Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Keegoisan Orang Tua


__ADS_3

Wafa harus berbohong mengenai dirinya. Ia mengatakan jika semuanya baik-baik saja dan akan pulang sebentar lagi. Wafa juga mengatakan pada kakaknya untuk tidak mengkhawatirkan dirinya.


'Wafa, but we're sure we can go home tomorrow, right?'


"Nggak janji, Mbak. Soalnya juga ini Pak Bian belum ada ketentuan mau pulang kapan. Aku tidak mungkin juga pulang sendiri," kata Wafa.


'Loh, kan, ada Inneke. Bukan pulang sendiri, dong!'


"Iya, maksudnya ..."


'Hahaha, Mbak hanya bercanda, Wafa. Tapi acaranya belum selesai, kah?'


"Alhamdulillah sudah semalam, tapi Pak Bian belum juga memberi kabar kapan mau nganterin kami (Wafa dan Inneke) pulang, kak. Nanti aku kabari lagi deh, kalau pas mau pulang. Tolong jaga Abi, ya. Jangan sampai telat makan,"


Setelah itu, mereka mengobrol hal lain. Tak lupa Wafa juga menanyakan tentang kehamilan kakaknya, kemudian tentang anak-anak asuhnya juga. Mendekati ramadhan memang selalu membuat Wafa tidak tenang karena kebutuhan akan semakin meningkat di bulan nan suci itu.


Sebelum menutup telepon, Wafa mengatakan pada Sari untuk mengambil uang di bank atas namanya karena Wafa belum bisa transfer ke rekening yayasan.


"Mbak, tolong bener, ya. Kalau Mbak repot, Mbak bisa minta tolong Zira atau Dian untuk mengambilnya. Lalu diberikan pada Mbak Nur supaya bisa buat persiapan sahur," pinta Wafa.


'Kamu benar juga, Wafa. Dua hari lagi sudah masuk bulan suci Ramadhan. Aku akan usahakan ambil uangnya hari ini.'


Ramadhan sebentar lagi datang, Wafa baru teringat itu karena sebelumnya terbuai dengan kasih sayangnya pada Grietta yang tidak bisa menolak ajakannya ikut ke Tiongkok.


"Kenapa kamu kelihatan sedih?" tanya Inneke, menerima ponselnya dari tangan Wafa.


"Saking sibuknya aku di dunia Grietta dan Pak Bian, aku sampai melupakan anak-anakku di yayasan. Dua hari lagi masuk bulan suci Ramadhan, tapi aku belum mempersiapkan perbekalan buat mereka," jawab Wafa lemas.


Inneke menyentuh bahu sahabatnya. "Aku juga baru ingat kalau dia hari lagi puasa. Aku akan transfer juga untuk anak-anak. Supaya besok Mbak Nur bisa belanja kebutuhan lainnya," ucapnya.


"Aku takut sekali, Ke," imbuh Wafa.

__ADS_1


"Takut kenapa?" tanya Inneke. "Tidak ada yang perlu ditakutkan, kenapa harus takut? Memangnya apa yang akan terjadi jika hanya lupa? Kau hanya lupa, bukan melupakan, jadi itu wajar!" jelasnya.


"Ini bukan masalah lupa atau melupakan, Ke. Ini baru pertama kalinya aku tidak fokus terhadap anak-anak asuhku. Sebelumnya aku tidak pernah terlibat dengan perasaan kepada orang lain sejauh ini," kata Wafa.


"Yang aku takutkan, jika suatu saat nanti aku benar-benar memiliki perasaan kepada Pak Bian, dan anak-anak masuk ku belum bisa pada mandiri. Aku akan sibuk dengan urusan duniaku sendiri tanpa sadar ... Tanpa sadar, aku bisa saja menelantarkan mereka, Ke,"


"Betapa berdosanya aku—"


Meski kurang jelas apa yang dikatakan oleh Wafa padanya, Inneke sangat paham apa yang dimaksud oleh Wafa. Wafa hanya takut jika dirinya sungguh jatuh cinta pada Bian. Kemudian akan fokus kepada dirinya sendiri dan tidak lagi memperdulikan anak-anak asuhnya.


"Fa, anak-anak sudah ada di dalam hidupmu sebelum hadirnya Pak Bian. Aku sangat yakin jika sahabatku ini bisa mengatasi segalanya," Inneke mengusap lembut tangan Wafa.


***


Di pesantren, pak kyai sedang duduk bersantai dengan ditemani Ustadz Lana yang baru saja tiba. Keduanya selalu membicarakan soal kegiatan pesantren dan usaha yang mereka rintis bersama.


"Ustadz, bagaimana jika lamaran ustadz kepada putri saya dilanjutkan lagi?" usul pak kyai.


"Ya, itu." tunjuk pak kyai.


Pak kyai memberikan semua data diri yang Wafa miliki pada Ustadz Lana. "Ini adalah berkas atau data dirinya Wafa," tunjuknya.


"Lalu—" Ustadz Lana benar-benar belum mengerti.


"Ustadz, sayangnya sekali ustadz kembali melamar anak saya—Wafa. Sebentar lagi bulan suci Ramadhan tiba, saya ingin sebelum hari raya idul Fitri ... Ustadz Lana dan Wafa menikah," harap pak kyai.


Deg!


Seketika Ustadz Lana membeku.


Memang menjadi harapan juga bagi Ustadz Lana untuk mempersunting Wafa menjadi pendamping hidupnya. Tapi pria soleh ini sudah berjanji pada Wafa untuk memberikan waktu supaya Wafa sendiri yang mengatakan bersedia untuk menjadi pendamping hidupnya.

__ADS_1


"Pak kyai, bagaimana mungkin kita membicarakan hal seperti ini tanpa kehadirannya Wafa? Alangkah baiknya jika Wafa juga ada di sini untuk membicarakan hal sepenting ini," usul Ustadz Lana.


"Jika kita memberitahunya, tidak mungkin bagi Wafa langsung menyetujui apa yang diinginkan oleh abinya ini. Dia akan terus menolak, Ustadz!" jelas pak kyai.


"Saya ingin sekali ketika Wafa pulang nanti, Ustadz sudah siap untuk melamarnya lagi," imbuh pak kyai.


Ustadz Lana jadi gelagapan. Dia juga sudah berjanji untuk tidak memaksa Wafa tentang menjalin sebuah hubungan.


"Pak kyai, tapi bagaimana mungkin saya langsung melamar Wafa begitu dia sampai di rumah? Bagaimana jika Wafa menolak saya lagi? Bukankah situasi itu akan menjadi semakin canggung untuk kami?" Ustadz Lana menolak secara halus.


Meski beberapa kali Ustadz Lana sudah menolak pak kyai secara halus, tetap saja pak kyai tidak ingin mendengar penolakan dari pria lemah lembut tersebut. Kayak tulisan pak kyai ini membuat Ustadz Lana menjadi tidak nyaman.


"Apa begini saja, Ustadz," kembali pak kyai membuka mulutnya.


"Begitu Wafa pulang dari Tiongkok bersama dengan Pak Bian, Ustadz malamnya ke sini untuk melamarnya. Lalu malam itu juga kita tetapkan acara pernikahan untuk kalian, bagaimana?" usul pak kyai.


Ustadz Lana sangat terkejut dengan usulan pak kyai yang terkesan memaksa putrinya untuk menikah dengannya. Bahkan pak kyai juga sudah menyiapkan opsi lain jika Wafa menolak lamaran dari Ustadz Lana.


Mendengar opsi lain dari pak kyai tentunya malah membuat Ustadz Lana semakin tidak percaya, jika pakai kyai bisa melakukan hal seperti itu.


"Apa alasan pak kyai mendesak saya untuk segera menikahi Wafa? Bukankah Apa yang dibicarakan oleh pak kyai ini—begitu egois?" hanya Ustadz Lana.


"Bagaimana mungkin bisa disebut egois? Saya ini hanya seorang ayah yang berharap untuk kebahagiaan putri saya sendiri, Ustadz!" tegas pak kyai.


"Saya juga sangat yakin jika Ustadz ini adalah pria yang sangat cocok sekali dengan putri saya—Wafa. Saya juga mampu menjamin jika Wafa akan bisa menjadi istri yang patuh kepadamu, Ustadz," tukas pak kyai sangat yakin.


Ustadz Lana semakin bingung. Ia sudah memiliki janji dengan Wafa untuk tidak memaksa perasaan. Tapi tidak mungkin juga Ustadz Lana terus berdebat dengan pak kyai karena pria ini sangat menghormati orang tua.


"Sesungguhnya saya tidak pernah meragukan kebaktian dan juga ilmu fiqihnya Wafa, pak kyai,"


"Tapi dengan memaksanya menikah, itu sama saja bukankah kita akan mematahkan sayap harapannya? Wafa masih muda dan dia berhak memutuskan baik buruknya kehidupan yang sudah ia pilih,"

__ADS_1


__ADS_2