Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Lupa Arah Jalan Pulang


__ADS_3

Mau tidak mau akhirnya Wafa pun menerima tawaran untuk diantar oleh Bian. Memang benar, di depan rumah Bian yang mewah itu sudah tidak ada lagi Pak Imin. Membuat Wafa merasa bersalah karena tidak mengajak Pak Imin ikut serta bersamanya masuk ke rumah Bian.


"Ada apa?" tanya Bian. "Ayo, segera masuk. Apa kamu mau menginap di sini?"


"Ah, tidak! Sa-saya akan masuk saja, hehehe …." jawab Wafa gugup.


Sebenarnya, Wafa adalah gadis yang konyol juga. Tapi karena sebuah tuntutan, jadinya dia merubah sikapnya lebih kalem lagi. Apalagi, memang image seorang Ning harus baik dan santun. Meski tersiksa dengan keterpaksaan, tapi semua itu Wafa lakukan dengan ikhlas. Menjadikan sebuah kebiasaan yang baik.


"Di mana rumah kamu?" tanya Bian.


"Gawat, kalau dia mengantarku pulang sampai rumah, yang ada akan ketahuan dong kalau aku keluar. Lebih baik aku nginap saja malam ini di yayasan," batin Wafa.


"Nona,"


"Hmm?"


"Di mana tempat tinggal anda?" tanya Bian, mengganti 'kamu' dengan sebutan 'anda'.


"Um, Anda bisa mengantar saya ke yayasan saja. Bisa-bisa saya di penggal kepala saya oleh ayah saya karena keluar tanpa pamit," jawab Wafa malah jujur. "Hah, kenapa aku jujur, sih?" celetuknya dalam hati.


Bian hanya mengangguk saja. Melihat kalung itu berada di leher Wafa, membuatnya tenang. Bian jadi bingung dengan pertemuan pertamanya dengan seorang gadis yang jarang ditemui dalam lingkungannya. Di mana gadis seperti Wafa, memang tidak ada di circle pertemanan maupun bisnis Bian.


"Sebaiknya kalung itu kamu masukkan saja. Lalu tutupi dengan penutup kepalamu itu, hmmm apa namanya … jilbab," pinta Bian.


"Hampir lupa! Sebaiknya kalung ini … Tuan ambil kembali saja, ya. Saya merasa was-was karena kalung ini adalah kalung warisan," Wafa mau melepas kalung yang melingkar di lehernya itu.


"Putri saya sudah memberikan kalung itu kepadamu. Jadi, kalung itu milikmu sekarang. Untuk apa kamu memberikan lagi kepada saya? Jika kamu mau mengembalikan, kembalikan saja kalung itu kepada Putri saya," terang Bian, fokus menyetir.


Huh …

__ADS_1


Lenguhan panjang itu keluar dari bibir Wafa. Tanggung jawabnya semakin besar karena harus menjaga amanah sebuah kalung warisan keluarga yang jaya raya. Bian ini baru saja kembali dari Tiongkok. Tempat asalnya memang dari sana. Tapi, ibunya menikah lagi dengan orang lokal, jadi harus pulang pergi untuk menemui ibunya.


Sedikit demi sedikit, Bian memang paham tentang semua agama. Tapi, Bian tidak menyangka jika hari itu, Tuhan mempertemukan dirinya dengan gadis yang berbeda.


"Sebenarnya saya kurang paham dengan jalan-jalan di sini. Apakah nanti pulangnya Saya bisa melewati jalanan ini juga?" tanya Bian, memecah keheningan.


"Bisa saja, kok. Memangnya selama ini anda tinggal di mana? Kok, baru tahu sekitar sini padahal kan … Putri Tuan kan juga sekolah di depan yayasan saya," Wafa malah bertanya balik.


"Saya berada di sini hanya untuk beberapa hari setiap satu tahun sekali. Jadi saya tidak tahu tempat-tempat di daerah sini. Tapi untuk kali ini, Saya berusaha untuk membangun cabang perusahaan di daerah situ Jadi kemungkinan akan lama tinggal di sini," jelas Bian.


"Loh, kenapa saya mengatakan ini kepadamu, ya?" lanjut Bian.


Seketika, Wafa langsung menoleh ke Bian. Menatapnya dengan heran. "Lah, ya ndak tahu lah, nanya kok, nanya saya," sahut Wafa.


Mereka kembali diam. Sampai pada akhirnya, sampailah di yayasan milik Wafa. Tapi, sebelum turun, Wafa menelpon mbak Nur dulu supaya membukakan pintu sebelum Bian pergi.


"Siapa yang kamu telepon?" tanya Bian.


"Assalamu'alaikum, mbak Nur. Mbak Nur sudah tidur belum? Kalau belum, bisa siapin kamar saya nggak? Malam ini … sepertinya saya mau nginep di yayasan," pinta Wafa. "Oh, baiklah. Mbak Nur buka dulu pintunya, begitu pintu sudah terbuka, saya akan turun dari mobil,"


"Iya, makasih, ya …." tukas Wafa.


Wafa menutup telponnya.


"Kamu takut apa, sehingga tidak mau turun dulu sebelum Mbak kamu itu membuka pintu?" tanya Bian. "Kamu tidak lagi takut hantu, 'kan?" sambung Bian.


"Hahaha, mana mungkin? Saya lebih takut dengan manusia daripada hantu," jawab Wafa dengan tawa terpaksa. "Numpang sebentar, boleh, 'kan?"


Bian mengangguk. Tapi Bian merasa bingung kenapa dirinya banyak bicara ketika dengan Wafa. Padahal Bian ini tergolong pria yang pendiam. "Ada apa denganku? Tapi gadis ini cantik juga jika diliht lama-lama." batin Bian.

__ADS_1


Setelah lima belas menit, terlihat Mbak Nur sudah membuka pintu. Segera Wafa berpamitan dan mengucapkan terima kasih karena Bian sudah mengantarnya.


"Tapi, tuan tahu arah jalan pulang, 'kan?" tanya Wafa.


"Um, itu … ini sama dengan jalan yang dilalui tadi, 'kan? Tidak ada satu arah seperti itu di jalanan ini?" tanya Bian, kebingungan.


Wafa menghela napas. Dia sudah menduga jika Bian tidak akan paham dengan jalanan ketika malam. Sebab, jalanan itu memang terlihat sama semuanya. Apalagi, Bian jarang bepergian. Wafa mencari solusi supaya Bian bisa pulang.


"Bagaimana jika saya mengantar kembali Tuan ke rumah?" usul Wafa.


"Lalu, kamu pulangnya bagaimana? Saya tidak mungkin melepaskanmu begitu saja. Um, maksudnya, dengan orang asing," Bian tiba-tiba gugup.


"Di garasi yayasan itu kan ada mobil pick up, nanti Mbak Nur biar sama tuan di mobil ini. Lalu, saya dari belakang atau nanti saya duluan lah, menunjukkan jalan kepada Tuan gitu, gimana?" usul Wafa.


"Kamu bisa menyetir?" tanya Bian.


"Alhamdulillah bisa. Jika mau, saya akan keluarkan mobilnya dan meminta Mbak Nur untuk ikut," jawab Wafa.


Setelah di pikir-pikir, akhirnya Bian setuju dengan usul Wafa. Dirinya merasa malu karena sok-sokan mengantar Wafa, tapi malah tidak hapal jalan pulangnya. Sedangkan di rumah, Zaka Yang juga sudah mengkhawatirkannya.


Wafa segera masuk dan meminta Mbak Nur untuk ikut serta dengannya. Awalnya Mbak Nur tidak mau karena Bian adalah orang asing. Mbak Nur sudah trauma dengan seseorang yang tidak dikenal dan malah berbuat baik padanya.


"Dia ayah dari anak yang saya bawa tadi. Ayo, kita antar saja. Saya yakin, beliau ada orang yang baik," ucap Wafa meyakinkan mbak Nur.


"Tapi beneran dia orang baik, 'kan?" tanya Mbak Nur memastikan. "Mbak Wafa, ingat loh! Mak Wafa ini sering dimanfaatkan orang karena terlalu baik," sambung mbak Nur.


"Kali ini, aman." Wafa meyakinkan Mbak Nur.


"Mbak Wafa ini selalu saja begitu. Aku dan saya selalu saja disebut. Padahal cukup bilang aku saja, tidak masalah, loh!" gumam Mbak Nur.

__ADS_1


Setelah meyakinkan Mbak Nur, dan Mbak Nur setuju, mereka pun bergegas pergi supaya tidak kemalaman sampai yayasan. Sebelumnya Mbak Nur juga meminta Vita untuk berjaga malam selama mereka pergi. Tak lama kemudian, Mbak Nur masuk ke mobil Bian dan menyapanya dengan ramah. Mbak Nur masih saja waspada dengan Bian, karena trauma yang dialaminya.


__ADS_2