Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Setelah Sari Menikah


__ADS_3

Pada akhirnya, Bian dan Grietta memang tidak jadi datang. Entah kenapa hal itu membuat Wafa sangat sedih. Padahal dirinya belum kenal betul dengan Bian dan juga Grietta ini.


***


Berganti suasana perjalanan Sari ke rumah suaminya. Sari yang jarang baik mobil pribadi memilih untuk tidur, karena dirinya selalu mabuk dalam perjalanan. Melihat istrinya terlelap, membuat suaminya, Ustadz Zamil tersenyum dibuatnya. Hari itu juga, Ustadz Zamil dan keluarganya memboyong Sari ke rumahnya tanpa memberikan Sari kesempatan untuk bertanya kepada Pak Kyai tentang binti yang beliau ucapkan ketika ijab qobul sebelumnya.


Namun, Sari tetap akan bertanya ketika nanti waktunya sudah tepat. Sari ingin berbicara berdua saja dengan Pak Kyai, supaya Pak Kyai juga bisa menjelaskan seluruh cerita dengan baik dan juga tenang.


"Um, Dek. Kenapa kamu minum obat pereda mabuk kendaraan?" tanya Ustadz Zamil.


"Saya suka mabuk kalau sedang naik mobil. Jadi lebih baik, saya tidur saja, ya. Jika sampai di rumah nanti, Ustadz bangunin saya saja," jawab Sari sebelum berangkat tadi. "Eh, pereda mabuk kendaraan? Memangnya ada, ustadz?" Tanyanya lagi.


Kata-kata itu masih terngiang dalam pikiran Ustadz Zamil. Bagaimana tidak heran, mobil di rumah orang tua Sari juga tidak hanya satu dan pastinya ada beberapa yang tertutup. Ustadz Zamil heran mengapa istrinya bisa mabuk ketika naik mobil.


Perjalanan memakan waktu 1 jam karena memang waktu itu jalanan tengah macet. Mereka berhenti di sebuah pondok pesantren yang lumayan besar, namun tidak sebesar pondok pesantren.


"Dek, bangun,"


"Dek, kita sudah sampai. Ayo bangun dulu, nanti kalau mau lanjut tidak tidak apa-apa," cara Ustadz Zamil membangunkan Sari terlalu lembut, sehingga membuat Sari malah semakin nyaman untuk tidur.


Sudah beberapa kali Ustadz Zamil membangunkan Sari, tetap saja Sari enggan untuk bangun. Benar-benar menikmati perjalanan sampai terlelap seperti itu. Sari ini kelelahan, biasanya juga tidak seperti itu. Tapi memang jika Sari sedang tidur terlelap, pasti akan susah untuk dibangunkan.


Terpaksa, Ustadz Zamil memberanikan diri mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Sari. Awalnya, Ustadz Zamil ragu-ragu saat mau membelai pipi kekasih halalnya itu.


"Dek, bangun yuk. Kita sudah sampai, loh. Mau sampai kapan kamu tidur di sini? Lehernya pasti sakit?" ustadz Zamil membelai pipi istrinya dengan lembut.


"Em, Wafa. Tumben sekali kamu membangunkan Mbak dengan lembut begitu. Biasanya ju—" igauan Sari terhenti. Langsung membuka matanya, terkejut melihat tangan Ustadz Zamil masih menempel di pipinya.

__ADS_1


Merasa canggung, Ustadz Zamil langsung menarik tangannya. "Maaf, saya tidak bermaksud mengganggumu tidur. Tapi, jika kamu masih mau tidur, saya bisa kok, gendong kamu sampai ke rumah," ucap Ustadz Zamil tersipu.


Sari nyengir, menggaruk kepalanya dan memastikan dirinya sudah benar-benar bangun.


"Harusnya saya yang minta maaf. Ustadz, kenapa ustadz membangunkan saya terlalu lembut sekali seperti ini. 'Kan saya jadi nyaman," celetuk Sari mencoba memecahkan kecanggungan.


"Lah, memang seharusnya, 'kan? Kalau membangunkan orang tidur dengan kasar, kasihan dong, pasti terkejut dan akan pusing," tutur Ustadz Zamil.


"Eh, siapa bilang. Saya dah terbiasa dibangunin seperti grebek maling tahu, Ustadz. Wafa jika tersedang tidak sabar, pasti membangunkan saya dengan mencipratkan air atau bahkan pernah menggunakan panci," ungkap Sari.


"Terkadang anak itu juga sambil nyiram wajah saya menggunakan air. Pernah sekali saya sampai tersedak dan dia hanya tertawa saja,"


"Pernah juga kalau bangunin saya, tubuh saya langsung diangkat dan di ceburin dalam bak. Abi selalu memarahinya ketika dia berbuat onar seperti itu." tangkas Sari mengibaskan tangannya. Raut wajahnya langsung seketika berubah menjadi sedih.


Celotehan Sari malah membuat Ustadz Zamil semakin tertarik dengan istri nakalnya itu. Meski Sari menceritakan betapa tegas-nya keluarganya, tapi dirinya juga menceritakan alasan mengapa semua keluarga menegaskan banyak peraturan padanya. Jawabannya, memang karena begitu sikap random keluarganya.


Sari ini juga sebenarnya memiliki humor yang tinggi. Tingkahnya juga serandom Wafa. Tapi tidak separah Wafa. Anggun dan juga lemah lembut itu hanyalah fisiknya saja. Tapi jika sudah bercanda pasti akan mengundang gelak tawa.


Melihat sudah banyak orang di sekeliling mobilnya membuat Sari semakin terkejut. "Em, mohon maaf, Ustadz. Mereka ini siapa?" tanya Sari masih bingung.


"Mereka santri saya, Dek. Ada apa? Kenapa se-kaget itu? Bukankah ini sudah terbiasa bagimu?" jawab Ustadz Zamil.


"Tunggu, pikiran saya jadi sedikit rumit mikirnya. Ini pesantren milik, Ustadz?" tanya Sari.


"Nanti saja jelasinnya, ya. Ayo, kita turun dulu dan terima sambutan mereka," ajak Ustadz Zamil dengan kelembutan.


Raut wajah Sari seketika berubah masam. Bagaimana tidak, dirinya yang ingin jauh dari pesantren, malah menikah dengan pria yang memiliki pesantren juga. Sari tidak menyangka bahwa yang dikatakan Zira dan Dian tentang Ustadz Zamil yang memiliki Pesantren itu ternyata benar. Sari berpikir jika itu hanyalah gurauan saja.

__ADS_1


Sebelumnya, Wafa juga pernah mengatakan bahwa Ustadz Zamil bukanlah orang biasa, sebab dia pernah berkunjung ke rumah Ustadz Zamil. Tapi Sari enggan menanggapinya karena masih menganggap atau Masih memikirkan tentang Wafa yang mengagumi Ustadz Zamil yang sekarang sudah menjadi suaminya. Semua santri putri menyalami dan mencium tangannya. Hal yang sama ketika dirinya sampai di pesantren milik keluarganya.


"Apa ini? Aku di mana? Aku siapa? Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang, kah?" gumam Sari dalam hati.


Meski bingung dengan situasi itu, Sari tetap menebar senyuman, agar tidak dianggap sombong dan tidak ramah. Sebagai seorang istri ustadz sekaligus pemilik pesantren, membuatnya harus menjaga image.


"Apa-apaan ini? aku pikir ini hanya candaan saudara-saudara perempuanku saja kalau Ustadz Zamil seorang Ustadz yang tidak biasa. MasyaAllah, aku harus gimana ini? Bersyukur atau mengeluh ini?" batin Sari terus memerangi otaknya.


Setelah banyak penyambutan, akhirnya Sari bisa duduk manis istirahat di kamar. Ia menghela napas panjang dan menatap dirinya di cermin besar di dinding samping lemari.


"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Ustadz Zamil sambil mengetuk pintu kamar.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, masuk saja. Saya masih dalam keadaan sehat walafiat untuk saat ini," sambutan Sari membuat Ustadz Zamil salah paham. Pikiran Ustadz Zamil sudah ke arah biru, biru, muda.


"Em, itu ... Saya mau pamit ke masjid dulu. Ini sudah masuk waktu shalat, kalau kamu mau bareng ke mushola aula putri, saya akan menunggu," ajak Ustadz Zamil sedikit gugup.


Awalnya Sari ingin shalat di rumah saja. Tapi, demi nama baik suaminya, akhirnya dirinya mengiyakan usulan suaminya untuk shalat di mushola putri. "Tunggu sebentar, saya mau ganti baju dulu, sekalian wudhu, boleh?" ucap Sari.


"Saya tunggu di depan, ya," Ustadz Zamil masih saja canggung berbicara dengan sang istri. "Em, itu ... tolong jangan lama-lama, sudah mepet waktu soalnya," tutur Ustadz Zamil mengingatkan.


"Siap!" jawab Sari mantap.


Ustadz Zamil tidak menyangka jika istrinya yang terlihat lemah lembut itu, tingkahnya sangat lucu. Hal itu tidak membuat Ustadz Zamil merasa ilfil ataupun tidak suka. Ustadz Zamil malah menyukai sikap Sari yang saat itu. Senyumnya terpancar setelah ia sedih mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Pak Kyai.


Setelah beberapa menit, akhirnya Sari keluar. Bagaimana tidak terpana seorang Ustadz Zamil. Istrinya begitu anggun memakai gamis merah muda dengan jilbab putih menutupi dadanya. Wajah Sari juga menambah ke dan manis dalam pandangan matanya. Dalam hati, Ustadz Zamil mengucapkan syukur akhirnya bisa menikah dengan gadis yang direstui oleh kedua orang tuanya. Tapi Ustadz Zamil juga masih sedih karena yang menjadi istrinya bukan Wafa, gadis yang selalu mencuri pandangannya.


"Ayo," ajakan Sari mengejutkan Ustadz Zamil dalam lamunannya.

__ADS_1


"Mari,"


Keduanya berjalan sedikit berjarak. Pertama bagi Ustadz Zamil maupun Sari berangkat shalat dengan status suami istri. Membuat beberapa santri yang melihatnya, merasa ingin segera menikah.


__ADS_2