
"Ck, kenapa lama sekali jemputnya? Dimana Wafa? Kenapa dia memintaku untuk menjemputku? Apakah kita kenal?" tanya Inneke sinis.
Zaka Yang hanya diam.
"Sialan! Aku di cuekin nih?" Inneke dengan percaya dirinya mempertanyakan itu. "Woy, Tak bisakah kau menganggap aku ini orang? Aku bukan manekin. Hello, sir—are you deaf?" saking gemasnya Inneke jadi ngomong kasar.
Bukan Inneke jika tidak bicara dengan bahasa kasar. Meski begitu Zaka Yang tetap tidak terkecoh. Perdebatan mereka di bandara sudah cukup baginya, tidak ada perdebatan lagi karena Zaka Yang tidak mau ambil pusing.
"Astaga, dasar orang tua. Begini memang susah ya kalau bicara dengan orang yang jauh lebih tua. Tidak nyambung!" seru Inneke, sengaja mengatakan itu untuk memancing amarah Zaka Yang.
"Wafa ini juga aneh, bisa-bisa jadi dia bergaul dengan bapak-bapak tua seperti mereka, menyebalkan!" sambungnya.
Citttt...
Suara decitan ban mobil menggesek aspal karena rem mendadak. Beruntung saja saat itu Inneke memakai seat belt, jadi dia tidak terbentur ke dashboard. Tatapannya langsung menusuk ke arah Zaka Yang yang sengaja ngerem mendadak.
"Ya Tuhan, Bapak, Om, Ahjussi, atau apalah sebagaimana ... apa kau sudah bosan hidup, hah!" sentak Inneke.
"Ya kali bosan hidup. Kalau mau mati ya mati sendiri aja. Ngapain ajak ajak aku!" imbuhnya. "Aku masih muda, masih mau menikmati masa mudaku. Jatuh cinta sana-sini dan juga menjamah setiap pria di dunia ini,"
"Jangan ngadi-ngadi, dong!" dengus gadis yang kuliah di jurusan hukum itu.
Zaka Yang menghela nafas panjang, sampai mengeluarkannya secara perlahan karena saking sabarnya. Kemudian menatap gadis muda yang ada disampingnya. Usianya terpaut 9 tahunan memang, tapi memang wajah Zaka Yang awet muda sekali, seperti terlihat seusianya Inneke.
__ADS_1
"Apa sejak kecil kamu memang sudah terlahir dengan ketidaksopanan seperti ini? Jika kamu memanggil saya dengan sebutan paman dan lain sebagainya yang setara dengan itu, seharusnya kamu bicara dengan formal pada saya," tutur Zaka Yang.
"Apakah dengan bicara seperti itu kamu akan terlihat keren? Tidak, Nak!"
"Sekarang duduk dan diam, nikmatilah perjalananmu. Biarkan saya menyetir dengan tenang tanpa harus berdebat lagi denganmu seperti di bandara tadi, bisa?"
Ternyata kelembutan suara seorang Zaka Yang ini sampai bisa meluluhkan hati Inneke Juga. Tapi bingungnya, Inneke yang mudah sekali jatuh cinta dengan seorang pria pada pandangan pertama, malah sama sekali tidak tertarik dengan asisten dari Bian ini. Padahal sebelumnya dia juga pernah jatuh cinta dengan orang yang jauh lebih tua dari Zaka Yang.
Dalam hati seorang Inneke, dia malah bergairah ketika ingin berdebat dengan Zaka Yang. Tapi karena dia juga lelah hari itu, maka gadis berusia 21 tahun itu pun menjadi patuh. Diantar lah dia sampai ke rumahnya.
Setelah itu, Zaka Yang kembali ke rumah Bian untuk melanjutkan pekerjaannya. Masih ada beberapa urusan lagi yang ia handle ketika Bian sedang menghabiskan waktu bersama dengan putrinya.
***
Wafa malah jadi lupa jika dirinya sudah dilamar oleh Ustadz Lana, meskipun dia belum memberikan jawaban pasti. Selama dua hari itu Wafa dan Bian juga sering bertemu.
Sampai satu minggu berlalu, Wafa semakin sibuk dengan urusannya bersama dengan Bian. Gadis ini kembali membolos kuliah dan malah fokus mencari rezeki bersama dengan duda kaya yang tampan membahana ini.
"Sudah semingguan ini kamu kenapa selalu tepat waktu bertemu dengan Grietta? Apa kamu tidak pergi ke kampus?" tanya Bian.
Bahkan Bian saja juga merasa seperti itu terhadap Wafa yang sering kali bolos kuliah.
"Um, pergi. Tapi entah kenapa saya lebih semangat saja jika hendak bertemu dengan Grietta," jawab Wafa dengan cengengesan.
__ADS_1
"Saya tidak mau mengganggu belajar kamu, Wafa. Saya takut jika kamu gagal di kemudian hari. Bukan hanya kamu yang menyesal, tapi jika kegagalan itu terjadi, aku juga pasti akan sedih," celetuk Bian.
"Sedih kenapa, Pak? 'Kan, yang gagal saya, bukan Bapak!" Wafa tidak mengerti maksud dari celetukan Bian.
Bian tidak menjelaskan, dia hanya terus mengajak Wafa jalan berkeliling pabrik kayu yang baru saja berdiri selama 3 hari itu. Tempatnya sedikit jauh dari rumahnya Wafa, karena tepatnya ada di luar kota.
"Kamu pagi-pagi sekali ikut saya ke garmen atau ke pabrik kayu. Jadi kapan kamu pergi belajarnya?" tanya Bian lagi. "Bukankah kita selalu bertemu sampai sore? Malam juga kami bilangnya sudah istirahat di rumah," lanjutnya.
"Wafa, kamu ini gadis seperti apa memangnya?" tukas Bian, dengan pertanyaan terakhirnya.
Wafa jadi murung. Dia bahkan tidak memiliki jawaban sekali atas pertanyaan yang Bian ajukan padanya. Dirinya sendiri pun tidak mengerti kenapa bisa seburuk itu dalam menjalani hidup. Bisnis konveksinya memang berjalan lancar karena memang hasilnya akan masuk ke rekening yayasan. Tapi buruknya Wafa ini karena sudah sangat kecewa dengan ayahnya, jadinya tidak terlalu memikirkan apa yang ayahnya tutur karena padanya.
"Wafa, saya hanya ingin kebaikan untuk kamu. Mulai besok, bisakah kamu pergi ke universitas lagi untuk belajar?" suara lembut Bian itu membuat Wafa semakin gelisah.
Gadis ini tak tahan lagi dengan perasaannya. "Pak Bian, bisakah kita tidak bertemu untuk beberapa waktu kedepan? Sepertinya saya akan sibuk dengan sesuatu hal yang mungkin penting bagi saya," tiba-tiba Wafa mengatakan hal seperti itu.
Bian mengerutkan alisnya. Pria ini benar-benar tidak tahu dengan sifat Wafa itu seperti apa. Tapi Bian sangat yakin jika Wafa adalah gadis yang baik. Bian melihat cara Wafa ibadah, dan bagaimana cara Wafa menyikapi segala masalah yang menimpa dirinya. Dari sana, Bian sudah yakin jika Wafa ini hanya sedang memberontak saja pada ayahnya.
'Saya sudah mengenalmu dua bulan lebih, Wafa. Tapi hari ini saya benar-benar tahu bagaimana keadaan hatimu kamu yang sebenarnya. Kondisi mental putriku sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi tidak dengan kondisi mentalmu,' batin Bian.
'Ku berharap, aku bisa menjadi obat supaya bisa memulihkan mentalmu kembali. Wafa, apa kamu baik-baik saja?' Bian terus bergumam dalam hatinya.
Beberapa hari terakhir, Wafa merasa jika Ayahnya memang kembali membandingkan dirinya dengan kakaknya—Sari. Pak Kyai selalu saja tidak puas dengan apa yang dilakukan Wafa untuk beliau. Paksaan harus menikah dengan Ustadz Lana juga membuat Wafa semakin memberontak. Belum lagi, kenyataan bahwa Sari bukanlah kakak kandungnya, tapi bisa mendapatkan kasih sayang lebih dari ayahnya, membuat Wafa sedikit terluka hatinya.
__ADS_1
Cara yang dilakukan Wafa dengan ikut bersama Bian ke sana kemari, memang hanya dilakukan karena ingin menghindari rasa kecewa terhadap ayahnya sendiri. Wafat tidak ingin sampai durhaka kepada ayahnya hanya karena iri hati melihat kakaknya yang selalu disayang dan selalu dibanggakan dibandingkan dengan dirinya.