
Ia berusaha mengingat kembali apa yang terjadi kemarin. Merasakan tubuhnya tampak begitu lemah dan nafasnya terasa hangat, kepalanya menjadi sedikit pusing.
'Kepalaku sakit sekali. Tubuhku juga lemas tidak bertenaga. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?'
Kembali Wafa menatap Bian yang masih tertidur di sana. Ada rasa tidak tega yang membuatnya secepatnya bisa mengingat apa yang terjadi. Dia mencari ponselnya untuk mengecek pesan masuk, tetapi dia tidak menemukan ponselnya di manapun.
"Dimana ponselku?" gumamnya lirih.
'Ah, aku ada di kamarnya. Mana mungkin ponselku ikut bersamaku? Pasti terjatuh ketika aku pingsan kemarin,' batinnya.
Wafa berusaha bangkit sendiri. Tapi sayangnya kepalanya masih pusing dan seperti memutar-mutar. Ia pun kembali terhentak di ranjang hingga mengagetkan Bian dan membangunkan dari tidurnya.
"Wafa, kamu sudah bangun?" tanya pria itu dengan nyawa yang belum terkumpul semua.
"Su-sudah," jawab Wafa singkat. 'Ternyata Mas Bian begitu berbeda meski sedang bangun tidur,' Wafa melamunkan wajah tampan Bian.
'Astaghfirullah hal'adzim. Kenapa aku lancar sekali memikirkannya? Mas Bian? Sejak kapan aku lancar memanggil sebutan Mas?' Wafa bingung sendiri.
Lamunan itu terpecah ketika Bian mendekatinya dan hendak menyentuh keningnya. Sontak, Wafa langsung menghindari meski ia berusaha menahan pusing yang teramat pusing. Melihat reaksi Wafa membuat Bian mengurungkan niatnya untuk mengecek suhu tubuh gadis itu.
Wajah murung Bian membuat Wafa merasa bersalah. Ia pun dengan gengsi mengatakan, "Perlahan saja, kepala saya masih pusing."
Ucapan Wafa itu membuat Bian beranggapan sebagai izin untuk dirinya menyentuh kening wanita yang mulai ia sukai. Memang dengan lembut, Bian memeriksa suhu tubuh Wafa menggunakan termometer.
"Sudah turun panasnya. Infusnya juga sudah hampir habis. Saya akan memanggil dokter datang kemari untuk memeriksamu lagi," ucap Bian dengan senyuman.
"Bagaimana caranya saya bisa sampai sini?" tanya Wafa lirih. "Sepentingnya ini bukan salah satu kamar dari apartemen yang saya tempati," imbuhnya.
Bian pun menceritakan kejadian kemarin yang dimana dirinya membawakan sarapan untuknya. Namun sebelum memakan makanan tersebut, Wafa pingsan. Karena panik, Bian langsung menyewa apartemen lantai atas tanpa bernegosiasi dulu. Lalu membawa Wafa ke apartemennya dan memanggilkan dokter.
"Kenapa tidak langsung membawaku ke rumah sakit? Mengapa harus dibawa ke sini?" tanya Wafa.
Pertanyaan dari Wafa itu membuat Bian tidak senang. Tapi Bian harus menahan diri karena kondisi sakna juga sedang tidak baik-baik saja. Sebaliknya, Wafa juga tidak enak hati bertanya seperti itu tanpa mengucapkan terima kasih terlebih dahulu karena Bian, dirinya bisa bangun dengan keadaan baik pagi itu.
__ADS_1
"Maaf," ucap Wafa dan Bian secara bersamaan.
"Kamu dulu," Bian mempersilahkan.
Wafa terdiam sejenak, kemudian mengambil aba-aba untuk meminta maaf dan berterima kasih kepada duda kaya itu. "Maaf karena langsung menanyakan hal seperti itu," katanya.
"Seharusnya saya berterima kasih terlebih dahulu karena Mas Bian, saya bisa menghirup udara pagi hari ini. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada
... kamu," Wafa sudah bisa bicara non formal dengan Bian.
"Pertanyaan yang tadi ... jangan di jawab. Saya berterima kasih pada Mas Bian sudah baik membantu saya."
Suasana menjadi hening. Meski hati Bian sedikit berbunga karena di sebutan Mas dan kamu oleh Wafa, tetap saja dia masih mempertahankan wibawanya.
"Kamu pingsan sangat lama. Tidak mungkin saya membiarkan perutmu kosong, jadi saya meminta dokter untuk memasang infus," jelas Bian.
"Wafa," panggil Bian setelah diam sejenak.
"Kemarin malam kamu pergi begitu saja. Kejadian di pesta malam itu pasti membuat hatimu terluka. Apalagi dengan ditambah perlakuan Jia Mee ...." ucapan Bian terhenti.
"Mas, seharusnya saya yang minta maaf karena sudah mengajukan pestanya," ucap Wafa.
Hening kembali.
Setelah beberapa waktu…
"Saya pengen pulang," pinta Wafa lirih.
Bian langsung menatap Wafa.
"Kontrak kita seharusnya sudah berakhir karena tugas saya sudah selesai untuk membuat Grietta kembali bicara, Mas," lanjut Wafa memberanikan diri.
"Mulai saat ini saya juga akan memanggilmu dengan sebutan ini. Tapi saya tidak janji ketika kontrak itu selesai ... apakah kita bisa berkomunikasi dekat ini lagi,"
__ADS_1
"Mas Bian, saya mau pulang. Saya mau pulang ...." suara Wafa perlahan tidak terdengar.
Gadis itu tiba-tiba menangis. Dia memang seringkali mendapatkan ujian berat dalam hidupnya. Tapi untuk berhadapan dengan keluarga besarnya Bian, Wafa benar-benar tidak sanggup menghadapinya.
Pria yang sebelumnya selalu egois ini tiba-tiba menjadi begitu hangat. Dian pun mengabulkan permintaan Wafa yang meminta kontrak itu diselesaikan tanpa ada buntut permasalahan lain.
"Saya tidak bisa menahanmu lagi, masih saya ingin kamu berada bersama saya terus," ungkap Bian.
"Tunggu disini, saya akan membuatkanmu sarapan. Anggap saja ini terlahir kita berinteraksi sedekat ini." Bian beranjak dari tempat duduknya.
Pria itu membelakangi Wafa dan segara keluar dari kamar. Tak terasa air bening menetes di pipinya. Wafa tidak tahu alasannya menangis, namun hatinya sangat terluka.
'Tidak, Wafa. Tidak! Kamu tidak bisa, tidak untuk kali ini. Ingat Ustadz Lana adalah pria yang lebih baik dari yang lain,' Wafa menguatkan diri. Sebenarnya dia pun juga masih kurang paham dengan isi hatinya.
Disaat lelah menguatkan diri, datanglah Inneke dan Zaka Yang secara bersamaan. Keduanya juga sangat khawatir dengan keadaan Wafa. Tapi apalah daya, Inneke ketahuan mabuk oleh Wafa.
"Kalian minum-minum? Kalian bisa minum disaat kondisiku seperti ini?" tanya Wafa ketus.
"Hei, Wafa. Jangan mengintimidasi kita. Jika kau tidak membuat hatiku terluka dengan dirimu yang tidak terbuka padaku, aku tidak mungkin minum sampai mabuk di apartemen bawah," celetuk Inneke, membela diri.
Alih-alih Wafa akan menjadi iba, wanita ini malah semakin kesal dengan jawaban sahabatnya.
"Kalian mabuk di apartemen bawah? Hash, aku ...."
Wafa paham betul dengan perilaku sahabatnya itu. Tapi dia tidak menduga jika Zaka Yang juga polos sekali mau diajak Inneke mabuk.
"Hei, mereka berdua sudah dewasa. Kenapa ekspresimu sampai seperti itu? Lagi pula temanmu ini kan pernah tinggal di luar negeri, jadi wajar saja jika dia minum alkohol?" sahut Bian tiba-tiba datang membawakan bubur.
Sebelumnya kondisi saat Wafa lemas dan terlihat pucat sekali. Tapi ketika mendengar apartemen yang dibelikan Bian untuknya dipakai Inneke dan juga Zaka Yang mabuk-mabukan, membuat bertenaga lagi.
"Nona Wafa, ini tidak seperti yang anda pikirkan. Saya dan Inneke hanya mabuk saja, lalu bermain game. Kami tidak melakukan apapun lagi, sungguh!" Zaka Yang mulai bicara. Dia juga tidak mau dituduh yang aneh-aneh bersama dengan Inneke.
"Lah, lagian ngapain kamu bilangnya kayak gitu. Malah yang ada Wafa makin curiga ke kita, bodoh. Orang kita cuma mau minum doang, lagian kenapa, sih?" timpal Inneke masih tidak jelas bicaranya.
__ADS_1
"Ini bukan masalah kalian mau melakukan apapun itu. Pikiran kalian kenapa kotor sekali? Aku tahu betul Inneke ini kalau minum sangat jorok! Dia pasti akan muntah di sembarangan tempat. Makan juga seenaknya jidat tidak dibersihkan lagi, bukan begitu, Inneke?" terang Wafa dengan jelas.
Terbongkarlah aib.