
"Selamat siang, apakah ustadz ada?" tanya Bian, begitu kedua orang tua ustadz Lana menghampirinya.
"Ustadz? Ustadz siapa yang panjenengan maksud, nggeh?" tanya ibu ustadz Lana.
Bian nampak bingung karena ketidaksukaannya terhadap ustadz Lana, sampai lupa dengan nama ustadz Lana sendiri. Tentu saja ketidaksukaannya itu didasari oleh rasa cemburu.
"Umm ..."
"Pak Bian?" ustadz Lana telah keluar dari rumahnya.
"Iya, ustadz ini yang saya maksud," Bian menunjuk ustadz Lana dan memasang senyum keterpaksaannya.
Kedua orang tua ustadz Lana pun yang mempersilahkan Bian masuk. Mereka mengobrol sebentar dan dengan ancaman Bian yang ingin memberikan hak asuh Grietta pada ibu kandungnya membuat gadis kecil itu patuh.
Bagi Bian memang itu adalah cara yang tepat supaya Grietta tidak manja. Bian juga meminta putrinya untuk tidak marah kepada Wafa karena tidak bisa menjemputnya. Dan sang Putri pun akhirnya hanya bisa patuh karena tidak ingin sampai dikembalikan pada ibu kandungnya.
***
Satu Minggu berlalu.
Wafa sedikit tersenyum sembari menghampiri Grietta dan Bian yang sedang duduk di ruang tengah. Dia baru kembali dari toilet, tapi bukan untuk buang air kecil melainkan—habis mencari ide untuk mencairkan suasana supaya tidak canggung. Sebab sejak tadi, Bian dan Grietta hanya diam tanpa ada percakapan sedikitpun. Yah, tentunya masih ada kekesalan yang membuat Grietta masih enggan bicara dengan Wafa. Padahal Wafa datang ke rumah karena memang ingin menebus kesalahan.
"Main, yuk," ajak wanita itu.
"Main apa?" tanya Bian dengan sedikit antusias.
"Tebak-tebakan. Nanti yang kalah … mukanya dicoret pakai ini," jawabnya sambil memperlihatkan sebuah spidol warna hitam yang diambilnya dari tas.
"Tidak, nanti susah dibersihkan," tolak Bian.
"Gampang tau. Tinggal cuci muka aja. Lagian ini bukan spidol permanen kok," timpal Wafa.
"Grietta mau kan, main tebak-tebakan?" tanyanya kemudian pada gadis kecil di sampingnya.
Grietta mengangguk diiringi senyuman tipis. Mereka pun mulai memberikan pertanyaan mudah seputar ciri-ciri fisik hewan secara bergantian, lalu yang tidak bisa menjawab sampai tiga kali akan dicoret mukanya.
Meskipun awalnya enggan, tapi lama-lama Bian senang dengan permainan tersebut. Sudah banyak coretan-coretan pada wajahnya karena selalu kalah cepat dari Grietta. Suasana hening berganti tawa penuh kebahagiaan dari mereka bertiga.
Namun, permainan itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba Bian menyudahinya. Tentu saja Wafa merasa ada yang aneh dengan pria itu. Bian terlihat tidak seramah seperti biasanya. Apalagi tatapan terhadap Grietta, seolah dia tidak menyayangi anak itu.
Cklek!
"Kayaknya ada yang datang, Mas," ujar Wafa begitu mendengar seseorang membuka pintu utama.
Bian menatap ke samping dan benar saja seorang wanita berjalan cepat ke arah mereka. Seketika dia mengambil Grietta yang sedang berada di pangkuan Wafa. Wafa pun terkejut, langsung menyipitkan mata dan berdiri.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Wafa dengan kesal.
"Ayo kita pergi," ajak wanita bernama Flanella seraya tersenyum pada Grietta.
Grietta sama sekali tidak memberontak. Mengikuti langkah wanita itu ke luar meskipun Wafa panik dan mencegahnya agar tidak pergi.
"Mas Bian kenapa diam saja? Grietta dibawa pergi, Mas!" seru Wafa, di mana emosinya mulai naik.
Bukannya mengambil Grietta kembali, Bian justru hanya menundukkan pandangan, menutup mata dan telinga atas keributan yang sedang terjadi.
Sementara, Wafa tidak bisa diam begitu saja saat Flanella semakin menjauh. Bahkan hampir sampai di garasi tempat mobilnya terparkir. Wafa kembali ke dalam hanya untuk memanggil Bian—pria yang seharusnya marah saat Grietta dibawa pergi oleh orang itu.
"Saya mohon cegah dia. Dia akan membawa Grietta pergi," pinta Wafa dengan manik mata berkaca-kaca.
"Biarkan saja," lirih Bian begitu tidak peduli.
"Tidak bisa gitu dong. Saya tidak mau Grietta dibawa pergi," ucap Wafa penuh paksa.
"Memangnya kamu siapanya dia?" tanya Bian, pandangannya datar.
Ekspresi Bian yang dingin membuat Wafa tidak habis pikir kenapa dia tidak sepeduli itu dengan anak kecil yang selama ini mereka jaga.
"Saya bukan siapa-siapanya Grietta tapi aku sayang banget sama dia. Oh, tidak, dia akan pergi!" serunya sambil berlari ke luar.
Mobil hitam yang ditumpangi Grietta, Flanella dan suaminya hendak melaju. Namun, ditahan Wafa dengan membiarkan tubuhnya hampir saja ditabrak oleh kendaraan tersebut.
"Jangan bawa Grietta pergi!"
Tin! Tin!
"Grietta jangan kemana-mana ya, Sayang. Di sini saja, ya. Mama Wafa pasti bakal sedih banget kalau Grietta pergi," ucapnya penuh harap.
"Bawa wanita ini minggir!" perintah Flanella pada Bian yang ternyata sedang berdiri di ambang pintu.
Sekali lagi, Bian menghela napas panjang melihat tingkah Wafa di kejauhan sana. Dia enggan berbuat apa-apa, tapi kali ini harus turun tangan untuk menepikan wanita itu agar tidak terlindas mobil.
"Mas, Mas Bian tahan Grietta dong. Dia mau dibawa pergi." Wafa menarik tangan Bian begitu saja.
Akan tetapi, Bian balik menarik tangan Wafa agar tidak berdiri di depan mobil lagi. Seketika suami Flanella melajukan mobilnya keluar halaman rumah itu. Meninggalkan Wafa yang terus menerus berteriak mencegah mereka membawa pergi Grietta.
"Mas, mau dibawa kemana Grietta?" tanya Wafa sekali lagi.
"Bukan urusan kita. Ayo, masuk," ajak Wafa dengan suara datar.
"Tidak! Kita harus kejar mereka. Grietta itu penyemangat hidup saya, Mas. Saya mohon." Wafa hampir bertekuk lutut, tapi langsung ditarik tangannya oleh Bian agar tetap berdiri. "Saya datang kemari untuk menghapus kesalahannya saya perbuat kemarin karena tidak bisa menjemputnya di rumah ustadz Lana,"
__ADS_1
"Grietta tidak ada hubungannya sama kamu. Berhenti menangis! Itu sangat memalukan!" gertak Bian, yang membuat detak jantung Wafa semakin cepat.
Ketika Bian hendak kembali ke rumahnya, Wafa menarik pergelangan tangan laki-laki itu dan mengajaknya berlari mengejar mobil orang tua Grietta. Bian hampir tidak percaya jika Wafa bisa sesayang itu dengan Grietta, padahal mereka hanya tinggal beberapa bulan saja.
Kesal dengan sikap egois Wafa, Bian memaksa wanita itu untuk melepaskan tangannya. Dia tidak mau mengikuti keinginan Wafa karena Grietta memang sudah seharusnya pergi.
"Mas?" Wafa mengernyitkan keningnya saat langkah Bian terhenti.
"Saya mau Grietta, saya ma—"
"Cukup!" bentak Bian.
Kini Wafa bingung harus mengejar mobil atau Bian yang sedang menuju ke rumahnya. Akhirnya, dia mengejar Bian dan ingin meminta penjelasan kenapa Grietta harus pergi dengan tiba-tiba seperti itu.
Detik itu juga, Bian meminta Zaka Yang—asisten pribadinya untuk mengambilkan kontrak kerja mereka. Wafa pun berdiri di samping Bian sambil mengatur napas.
Begitu Zaka Yang kembali membawa selembar kertas, Wafa sedikit bingung kiranya apa yang akan dilakukan laki-laki itu.
Sreet! Sreet!
Bola mata Wafa membulat sempurna melihat selembar kertas itu kini menjadi kepingan-kepingan kecil yang berterbangan lalu jatuh di lantai.
"Lupakan kontrak kerjasama kita. Mulai detik ini semuanya selesai," ucap Bian begitu saja.
"A-apa? Apakah yang kamu sobek itu kontrak kerja kita?" tanya Wafa dengan terbata-bata.
"Ya. Semuanya selesai sekarang." Bian menjawab tegas.
"Selesai begitu saja, Mas? Setelah apa yang terjadi selama beberapa bulan ini?" Wafa tersenyum kecut. "Aku kira … Mas Bian memiliki pe—" ucapan Wafa terhenti.
Seketika pikirannya blank, dia sulit mencerna apa yang terjadi secara tiba-tiba.
"Lalu apa mau kamu?" tanya Bian.
Wafa menggeleng kecil. Tenaganya seakan hilang begitu saja setelah mendengar pengakuan Bian barusan. Wafa baru ditampar oleh kenyataan bahwa selama ini dia sedang bekerja sama dengan Bian. Hari Wafa mulai sakit.
Salah satu sudut bibir Wafa menyungging. "Saya baru tahu, kalau ada seorang pria bisa bersikap demikian baik tanpa melibatkan perasaan," ucapnya.
Bian hanya menatap datar Wafa yang hampir saja menangis di depannya. Namun, wanita itu masih punya rasa malu sehingga memutuskan untuk pulang.
"Saya tidak tahu kesalahan seperti apa yang sudah saya buat sampai Mas Bian membuat hati saya terluka sampai seperti ini rasanya. Semoga balasan untukmu lebih menyakitkan!" seru Wafa seraya melangkah pergi.
'Huh!'
Bian menghela napas berat, lalu beranjak ke kamarnya. Meninggalkan Zaka Yang sendiri di ruang tamu dengan perasaan bingung.
__ADS_1
Apa yang terjadi selama satu minggu Wafa sibuk? Siapa yang akan menjelaskannya?