
Percakapan sudah mulai serius, Sari, Dian dan Zira beranjak pergi dari ruangan dan masuk entah kemana mereka. Tinggallah di ruangan tersebut hanya Wafa dan pak kyai.
"Wafa, Abi tanya sekali lagi padamu. Kenapa kamu kembali malas kuliah, dan malah pergi-pergi terus dengan Pak Bian? Sebenarnya apa hubunganmu bersama dengan beliau?" lanjut Pak kyai.
"Sudah Wafa jelaskan berkali-kali. Wafa dan Pak Bian hanya mitra kerja saja, Abi. Lagipula kenapa harus ada pembahasan tentang beliau? Malasnya kuliahku bukan karena Pak Bian, Abi!" jelas Wafa tegas.
"Tapi Abi merasa kamu sedang berbohong, Wafa. Kenapa kamu tidak pernah jujur pada Abi? Abi ini orang tua kami!" Pak kyai jauh lebih menegaskan cara bicaranya dari Wafa.
Rupanya Sadi, Zira dan Dian sedang mengintip dari dapur. Mereka ingin tahu sekali apa yang dibicarakan oleh Wafa dengan ayahnya.
"Mbak Sari, kira-kira wafat sama Pak Bian itu memiliki hubungan apa, ya?" tanya Dian. "Kok, aku malah merasa kasihan dengan Wafa. Paman Kyai sepertinya mendesak terus dan memaksa Wafa untuk jujur," sahutnya.
"Benar. Bukankah itu sudah masalah pribadinya Wafa, ya. Soal Wafa mau kuliah atau tidaknya lagi kan itu juga gara-gara Paman Kyai yang selalu memaksanya," timpal Zira.
"Dian, Zira. Kalian ini terlalu banyak bicara. Lebih baik kita dengarkan saja apa yang diobrolkan oleh mereka. Soal pertanyaan kalian itu—Mbak juga tidak ada jawaban." Sari sampai menghela nafas.
Suasana menegang karena pak kyai terus-menerus memaksa Wafa. Bahkan, kata-kata pak kyai juga semakin tidak terkontrol. Kembali mengatakan hal yang tidak ingin Wafa dengar.
"Kamu seharusnya belajar dari kakakmu-Sari. Dia rajin belajar, nurut sama Abi, tidak neko-neko, selalu menutup diri dari dunia luar. Lha, kamu?" ucap pakai Kyai.
"Astaghfirullah hal'adzim, Abi kenapa ngomong gitu, sih? Kasihan Wafa ..." desis Sari lirih.
"Sari itu kakak tertua dalam keluarga pesantren. Dian saja selalu patuh pada orang tuanya, seperti Sari," lanjut pak kyai. "Zira, Zira meskipun anaknya sedikit sembrono, tapi dia tetap patuh pada orang tuanya. Kamu ini hanya ingin bebas, bebas, bebas dan terus saja bebas. Mau jadi apa kamu, Nduk?"
"Ustadz Lana yang jelas-jelas akhlaknya itu sangat bagus sekali, santun, tampan, mandiri. Lamarannya saja belum kamu terima udah malah digantung seperti ini,"
__ADS_1
"Dan kamu malah selalu pergi dengan pria lain yang bukan mahram kamu. Bahkan kalian juga berbeda agama, Abi sangat tidak yakin kalau kamu menjalankan ibadahmu di luar sana ketika bersama dengan Pak Bian," kata-kata pak Kyai ini membuat Wafa geram.
"ABI, CUKUP!"
Wafa sampai terengah-engah karena saking terlukanya perasaannya. Bahkan Sari, Dian dan Zira saja juga ikut sedih dengan perkataan pak kyai yang dinilai sudah keterlaluan.
"Cukup, Abi. Wafa juga punya perasaan, Wafa juga bisa terluka dengan perkataan Abi itu. Kenapa semakin ke sini perlakuan Abi semakin kayak gitu padaku, Abi—"
"Perkataan Abi mana yang salah, semuanya benar 'kan?" Abi bahkan menyela ucapan Wafa.
Wafa memukul dadanya sendiri. "Wafa sakit hati dengan ucapan Abi. Kenapa Abi tidak berpikir dulu ketika mau bicara?"
"Wafa ini Abi. Bahkan Wafa yang anak kandung, kenapa Abi selalu membandingkan Wafa dengan Mbak Sari!"
"Wafat tidak mempermasalahkan jika api mau membandingkan bahwa dengan Dian dan juga Zira. Tapi Wafa bisa terluka jika Abi terus-terusan membandingkan aku dengan Mbak Sari,"
Emosi Wafa tidak bisa terkontrol. Jika dia sedang marah, dia tidak akan menyebut dirinya sebagai Wafa pada ayahnya, melainkan akan menyebut dirinya sebagai—aku.
"Dari kecil sampai sekarang, Apakah Abi pernah mengatakan bangga memiliki Putri sepertiku? Tidak 'kan?" lanjut Wafa. "Anak Abi itu hanya Mbak Sari. Jadi jika aku memberontak, siapa yang salah?"
"Wafa, kamu—"
"Wafa belum selesai bicara, Abi!" sentak Wafa.
Setelah menyentak ayahnya, perasaan Wafa sebenarnya semakin terluka. Dia merasa bersalah karena telah membentak ayahnya. Tapi emosinya memang sudah menguasai dirinya.
__ADS_1
"Silahkan jika Abi ingin menilaiku seperti apa. Tapi tolong dalam masalah ini, Abi jangan sesekali menyalahkan Pak Bian karena kenakalanku. Semua itu tidak ada hubungannya dengan beliau,"
"Terakhir, mempertanyakan ibadahku, itu sama saja tapi telah menghinaku. Kenapa Abi sampai berpikiran seburuk itu pada anak Abi sendiri? Aku ini anak Abi, Aku anak kandung Abi, Abi daging Abi sendiri. Bisa-bisanya Abi berpikir seperti itu padaku?"
Air mata Wafa sudah bercucuran deras. Hatinya benar-benar hancur malam itu dihancurkan oleh ayahnya sendiri. Wafa benar-benar merasa jika tempat pulangnya saat ini bukanlah rumah baginya. Dia pun mengucapkan salam, kemudian masuk ke kamarnya.
Tinggallah Pak kyai sendiri di ruang tengah. Sementara Sari juga meminta kedua adik sepupunya untuk istirahat. Lalu Sari pun melangkah masuk ke kamarnya juga.
"Assalamu'alaikum," salam Sari.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh," balas Ustadz Zamil.
Melihat istrinya masuk kamar dengan keadaan murung, Ustadz Zamil langsung menghampirinya. Dia membelai kepala istrinya seraya bertanya, "Istighfar, Dek."
Ternyata Ustadz Zamil mendengar semuanya. Dia memang sudah tahu jika sejak kecil antara Wafa dan Sari diperlakukan tidak adil oleh Pak Kyai. Tapi karena dulu dia bukannya siapa siapa dalam keluarga pesantren ini, maka Ustadz Zamil memilih untuk diam dan selalu men-support Wafa pelan-pelan.
Support dari Ustadz Zamil inilah yang membuat Wafa juga memiliki perasaan terhadapnya dulu. Tapi jika dipikir-pikir lagi, perasaan wafat terhadap Ustadz Zamil itu bukanlah perasaan cinta yang terjadi di antara wanita dan lelaki. Melainkan hanya perasaan kagum saja.
"Wafa sudah sangat terluka dengan ucapannya Abi. Tapi Abi sendiri tidak bisa mengontrol perkataannya. Saya menjadi tidak enak hati dengan Wafa, Ustadz," ungkap Sari.
"Adik kamu itu adalah wanita yang tangguh. Memang benar dia terluka dengan ucapan Abi malam ini. Tapi yakinlah, besok pagi dia pasti akan baik-baik saja," tutur Ustadz Zamil.
Sari menggelengkan kepala.
"Marah Wafa kali ini sungguh berbeda, Ustadz. Nova marahnya tidak seperti biasanya," ujar Sari. "Jika pun dia memiliki hubungan dengan Pak Bian, seharusnya Abi juga tidak mempermasalahkan hal itu karena mereka sudah sama-sama dewasa," lanjut Sari.
__ADS_1
Ustadz Zamil menghela nafas pelan. "Mungkin karena perbedaan agama dan status pabian yang sudah menjadi duda. Apalagi karena kedekatan Pak Bian dan juga Wafa, membuat Wafa kuliahnya terganggu. Mungkin karena itu."
Ustadz Zamil juga menjaga perkataannya supaya tidak menimbulkan salah paham. Pada dasarnya dia juga merasa tidak nyaman melihat kedekatan Bian dengan Wafa. Malam itu suasana tidak sedang baik-baik saja. Semua orang menjadi diam dan merenung di kamarnya masing-masing.