Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Flashback Masa SMP


__ADS_3

Tidak ada niat jahat dari Inneke kepada Wafa. Tapi memang Inneke ingin sekali sahabatnya itu mengenal satu saja teman lelaki yang bukan dari sekolahnya ataupun pesantren tempat ia mencari ilmu agama.


"Kamu yakin berikan nomor sahabat kamu kepadaku?" tanya lelaki itu.


Inneke mengangguk.


"Kamu percaya begitu saja kepadaku? Bagaimana jika aku ini adalah orang jahat?" sambung lelaki itu.


"Jahat atau tidaknya, kita akan tahu sebentar lagi jika sahabatku itu memperlakukan dirimu, oke? Bye bye kakak ganteng—" ucap Inneke, beranjak dari kursinya.


"Kiri, pak!" teriaknya dengan senyuman licik.


Laki-laki itu tersenyum telah mendapatkan nomor Bunga dengan mudah. Ia akan menghubunginya malam nanti jika rasa penasarannya tidak mulai tumbuh lagi. Ketika lelaki itu hendak beranjak, tak sengaja menyentuh ipod Wafa yang tertinggal di sana.


"Apa ini?" gumamnya. "Kiri, Pak!"


"Tuhan memang selalu berpihak kepadaku. Aku akan ada kesempatan lagi bertemu dengan gadis itu."


Lelaki itu menggenggam erat iPod milik Wafa. Dengan senyum menawannya, lelaki itu pun turun dan sampai di tempat tujuannya.


Pada zaman itu, Wafa memang sudah memiliki ponsel lawas yang besar jika digenggamnya. Ponsel yang hanya bisa telpon dan mengirim pesan saja. Di mana Wafa hanya bisa pegang setiap malam dan itu saja di hari Sabtu-Minggu.


Malam di Pesantren.


Setelah shalat isya, Wafa bergegas ke kamarnya. Malam ini dia merasa sedikit demam karena kehujanan sore tadi. Wafa memutuskan untuk tidur lebih awal dan tidak mengikuti diba'an.


Kliing~


Notif pesan masuk berbunyi.


[Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, cantik ….]


Isi pesan tersebut membuat Wafa bertanya-tanya. Hanya ada nomor, tanpa nama tersimpan di kontaknya.

__ADS_1


[Apakah kamu sudah tidur?]


Kembali, lelaki itu mengirim pesan.


Tangan Wafa seketika gemetar. Wafa bertanya pada dirinya sendiri tentang lelaki yang bisa tahu jika itu adalah nomor miliknya dan tidak banyak orang yang tahu jika itu adalah nomor milik Wafa.


Sebagai seorang santri sekolah menengah pertama, Wafa selalu taat dengan peraturan pesantren yang ia gunakan untuk menimba ilmu. Wafa ini juga adalah seorang putri dari Kyai yang memiliki pesantren juga. Jadi, memang pantas jika Wafa pandai menutup diri dari seorang pria, apalagi yang bukan mahramnya.


Meski menjadi santri dan anak seorang Kyai, bukan menjadikan dirinya gadis yang kolot ataupun lugu pada zamannya. Dia tetap gadis modern yang suka menggunakan ponsel dan bermain layaknya anak remaja yang sedang tumbuh.


Merasa tidak mengenal siapa orang yang mengirimkan pesan tersebut, Wafa memilih untuk tidak membalas. Berharap jika lelaki itu tidak mengganggunya. Namun siapa sangka, nomor tidak dikenali itu justru malah menelponnya.


"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa dia malah nelpon?"


"Bagaimana ini? Bagaimana jika ketahuan Qia? Bisa gawat, apalagi nanti ketahuan dengan santri yang lain. Bisa jadi contoh buruk aku!"


Wafa bingung sendiri. Tak ada cara lain, Wafa terpaksa menjawab telepon dari lelaki tersebut. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Wafa dengan suaranya yang lembut.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Huft, akhirnya diangkat juga,"


"Perkenalkan, namaku Ferdian, atau bisa dipanggil Ferdi," jawab lelaki itu. "Benar. Aku ingin mengatakan hal penting padamu," sambungnya.


Helaan napas kasar Wafa sampai terdengar. "Lalu, bagaimana Masnya bisa mengetahui nomor saya? Ada hal apa yang ingin anda katakan kepada saya, sehingga anda menelepon saya malam-malam seperti ini?" lanjut Wafa bertanya.


"Mungkin Tuhan yang memberi tahuku. Oh ya? Um, bisakah kita bertemu besok? Aku ingin mengembalikan ipod milikmu yang tertinggal di bus," jawab lelaki yang mengaku namanya Ferdian.


"Em … Maaf, sepertinya saya tidak bisa. Besok saya masih harus sekolah!" tegas Wafa.


Wafa ingin sekali segera mengakhiri teleponnya.


"Aku akan menemuimu di halte dekat sekolahmu. Tepat jam pulang seperti tadi sore, bagaimana? Setuju, ya? Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, cantik," Ferdian menutup teleponnya.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Wafa bingung.

__ADS_1


Ferdian sudah menutup telponnya sebelum Wafa menjawab salamnya tadi. Membuat Wafa semakin bingung sendiri, karena Ferdian atau Ferdi ini bicara hanya sampai di situ saja.


Namanya Ferdian Putra (18), seorang pemuda yang masih sekolah di SMA dan dia adalah anak dari seorang pengusaha dan dia sendiri juga sudah memiliki usaha yang sudah banyak cabang dimana-mana. Yah, itu semua karena memang dirinya anak orang kaya Memang saat itu tampilannya membuat Wafa risih karena berantakan sekali. Namun siapa sangka? Apa yang terlihat dari pasangan Wafa, bukanlah yang sebenarnya.


Ferdian ini baru saja mengalami kemalangan. Motornya macet di jalan dan ia juga baru saja kecopetan. Membuatnya terpaksa harus naik bus. Ferdian ini begitu tampan. Namun, ketika di bus, dia terlihat kacau karena memang bajunya kotor dan terlihat seperti orang yang tidak baik.


Ketika masih bingung, lagi-lagi ponsel Wafa berdering. Masih kesal dengan laki-laki yang bernama Ferdian itu, sampai-sampai ia tidak melihat siapa yang menelponnya. Kemudian, menjawab dengan nada kesal.


"Apa lagi, astaghfirullah hal'adzim!" Wafa keburu kesal dibuatnya.


"Apanya?" sahut seseorang yang menelponnya.


Wafa pun memastikan kembali siapa penelpon kedua. Rupanya, dia adalah Sari. Yah, saat itu Mbak Sari juga pasti masih jadi anak sekolahan. Sebab, usia mereka memang jaraknya hanya selisih beberapa tahun saja.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Wafa? Wafa, ada apa? Apanya yang lagi? Kenapa suaramu terdengar kesal seperti itu?" tanyanya.


"Ah, Mbak Sari? Um, maaf … Aku pikir, yang menelpon si pengganggu itu," jawab Wafa, gugup.


"Siapa pengganggu itu?" lanjut Sari penasaran. "Wah, cie cie, siapa ini? Ehem, ada yang naksir, nih?" Sari mulai menggoda. "Ingat, belajar yang benar. Jangan bermain cinta-cintaan dulu!" tuturnya.


Wafa pun menjadi kesal. Sari ini dulu memang selalu saja mengganggunya, apalagi jika ada seorang lelaki yang tengah dekat atau mau melamar Wafa di usianya yang masih kecil.


"Tidak lucu!" ketus Wafa.


"Baiklah, aku menelpon karena Abi bertanya, kamu kapan akan pulang ke rumahnya? Bibi Jiah juga sudah merindukan dirimu, loh," tanya Sari, menanyakan tujuannya menelpon sang adik.


Wafa pun terdiam. Semenjak menjadi seorang santri, dirinya memang jarang sekali pulang dan melarang orang tuanya untuk menjenguknya. Meski putri dari seorang Kyai dan kakeknya pemilik pondok pesantren, tetap saja Wafa ingin hidup layaknya orang biasa saja. Tidak perlu diistimewakan. Tapi saat itu memang Wafa sedang marah dengan Abinya. Merasa tidak disayang karena hanya dirinya yang dikirim ke pondok pesantren. Sedangkan Sari, tidak.


"Aku akan hubungi Mbak atau Abi besok lagi, ya. Sebenarnya, hari ini aku agak demam. Jadi aku ingin tidur lebih awal," ucap Wafa dengan penuturan yang lembut.


"Aku juga ingin mengatakan, bahwa aku akan melanjutkan kuliahku di Kairo. Apakah kamu bisa lanjutkan saja kuliahmu di sana juga?" tanya Sari.


"Huh, aku masih SMP, Mbak!" seru Wafa. "Untuk apa memikirkan perkuliahan saat ini? Bukankah langkah lebih baiknya jika aku mengajarkan SMA mana yang harus aku masuki?" lanjutnya.

__ADS_1


Wafa ini memiliki cita-cita ingin melanjutkan pendidikannya di luar negeri juga sebenarnya. Maka dari itu, dirinya sedikit tidak setuju jika Sari juga pergi dari rumah karena Sari adalah anak kesayangan, dan Wafa tahu itu. Mereka sama-sama memiliki ambisi untuk meraih masa depan yang cemerlang. Itu sebabnya, keduanya selalu berlomba untuk mendapatkan nilai istimewa.


__ADS_2