Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Wafa Sadar dan Inneke Mabuk


__ADS_3

"Apa aku terlihat begitu meragukan? Apa kamu memikirkan aku yang sama sifatnya dengan pria tidak buruk diluar sana?" tanya Bian dengan ketus.


Inneke terdiam. Dia menunduk seperti anak kecil yang baru saja kena marah orang tuanya. Zaka Yang melihat gadis itu sangat kasihan dan tidak tega. Biasanya Inneke memang suka sekali berisik, tapi saat itu, dia hanya bisa diam ketika Bian melawannya.


"Aku tahu kamu mengkhawatirkan Wafa. Tidak ada salahnya juga kalau kamu masih ragu dengan pria lain karena Wafa baru saja terluka karena orang yang dia sukai menikah dengan kakaknya. Tapi, apakah kamu tidak bisa berpikir sejenak untuk melihat sisi baikku?" Bian pun lanjut bicara.


Dari cara Bian bicara, Inneke menjadi luluh hatinya. Dia melihat ketulusan yang ada pada duda tampan itu pada sahabatnya. Perlahan, Zaka Yang mengajaknya keluar dan ingin mengantarnya kembali ke apartemen Wafa untuk membersihkan apartemen tersebut karena belum sempat Wafa bersihkan.


"Hei, ayo ...." ajak Zaka Yang lembut.


'Bagaimana pria itu sampai tahu jika Wafa pernah suka dengan ustadz Zamil? Apa Wafa yang memberitahu sendiri?' batin Inneke.


Setelah Inneke dan Zaka Yang meninggalkan apartemen yang baru di sewa oleh Bian, pria itu terus saja menatap wajah Wafa yang pucat. Perlahan dan dengan penuh kelembutan Bian mengganti kompres di kening Wafa.


"Cepat membaik, Wafa. Tak tahukah kamu, kalau aku sangat mengkhawatirkan dirimu?" bisik Bian.


"Tak peduli semalam kami terluka apa tidak karena kelakuan Jia Mee. Tapi, untuk saat ini saja, bertahanlah dan lekas sembuh. Aku sangat merindukanmu, Wafa."


'Tunggu, kenapa aku merindukannya? Apa maksudnya?' Bian pun tak tahu dengan perasaannya.


Meninggalkan Bian yang sedang menjadi budak cintanya Wafa tanpa sadar, dua orang yang selalu saja berdebat itu menjadi pendiam ketika keluar dari apartemen barunya Bian. Zaka Yang mengantar Inneke sampai ke apartemen Wafa yang ada lantai bawah apartemen Bian.


"Kamu duduklah dulu. Aku akan membuatkanmu minuman hangat," ucap Inneke lirih.


"Sebelumnya kita sudah minum hangat. Duduklah sebentar. Sebaiknya kita merenung saja dulu disini," Zaka Yang menepuk-nepuk bangku supaya Inneke duduk di sampingnya.


Tidak ada penolakan, dengan tulus ikhlas Inneke duduk di samping asisten pribadi Bian dan mereka hanya menatap tv mati di ruangan tersebut. Seperti tidak ada gairah dan semangat lagi ingin berdebat, keduanya terlihat lemas dan tak berdaya.


Tak ada yang dilakukan oleh keduanya sampai malam datang.


"Apa yang mau kita lakukan malam ini? Aku tidak mengantuk sama sekali," Inneke memulai obrolan.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, ada apa dengan Nona Wafa, ya? Bukankah sebelumnya dia sehat-sehat saja? Kenapa sekarang sampai pingsan?" tanya Zaka Yang.


"Hmm, mana aku tahu!" Inneke mengangkat kedua bahunya. "Awas saja jika Tuan-mu itu berani menyentuh sahabatku. Aku akan membuatnya menjadi perkedel jika dia sampai menyentuhnya!" ketus Inneke, mengepalkan tangannya.


"Hello, Mis bawel dan pemarah. Ada baiknya kamu menyimpan energimu ini. Simpan saja dulu amarah yang ada dalam hatimu itu. Lebih baik kita jangan memikirkan tentang itu lagi, aku sudah cukup lelah hari ini dengan pekerjaan," Zaka Yang menyandarkan kepalanya.


Alis Inneke mengangkat sebelah. "Apa kau banci?" tanyanya.


"Matamu!" tampik Zaka Yang. "Hei, gadis kecil, kumohon jangan memulai perdebatan lagi. Jujur, aku sangat lelah!"


Inneke terus bergeming, dia tidak akan berdebat juga karena sudah lelah sejak sebelum dijemput sampai apartemen Bian terus saja debat tiada henti. Tiba-tiba, muncullah ide gila Inneke yang membuat sang asisten tercengang.


"Hei, bagaimana jika kita minum saja? Apa kau bersedia?" ajak Inneke, tersenyum bodoh tapi masih menggemaskan.


Tentu saja Zaka Yang jadi melotot, dia tidak menyangka jika Inneke mengajaknya mabuk bersama. "Apa kamu memang Inneke sahabatnya Nona Wafa? Kamu tidak ikut demam 'kan?" pria ini menyentuh kening Inneke.


"Kamu tidak sedang demam. Tapi kenapa bicaramu seperti itu?" sambung Zaka Yang bertanya. "Hitam sekali otakmu,"


"Aku akan melanjutkan ceritanya kalau kamu mau minum dan makan makanan Korea bersamaku. Kalau tidak, lupakan saja!"


"Aku tidak suka makanan Korea. Aku orang China, jadi aku suka makanan orang China!" tegas Zaka Yang.


"Berisik sekali kamu," Inneke memutar bola matanya.


Sudah terlanjur mendengar awal cerita, membuat Zaka Yang tidak bisa jika tidak tahu kelanjutannya. Setelah dipikir panjang, dia pun menerima ajakan gadis heboh itu untuk minum bersama. Ditambah lagi, memang keduanya sudah dewasa, tidak mungkin juga akan ada yang melarangnya.


"Okay, aku akan memesan minuman untuk kita," Zaka Yang setuju.


"Eh, siapa bilang harus beli? Aku punya, loh! Wait," Inneke menghentikan tangan Zaka Yang yang saat itu hendak memesan.


Tidak lama setelah Inneke masuk ke kamarnya, ia keluar membawa empat botol minuman yang sudah lama ia beli tapi takut minum karena Wafa. Bodohnya, dia menyimpan di kamar apartemennya Wafa.

__ADS_1


"Wah, kamu sudah punya? Hebat sekali, apa kamu juga sering minum?" tanya Zaka Yang mulai menuang.


Inneke menggelengkan kepala. "Selama aku ada di sini, aku belum minum sama sekali. Aku masih menghargai persahabatanku dengan Wafa,"


"Niatku, aku akan minum setelah Wafa tidur. Tak kusangka saja, ada kesempatan emas seperti ini," Inneke benar-benar bahagia.


Mereka mulai minum dan makan ramen kesukaan Wafa dan Inneke juga. Gadis itu pun bercerita tentang dirinya yang mulai kesepian ketika Wafa mulai serius belajar di universitas kejuruan agama, banyak hal yang ditentang oleh pak kyai, sehingga dirinya tidak leluasa mengajak Wafa bermain lagi.


"Lalu, sejak kapan Nona Wafa memiliki yayasan yatim-piatu itu? Maksudnya, dia masih muda ketika mendirikan yayasan tersebut. Bagaimana dia mendapatkan izin dan awal ceritanya mendirikan yayasan itu?" tanya Zaka Yang, penasaran.


Inneke menyeritkan alisnya. "Hei, Bung. Ternyata kamu banyak bertanya. Huft, seperti wartawan saja!" serunya.


"Pfft, aku akan menceritakannya, tenang ...."


Banyak sekali yang Inneke ceritakan malam itu tanpa sadar. Begitu juga dengan Zaka Yang yang mendengar tapi keluar lagi dari telinga sebelah. Mereka sama-sama mabuk dan tak fokus dengan apa yang mereka keluarkan dari mulut masing-masing.


Semalaman, Bian juga begitu telaten mengganti kain basah untuk mengompres kening Wafa. Pria ini sampai ketiduran di sisi Wafa karena kelelahan.


***


Pagi hari ketika Wafa siuman, ia melihat ke sekeliling kamar yang nampak asing baginya. Terus menatap dan memastikan lagi bahwa dirinya sedang tidak tidur di kamarnya sendiri.


'Aku ada di kamar siapa ini? Kenapa kepalaku pusing sekali?' batin Wafa.


'Aroma ini ....'


Begitu Maya Wafa melihat cahaya matahari dari luar, dia sangat terkejut. 'Astaghfirullah kenapa, aku sampai tidak shalat subuh? Ini sudah lagi lagi kah?' batinnya panik.


Ketika hendak beranjak, dia melihat Bian yang tidur di pinggiran ranjang. Sempat terkejut karena duda tampan itu berada di sisinya. Wafa semakin bingung ketika infus di tangannya masih terpasang dan kain basah berada di keningnya.


'Infus? Kain kompres? Apa aku sakit?' batin Wafa lagi.

__ADS_1


__ADS_2