Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Calon Istri, Lagi?


__ADS_3

"Temanmu menelepon, mengapa kamu tidak menjawabnya?" tanya Bian, berharap jawaban Wafa memuaskannya.


"Dia sudah bersama dengan Tuan Zaka Yang. Saya juga sudah bersama dengan anda," jawab Wafa. "Hmm, pasti dia sedang mengkhawatirkan saya dan sedang mencari saya, karena saya tidak ada di mana tempat ia berada saat ini," sambungnya dengan senyuman.


"Grietta ... apa anda menghukumnya, Pak Bian?" Wafa memberanikan diri bertanya.


Tak mendapatkan jawaban langsung, Bian menghindari tatapan Wafa yang langka itu. Wafa pun kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Pak Bian, kenapa anda diam saja? Apa Bapak benar-benar memberikan hukuman pada anak sekecil dia?"


"Iya," jawab Bian singkat.


"Apa alasannya?" tanya Wafa.


"Kamu masih bertanya?" sulut Bian. "Bahkan kamu juga terlibat dalam kebohongan anak itu. Saya paling tidak suka ada orang yang berbohong, Wafa. Apalagi ini masalah penting, bagaimana kalau dia keceplosan ke orang lain?" tegasnya.


Terpancar aura kekhawatiran pada diri duda muda itu. Wafa pun tak bisa mengelaknya, wajar jika ayah marah pada putrinya yang sedang membohongi dirinya.


"Pak Bian benar. Masalah Grietta adalah masalah serius, jadi tidak seharusnya saya dan yang lain menyembunyikannya," lanjut Wafa lirih.


"Maafkan saya, Pak. Saya mewakili yang lain, sangat menyesal karena membantu Grietta menyembunyikan kebenaran itu," ucapnya, menunduk.


Suara helaan nafas lembut terdengar. "Hmm, baiklah. Saya juga tidak ada niatan marah padamu," katanya.


"Entah kenapa aku tidak bisa marah padanya. Sihir apa yang dia berikan padaku," gumamnya lirih.


"Hm, bagaimana Pak Bian? Anda mengatakan sesuatu? Maaf, saya tidak mendengar soalnya, hehehe," Wafa terkekeh kecil.


"Tidak, tidak apa-apa. Saya hanya bergumam saja." Bian pun membalas tawa kecil Wafa dengan senyuman tulus.


***


Semua keluarga berkumpul untuk makan malam. Para saudara terkejut dengan menu makanan ala timur yang tak seperti biasanya tersaji di atas meja.


"Hei, kenapa mereka melihat makanan seperti melihat harta karun? Apa mereka belum makan setahun?" tanya Inneke, berisik.

__ADS_1


"Menunya beda dari biasanya," jawab Zaka Yang.


"Hanya menu saja yang beda, ngapain sampai segitunya? Dasar orang kaya!" ketus Inneke lirih.


Keluarga besar itu saling menggunjing, semua acara malam itu ada dibawah kendali Bian. Tak terima dengan hasil kerja keras Bian, beberapa sepupu dan sanak saudara sampai enggan melihat makanan yang sudah tersaji.


"Ji Xie, mengapa menu makanan kita berganti? Setiap tahunnya tidak pernah seperti ini. Lalu, dimana mie umur panjangnya? Mie adalah menu utama dalam adat kita, bukan?" tanya ibu tirinya.


"Makanlah apa yang ada. Mengapa kalian protes di depan makanan? Ayo, Ji Xie, pimpin dulu yang lain makan," perintah sang paman, adik kandung ayah Bian yang baik.


"Kamu orang miskin. Jadi pasti bahagia sekali bisa makan masakan seperti ini. Kami beli saja bisa, sedangkan kau?" hina ibu tiri.


"Kakak, kenapa makanannya seperti ini. Apakah akan sesuai dengan lidahku?" protes adik tiri Bian, adik bawaan ibu tiri, jadi tidak memiliki hubungan darah dengan Bian.


Semua protes terhadap Bian. Mereka tidak terima dengan menu yang diganti dalam setiap tahun peringatan kematian ayahnya. Padahal Bian juga baru sadar, jika perayaan seperti itu tak seharusnya terjadi. Apalagi mereka nantinya akan minum-minum dan membicarakan keburukan di hari kepergian ayahnya.


"Lihat wanita yang ada di sisimu itu, dia memang memakai pakaian mewah. Bahkan sepupumu saja sampai meneteskan air liur karena terpana dengan kecantikannya," lanjut ibu tiri.


Beberapa saudara Bian juga ada yang menghina Wafa. Amarah Bian pun mulai terkumpul, dia sampai mengepalkan tangannya karena terus mendengar hinaan dari keluarganya pada Wafa.


"Kurang ajar, apa yang mereka katakan itu. Dasar tidak beradab!" ketus Inneke, dia paham apa yang dikatakan oleh keluarga Bian itu. "Aku harus mengurus mereka!" imbuhnya.


Ketika Inneke beranjak, namun aksinya dihentikan eh Zaka Yang dengan menahan tangannya, Zaka Yang menggenggam kepalan tangan gadis itu. "Tetaplah disini, kita serahkan semuanya pada Tuan muda Huang," desisnya lirih.


"Apa katamu? Sedangkan pada Tuan-mu? Lihatlah, dia hanya diam saja, ******!" mode kasar Inneke on.


Zaka Yang memutar bola matanya. "Duduklah dengan tenang, kita hanya perlu menyimak. Itu urusan keluarga mereka. Serahkan urusan Nona Wafa pada Tuan-ku, semuanya akan baik-baik saja," jelasnya.


Inneke pun melunak, dia meregangkan kepalan tangannya dan memantau Wafa dari kursi sebelah sana.


Bian marah besar dan mengatakan jika tidak ada satupun yang boleh menyentil calon istrinya. Ia pun menggencarkan meja sebagai cara menghentikan gunjingan gunjingan dari keluarganya.


"Apa kalian tidak bisa diam!" sentaknya.

__ADS_1


Semua langsung terdiam.


"Kalian protes menu malam ini, aku bisa diam dan memaklumi. Tapi jangan sedikitpun kalian menghina calon istriku dengan mulut sampah kalian itu!" tegasnya.


"Calon istri?"


"Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa itu terjadi?"


Yah, Bian mengucapkan itu pada keluarga besarnya. Tentu saja membuat semuanya terkejut, beberapa tua di keluarga besar itu protes.


"Ji Xie, kau adalah pewaris tunggal keluarga ini. Sebagai pewaris tunggal, kau tidak bisa seenaknya sembarangan memilih rekan hidup," protes paman yang lain.


"Benar. Pernikahanmu dengan Nona Hui juga semakin dekat sesuai dengan janji, mengapa harus ada calon yang lain?" ibu tiri pun tak ingin ketinggalan.


"Hm, janji pernikahan? Janji pernikahan apa yang kalian maksud ini? Aku belum pernah menikah sama sekali, lalu janji pernikahan mana yang aku janjikan?" Bian tetap tak gentar.


Bagaimana dia akan gentar? Harta yang dimiliki saat ini adalah miliknya sendiri. Keluarga yang lain tak ada ikatan darah dengan ayahnya, kecuali sang kan adik ayahnya yang masih lajang. Lainnya hanya keluarga dari sepupu ayahnya saja, mereka sama sekali tidak ikut andil dalam usaha yang ayahnya Bian usahakan.


"Aku hanya mencintainya, aku juga hanya ingin dia yang jadi istriku kelak. Tak ada yang namanya janji pernikahan selain janjiku padanya," (Wafa)


"Aku tetap akan menikahinya dengan tanpa persetujuan kalian. Jika kalian keberatan dengan keputusanku, maka kalian bisa angkat kaki dari rumah ini." ancaman Bian rupanya sangat efektif. Semuanya menjadi bungkam.


Jika Bian sudah mengatakan apapun, tak ada satupun yang berani menentang meski protes. Keputusan Bian, dan kekuasaan Bian sudah membuat mereka bungkam.


Inneke bergumam tentang sahabatnya yang hebat.


'Aku tidak percaya dengan ucapan Pak Bian. Dia memperkenalkan Wafa sebagai calon istrinya? Wah, Wafa ... ternyata kau adalah suhu yang sesungguhnya!' batun Inneke.


Sedangkan Wafa yang tak mengerti apapun hanya bisa diam. Dia sampai mengeluh karena tak bisa paham dengan apa yang mereka katakan.


-_


"Kau akan menikah denganku! Jadi singkirkan wanita itu!"

__ADS_1


__ADS_2