
"Biasa saja, tidak ada yang istimewa," kata Wafa, memecah lamunan Bian. "Jika sudah move on, kenapa anda meminta saya untuk berpura-pura menjadi pasangan anda?" tanya Wafa.
"Demi Grietta dan saya akan menjadi donatur di yayasan kamu. Jadi, kita saling membantu," Bian masih berusaha.
"Masalahnya kita harus pura-pura menjadi sepasang kekasih itu, loh, Pak Bian. Bagaimana itu? Haduh, tolonglah!" Wafa menyatukan kedua tangannya sendiri, sedang mempraktekkan bagaimana orang memohon.
"Nah, uang itu yang nantinya akan menjadi haram, Bapak aduh, Bapak!" sambung Wafa panik.
"Berhenti memanggil saya dengan sebutan Bapak. Saya terlihat seperti ayah kamu jika kamu terus memanggil saya dengan sebutan itu," kesal Bian.
Tapi melihat ekspresi Bian yang benar-benar membutuhkan bantuan, Wafa pun menjadi tergugah hatinya. Akhirnya dia mau menjadi pasangan pura-pura Bian dengan syarat Bian harus menceritakan apa yang sudah terjadi kepada putrinya dan juga tentang mantan istrinya mengapa sampai berpisah.
"Hanya itu?" tanya Bian.
Wafa mengangguk.
"Saya dengan mantan istri tidak pernah saling mencintai. Kami terjebak dalam cinta semalam dan alhasil memiliki Grietta. Kami menikah setelah Grietta berusia 2 tahun. Itu karena dia tidak mau masuk ke keluargaku," ungkap Bian.
"Setelah menjalani pernikahan kurang lebih satu tahun, dia meninggalkan saya karena saya saat itu terkena musibah. Kaki saya mengalami patah tulang, dan ekonomi kami sedang di uji," lanjutnya.
"Selang setahun, Maminya Grietta datang lagi untuk mengambilnya dari saya. Tapi Grietta tidak mau dan akhirnya putri kecil saya di culik olehnya. Naasnya, mereka mengalami kecelakaan dan membuat Grietta sampai kondisinya seperti saat ini,
"Sudah hampir setahun, Grietta menjadi pendiam, tak lagi ceria dan tidur saja selalu menangis. Hari ini adalah hari pernikahan Ibunya, niatnya saya tidak mau Grietta hadir karena seperti yang kamu lihat tadi ... Grietta takut dengan Ibu kandungnya,"
"Sampai saat ini, saya juga tidak tahu motif apa yang mantan istri saya rencanakan. Mengapa dia mau mengambil Grietta, saya juga tidak tahu,"
"Begitulah ceritanya. Setidaknya kamu sudah tahu alasan saya berpisah. Lalu, mengapa saya mau jadi pasangan palsu saya? Karena saya melihat Grietta mengalami perubahan positif setelah bersama kamu,"
"Jadi, Nona ..."
"Wafa, nama saya Wafa. Apa anda lupa dengan nama saya?" jawab Wafa sedikit gemetar karena kisah yang dialami Grietta begitu menyedihkan.
__ADS_1
"Nona Wafa. Baiklah, Wafa. Saya hanya minta bantuan kamu sampai mantan istri saya itu ke luar negeri dan memenangkan hak asuh Grietta untuk saya. Sebab, sekarang dia juga sudah mau mengajukan tuntutan hak asuh," pinta Bian.
Bagai terhampar menggunakan uang segepok. Wafa menjadi bingung sendiri harus mengiyakan atau menolak. Dia pun terus memainkan tangannya karena tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa kepada Bian.
Sebagai seorang pria yang kebetulan memiliki beberapa pengalaman dengan tingkah laku seseorang, Bian tahu jika gadis mungil di sampingnya itu sedang gugup dan gelisah.
"Jika kamu keberatan menerima hubungan palsu ini, kita bisa memulai hubungan ini dengan serius," ucap Bian tiba-tiba.
"Hah?" Wafa semakin gemetar.
Deg!
Jantung Wafa seperti dipukul dengan keras dan berdebar cepat. Bagaimana tidak bingung tiba-tiba saja di ajak berkencan dengan orang yang baru saja ia temui.
"Wafa, saya tahu jika kita berdua memiliki perbedaan yang sangat jauh dan tinggi. Jadi—" ucapan Bian terhenti.
"Iya, saya miskin bapak kaya," sahut Wafa.
"Bukan seperti itu. Perbedaan yang saya maksud adalah, keyakinan kita ini berbeda. Tapi bisakah kita melakukan ini untuk sementara saja? Demi Putri saya, dan demi anak-anak di yayasan kamu?" jelas Bian.
Wafa semakin pusing karena ucapan Bian yang terus saja membebani kepalanya. Setelah di pikir-pikir kembali, tidak ada salahnya jika mencoba. "Tapi saya tidak mau ini disebut pacaran. Sebab, di agama saya, tidak diperbolehkan untuk pacaran. Jadi, bagaimana? Mau pura-pura saja salah, apalagi pacaran? Semakin salah lah!" seru Wafa.
"Tenang saja. Kita hanya memiliki hubungan dekat saja. Soal perasaan dan takdir, kita pasrahkan kepada Tuhan kita masing-masing. Hanya saja, jika ada yang bertanya, katakan jika kamu adalah calon ibu bagi Grietta, bagaimana?" Bian lancar sekali dalam bicara.
Mau nolak juga sudah terlanjur Grietta senang. Jadi, Wafa hanya bisa mengatakan 'iya' kemudian mulai saling tukeran nomor telepon. Keduanya pun keluar dari mobil setelah berdiskusi. Mereka akan melanjutkan obrolan di pertemuan selanjutnya.
"Grietta, ayo, kita pulang," ajak Bian.
Grietta menatap Wafa. Seolah mengatakan bagaimana dengan Wafa.
"Oh, kamu mau ikut serta? Biarkan saya mengantar kamu pulang," Bian menawarkan kebaikan.
__ADS_1
"Tidak perlu. Saya kesini bersama dengan teman saya. Iya, teman …" tiba-tiba Wafa ngehang. "eh, teman?" Wafa baru saja ingat tentang Inneke. "Astaghfirullah hal'adzim, Inneke!"
"Grietta, Pak Bian. Saya pamit dulu, ya. Teman saya pasti sudah menunggu!"
Wafa lari terbirit-birit mencari sahabatnya itu. Membuat Bian tersenyum karena kelucuan yang diciptakan oleh gadis muda berusia 20 tahun.
"Heh, apa ini? Tuan, tersenyum? Dengan gadis itu? Tumben sekali ini?" batin Zaka Yang, heran.
***
Sementara itu, Inneke yang terus mengintip ke dalam mobil menjadi sedikit panik karena Wafa tidak ada di dalam. Inneke terus mengitari mobilnya dan mencoba mencari cara menemukan sahabatnya itu.
"Bangkee! Asem, di mana ini anak? Kenapa juga tidak nongol-nongol? Kemana, sih, dia? Ponsel segala ditinggal pula!" kesal Inneke.
Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya Wafa datang dengan napas terengah-engah. Ternyata, Wafa keliling dulu mencari Inneke berada.
"Ka-kamu, kamu, sudah ... di sini?" tanya Wafa, napas seperti sudah tinggal satu. "Astaghfirullah hal'adzim, aku tak ambegan (napas) sek. Ini sangat menyakitkan," lanjut Wafa terus mengusap-usap dadanya.
Tatapan mata Inneke sejak Wafa tiba terus saja menyipit. Padahal mata Inneke sudah sipit. Bagaimana tidak? Gadis ini memang keturunan Tionghoa. "Kemana saja kamu?" tanya Inneke.
"Aku, aku habis mencarimu tadi, Ke. Tapi malah nyasar, heheh. Eh, tapi untungnya saja kita bisa bertemu lagi di sini," jawab Wafa masih mengatur napas.
"Hadeh, sudahlah. Pasti kamu ketemu bocil, 'kan? Aku ini sudah tahu otakmu itu bagaimana, Wafa, kampret. Ayo, masuk ke mobil! Mana kuncinya?" ketus Inneke.
"Galak amat!" umpat Wafa.
Mereka pun beranjak dari depan Gereja tersebut. Menuju tempat dimana Qia berjualan nasi uduk pagi tadi. Selama di perjalanan, Wafa menjadi diam dan masih berpikir mengapa dirinya mau menerima tawaran Bian. Hal itu membuatnya semakin tidak tahu harus bagaimana.
"Kenapa lagi?" tanya Inneke. "Bocil yang baru kamu temui, memiliki sad story?" imbuhnya.
"Biarkan aku tidur sejenak. Jika sudah sampai ke tempat jualannya Qia, bangunkan aku, oke?" pinta Wafa.
__ADS_1
"Hmmm ...." jawab Inneke.
Kemudian, Inneke pun fokus menyetir dan membiarkan Wafa istirahat dulu karena memang wajahnya terlihat pucat pasi. Meski sangat tegas dan selalu saja melarang Wafa ini itu, sejatinya Inneke ini adalah sahabat yang pengertian.