Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kesabaran Setipis Tisu


__ADS_3

"Oh Tuhan ... Apa kau buta? Hampir saja kau akan menabrak orang, Tuan!" sentak Inneke.


"Jika kau tidak ahli menyetir. Kemarilah, biarkan saya yang menyetir saja. Dasar bodoh!"


Mendengar makian dari Inneke, membuat Zaka Yang menganga tidak paham. Awalnya, dia mengira bahwa gadis yang ia bawa ini adalah gadis yang kalem dan lemah lembut. Nyatanya, apa yang dikatakan Tuan Mudanya memang benar.


"Hei, apa kau tuli juga? Cepat turun, biarkan aku yang menyetir!" lanjut Inneke.


Tidak ada respon dari Zaka Yang, dengan gemas, akhirnya Inneke turun. Dia membuka pintu mobil setir dengan kasar, kemudian menarik lengan Zaka Yang juga dengan kasar. "Turun kau!" ujarnya.


"Hish, sudah tuli, setidaknya jangan bodoh!"


"Cepat masuk sana! Kenapa diam saja di sini, weh! Kau mau aku tinggal atau tidur di sini atau bagaimana, hah!" bentak Inneke lagi.


"Oh, iya—" Zaka Yang sampai gugup menjawab sentakan Inneke. Segeralah pria manis itu masuk ke mobil. Bahkan, Zaka Yang masih bisa mendengar Inneke terus bergeming.


"Ternyata apa yang dikatakan Tuan Muda memang benar, ya? Teman Nona Wafa ini memang temperamennya buruk sekali. Aku harus hati-hati dalam berbicara." batin Zaka Yang dengan pasti.


Inneke juga menyetir tidak hati-hati. Dia bahkan ngebut ketika di jalanan. Lampu lalu lintas yang warna hijau sudah mau habis saja langsung diterjang. Membuat Zaka Yang senam jantung dibuatnya.


"Tuhan, apakah aku akan mati malam ini? Kenapa gadis ini gilanya ngajak-ajak? Bahkan, aku belum sempat menelpon keluargaku yang ada di Tiongkok sana. Oh Tuhan, jangan matikan aku dulu malam ini," batin Zaka Yang berdoa terus kepada Tuhan supaya diberi keselamatan sampai tujuan.


Parkir di kantor polisi, akhirnya sampai juga di kantor polisi. Jantung Zaka Yang masih saja berdetak cepat karena itu. Membuatnya terus berusaha menenangkan diri.


"Woy, mau turun kagak?" tanya Inneke.


"I-iya, saya mau tu-turun," jawab Zaka Yang sampai gugup.


"Dih, banci banget, sih. Begitu saja bengek," ledek Inneke. "Aku tunggu kau di dalam. Jangan lupa, matikan mobilnya."


BLAM!!


Bahkan Inneke pun menutup pintu mobilnya dengan keras. Membuat Zaka Yang mengangkat tangannya karena sudah tidak kuat lagi menghadapi Inneke. Padahal mereka baru bersama beberapa jam saja.

__ADS_1


***


Sementara itu, Wafa masih teringat ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama bersama dengan Qia.


FLASBACK


Hujan sangat deras mengguyur Kota sore hari itu. Terlihat beberapa siswa SMP keluar dari gerbang sekolah berlarian mencari tempat untuk berteduh. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Mungkin itu adalah siswa kelas 3 yang baru saja selesai les. Karena memang bulan ini menjelang ujian untuk siswa SMP angkatan kelas 3.


Terlihat 3 siswi berlarian menuju halte di dekat sekolah itu. Tiga gadis itu bernama Wafa Thahirah (15) Inneke (16) dan Mutaqia (15). Wafa dan Mutaqia ini satu pesantren dulu. Jadi, Wafa tidak tinggal di pesantren milik Kyai ketika dirinya lulus sekolah dasar. Tapi malah nyantri di pesantren miliki sahabat Pak Kyai ini yang masih satu kota.


"Aduh gimana, nih? Hujan gini, pasti busnya lama!" kesal Inneke. "Hah, mana riasan wajahku juga sudah tidak bagus lagi pula!" sambungnya terus mengeluh.


"Sabar saja lah, Ke. Pasti nanti juga lewat busnya, terlambat sedikit karena hujan. Logis, 'kan?" sahut Qia dengan sinis. "Lagipula, kamu ini masih anak SMP. Kenapa segala pakai riasan wajah juga, sih?"


Sementara itu, Wafa malah sibuk sendiri. Semenjak masuk pesantren itu, Wafa menjadi sedikit pendiam. Namun, ia lebih suka diam ketika hujan dan menyibukkan diri dengan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an menggunakan ipodnya.


"Fa, Wafa!" panggil Qia.


"Tepuk saja pundaknya, susah amat!" ketus Inneke.


Qia pun menepuk pundak Wafa sesuai dengan usulan Inneke, seraya memanggil namanya dengan sedikit keras. "WAFA!" teriaknya.


"Astaghfirullah hal'adzim, Qia. Jangan ngagetin gitu dong!" sahut Wafa sampai terkejut.


"Habisnya kamu nggak dengar, sih! Aku panggil kamu beberapa kali padahal. Makanya nih kuping jangan disumpal mulu pake headset. Ayo mau pulang, nggak? Itu bus terakhir kita," selain Inneke, Qia juga dulu selalu tegas.


Tiga gadis itu berlari mengejar bus yang baru saja berhenti di depan halte, tempat mereka menunggu. Beruntung saja, jilbab yang Wafa kenakan, menutupi dadanya. Meski baju seragam, dadanya masih tertutup oleh jilbab basahnya itu.


Bus sore itu sangat lah senggang. Tidak seperti ketika tengah hari, atau jam 3 sore. Di jam seperti itu, pasti banyak anak sekolah dan karyawan pabrik yang bersamaan pulangnya dan akan memadati isi bus. Sore itu, tidak banyak penumpang yang ada di dalam. Hanya saja, di kursi belakang ada yang sangat mengganggu pemandangan Wafa.


Nampak dua anak laki-laki seperti seorang berandalan yang hendak menggoda tiga gadis itu. Ketika Wafa, Inneke dan juga Qia mau duduk, Wafa malah tidak kebagian kursi di sisi mereka. Lalu, mereka (berandalan) mulai meluncurkan aksinya. Laki-laki itu ingin menyentuh tangan Wafa yang saat itu ia letakkan di jok. Sebelum Wafa menepisnya, malah sudah tangannya yang menepis tangan laki-laki lainnya.


Seorang laki-laki yang menepisnya tadi, memiliki wajah yang lumayan tampan. Akan tetapi, memiliki penampilannya tidak sesuai dengan ketampanannya. Sedikit berantakan, dan membuat Wafa merasa semakin tidak nyaman.

__ADS_1


"Woy, bisa aja! Apa-apaan lu nepis tangan gue?" ketus salah satu dari berandalan tersebut.


"Lu nggak tau siapa gue, hah!" sambungnya dengan jari menunjuk-nunjuk wajah lelaki yang menolong Wafa.


Lelaki itu hanya diam saja, kembali membuang muka dan enggan menanggapi berandalan yang mencoba mencari keributan dengannya.


"Kurang ajar! Lu berani nggak hiraukan gue, hah!" teriak berandalan itu lagi.


Lelaki berandalan itu hendak melakukan perkelahian bersama dengan lelaki yang menolong Wafa. Baru saja ingin memulai, dengan sigap, kernet bus mengeluarkan dua berandalan itu dari busnya. Wafa pun merasa lega karena mereka sudah pergi. Laki-laki yang menolong Wafa pun menawarkan tempat duduk kepadanya.


"Em … silahkan duduk. Kursi di sebelahku kosong," ucap lelaki itu dengan senyum ramah.


"Terima kasih, tapi—" Wafa menunduk.


"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu. Aku mengerti gadis sepertimu ini bagaimana. Ayo, duduklah." lanjut lelaki baik itu dengan tutur bahasa yang santun.


Tak ada alasan untuk menolaknya lagi. Wafa pun duduk di sebelahnya dan kedua sahabatnya nampak lega, duduk kembali di kursi bus yang sebelumnya mereka tempati.


Selama perjalanan, Wafa terus memalingkan pandangannya dari laki-laki itu. Dia berusaha untuk tidak menatapnya. Masih merasa tidak nyaman karena seragam dan jilbabnya basah karena tersiram air hujan.


"Kiri!" teriak Qia, tiba dimana memang seharusnya mereka harus berhenti.


"Terima kasih tadi anda sudah menolong saya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Wafa dengan lembut.


Bunga terburu-buru berlari ke arah Qia dan segera turun dari bus itu. Sementara Inneke, masih duduk sendiri, karena rumahnya masih lumayan jauh. Inneke pun duduk di kursi yang Bunga duduki sebelumnya karena merasa sendirian. Nampak laki-laki itu tak bisa melepaskan pandangannya kepada Wafa, meski bus sudah lewat dan Wafa masih sibuk merapikan diri di halte tempat ia turun.


"Kamu terpesona, bukan?" tanya Inneke, menyadari bahwa lelaki tampan yang disampaikannya itu sedang menatap sahabatnya.


"Kamu temannya kah?" lelaki itu kembali bertanya.


"Bukan hanya teman saja Kakak ganteng. Tapi aku adalah sahabatnya. Jika Kakak ganteng menang sangat penasaran dengannya, aku bisa kok, memberi nomornya kepadamu," celetuk Inneke dengan bergaya dingin ala wanita di drama Mafia.


Entah apa yang mau dilakukan Inneke saat itu memang Inneke ini sudah usil sejak dulu. Jadi, tidak khayal lagi jika sekarang semakin usil saja.

__ADS_1


__ADS_2