Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Muncul Perdebatan Baru


__ADS_3

"Ini, pakai saja." Bian menyodorkan dompet hitam miliknya.


Kebaikan Bian, ditolak oleh Wafa. "Tidak, terima kasih, Pak. Saya akan tarik tunai saja. Tunggu sebentar, saya akan keluar dulu."


Kepergian Wafa dicegah oleh Bian dengan menahan tangannya. "Pakailah, untuk apa mempersulit diri dengan berjalan kaki mencari mesin ATM jika di sini saja ada kemudahan?" desaknya.


Memandang wajah Aisha, Wafa tak lagi menolak pemberian Bian. Ia meraih dompet kulit berwarna coklat kehitaman itu dari tangan Bian. "Terima kasih," ucapnya lirih.


Awalnya Wafa ragu mau membuka dompet itu. ia belum pernah membuka dompet orang lain, termasuk ayah maupun kakak perempuannya. Baginya, baru pertama kali dan sedikit gugup. Begitu membuka dompetnya, Wafa terkejut dengan uang lembaran ratusan ribu begitu banyak.


'MasyaAllah, Allahumma sholli ala sayyidina muhammad, banyak sekali uangnya. Apakah Pak Bian baru melakukan tarik tunai?' batin Wafa.


Tangan mungil Wafa sampai gemetar ketika mau meloloh satu lembar saja dari uang itu. Tidak mau berhutang banyak, Wafa mengambil satu lembar uang seratus ribuan, kemudian memberikannya pada Aisha.


"Ini untuk kamu. Kakak hanya mau satu bunga saja. Sisanya, bisa kamu buat jajan atau menambahkan ke saldo donasi untuk adik kamu, ya ...." ucap Wafa, memberikan selembar uang seratus ribuan itu.


"Terima kasih, Kak!" seru Aisha. "Semoga rezeki Kakak dan suami lancar, aamiin. Aisha pamit dulu, ya, assalamualaikum!"


Gadis kecil itu pergi setelah mendapatkan uang dan memberikan bunga pada Wafa. Senyum manisnya membuat hati Wafa merasa tentram. Wafa teringat jika dompet yang ia bawa bukanlah miliknya, ia pun mengembalikan pada Bian. "Terima kasih." ucapnya.


Bian hanya tersenyum. Kemudian menyalakan mesin mobilnya, lalu tancap gas dan seketika mereka melupakan kejadian beberapa waktu yang mengakibatkan mereka beradu mulut.


Berjalan waktu 7 menitan, mereka sampai di pesantren. Rupanya biyen benar-benar ingin meminta izin pada Kyai secara langsung, jika ingin membawa Wafa dengannya ke luar negeri bersamanya.


"Apa ayahmu ada?" tanya Bian lirih.


"Seharusnya sih, jam segini masih ada di pesantren. Tapi semoga saja Abi ada di rumah," jawab Wafa dengan tenang. "Bapak yakin mau izin secara langsung dengan Abi—ayah saya?" tanya Wafa, masih kurang yakin.


"Tentu!" seru Bian, percaya diri.

__ADS_1


"MasyaAllah tabarakallah, semoga saja niat baik bapak bisa diterima oleh Abi—ayah saya," sahut Wafa dengan senyuman yang meneduhkan hati Bian.


Perkiraan Wafa Pak Kyai sedang ada di pesantren, ternyata beliau malah sedang asyik mengobrol dengan Reyhan—keponakannya.


"Assalamualaikum," salam Wafa.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Pak Bian, silahkan duduk, monggo!" Pak Kyai dan Reyhan terlihat begitu ramah mempersilahkan Bian.


"Terima kasih." jawab Bian.


Awalnya mereka basa-basi dan Pak Kyai juga bertanya mengapa Wafa bisa bersama dengan Bian. Sebenarnya wafat sendiri tidak ingin menceritakan kejadian yang menimpa dirinya di kampus. Tapi karena saat itu Bian sudah langsung mengatakannya pada Pak Kyai, dia hanya pasrah saja dan menerima apapun reaksi dari sang ayah.


"Astaghfirullah hal'adzim, apa benar begitu ceritanya, Nduk?" tanya Pak Kyai.


"Benar, Abi." jawab Wafa. "Beruntung saja ada Pak Bian yang membantu. Jika tidak, Wafa tidak tahu lagi bagaimana cara menyikapi semua orang di kampus," jelasnya.


Bian menceritakan semuanya bagaimana Wafa mengabarinya ketika fitnah itu terjadi. Bian juga tidak semata-mata ingin dipuji, dia juga mengatakan kebenaran bahwa Wafa salah menelpon dirinya yang di mana, Wafa ingin menelpon Inneke.


"Sebenarnya kedatangan saya datang kemari juga ... Saya memohon izin kepada Pak Kyai supaya memberikan izin anda untuk Wafa ikut bersama saya pulang ke Tiongkok," mohon Bian.


"Saya mengajak Wafa memang mengajak sahabatnya juga. Saya tahu hal itu mungkin belum bisa memastikan bahwa saya bisa menjamin bagaimana keselamatannya di sana," imbuh Bian.


"Tapi jika saya boleh minta waktunya, Tuan Reyhan, silahkan anda ikut bersama kami juga terbang ke sana."


Sebenarnya Pak kyai juga mengizinkan dengan syarat Reyhan harus ikut bersama dengan Wafa. Sayangnya Reyhan malah tidak bisa ikut karena dia harus pergi ke luar kota untuk kirim barang pas di hati dimana Bian dan Wafa ke luar negeri.


"Wafa, Pak Bian, saya ingin sekali ikut bersama dengan kalian karena perayaan itu sangat penting bagi Grietta," ujar Reyhan. "Tapi masalahnya, saya juga ada kepentingan lain yang juga di hari itu yang tak bisa saya tinggalkan," jelasnya.

__ADS_1


"Yah, terus bagaimana? Apakah Abi tetap mengizinkan Wafa ikut ke Tiongkok menemani Grietta?" tanya Wafa lirih.


Pak kyai sebelumnya hanya diam saja. Beliau hanya menunduk saja ketika Wafa menatapnya dengan penuh harapan. Setelah beberapa menit, barulah pak Kyai tetap mengizinkan Wafa pergi demi Grietta.


Di sisi lain Wafa sedang tegang karena masih ada kejanggalan dengan izin yang diberikan oleh ayahnya. Di depan kampus, sedang heboh perdebatan Inneke dan Zaka Yang. Perkara Inneke harus menjemput Zaka Yang karena sahabatnya.


"Om, ayo pulang!" ajak Inneke setelah menghentikan mobilnya.


"Kamu—" Zaka Yang sedikit ragu.


"Aku Inneke, temannya Wafa. Ayo, buruan! Aku sudah tidak ada waktu luang lagi hari ini!" ketus Inneke.


Meski tidak mantap hati ikut pulang bersama dengan Inneke, tetap saja Zaka Yang masuk ke mobilnya. Sungguh tega sekali Bian menurunkan asisten pribadinya tanpa diberi bekal untuk pulang


"Pulang kemana?" tanya Inneke masih tidak ikhlas menjemput Zaka Yang.


Pria berusia hampir 30 tahun itu masih diam karena ragu.


"Woy, lah!" teriakan Inneke membuat Zaka Yang terkejut. "Mau pulang kemana, Om! Ah elah, ditanya juga ngapa diam aja dah!" sentaknya.


"Um, ji-jika tidak keberatan ... Bolehkah saya saja yang mengemudi?" Zaka Yang gugup sekali karena baru kali itu ia dibentak oleh seorang gadis kecil seperti Inneke.


"Halah, lama!" ketus Inneke. "Katakan saja kemana kau mau pulang. Dasar ahjussi merepotkan!" umpatnya.


Disebut sebagai ahjussi yang merepotkan, tentu saja Zaka Yang tidak terima. Dia pun protes, "Apa katamu? Dasar anak kecil sialan! Kamu yang merepotkan!" Zaka Yang menyentil kening Inneke.


"Woy, bangk*e! Bisa-bisanya ka—" umpatan kata-kata kotor Inneke terhenti ketika. Zaka Yang menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.


Zaka Yang mendekat ke wajah Inneke. "Anak kecil, jangan sembarangan berteriak kepada orang dewasa, jika kamu tidak ingin mau merugi sendiri." desisnya.

__ADS_1


Kemudian, Zaka Yang turun dari mobil. Ia berjalan ke arah kemudi, lalu menggenggam tangan Inneke. Menuntunnya turun, masuk ke jok samping kemudi, akhir Zaka Yang menutup pintu dengan pelan.


Pria itu kemudian masuk dan mengemudi mobil milik Inneke. Tak terasa, Inneke hanya diam seperti terhipnotis dengan sosok pria tampan yang ada disampingnya.


__ADS_2