
Hamil atau tidaknya, sebenarnya tidak dipermasalahkan oleh pihak kampus. Bahkan orang yang sudah menikah dan saat itu hamil dalam masih pembelajaran pun tidak akan mempengaruhi. Tapi apa yang dilakukan oleh Mayumi dan Dani ini sudah di luar batas.
Alhasil keduanya dikeluarkan oleh pihak kampus. Kemudian Wafa akan diberikan skorsing selama dua minggu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Itu semua sebenarnya sudah dirancang oleh Bian dan dikatakan pada pengelola yayasan kampus oleh Zaka Yang.
Skorsing yang diberikan kepada Wafa itu alih-alih supaya Wafa bisa ikut dengannya di Tiongkok dengan nyaman. Seolah-olah Wafa diskorsing karena sudah terlibat dalam kekacauan yang terjadi di kampus.
Dari kejadian itu, Mayumi semakin membenci Wafa. Ia bahkan sampai bersumpah pada dirinya bahwa suatu saat nanti akan membuat Wafa menyesal karena telah membuatnya seperti itu.
"Semuanya sudah selesai. Fitnah yang dilakukan oleh lelaki bangs*d dan gadis sialan itu juga—em, apa kamu mau pulang bersama dengan saya?" Bian tiba-tiba menjadi canggung.
'Wah, darimana Pak Bian dapat kata-kata indah itu? Apakah Pak Bian sudah berhasil dengan banyak warga lokal? Bahasanya semakin bagus, persis sekali seperti Inneke.' batin Wafa.
Sementara Bian merasa canggung, Wafa malah masih diam karena teringat dengan ucapan Bian yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang penting bagi duda tampan yang sedang berdiri di depannya.
'Apakah jika Ustadz Lana yang melakukan semua ini padaku, aku bisa jatuh hati padanya? Kenapa aku merasa hari ini Pak Bian berbeda dari sebelumnya?' batin Wafa.
Yah, jantung Wafa berdebar. Yang diharapkan bisa jatuh cinta pada Ustadz Lana, tapi malah Bian-lah yang mampu mencuri hatinya. Jika itu Ustadz Lana, maka Wafa tidak perlu bersusah payah untuk berjuang karena jika ia mencintai Ustadz baik itu, ada restu dari ayahnya, ada restu dari Tuhannya, dan tentunya ada restu dari masyarakat karena mereka seiman.
Wafa berterima kasih pada Bian karena sudah membantunya. "Saya jadi tidak enak hati sampai membuat waktu Pak Bian tersita karena mengurus masalah saya ini." katanya.
"Untuk apa kamu berterima kasih kepada saya. Bukankah hal ini sudah sepantasnya saya lakukan? Saya juga berhutang banyak padamu," balas Bian.
'Berhutang banyak? Apa maksud dari kata itu? Oh, Astaghfirullah hal'adzim, Masya Allah ... sadarlah, Wafa. Apa yang dia maksud itu karena aku sudah mengurus putrinya selama dia pergi ke luar negeri. Kenapa kamu berpikir terlalu banyak?' batin Wafa kecewa.
"Kamu adalah orang yang sangat penting bagi saya. Saya tidak tahu apa yang saya rasakan terhadapmu saat ini. Tapi saya merasa bahwa kamu berhak mendapatkan apa yang saya lakukan untukmu saat ini." imbuh Bian dengan serius.
Deg!
Jantung Wafa kembali berdebar kencang. Wafa bukanlah gadis polos yang tidak tahu apa yang dimaksud oleh Bian. Dia pernah merasakan apa yang dia rasakan ketika dulu bersama dengan Ustadz Zamil. Bedanya saat ini, Wafa harus menahan diri karena seseorang yang mulai membuatnya sulit untuk menjalani hidup ini bukan orang biasa.
__ADS_1
Di saat Wafa bicara berdua dengan Bian, Ferdian menerobosnya dan menarik paksa Wafa masuk ke kelasnya, padahal jurusan mereka berbeda, juga tidak seangkatan.
"Eh?"
"Kamu—" tentu saja Wafa menjadi kaget.
Bian menahan tangan Wafa supaya tidak dibawa pergi dengan Ferdian. Bedanya Ferdian, ia menarik tangan Wafa yang lagi-lagi menyentuh kulitnya sebagai langsung. Sementara Bian, ia yang bisa menghargai Wafa, menahan lengannya supaya tidak dibawa pergi oleh Ferdian.
"Lepaskan dia!" pinta Ferdian.
Tanpa mengatakan apapun, tapi dengan tatapan yang tajam, Bian sudah menunjukkan jika dia tidak senang.
"Senior, tolong lepaskan saya. Apa kamu lupa dengan yang saya katakan tadi?" Wafa mulai meronta karena tangannya sudah terlalu lama digenggam oleh Wafa.
"Wafa, maafkan saya jika kamu akan merasa sakit," ucap Bian dengan raut wajahnya yang dingin.
"Maksudnya?" Wafa semakin bingung.
Keduanya saling bertatapan, jantung keduanya seperti saling menyapa, rambut Bian yang rapi seperti terkena hembusan angin sejuk dari pegunungan. Apa yang terjadi, tanda jika keduanya sudah mulai ada perasaan yang sama. Tatapan itu semakin dalam sampai membuat Ferdian kesal.
"Ck, kalian apa-apaan!" sentak Ferdian.
Perlahan, Bian melepaskan tangannya dari lengan Wafa. "Kamu baik-baik saja? Tadi aku menarikmu kuat sekali, semoga saja lenganmu tidak sakit." Bian begitu perhatian pada Wafa.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja, terima kasih." ucap Wafa jadi tersipu malu.
"Aku pikir kamu wanita baik-baik, Wafa. Ternyata kamu sama saja dengan yang lain, bahkan kamu saja lulus dengan pria yang berduit dibandingkan dengan diriku yang tulus," ujar Ferdian tiba-tiba.
Wafa menarik alisnya ke atas, gadis ini bingung dengan apa yang diucapkan oleh Ferdian padanya.
__ADS_1
"Senior, apa yang kamu katakan ini?" tanya Wafa.
"Nona Wafa, biarkan saya menjawab," sahut Zaka Yang yang entah kapan dia datang. Asisten berkelas itu tiba-tiba saja sudah ada di belakang mereka. "Apa yang dimaksud oleh mahasiswa ini adalah bahwa ada ini wanita murah." jelasnya.
"Apa benar seperti itu, senior? Kamu menganggap saya sebagai wanita murahan?" tanya Wafa tidak percaya.
Ferdian menatap Wafa penuh dengan kebencian. Pria ini menjadi tidak suka karena Wafa lebih memilih Bian daripadanya. "Iya." Jawabnya dengan tegas.
"Atas dasar apa kamu bisa menganggap saya sebagai wanita murahan? Kamu siapa? Kenapa kamu begitu tahu sekali jika saya ini adalah wanita murahan. Apa karena orang yang berada di sisi saya ini adalah orang kaya, jadi kamu pikir saya ini—wanita murahan?" Wafa tak habis pikir.
Zaka Yang yang menjadi penengah, meminta Wafa memilih diantara keduanya.
Sebelum memilih, Wafa diberitahu oleh Lastri bahwa kelas terakhir jam kosong, dosennya tidak hadir. Akhirnya Wafa memutuskan untuk memilih Bian. Di saat itulah, Ferdian langsung marah, mengatakan bahwa Wafa memang wanita murahan yang sama siapa saja dekat.
"Sekarang pilihlah, Wafa. Antara aku dengan pria itu ... siapa yang ingin kamu pilih." Ferdian memberikan pilihan yang menyudutkan Wafa. Dia bahkan sempat menunjuk wajah Bian.
Meski begitu, Wafa tidak akan pernah takut jika sampai Ferdian menghindar ataupun membenci dirinya. Bahkan kepergian Ferdian lah yang Wafa inginkan.
"Dengan tegas dan dengan pasti, saya akan memilih pria yang telah membantu menjaga kehormatan saya dibandingkan dengan orang seperti kamu!" tegas Wafa.
"Pria ini menghabiskan waktu berharganya untuk membantu menyelesaikan fitnah yang terjadi pada saya, tanpa saya minta. Sedangkan kamu? Kamu malah meminta saya untuk mengakui hal yang tidak pernah terjadi pada diri saya dan dengan percaya dirinya ... kamu akan menikahi saya karena alasan ingin membantu saya?"
Mendengar pernyataan itu, membuat Bian merasa tidak terima.
Ferdian menyudutkan sudut bibirnya. Tersenyum sinis karena kekecewaannya. "Beberapa waktu lalu kamu pergi bersama dengan orang yang terlihat alim. Sekarang kamu pergi dengan seorang pria yang kemungkinan usia kalian jauh sekali selisihnya," katanya.
"Aku jadi semakin yakin kalau kamu ini sholihah hanya lahirnya saja. Aku tidak menyangka kalau kamu seperti ini malah akan semakin jelas jika kamu adalah wanita murahan, Wafa," lanjut pria berusia 23 tahun itu.
Bug!
__ADS_1
Ferdian mendapat pukulan dari Bian.