Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Sisi Lain Bian


__ADS_3

"Isinya kecambah, wortel dan kol, Mbak. Ini, masih ada sisa juga tahu isinya. Apa Mbak mau juga? Kalau iya, biar di gorengan dulu," ungkap mbak Nur.


"Astaghfirullah hal'adzim," sebut Wafa lirih. Begitu juga dengan Bian yang menarik napas panjang karena memang tahu penyebab putrinya demam tinggi serta memiliki ruam di wajah dan lehernya.


"Mbak, terima kasih karena sudah menjawab, ya. Tapi, lain kali kalau ada Grietta, usahakan jangan membuat makanan dari kecambah. Dia ada alergi dengan sayuran itu. Malam ini, Grietta sakit karena alergi," tutur Wafa.


"Tidak masalah karena ini memang yang pertama bagi kita. Tapi, saya mohon tidak ada lain kali, ya. Papinya Grietta juga sudah memaklumi. Sampaikan juga informasi makanan yang tidak boleh dimakan oleh Grietta ini kepada Mbak Vita,"


"Malam ini, saya akan membuat daftar makanan apa saja yang tidak boleh dimakan oleh Grietta. Supaya ketika nanti gadis manis itu main lagi ke yayasan, tidak membuatnya sakit karena salah makan. Baik, saya tutup dulu, ya, Mbak Nur. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


Mbak Nur pun juga merasa bersalah. Tapi karena Wafa juga mengatakan jika orang tua Grietta memaklumi, jadi Mbak Nur hanya bisa minta maaf dan membuat pengumuman kepada pengurus yayasan yang lainnya, terutama yang selalu memasak, jika Grietta datang, untuk tidak memberikan makanan yang memang tidak diperbolehkan gadis kecil itu makan.


Sementara itu, Wafa meminta maaf kepada Bian atas kejadian yang menimpa putrinya. Bagai terhipnotis dengan keteduhan wajah Wafa, Bian langsung memaafkan begitu saja dan mengatakan jika dirinya tidak pernah menyalahkan Wafa atas apa yang terjadi kepada putrinya.


"Semua juga sudah terjadi. Nanti aku akan memberikan daftar makanan yang tidak boleh Grietta makan. Supaya nantinya, ketika Grietta bersama dengan kalian, tidak lagi terulang kejadian seperti ini," ucap Bian dengan lembut.


"Tapi perlu kamu ketahui, Wafa. Ketika sakit, Grietta tak henti-hentinya dia terus menyebut namamu. Saya sangat bingung sekali menanganinya," ungkap Bian dengan wajah girangnya.


"Benarkah? Tapi ... bukankah Grietta ini sudah bisa bicara? Kenapa harus heboh jika menyebut nama saya?" tanya Wafa heran.


"Astaga. Apa kamu tidak membaca dengan teliti surat kontraknya? Saya sudah menjelaskan tentang kondisi Grietta disana. Halaman 4. Coba kamu baca nanti jika sempat, oke?" jelas Bian.


"Oh, gitu, ya? Baiklah, nanti ketika saya sampai rumah, saya akan langsung membaca semuanya," sahut Wafa.


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Perbincangan sudah selesai. Tidak tahu lagi harus membicarakan apa pada malam itu. Namun, ketika Wafa hendak bertanya untuk apa dirinya dipanggil datang oleh Bian, ponselnya berdering.

__ADS_1


Drrtt .... drtttt....


Ada telepon dari Inneke.


"Sebentar, ya. Saya jawab dulu telponnya," Wafa meminta izin.


"Silahkan," sahut Bian.


"Assalamualaikum, ada apa, Ke?" tanya Wafa menjawab telepon sahabatnya itu.


"Wa'alaikumsallam. Gawat, Fa, Gawat! Qia kritis. Sekarang kamu bisa datang ke rumah sakit atau tidak? Aku akan mengizinkan kamu kepada Abimu kalau mau. Aku pusing dan bingung ini, Fa!"


"Astaghfirullah hal'adzim, apa? Tunggu, aku akan segera datang!" balas Wafa. Raut wajahnya menjadi panik.


"Ada apa?" tanya Bian.


Tanpa menjawab, Bian langsung menghidupkan mobilnya. Mereka berdua memang sedang bicara di dalam mobil. Bian adalah pria yang bertanggung jawab dan juga memiliki hati yang lapang. Buktinya, sampai empat tahun berlalu setelah perpisahan itu, Bian fokus dengan pekerjaannya dan juga perkembangan putrinya.


Jika pria lain, mungkin akan segera mendapatkan pasangan baru dan menikah lagi. Tapi tidak dengan Bian yang tidak percaya dengan orang lain bisa mengurus putrinya dengan baik dengan kondisi yang seperti itu. Bian fokus dengan perawatan putrinya supaya bisa kembali pulih dan juga pekerjaannya saja. Sampai dirinya tidak sempat untuk mencari pasangan atau berkencan.


Namun, banyak sekali putri dari rekan bisnisnya yang datang kepadanya. Hanya saja, Bian sendiri yang menolak dan tidak ingin membeli hubungan apapun dengan putri dari rekan bisnisnya. Apalagi, putri dari rekan bisnisnya itu memang seringkali terlihat seperti seorang wanita yang modern. Bian yakin sekali, wanita seperti itu tidak mungkin bisa mengurus putrinya dengan baik. Apalagi, putrinya memiliki trauma pasca kecelakaan.


"Pak Bian, Anda serius mau mengantar saya seperti ini? Kenapa Bapak baik sekali dengan saya? Padahal, kita juga belum kenal lama," tanya Wafa.


"Sebenarnya hal itu juga yang ingin saya tanyakan. Pertanyaan itu juga saya tanyakan kepada diri saya sendiri. Saya tidak punya jawaban atas pertanyaan kamu itu," jawab Bian.

__ADS_1


Wafa menjadi bingung dengan jawaban Bian. Akhirnya, gadis random itu memilih untuk diam dan menikmati perjalanan. Dia juga terus berdoa untuk kebaikan Qia. Telah lama dirinya berpisah dengan Qia, dan ingin sekali mengulang kembali persahabatan yang telah mereka jalin sejak dulu.


Sekitar 25 menitan, akhirnya mereka sampai ke rumah sakit. Perjalanan mereka begitu lama karena keadaan jalanan yang macet. Biasanya, dari pesantren ke rumah sakit di mana Qia dirawat, hanya membutuhkan waktu 10-15 menit saja.


"Bapak juga mau ikut masuk?" tanya Wafa kala sampai di parkiran.


"Kamu masuklah lebih dulu. Saya akan parkir dan setelah ini akan langsung menyusulmu," jawab Bian.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya masuk dulu," lanjut Wafa.


Bian mengangguk.


Segera Wafa masuk ke rumah sakit dengan berlari. Wafa melihat Inneke sedang mondar-mandir di ruang IGD. Wafa pun menghampiri sahabatnya itu dan langsung memeluknya. Wajah panik Inneke sudah menjawab semua pertanyaan Wafa tanpa dirinya harus bertanya lagi.


"Semoga saja Qia baik-baik saja," ucap Wafa lirih.


"Amin, Fa. Tapi aku tidak yakin. Karena setelah melahirkan, Qia tidak kunjung sadar juga," ungkap Inneke dengan tatapan sedih.


"Tapi bagaimana keadaan anaknya, Ke? Maafkan aku yang memilih untuk pulang terlebih dahulu daripada menemani kamu dan juga Qia di sini," Wafa pun merasa bersalah.


"Kondisi bayinya baik-baik saja. Sudah tidak berada di inkubator lagi. Tapi sejak melahirkan tadi, Qia belum sadar-sadar juga, Fa. Aku takut jika dia—"


"Sttt ... Singkirkan pikiran burukmu itu, Ke. Qia pasti akan baik-baik saja. Kita doakan saja yang terbaik untuk dia. Kasihan juga Sabrina. Jika terjadi sesuatu kepada Ibunya, aku tidak habis pikir bagaimana perasaan anak itu," Wafa langsung membungkam bibir Inneke yang hendak mengatakan hal negatif.


Padahal, kenyataannya Wafa juga berpikir seperti itu. Qia seperti sudah lelah dengan kehidupannya yang sekarang. Apalagi bentuk penyiksaan yang dilakukan oleh kedua mertuanya itu sangat tidak manusiawi. Belum lagi, Qia juga sudah bertahun-tahun mendapatkan kekerasan juga dari suaminya.

__ADS_1


Ketika Wafa dan Inneke saling menguatkan duduk di kursi tunggu, dokter pun keluar. Keterangan apa yang akan dokter itu berikan kepada Wafa dan juga Inneke?


__ADS_2