku!" tepis Wafa dengan kasar. "Huft, ini sangat menggangu saja." Wafa sampai mengelap jilbab yang sebelumnya disentuh oleh Mayumi
Mayumi dan the geng menganga. "Astaga, junior. Lu berani sama gue? Jangan mentang-mentang umur lu lebih tua dari gue setahun, lu jadi berani kayak gini ke gue," ketus Mayumi.
"Gue sangat yakin, kalau lu terlambat kuliah itu karena tidak mampu untuk membayar biaya kuliah 'kan? Jadi, orang miskin kayak elo itu jangan banyak tingkah!" Mayumi sampai mendorong tubuh Wafa.
Semua seniornya pun bertepuk tangan saat itu. Membuat Dani semakin tertarik dengan Wafa. Dani ini memang tiba-tiba cowok yang lebih suka dikejar perempuan dan bergaya keren karena dirinya merasa mampu dan pantas untuk dikejar. Tapi sayangnya, Dani ini bukan tipenya Wafa.
"Wah, Mayumi. Lihatlah, kita memiliki seorang jagoan junior," Lalita, teman Mayumi turut ikut campur.
"Lu mau jadi sok jagoan, ya? Mau berakhir seperti mereka yang sok jagoan?" kesal Mayumi dengan menunjukkan beberapa junior juga yang sedang dihukum oleh Mayumi karena berani melawannya.
Wafa pun menatap beberapa mahasiswa baru yang sedang dihukum oleh Mayumi. Kemudian menatap seniornya itu dengan tatapan datar. "Maaf, sayangnya saya tidak tertarik dengan hukuman apapun dari Anda," jawabnya.
__ADS_1
"Pergi dan minta tanda tangan ke seluruh senior yang terlibat di kegiatan ini. Nggak pakai lama. Cepat!" Mayumi semakin kesal saja.
Karena sangat menghargai universitas dan peraturannya, maka Wafa pun menerima hukuman yang diberikan oleh Mayumi. Bagaimanapun juga Mayumi tetaplah seniornya.
"Aku terima hukuman darimu walaupun aku tak bersalah. Tapi asal senior ingat, jiwa dan sifat seseorang itu terlihat dalam perilakunya. Jangan pernah menyalahkan jilbabnya, karena hukumnya wajib untuk seorang muslimah, tapi salahkan orangnya. Oh, aku lupa. Mungkin senior kalah menarik dariku, jadi pacar senior pun melirik diriku," Wafa tersenyum sinis dan mulai menjalani hukuman yang Mayumi perintahkan.
"Waw, Mayumi. Lihat saja kedepannya. Dia bisa merebut Dani darimu secepatnya. Hati-hati saja ya, beb." bisik Lalita.
Mayumi sangat kesal pagi itu. Selama ini tak pernah ada yang seberani dengannya seperti Wafa. Begitupun dengan Wafa, hal tadi bukanlah sifat Wafa yang sebenarnya. Namun, Wafa teringat akan kata-kata Inneke yang mengatakan bahwa hati-hati saja di universitas tersebut karena menurut risetnya, seniornya memang tidak sama sekali memiliki etika.
"Astaga, Wafa. Kamu ngapain ikutan ospek segala. Bukannya kamu langsung bisa kuliah, ya? Kamu pernah ospek 'kan? Kamu juga tahu rasanya di ospek 'kan? Dengar ya, di universitas yang kamu masuki saat ini itu seniornya sama sekali tidak memiliki etika. Yah, itu menurut riset yang aku ketahui. Bales saja jika mereka menindas kamu. Pada dasarnya kamu jauh lebih tua dari mereka."
Kata-kata itu yang selalu terngiang di ingatan Wafa saat itu. Tapi benar saja. Wafa telah membuktikannya sendiri. Di kampus dan tempat mana pun tidak kekurangan orang pintar, namun kelebihan orang yang angkuh dan sok berkuasa. Sebab, mereka memiliki banyak uang, jabatan dan nama besar.
Sedangkan mereka yang sederhana, di bawah standar contohnya, tidak mampu melawan orang yang angkuh dan sombong yang bisa membeli semuanya dengan uang.
Mata Wafa semakin terbuka saat melihat semua itu. Inneke benar, wawasan akan membuat diri kita menjadi siapa saja dan mengetahui apa aja. Perempuan memang calonnya ibu rumah tangga atau bisa disebut hanya di dapur.
Benar! Namun semua itu tidak cukup. Perempuan juga harus memiliki wawasan yang jauh lebih luas, kelak ia akan mengajarkan wawasannya kepada anak anaknya nanti. Mendidik dengan baik anaknya di kemudian hari.
Tidak lupa sebelum meminta tanda tangan para senior, Wafa memberikan pesan kepada sahabatnya itu jika dirinya hampir saja dibully oleh seniornya.
__ADS_1
[Aku dibully, Ke. Namanya Mayumi, kamu bisa cari data dia, tidak? Ya Allah, aku geregetan banget sama tuh yang ngaku senior. Aku tunggu jawabanmu.] - pesan dari Wafa kepada Inneke.
Wafa ini mengatakan dan bertanya kepada Inneke tentang siapa Mayumi sebenarnya bukan karena dendam ataupun ingin balas dendam. Wafa hanya ingin tahu saja latar belakang Mayumi supaya nantinya dirinya tidak sampai menyakiti hatinya ketika melawan seniornya itu.