
Setelah merapikan barang-barang, Wafa dan Inneke keluar dari kamar mereka masing-masing. Apartemen itu memiliki tiga kamar, dua kamar mandi, dapur yang menyatu dengan ruang makan, ruang santai dan juga ruang tamu. Ada balkon dengan halaman yang cukup untuk bersantai menikmati senja meski tak melihat sunset tapi bisa menyaksikan sunrise.
"Kalian istirahat saja dulu. Saya ada kepentingan mendadak, sementara Zaka Yang dan Grietta akan menemani kalian membersihkan apartemen ini," Bian pamit pergi.
"Maaf jika kalian harus bekerja keras. Ketika saya ingin memanggil petugas kebersihan, Zaka Yang hanya minta saya untuk pergi dengan tenang. Jadi jika kalian nanti kelelahan, salahkan saja dia, permisi."
bian bahkan pergi tanpa berpamitan dengan putrinya. Wafa semakin heran saja dengan sikap yang selalu berubah-ubah. Wafa hanya bisa diam dan memutuskan untuk mengajak Grietta bermain.
"Hei, kemari ikut Mama," ajak Wafa. "Mau bermain?" tanyanya. Grietta mengangguk setuju.
Sementara itu, Inneke yang sedari tadi terus menatap Zaka Yang dengan tajam, tatapan tajam itu sampai bisa seperti setajam pisau samurai terhebat dari Jepang.
"Heh, kenapa kamu menatapku?" tanya Zaka Yang menjadi tidak nyaman. "Tatapanmu itu membuat saya takut, bocah. Jangan seperti itu!" tegurnya.
"Cih, menyebalkan!" kesal Inneke. Gadis ini meraih bantal sofa ruang tengah, kemudian melemparkan pada Zaka Yang. "Dasar menyusahkan! Jika Tuanmu mengatakan mau memanggil tukang kebersihan, mengapa kamu tolak, Njingg!" amarah Inneke membuat Wafa harus membawa Grietta ke kamarnya.
Ketika Inneke marah pada Zaka Yang, banyak sekali kata-kata mutiara dan juga nama-nama seisi kebun binatang. Zaka Yang sendiri sampai takut pada gadis cerdas itu.
"Nona Inneke, tolong berhenti. Tenanglah ..." Zaka Yang mencoba meredam emosi Inneke.
"Tenang matamu sobek! Bajingann kau!" Inneke masih saja melempari Zaka Yang menggunakan bantal kecil sofa di ruangan itu. "Woy, kemari! Aku akan membuatmu paham, dengan keadaanku saat ini." Inneke masih saja kesal.
"Oke, baiklah! Tolong dengarkan penjelasan saya dulu. Berhenti melempar dengan menggunakan bantal itu!" Zaka Yang menghentikan tangan Inneke.
Kini, keduanya saling bertatapan. Inneke yang sebelumnya baru saja mengambil bantal kecil sofa, niat ingin melempar bantal kecil itu pada Zaka Yang jadi terhenti. Begitu berbalik arah, wajahnya sudah dekat dengan wajah pria berusia 30 tahunan itu.
Deg!
Deg!
Deg!
__ADS_1
Pipi Inneke langsung memerah, jantungnya berdebar kencang ketika sepasang bola mata yang bulat itu memandangnya. "Dengarkan saya dulu, gadis kecil." desis pria itu, suaranya yang begitu lembut mampu menembus jantung hati seorang Inneke yang keras.
"Saya menolak Tuan saya memanggil petugas kebersihan karena saya ingin membuat nama Wafa terbiasa disini," jelas Zaka Yang.
"Maksudnya?" tanya Inneke lirih.
"Saya juga bahwa Nona Wafa pasti merasa jenuh atau bingung mau melakukan apa selama di sini. Itu sebabnya saya mengajak kalian untuk bersih-bersih apartemen ini supaya ada kesibukan," jawab Zaka Yang.
"Jika nanti kalian lelah, tenang saja! Ada peralatan yang bisa membersihkan rumah atau apartemen dengan cepat," lanjutnya.
"Apa kamu percaya pada saya? Demi Nona Wafa dan Tuan saya dekat?" tukas Zaka Yang dengan mata yang berbinar-binar penuh harapan.
Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut asisten pribadinya Bian itu membuat Inneke langsung menepis tangan pria itu dengan kasar.
"Heh! Kamu pikir kamu ini siapa?" ketus gadis itu. "Hm, beraninya sekali kamu ingin mendekatkan sahabatku dengan Tuanmu yang tidak jelas itu!" dengusnya tidak terima.
"A-apa?" Zaka Yang sampai tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan oleh Inneke.
Inneke memetikkan jarinya persis di depan ajah Zaka Yang. "Hei, Tuan. Apa kamu tidak sadar bahwa banyak perbedaan di antara mereka berdua? Bahkan mereka saja tidak saling memiliki perasaan, bagaimana bisa kamu mendapatkan mereka?" protesnya.
"Tuan saya memiliki perasaan, bahkan saya yakin jika Nona Wafa pun sebaliknya!" tegas Zaka Yang, membalas petikan jari Inneke. "Nona Wafa pasti menyukai Tuan Jie Xi!" sambungnya, melipat kedua tangannya.
Tuing~
Inneke berani sekali menyentil kening Zaka Yang dengan jarinya. "Om-om berkarat! Tuan Jie Xi itu siapa lagi, kamprett!" kesalnya.
"Tuan Huang Jie Xi, adalah nama aslinya Tuan Bian Hutomo. Mau bukti apa kamu?" tantang dan jelas Zaka Yang.
Tetap saja mereka berdua terlibat dalam perdebatan yang dirasa tidak penting. Sampai akhirnya Zaka Yang memutuskan untuk mengalah dengan meninggalkan Inneke yang malah ngomel sambil berjalan ke balkon. Meninggalkan perdebatan antara Zaka Yang dengan Inneke, Wafa dan Grietta malah asik berdua saja di kamar.
"Sayang, Nak," panggil Wafa pada Grietta sambil mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Hmm?" barulah Grietta muncul suaranya.
"Kamu sudah bisa bicara sejak lama. Tapi kenapa ketika ada Papa, kamu tidak bicara sepatah kata pun?" tanya Wafa. "Grietta, berbohong itu berdosa. Tuhan tidak menyukai anak yang suka berbohong. Apakah kamu tidak tahu, jika kamu bisa bicara Papamu pasti akan senang sekali," imbuhnya.
Grietta menunduk, melepaskan mainkan yang sebelumnya ia mainkan bersama dengan Wafa. Beberapa saat kemudian, berilah Grietta menjelaskan.
"Mama, aku tidak ingin bicara dengan Papa," ucap Grietta.
Ternyata suara Grietta didengar oleh Zaka Yang, pria itu memang ingin menemui Wafa di kamarnya. Pintu kamar Wafa terbuka, jadi Zaka Yang mendengar apa yang gadis kecil itu katakan.
'Tunggu! Suara itu, suaranya Nona muda?' gumam Zaka Yang dalam hati.
"Kenapa? Alasan apa kamu sampai tidak ingin bicara dengan Papamu?" tanya Wafa. "Sayang, Papamu pasti bahagia sekali mendengar kamu bisa bicara lagi," lanjutnya.
Grietta menggelengkan kepala.
"Jika aku bisa bicara, Papa akan mengirimku kepada Mama Flanella. Aku tidak mau bersama dengan Mama Flanella, Mama Wafa, aku tidak mau ...." ungkap Grietta, menangis.
Wafa yang tidak tahu apa maksud gadis kecil itu, hanya bisa mengerutkan alisnya. Sementara Zaka Yang, juga terkejut dan langsung masuk menghampiri mereka berdua.
"Nona Muda, apa yang kamu bicarakan ini?" kata Zaka Yang. "Mana mungkin Tuan akan mengirimmu ke Nyonya Flanella. Bukankah Nyonya Flanella sudah menikah lagi?" lanjutnya.
Kehadiran Zaka yang membuat Wafa dan Grietta terkejut juga. Keduanya langsung diam dan menatap dengan matanya yang seperti mau lepas dari tempatnya.
"Kenapa?" Zaka Yang jadi bingung dengan respon Wafa dan Grietta.
Putri dari Tuannya itu sampai menelan ludah ketika Zaka Yang datang.
"Nona Wafa, kenapa anda merahasiakan bahwa Nona Muda kami sudah bisa bicara? Apa yang akan anda dapatkan dengan merahasiakannya?" Zaka Yang mulai lagi. "Ayo, Nona Muda. Kita akan menemui Papamu, beliau pasti bahagia sekali karena kamu sudah bisa bicara."
Tangan mungil Grietta ditarik oleh Zaka Yang dengan lembut. Gadis kecil itu langsung menoleh ke arah Wafa dan memberikan kode bahwa dirinya tidak ingin ikut bersama dengan asisten Papanya. Ia menggelengkan kepala dan meminta Wafa untuk membantunya.
__ADS_1