
Setelah acara, di tempat istirahat Kyai dan Reyhan Wafa menunggu mereka dengan tangannya dilipat dan wajahnya yang diwarnai dengan kekesalan yang tak terkira.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, Pak Kyai yang terhormat dan Mas Reyhan yang baik hati," salam Wafa sudah mengandung banyak arti.
Pak Kyai dan Reyhan saling menatap, lalu menjelaskan pada Wafa tentang acara hari itu. Wafa sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan jika ayah dan sepupunya hadir di kampus. Namun Ia hanya tidak suka jika mereka sampai mengungkap identitasnya.
"Maaf, ya. Abi kan tidak tahu," ucap Pak Kyai lirih.
"Iya, maafkan aku juga, ya. Kami tidak tahu kalau ternyata kamu menyembunyikan identitas yang sebenarnya pada teman-temanmu," imbuh Reyhan.
"Memangnya kenapa harus menutupi identitas kamu, Wafa? Bahkan mereka juga tidak tahu kalau kamu pemilik yayasan yang ada di—" ucapan Reyhan terganti kala melihat tatapan tajam adik sepupunya. "Oke, aku diam." lanjutnya patuh.
Wafa protes pada ayahnya karena mengatakan bahwa dirinya juga mengenyam ilmu di kampus tersebut. Pak Kyai bingung dengan putrinya yang menutup diri dari teman-teman kampusnya. Beliau sampai memandang aneh terhadap putrinya.
"Hah? Teman yang mana? Aneh bagaimana? Abi kenapa ... ih, astaghfirullah hal'adzim. Pokoknya aku tidak suka jika Abi sembarangan lagi berucap!" tegas Wafa.
"Loh, mengapa begitu?" tanya Pak Kyai.
"Ya, aku tidak mau saja Abi bilang begitu," lanjut Wafa.
"MasyaAllah, tapi kenapa, apa alasannya?" tanya Pak Kyai lagi.
"Tidak suka!" jawab Wafa.
"Bagus jika kamu dikenal banyak orang. Memangnya ada yang salah jika dikenal banyak orang?" sahut Pak Kyai.
Sementara Wafa dan Pak Kyai saling melempar argumen, Reyhan malah sedang sibuk makan kacang kulit yang ia dapat dari panitia acara itu. Reyhan tidak mau ikut campur urusan paman dan sepupunya karena tidak ingin saja mendapatkan masalah.
Setelah dirasa cukup lelah berdebat, Pak Kyai mengajak Reyhan pulang lebih dulu. Meninggalkan Wafa yang memang tidak mau di ajak pulang bersama beliau.
__ADS_1
Ketika mau pulang, Wafa mendapatkan pesan dari Bian tentang rencana bulan depan dimana akan ada acara rekreasi di sekolah Grietta. Bian meminta tolong pada Wafa untuk menyempatkan waktu.
pesan dari Bian.
Mendapat pesan itu, memang Wafa menjadi bahagia. Tapi ia juga belum bisa mengiyakan karena tidak tahu juga akan ada acara dadakan atau tidak di tanggal yang sama. Jadi, Wafa hanya mengatakan bahwa dirinya akan mengusahakan.
pesan lagi dari Bian.
Kali itu, Wafa tersenyum ketika Bian mengatakan bahwa dirinya adalah pengecualiannya. Gadis itu pulang dengan senyum sumringah terukir di wajahnya.
***
Satu minggu berlalu. Selama seminggu itu, kuliah Wafa berjalan dengan lancar. Mayumi tak lagi terlihat membullynya. Bahkan Dani saja juga tidak mengganggunya lagi. Antara mereka menjadi merasa sungkan atau memang sedang ada rencana baru, Wafa juga tidak mengerti.
Di parkiran, seperti biasa Wafa selalu ada yang menghampirinya. Ada Tian dan juga Ferdian yang selalu berebut ingin mengantar Wafa pulang.
"Wafa, kamu tidak mau pulang bareng aku kah? Sesekali saja, masa iya tidak bisa?" tanya Tian, ketika sampai di parkiran. "Oh, iya. Apakah waktu itu kamu bertemu dengan Lastri? Dia temanku, jangan salah paham tapi, dia hanya teman saja bagiku." imbuhnya seperti khawatir Wafa akan cemburu.
"Wafa!"
Wafa dan Kristian menoleh ke sumber suara. Ferdian sudah ada di belakang mereka dengan raut wajah sombongnya. Dia langsung melepaskan genggaman tangan Ferdian di lengan Wafa yang belum sempat Wafa tepis.
"Untuk apa kamu memaksa orang yang jelas-jelas tidak mau?" ketus sekali Ferdian jika sudah dengan Tian.
"Senior, tapi aku hanya ... hanya ingin mengantar Wafa pulang saja. Memangnya kenapa? Apa yang salah?" Tian yang belum pernah berani menjawab Ferdian, hari itu telah menjawabnya.
"Wafa, ayo pulang—" kembali ada yang mau mengajak pulang Wafa bersama. Tentunya suara seorang pria yang Wafa kenal.
"Pak Bian?" sebut Wafa lirih, ketika menoleh ke arah samping.
__ADS_1
Senyum Wafa melebar, tanpa permisi, Wafa meninggalkan Tian dan Ferdian begitu saja. Wafa segera datang ke arah mobilnya Bian saat itu.
"Assalamu'alaikum, Pak ... Kenapa anda di sini?" tanya Wafa terlihat senang.
"Hari ini saya mau mengajak kamu ikut ke pabrik. Apa kamu bersedia?" ajak Bian.
Demi menjauh dari Tian dan Ferdian, Wafa pun menerima ajakan Bian yang mau dibawa ke pabriknya. Wafa mengangguk mau dan segera masuk ke mobilnya. Tian dan Ferdian menatap kepergian Wafa bersama Bian.
'Siapa lagi pria itu? Mengapa Wafa selalu pergi dengan seorang pria? Dia ini anaknya kyai sungguhan 'kan?' batin Ferdian mulai tertekan karena terus memikirkan Wafa. Sayangnya yang dipikirkan tidak membalas perasaan yang Ferdian rasakan.
Sekitar 15 menit, sampailah Wafa dan Bian ke pabrik kayu produksi triplek barecore. Banyak sekali karyawannya Bian sampai membuat Wafa takjub dengan prosesnya.
"Wah, Pak Bian. Apakah semua ini milik anda?" tanya Wafa.
"Benar. Semua ini adalah hasil usaha saya. Kamu jika mau bekerja bersama dengan saya, bisa pilih saja jabatan apa yang kamu inginkan," ucap Bian.
"Hahaha, masa iya begitu mudahnya mendapatkan pekerjaan. Tidak, Pak Bian, saya tidak mungkin melakukan itu," sahut Wafa.
"Kamu pengecualian bagi saya. Jadi tidak ada salahnya jika kamu tinggal memilih apa yang kamu mau dari perusahaan saya."
Lagi-lagi Bian mengatakan 'pengecualian'. Membuat Wafa semakin gelisah saja memikirkan itu. Selama berkeliling, Wafa tak pernah melepaskan pandangannya dari Bian. Penuh dengan ketelatenan ketika Bian menjelaskan semua yang ada di pabriknya. Dari mulai yang sederhana pembahanan sampai ke finishing.
"Ini jam tukeran shift, ya? Banyak dari parkiran yang keluar masuk gitu?" tanya Wafa.
Posisinya saat itu sedang ada di kantor, makanya bisa melihat parkiran dari lantai atas kantor pabrik kayu tersebut. Wafa juga tak sengaja melihat ada karyawati yang sedang mengandung, karena perutnya terlihat besar seperti orang sedang hamil.
"Pak Bian," panggil Wafa.
"Iya, ada apa Wafa? Jam ini memang sedang pertukaran shift, jika kamu mau mau melihat langsung, saya bisa antar kamu ke parkiran," sahut Bian.
__ADS_1
Seketika raut wajah Wafa langsung datar. Jawaban Bian begitu garing sampai terdengar suara jangkrik berbunyi.