Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Semakin ...


__ADS_3

"Anda terlalu terburu-buru, Tuan Zaka!"


"Kita dengarkan dan kita hormati saja apa yang ingin dan hendak diputuskan oleh Grietta," sambung Wafa, menghentikan langkah Zaka Yang membawa Grietta.


"Nona, dia hanyalah anak kecil yang masih berusia 6 tahun. Bagaimana bisa dia berbohong sebesar ini? Jika didiamkan maka dia akan terus ngelunjak berbohong dan berbohong lagi. Tolong, mengerti keadaan saya dan Tuan Bian," jelas Zaka Yang, satu wajahnya begitu serius sampai membuat Grietta takut.


Wafa melepaskan genggaman tangan Zaka Yang pada Grietta dengan menarik tangan mungil itu. Wafa meminta Grietta untuk duduk di sudut ranjang terlebih dahulu.


"Tuan Zaka, apakah kepercayaan itu hanya diterapkan kepada orang dewasa saja? Apakah anak kecil tidak bisa diberikan kepercayaan?" ucap Wafa.


"Tapi bagaimana mungkin anak sekecil Nona Muda bisa dipercaya. Dia hanya anak kecil, Nona Wafa, tolonglah ..." Zaka Yang masih ngotot.


Sementara itu, Grietta berada di belakang tubuh Wafa. Gadis kecil itu sedang menyembunyikan diri dari asisten ayahnya. Wafa mendekati Zaka Yang, kemudian menjelaskan lagi tentang hak Grietta.


"Tuan Zaka. Kenapa kita sebagai orang dewasa tidak bisa memberikan kepercayaan kepada anak kecil? Apakah takut anak tersebut tidak bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan itu?" ucapnya. Wafa tegas.


"Orang dewasa saja masih banyak yang selalu ingkar dan juga tak bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan orang lain. Justru dari kecillah seseorang harus ditanamkan rasa percaya,"


"Tuan Zaka, Grietta hanya takut ayahnya akan menyerahkan dirinya pada ibu kandungnya. Tolong beri waktu bagi gadis kecil ini untuk memberanikan diri dan menyiapkan mental supaya bisa mengatakan pada ayahnya soal dirinya yang bisa bicara lagi, hm?" ucapan Wafa itu membuat hati Zaka Yang tersentuh.


Pria berusia hampir kepala tiga ini memandang Grietta, setelah beberapa saat, barulah pria ini melihat wajah Wafa. Masih diam dan belum memberikan maksudnya menatap Wafa.


"Bagaimana, Tuan Zaka?" tanya Wafa.


Akhirnya Zaka Yang setuju dengan usulnya Wafa. Ia memberikan waktu bagi Grietta supaya bisa mengucapkan sendiri pada Bian tentang dirinya yang sudah bisa bicara lagi.


"Nona, Nona Muda, saya percaya pada kalian. Tolong jangan pernah libatkan saya dalam apapun perihal ini karena saya juga ingin bekerja dengan profesional untuk Tuan Bian," Zaka Yang bicara dengan nada yang lirih, terdengar lemas karena ia tidak ingin mendapat masalah.

__ADS_1


Sebelum pergi, Zaka Yang menyentuh kepala Grietta dengan lembut, lalu pergi dengan senyuman. Dari sanalah Wafa dan Grietta merasa lega karena Zaka Yang mau membantu merahasiakan rahasia si kecil Grietta.


Senja setelah membersihkan apartemen, Inneke menemani Grietta tidur di kamarnya. Sementara Wafa tengah memandang indahnya negeri kincir angin yang mulai memancarkan gemerlapnya yang indah dengan ditemani segelas teh hijau dan makanan yang sebelumnya dibeli oleh Inneke.


'MasyaAllah, indah sekali kota ini. Andai saja aku datang kemari dengan Sabrina dan Mbak Nur. Pasti mereka sangat senang sekali,' gumamnya dalam hati.


Ketika sedang memandang langit senja, Zaka Yang datang menghampirinya. "Selamat sore, Nona Wafa." sapanya.


"Sore," balas Wafa.


"Bolehkah saya duduk disebelah anda?" izin asisten pribadi yang profesional itu.


Wafa mempersilahkan tentunya. "Iya, silahkan."


"Um, apa perlu saya buatkan teh atau kopi untuk anda, Tuan Zaka? Kita bisa menikmati senja bersama," sebenarnya Wafa gugup dan tidak nyaman jika terlalu lama dengan Zaka Yang. Namun, ia tetap harus basa-basi supaya tidak menciptakan suasana canggung.


"Itu apa?" Wafa yang penasaran, tentu saja memilih untuk bertanya daripada harus diam dan menjadi gugup.


"Semua ini rahasia yang Tuan Bian miliki," jawab Zaka Yang.


"Rahasia? Lalu untuk apa kamu mengeluarkan di depan saya? Bukankah akan menjadi tidak rahasia jika saya mengetahuinya?" lanjut Wafa bertanya.


Sang asisten menggeleng. "Sebenarnya tuan tidak ingin anda mengetahui hal ini, Nona Wafa. Tapi saya tidak mungkin menyembunyikan hal sepele seperti ini," Zaka Yang masih mempertahankan sikap bijaknya.


Wafa yang bingung hanya bisa mengangguk. Satu persatu lembaran putih itu keluar dari mapnya. Sampai tersisa hanya seperti lembaran berwarna merah, yang tak lain itu sebuah kwitansi. Entah kwitansi penjualan atau pembelian, Wafa tidak mengetahuinya.


"Ini adalah nota pembelian apartemen ini, kemudian yang ini adalah surat kepemilikan," Zaka Yang menunjukkan semuanya.

__ADS_1


Wafa pun melihatnya. Gadis itu tidak menyangka apa yang ia baca di sana. "Nota pembeliannya atas nama Huang Jie Xie, itu nama asli Pak Bian, bukan?" tanyanya.


Zaka Yang mengangguk.


Wafa kembali membuka lembaran suara kepemilikan apartemen. Disana, Wafa semakin terkejut dengan dari sebelumnya. Diketahui Wafa, apartemen itu hanya disewa oleh Bian untuknya. Akan tetapi, dugaan itu salah. Nyatanya Bian membeli apartemen itu untuknya.


"Tuan Zaka, apa saya tidak salah membaca dengan nama pemilik apartemen ini?" tanya Wafa, jantungnya mulai berdegup kencang, serta keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya.


Zaka Yang menggeleng. "Apa yang anda baca, itulah kebenarannya." katanya.


"Maksudnya apa? Kenapa nama saya tertulis disini, Tuan Zaka?" Wafa berharap Zaka Yang mengatakan kejujurannya.


"Tuhan memberikan apartemen ini untuk anda," ungkap Zaka Yang.


"Ya, kenapa? Kenapa harus membelikan untuk saya? Jujur, saya tidak bisa menerima ini, Tuan Zaka. Tolong katakan pada Pak Bian, kalau saya tidak mau semua ini." dengan pelan, Wafa memberikan surat itu pada Zaka Yang lagi.


Apalah daya, Wafa tidak bisa menolak karena Zaka Yang meminta janji Wafa supaya seolah tidak mengetahui hal itu. Ada rahasia juga yang dipegang oleh Zaka Yang, jadi dia juga meminta Wafa untuk merahasiakan bahwa dirinya mengungkapkan apa yang Bian lakukan.


"Lalu, bagaimana saya harus bersikap? Apa tujuan dari Pak Bian membelikan saya apartemen semewah ini? Ya Allah, saya harus apa, Tuan Zaka?" Wafa menjadi semakin bingung dengan situasi yang ada.


Tidak lain adalah niat Zaka Yang yang sesungguhnya hanya ingin mendekatkan Wafa dengan Tuannya. Ia sudah lelah melihat Tuannya yang begitu sibuk dengan pekerjaan. Zaka Yang melihat bahwa keduanya saling memiliki perasaan yang sama, maka dari itu pria yang berprofesi sebagai asisten pribadi ini ingin menyatukan keduanya tanpa melihat ada tembok tinggi yang menghalangi mereka.


Senja itu tak menenangkan suasana hati Wafa. Pikirannya semakin kacau. Tidak tahu maksudnya Bian me membelikannya apartemen mewah, karena Wafa juga berpikir dirinya tidak mungkin datang ke negara itu lagi.


'Ya Allah, aku harus bagaimana? Semakin kesini, aku semakin masuk terlalu dalam dipermainkan kontrak pura-pura menjadi pasangan. Aku tahu Engkau tidak meridhoi jalan yang kutempuh, tapi ....'


Sebelum sholat magrib, Wafa memutuskan untuk sholat taubat lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2