
"Heh, kenapa kamu tertawa? Apa kamu tidak tahu betapa khawatirnya saya melihat kamu terluka seperti ini?" ketus Bian. "Masih saja tertawa!"
Tuk!
Reflek Bian mengetuk kening Wafa, tak sempat gadis itu menghindar karena Bian tiba-tiba saja mengetuk keningnya. sedikit terkejut dan langsung mengucap istighfar, kemudian raut wajah Wafa masih seperti terkejut.
Tawa Wafa terhenti. Wafa merasa dipedulikan oleh seseorang setelah bertahun-tahun abinya tak dekat lagi dengannya. "Bapak, khawatir dengan saya?" tanya Wafa.
Seketika, Bian pun tersadar. Dia langsung membuang muka dan mengatakan jika rasa khawatir itu ditunjukkan oleh putrinya. Dia juga mengatakan jika Wafa sampai terluka sedikitpun, putrinya pasti akan sedih dan kesedihan putrinya, akan menjadi beban baginya nanti.
"Oh, begitu rupanya," ucap Wafa lirih.
"Bapak tenang saja, saya tidak apa-apa, kok. Lihatlah, hanya luka kecil saja. Paling dua sampai tiga hari, luka ini akan sembuh dengan sendirinya. Jadi, tidak perlu dibalut," lanjut Wafa.
"Bicara apa kamu? Dokter, cepat rontgen dia. Takutnya, ada luka serius di dalam kepalanya. Saya tidak mau hal-hal yang tidak tidak terjadi kepadanya. Ayo, cepat rontgen dia, Dok," perintah Bian dengan raut wajah lucunya.
Dokter di sana pun tertawa. Kemudian menjelaskan jika luka Wafa memang tidak terlalu serius. Jadi, tidak perlu di rontgen. Namun, Bian kekeh meminta dokter untuk merontgen kepala Wafa. Mau tidak mau, Wafa pun mengalah dan setuju dengan usul konyol pria kaya raya itu.
Hari itu juga, Qia dikabarkan harus melakukan operasi Caesar karena bayinya dalam bahaya. Bukan hanya bayinya saja, Qia sendiri juga dalam bahaya jika tidak segera melakukan operasi Caesar. Wafa dan Inneke sedih mendengar hal itu. Bagaimana tidak? Sahabat yang dulunya selalu menghabiskan waktu bersama, tiba-tiba tidak ada kabar sama sekali. Lalu, sekali bertemu, ternyata sedang di fase yang tidak baik-baik saja.
"Pak Bian, jika Anda lelah, Anda bisa pulang lebih dulu. Grietta pasti juga sudah menunggu," ucap Wafa lembut.
"Saya akan menemani kamu di sini sampai teman kamu itu mendapatkan kabar baik. Tenanglah, Grietta pasti akan baik-baik saja di yayasan," sahut Bian.
"Halah, bilang saja kalau mau dekat lebih lama dengan Wafa. Sok yes sekali, Anda!" ketus Inneke tiba-tiba menyahut saja.
"Ke ...." sebut Wafa lirih.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, Wafa menerima telpon dari Sari, kakaknya. Membuat gadis manis itu gelagapan hendak menerima telpon dari kakaknya itu. "Lah, astaghfirullah hal'adzim!" sebutnya, sampai membuat Bian dan Inneke terkejut.
"Ada apa, sih?" tanya Inneke.
"Ada apa, Wafa?" imbuh Bian.
"Kakak saya menelepon," Wafa menjawab pertanyaan dari terlebih dahulu. "Ke, Mbak Sari telepon. Aku harus jawab apa ini?" lanjut Wafa menjawab pertanyaan Inneke.
"Lah, ngapa bingung, dah? Jawab saja kalau kamu di rumah sakit nunggu temen lahiran. Memangnya kenapa, sih? Salah, ya? Apa kamu tidak pamit perginya?" tanya Inneke lagi.
"Sebenarnya hari ini tuh lamarannya Mbak Sari. Aku tadi bilangnya mau keluar sebentar saja. Tapi malah ada kejadian seperti ini. Ini aku jawab telepon dari Mbak Sarinya gimana coba?" Wafa pun menjadi bingung.
Bian tidak mau ambil pusing. Dia mengambil ponsel dari tangan Wafa dan mengatakan jika dirinya yang akan menjawab telepon dari Sari. "Biar saya saja yang menjawab," ucapnya.
"Eh, jangan!" teriak Wafa.
'Iya, selamat sore. Ini dengan siapa, ya? Kok, ponsel adik saya ada di Anda?' tentu saja Sari merasa bingung.
"Sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Bian Hutomo. Saya terpaksa menjawab telepon dari Anda karena permintaan dari Nona Wafa. Saya adalah rekan kerja dari Nona Wafa, sekaligus donatur di yayasan. Saya menjawab telepon Nona Wafa karena beliau sedang bicara dengan asisten saya," ungkap Bian.
Sedikit melegakan jawaban dari Bian karena tidak menjawab jujur tentang hubungan mereka. Wafa pun bisa bernapas lega. Saat itu, Bian juga menjelaskan bahwa ada kontrak yang harus ditandatangani oleh Wafa dengan serius. Itu sebabnya pertemuan mereka sangat lama. Bian terpaksa berbohong karena itu demi kebaikan semuanya. Meski tidak ada hal kebaikan yang didasari oleh kebohongan.
Dari penjelasan Bian Hutomo, Sari pun percaya jika adiknya memang sedang ada kepentingan. Apalagi Sari juga tahu nama dari Bian Hutomo ini. Seorang pengusaha kaya raya yang masih muda, dan yang pastinya adalah seorang yang terhormat.
"Baiklah kalau seperti itu, Pak Bian. Tolong sampaikan kepada adik saya, jika pertemuannya sudah selesai, maka segeralah untuk pulang karena tamu di rumah masih menunggu," ucap Sari.
"Baik. Saya akan sampaikan pesan anda kepada Nona Wafa. Sekali lagi saya minta maaf karena harus mengganggu acara keluarga Anda. Sampaikan permintaan maaf saya juga kepada keluarga di rumah," sahut Bian dengan wibawanya.
__ADS_1
"Selamat sore, dan lain kali jika bisa ada kesempatan, kita bisa bertemu."
Bian pun menutup telepon dari Sari. Lalu memberikan ponsel itu kepada Wafa dengan santainya dan seperti tidak ada beban di wajahnya. Padahal wafat sendiri sejak tadi sudah berdebar jantungnya karena takut jika Bian salah bicara.
"Sudah? Mudah, bukan?" celetuk Bian dengan sombongnya.
"Terima kasih—" Wafa pun masih bingung menghadapi sikap Bian yang selalu berubah.
Selanjutnya, Inneke pun bertanya tentang siapa yang melamar Sari hari itu. Sebenarnya beberapa waktu lalu apa sudah melupakan rasa sakit hatinya karena pria yang ia cintai dalam diam, melamar kakaknya. Namun harus kembali diingatkan lagi ketika sahabatnya bertanya.
"Yang melamar Mbak Sari itu ... Ustadz Zamil," jelas Wafa.
"Hah? Apa? Ustadz Zamil? Bukannya Ustadz Zamil itu cinta pertamamu, ya? Jadi, pria yang kamu sukai malah ... malah melamar Kakak kamu? Wah, Daebak!" seru Inneke gembira, tidak ada raut wajah ikut sedih karena pria yang disukai sahabatnya melamar kakaknya.
Mendengar seruan Inneke, Bian langsung menoleh ke arah Wafa. Tidak bisa mendengar dan tidak percaya bahwa Wafa telah menyukai pria lain. Tapi, masih ia tahan dulu, dan bersikap biasa saja supaya tetap terlihat berwibawa.
"Yah, mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku, dan memang sudah terlanjur juga lamaran itu terjadi," ungkap Wafa.
"Lah, terus? Apakah selama ini, tuh Ustadz tidak ada rasa sedikitpun gitu, ke kamu?" tanya Inneke masih penasaran. "Ya kali nggak ada perasaan. Bukannya kalian ... Ih, sudahlah. Pusing juga aku mikirnya. Bukan urusanku juga!" gadis yang penuh kehebohan ini sampai menyerah.
Setelah hampir 2 jam, barulah lampu operasi berubah menjadi hijau. Dimana tanda itu adalah, selesai operasi dan dokter sudah mau keluar. Benar saja, tidak lama setelah lampu menghijau, dokter dan bidannya keluar. Mereka bicara kepada Wafa dan Inneke jika mereka tidak perlu khawatir karena baginya juga sudah lahir.
"Tapi, bagaimana dengan keadaan Ibunya, Dok?" tanya Wafa.
"Entah apa yang terjadi dengan tubuh Ibunya. Tapi, beberapa luka dalam juga menyertainya. Kita hanya bisa berdoa saja untuk kebaikan Ibunya," jawab Dokternya. "Kami juga akan mengusahakan sebaik mungkin,"
"Tolong salah satu dari kalian ikut saya ke ruangan, ya. Mengingat pasien sudah tidak ada keluarga, maka orang terdekat yang harus diajak berdiskusi."
__ADS_1
Inneke meminta Wafa untuk pulang lebih dulu. Dia tidak mau sahabatnya dalam masalah jika terus berada di rumah sakit. Awalnya, Wafa menolak pulang. Tapi setelah dibujuk oleh Bian juga, akhirnya Wafa pun mau diajak pulang lebih dulu.