
Inneke dan Wafa mengobrol sebentar. Inneke terus saja berceloteh tentang Zaka Yang yang ia temui 2 hari lalu ketika sarapan di salah satu rumah makan.
"Kenapa tiba-tiba kamu jadi sering membicarakan tentang asisten Pak Bian? Jangan-jangan ...." ledek Wafa, sembari menaik turunkan alisnya.
Sang sahabat pun ikutan menaikkan alis. Setelah blank beberapa detik, barulah dia maksud apa arti dari goyangan alis Wafa.
"Utekke! Matamu suek! Mana ada, nggak ada ceritanya aku suka sama dia. Tuek men, Wafa, tuek!" elaknya, sambil membuang muka dan menutupi wajahnya sendiri menggunakan tangannya.
"Aku tidak ulang kamu suka atau tidaknya, kok. Loh, kok kamu malah yang spil sendiri perasaanmu," ujar Wafa.
Mata sipit Inneke semakin disipitkan. "Dah lah, males aku. Bye!"
Inneke memang seperti itu, selalu datang dan pergi sesuka hati.
"Kamu marah ta sama aku?" tanya Wafa.
Langkah Inneke terhenti. "Bukan marah lagi, tapi aku poll suebele sama kamu. Jangan hubungi aku lagi dan jangan ajak aku cari takjil, okeh?"
Merajuk pun Inneke masih meng-kode minta diajak ngabuburit bareng. "Iya, nanti jemput aku jam 4 sore. Kita keliling alun-alun sepuas hatimu!" seru Wafa dengan senyuman.
"Hmph!"
Inneke tak menoleh sekalipun. Tapi Wafa sudah tahu jawaban apa yang Inneke berikan padanya.
Telepon pun berdering, Wafa segera melihat siapa gerangan yang telah meneleponnya.
"Ustadz Lana?"
"Kenapa lagi, ya?"
Wafa pun menjawab telepon dari ustadz Lana.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, iya, ustadz. Ada apa, ya?" tanya Wafa.
'Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Wafa, ini bagaimana, ya? Grietta kok tidak mau diberi pengertian. Dia semakin merajuk, minta kamu yang menjemputnya kesini. Maaf jika saya malah menambah masalah untukmu, Wafa,'
Helaan nafas lembut yang kali itu bisa Wafa lakukan.
"Bisa saya yang bicara dengan Grietta? berikan ponsel ini padanya," pinta Wafa.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, terdengar suara indah nan lembut dari mulut Grietta. 'Halo .....'
"Grietta?"
'Mama, aku marah padamu. Mengapa Mama tidak mau menjemputku di rumah Nana? Aku tidak mau pulang ke rumah Papa. Aku tidak mau!'
"Alasannya apa, Grietta? Mama benar-benar sibuk hari ini, sepertinya Mama memang tidak bisa menjemputmu. Bukankah sama saja, jika Nana mengantarmu ke sini?" kata Wafa.
'No! Aku tidak mau. Aku hanya mau di jemput oleh Mama Wafa!'
Paksaan Grietta tak membuat Wafa luluh. Hari itu memang dia sangat sibuk, jadi tidak bisa menjemput Grietta yang berada di rumah ustadz Lana. Apalagi tempat tinggal ustadz Lana juga tidak dekat. Membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke sana.
"Grietta, tolong mengertilah. Mama sedang ada kegiatan. Begitu sampai sini, Mama janji akan menemanimu bermain, bagaimana?" usul Wafa.
Tut ... Tut ....
Tanpa ada jawaban dari bocah kecil itu, teleponnya terputus. Wafa tahu betapa kecewanya Grietta padanya. Namun dia juga tidak bisa meninggalkan kegiatannya karena itu menyangkut masa depannya. Tak selang beberapa detik kemudian, nomor ustadz Lana kembali menelepon.
"Assalamualaikum," salam Wafa.
'Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Sepertinya dia marah, tapi tidak masalah karena saya akan mencoba untuk membuatnya mengerti lagi,'
'Baik, Wafa. Saya akan mencoba menghubungi Pak Bian. Semoga pekerjaan kamu segera selesai dan masalah dengan bocah kecil lucu ini juga selesai. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,'
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
Wafa hanya bisa menghela nafas. Masalah dengan ayahnya belum selesai dan kini dia harus kembali dipermasalahkan dengan hal lain lagi. 'Kenapa semua aku buat kecewa? Ya Allah, astaghfirullah hal'adzim, aku memang biang masalah.'
Di sisi lain, Bian yang baru saja selesai meeting langsung bisa menjawab telepon dari ustadz Lana. Mendengar bahwa Grietta merajuk karena Wafa tidak bisa menjemputnya, langsung saja Bian menuju rumah ustadz Lana dan meninggalkan pekerjaan penting lainnya pada asisten pribadinya.
"Zaka," panggil Bian.
"Iya, Tuan?"
"Tolong kamu lanjutkan pekerjaan yang lain. Aku akan menjemput putriku ke rumah ustadz itu," perintah Bian.
"Tapi, Tuan. Klien kita yang sekarang—" ucapan Zaka Yang terhenti. "Baik, Tuan. Saya akan melaksanakan pekerjaan ini. Kunci mobilnya ..."
Zaka Yang tak mungkin bisa menolak pekerjaan yang diberikan oleh bosnya. Setelah mengambil kunci mobil dari tangan Zaka Yang, Bian segera pergi meninggalkan kantornya.
__ADS_1
"Anak ini semakin lama, semakin menyebalkan saja. Aku terlalu memanjakannya sehingga dia berani bersikap kurang ajar seperti ini pada orang tua," kesal Bian, sibuk menyetir.
"Selama ini Wafa sudah banyak pembantuku. Wajar jika dia memiliki pekerjaan yang menumpuk karena dua hari yang lalu dia juga membantuku mencari Grietta,"
"Apalagi hubungannya dengan ayahnya itu. Aku bahkan belum menanyakan bagaimana perkembangannya,"
"Hishh, Wafa ... maafkan aku ..."
Bian memang orang yang tahu diri. Pria berusia 30 tahunan itu memang sudah matang sekali, tentunya sudah memiliki sikap yang dewasa sejak pertama kalinya ia terjun di dunia bisnis. Sejak kematian kakek dan ayahnya, membuat Bian sulit sekali menikmati waktu luangnya. Selalunya dipakai untuk bekerja dan terus bekerja. Bertemu dengan orang yang lebih tua darinya, membuatnya juga ikut berwawasan.
"Halo, ustadz. Bisakah Anda mengirimkan alamat yang lengkap? Saya sudah masuk di daerah anda,"
'Baik, Pak Bian. Saya akan mengirimkan saat ini juga,'
"Terima kasih." ucap Bian, menutup teleponnya.
Setelah sekitar 30 menitan, baru Bian sampai di rumah ustadz Lana yang ternyata itu adalah sebuah pesantren.
"Ternyata ustadz ini dan juga Wafa memiliki profesi yang sama. Pantas saja mereka memiliki jalan pemikiran yang sama, sejak kecil sudah agamis sekali," gumam Bian.
Seorang pria paruh baya menegur Bian, dan mengejutkannya. "Pados sinten nggeh?" tanyanya.
(Cari siapa, ya?)
"Oh, astaga!" Bian terkejut. "A-apa? Apa yang anda tanyakan?" tanya Bian lagi karena tidak paham dengan pertanyaan pria itu.
"Owalah, ora iso boso jowo," celetuk pria paruh baya itu. "hmm, Bapak ini cari siapa, ya? Ada keperluan apa, sehingga mobilnya berhenti tepat di depan gerbang pesantren?" Pria itu kembali bertanya.
(Owalah, tidak bisa bahasa Jawa)
Akhirnya Bian bisa mengerti dengan pertanyaan dari pria tersebut.
"Saya kesini mencari ustadz Lana dan sudah memiliki janji. Apakah saya bisa masuk sekarang?"
Pria itu mengangguk, membukakan gerbang besar tersebut dan mengarahkan rumah yang ustadz Lana tinggali. Tak lupa Bian juga berterima kasih dengan ramah.
"Setelan jase mesti larang!" seru pria paruh baya tersebut. (Setelan jasnya pasti mahal)
Begitu turun dari mobil, kedua orang tua ustadz Lana yang kebetulan ada di depan rumah pun langsung menghampirinya. Mereka sedikit paham dengan mobil yang Bian kendarai.
__ADS_1