Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Keluarga JAHANAM


__ADS_3

"Oke, saya akan menunggu kamu di sini. Tapi, langsung telpon atau teriak saja jika keadaan kami tidak baik-baik saja di dalam sana," kata Bian dengan tenang.


Wafa mengangguk pelan. Dia sampai lupa jika dirinya sedang patah hati karena pria idamannya melamar kakaknya hari itu juga. "Qia, ini kenapa kelihatan sepi seperti ini, sih?" tanya Wafa.


"Mereka ada di dalam. Ayo, masuk!" sahut Qia.


"Assalamualaikum," salam Qia sebelum masuk ke rumahnya.


Di dalam, kedua mertua Qia dan juga istri sah suaminya ada di ruang tamu sedang duduk menikmati teh dan camilan. Melihat Qia membawa kedua sahabatnya datang, membuat sang ibu mertua menjadi tajam tatapannya.


"Kenapa kamu sudah pulang jam segini?" ketus sang ibu mertua.


Melihat Wafa dan Inneke datang bersama dengan Qia, semua penghuni rumah jadi sinis memandangnya. Apalagi istri sah dari suaminya Qia yang nampak sekali tidak suka dengan kedatangan mereka.


"Qia, siapa mereka? Apa kamu lupa, jika peraturan di rumah ini, kamu itu tidak boleh membawa tamu datang. Apa kamu lupa itu, hah!" kesal ibu mertua.


"Bu, kedatangan kami kesini juga tidak membuat masalah, kok. Kenapa Ibu malah seperti ini penyambutannya?" ketus Inneke.


Wafa langsung memegang tangan Inneke. "Ke, kendalikan emosimu. Jangan sampai kita membuat keributan disini," bisiknya.


"Aku kesal saja, Fa. Belum apa-apa saja mereka udah melotot ke arah kita. Lama-lama bisa aku culek juga itu matanya!" kesal Inneke.


"Qia—" Wafa memberi isyarat kepada Qia supaya bisa menjelaskan maksud kedatangan mereka berdua.


Qia pun mengangguk. "Kalian duduk saja dulu di sana," ujarnya.


"Apa-apaan ini! Saya adalah pemilik rumah ini, Qia! Kenapa kamu mempersilahkan orang lain untuk duduk tanpa seper tujuan saya!" sulut sang Ibu mertua.


"Kamu mau apa, sih, Qia? Kamu itu siapa di sini, ha? Hanya istri siri saja jangan kebanyakan tingkah." imbuh bapak mertua yang tiba-tiba ikut campur saja.

__ADS_1


Terlihat begitu bangganya istri sah dari suami Qia ini melihat bahwa kedua mertuanya begitu mencintainya dan membelanya di depan teman-teman dari istri siri suaminya. "Dasar kampungan. Jika saja aku bisa mengusirmu dari rumah ini ... Huh, sayangnya aku tidak berdaya juga karena urusannya sudah tentang duit!" keluhnya dalam hati.


"Kedatangan kami kemari ... Sebenarnya, pertama untuk silaturahmi. Yang kedua, kami ingin membayar lunas semua hutang-hutang almarhumah Ibu dari sahabat kami, Qia," kata Wafa dengan elegan.


"APA!" Kedua mertua Qia dan juga istri sah dari suami Qia menjadi terkejut.


BLAM!!


Uang tunai beserta bunganya diletakkan Inneke ke atas meja yang ada di sana dengan kasar. Sebenarnya hutang dari almarhumah ibunya Qia ini tidaklah sampai puluhan juta dengan di atas dua puluh jutaan. Melainkan hanya sebelas juta dengan bunga dua juta, yang semuanya totalnya tiga belas juta.


"Maksudnya apa ini? Hutang Ibunya gadis miskin ini, kalian berdua yang bayar?" tanya istri sah dari suaminya Qia. Tatapannya begitu bahagia karena dengan lunasnya hutang almarhumah ibunya Qia, dirinya tidak ada lagi saingan hidup.


"Benar. Kami datang kemari untuk melunasi semua hutang-hutang almarhumah ibunya Qia. Ini semuanya ber totalkan tiga belas juta rupiah. Saya juga akan menambahkan sedikit uang untuk rasa terima kasih saya karena kalian telah memberi kesempatan sahabat kami ini untuk membayar hutang," celetuk Inneke dengan anggun.


"JANGAN TERIMA UANG ITU!" tiba-tiba saja terdengar ada suara bentakan dari laki-laki yang menolak uang dari Inneke.


"Ahh!" teriak Qia, saat itu suaminya datang langsung mencekik lehernya.


"Hei!" teriak Inneke.


"Astaghfirullah hal'adzim, lepaskan Qia!" Wafa pun ikut panik. "Lepaskan Qia!"


"Bawa uang kalian itu pergi dari sini sekarang juga. Atau wanita ini akan mati ditanganku sekarang? CEPAT!" desis suaminya Qia.


"Astaga, kejam banget, sih? Eh, ini namanya sudah masuk kekerasan dalam rumah tangga. Tadi aku juga melihat Anda ini melakukan kekerasan kepada Qia. Tahukah Anda, jika perbuatan Anda ini bisa dipidana, hah!" ketus Inneke.


PLAK!!


Satu tamparan mendarat di pipi Qia. Padahal, tangan suaminya yang satunya masih mencekik leher Qia. Hal itu membuat Inneke dan Wafa terkejut. Pipi Qia langsung memerah. "Kalian masih belum pergi juga? Bawa uang itu pergi dan enyahlah dari rumah ini!" sentak suaminya Qia.

__ADS_1


"Mas, kamu ini bodoh atau apa? Mereka mau melunasi hutang Ibunya istri siri kamu itu. Sudahlah, terima saja atau ki—"


"Atau apa? Atau apa, hah!" ketika istri sah dari suami Qia ini bicara, suami Qia, yang bernama Parto ini menyelanya dengan mata melotot yang hampir saja keluar dari kelopak matanya.


Seketika, Sumi, nama istri sah dari Parto terdiam. Dia merasa cemburu karena suaminya malah mempertahankan Qia dibandingkan mengambil uang dari Inneke. Sumi pun lari ke kamarnya dengan kesal.


"Kami tetap tidak akan pergi. Jika perlu, kami akan memanggil polisi supaya kalian dipidana karena telah berbuat kejam kepada sahabat kami!" ancam Inneke.


"Apa urusan kamu? Mengapa kami harus dipidana? Qia ini adalah menantu di rumah kami. Jadi, sudah menjadi hak kami atas tubuh Qia ini," sahut ayah mertua Qia.


"Ini namanya kekerasan dalam rumah, Pak. Anda bisa saja terancam pasal jika terus memperlakukan menantu kedua Bapak ini seperti itu!" seru Wafa.


Mulailah perdebatan antara kedua mertua Qia dan juga Wafa, Inneke. Keributan itu membuat Parto kesal dan membuatnya membanting Qia sampai kepala Qia terbentur dinding.


"DIAM!" teriak Parto sembari membanting tubuh Qia.


"Aduh, sakit ...." keluh Qia mengusap-usap kepalanya.


"QIA!" teriak Inneke dan Wafa bersamaan.


"Kalian berisik sekali. Pergi dari rumahku sekarang juga!" Parto mendorong tubuh mungil Wafa dan Inneke bersamaan.


Beruntungnya Inneke karena hanya terpentok sofa empuk di rumah itu. Tapi Wafa, dia sampai terbentuk almari bufet sehingga membuat keningnya langsung benjol membiru. "Huh, astaghfirullah hal'adzim ...." sebut Wafa lirih.


Dengan kasar, Parto meraih jilbab Wafa dan menjambak gadis mungil nan cantik itu. Wafa mencium bau alkohol oplosan dari napas Parto kala wajahnya mendekat. "Oh, ternyata kamu cantik juga. Malahan, jauh lebih cantik daripada Mutaqia. Hahaha jadilah istri ketigaku saja, bagaimana?" bisik Parto dengan nafasnya yang bau, antara bau rokok dan alkohol.


"Lepaskan sahabatku!" Inneke menarik tangan Parto dan berusaha membebaskan Wafa dari cengkraman tangan pria kasar itu.


"Berisik!" lagi-lagi Parto menampik tangan Inneke dan mendorongnya sampai terjatuh kembali. Sedangkan kedua mertua Qia, malah sedang menyiksa Qia tepat di depan mereka.

__ADS_1


__ADS_2