
Sesampainya di rumah, Wafa melihat Grietta sudah siap dengan berpakaian yang cantik. Rambut panjang Grietta dikenakan bandana yang Wafa belikan untuknya.
"MasyaAllah, ini gadis mana, ya? Cantik sekali, ih. Gadis siapa ini, ya?" Wafa tak henti-hentinya menciumi pipi Grietta karena saking gemesnya.
"Anak Mama Wafa," celetuk Grietta.
"Tepat sekali! Anak Mama Wafa ini cantik sekali. Sayangku, cintaku, love ... Kemari, peluk Mama!" seru Wafa merentangkan kedua tangannya.
Mendengar kata "anak Mama Wafa" membuat Grietta tersenyum senang. Baru kali itu gadis kecil ini mendengar Wafa enteng sekali mengucapkan panggilannya sebagai, 'Mama'. Grietta langsung memeluk Wafa dengan erat, kemudian mencium pipi lembut Wafa berkali-kali. "Wowowo, sudahlah! Hehehe, geli sekali, Grietta!" seru Wafa terkekeh.
"Grietta sayang Mama Wafa," ucap gadis kecil itu.
"Mama Wafa juga sayang Grietta," balas Wafa dengan senyuman. "Sudah siap jalan-jalan, 'kan? Ayo, waktunya kita pergi!" ajaknya.
Wafa berpamitan dengan semua orang yang ada di rumah. Waktu itu memang hanya ada Dian di rumah, jadi hanya Dian yang dipamiti. Tapi Wafa juga tidak lupa memberitahu Dian supaya mengizinkan dirinya kepada Pak Kyai karena dirinya hendak pergi bersama dengan Ustadz Lana.
"Memangnya Ustadz Lana tidak bisa menjemputmu ke sini? Kenapa juga kalian harus bertemu di luar? Alangkah lebih baiknya jika Ustadz Lana ke sini, 'kan?" tanya Dian.
Wafa mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Dian. Aku ingin bertemu beliau di luar saja. Masih terasa tidak nyaman jika Ustadz Lana terus datang kemari," jawabnya.
Ala an nafas panjang itu keluar dari hidungnya Dian. Gadis berusia 19 tahun ini masih tidak tahu apa yang saat ini sepupunya pikirkan. "Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, yang terpenting kamu tidak keluar sendirian saja. Kan jauh lebih baik memang dengan seseorang dan itu pastinya seorang pria biar aman," ujarnya.
"Sebenarnya aku bisa saja pergi sendiri. Tapi aku tidak tahu bisa menghadapi ... (Grietta) apa tidaknya ketika nanti ... (Bian) datang," Wafa masih menjaga ucapannya supaya Grietta tidak curiga.
"Iya, aku mengerti," sahut Dian. "Pergilah, jangan pulang terlalu malam. Kasihan Grietta juga jika pulangnya kemalaman," imbuhnya dengan membelai rambut panjang Grietta.
Sebelum Grietta dibawa pergi, Dian menyempatkan untuk memeluk dan menciumnya lebih dulu. Zira dan Sari yang tidak tega saja lebih memilih untuk tidak bertemu dengan Grietta hari itu. Mereka malah pergi bersama ke pesantren supaya tidak melihat kepergian gadis kecil itu. Semua orang sudah terlanjur menyayangi Grietta, jadi pulangnya Grietta membuat semua orang sedih termasuk mbak-mbak pondok yang selalu baik dengan gadis manis yang sudah mulai percaya diri bicara itu.
__ADS_1
Kling~
Pesan masuk di ponselnya Wafa, dari Ustadz Lana yang sudah menunggu di depan yayasan milik Wafa.
pesan dari Ustadz Lana.
balasan dadi Wafa.
Mendapat balasan dari Wafa membuat Ustadz Lana sedikit canggung ketika mau membalas lagi. Terpaksa Ustadz Lana tidak membalas pesan tersebut daripada salah.
'Wafa masih saja sungkan padaku. Bahkan bahasa bicaranya saja seperti bicara dengan orang lain. Padahal kita sudah sering bertemu dan bermain bersama juga dengan Grietta.' batin Ustadz Lana.
Cinta sepihak memang menyakitkan. Tapi jauh lebih menyakitkan jika wanita yang dicintainya malah menyukai pria yang belum tentu menyukainya juga. Ustadz Lana sangat peka perasaannya, dia tahu betul jika Wafa telah tertarik dengan Bian.
Sekitar 7 menit, mereka pun bertemu. Wafa juga mengajak Sabrina—putri almarhumah dari sahabatnya, Qia. Usianya memang tidak jauh-jauh sekali dari Grietta. Mereka lahir di tahun yang sama meski bulannya ada di awal dan akhir tahun. Sabrina memang lebih tua dari Grietta.
"Assalamu'alaikum, Ustadz Lana. Sudah menunggu lama, ya?" Wafa telah sampai.
"Alhamdulillah, hehe. Saya takutnya Ustadz sudah menunggu lama," ucap Wafa.
"Nana!" seru Grietta kala melihat Ustadz Lana di ruang tamu yayasan.
"Eh, Grietta? Masya Allah, cantik sekali gadis kecilnya Nana ini. Kemarilah, duduk disamping Nana," sikap Ustadz Lana ini berubah ceria seperti anak kecil jika bertemu dengan Grietta.
Tak lama kemudian, Sabrina datang dari dalam membawakan sebungkus coklat untuk Grietta. Dua gadis kecil ini sudah saling mengenal sebelumnya, jadi ketika bertemu lagi, saling senyum dan saling sapa meski belum bisa ngobrol layaknya teman main.
"Baiklah, Sabrina sudah siap juga, 'kan?" tanya Wafa.
__ADS_1
Sabrina mengangguk, "Sudah, Kak!" serunya ketika menjawab.
"Jika sudah siap, maka ayo kita let's go!" sahut Ustadz Lana semangat.
Wafa tidak membedakan anak yayasan lainnya dengan Sabrina. Tapi memang saat itu hanya Sabrina yang diajak jalan-jalan karena sebelumnya anak yayasan sudah sering diajak Wafa jalan-jalan, sedangkan Sabrina yang baru masuk ke yayasan tersebut belum pernah jalan-jalan.
Beruntung saja Mbak Nur dan Vita bisa memberikan pengertian kepada anak-anak yang lain. Jadi, tidak ada perasaan iri hati pada setiap anak ke anak yang lainnya. Itu juga karena Wafa harus mengeluarkan uang jajan lagi untuk anak-anak sebagai permohonan maaf karena tidak bisa mengajak mereka pergi bersama.
"Sabrina, kamu pernah pergi kemana saja? Tempat mana yang belum kamu kunjungi?" tanya Ustadz Lana.
"Aku belum pernah pergi kemana-mana, Ustadz. Sebelumnya, selalu membantu Ibu jualan, jadinya tidak tahu deh, tempat bermain mana saja yang ada di kota ini," jawab Sabrina.
"Astaghfirullah hal'adzim, maaf, ya, Sabrina. Saya tidak tahu kalau kamu belum pernah mengunjungi tempat bermain," sesal Ustadz Lana.
"Hehehe, tenang saja, Ustadz. Aku baik-baik saja, kok! Membantu ibu jualan, juga buat kebutuhan. Jadi, tidak masalah jika aku tidak bermain!" celetuk Sabrina.
Sabrina memang sudah lancar sekali dalam berbicara. Bahkan tutur katanya saja seperti orang dewasa karena memang disewakan oleh keadaan. Hidup dilingkungan dan bersama dengan keluarga yang selalu bicara dengan kasar, membuat Sabrina pemikirannya lebih luas daripada Grietta.
Soal tubuh memang besar Grietta, tapi mental dan rasa percaya dirinya, Sabrina-lah yang lebih unggul. Meski begitu, keduanya tetap terlihat sama bagi Wafa. Anak yang istimewa karena memang sejarah keduanya.
"Grietta, kamu kenapa diam saja? Apa kamu pusing?" tanya Wafa.
Saat itu Grietta berada di jok depan, sampingnya Ustadz Lana. Sementara Sabrina bersama dengan Wafa di jok belakang.
"Aku mau bermain Timezone, apakah boleh?" tanya Grietta dengan suaranya yang lembut.
"Tentu saja boleh!" jawab Wafa dan Ustadz Lana bersamaan.
__ADS_1
Wafa langsung menyandarkan tubuhnya dan memandang jalanan, sementara Ustadz Lana tersenyum malu, kembali fokus menyetir. Ustadz Lana yang sudah terlanjur mencintai Wafa memang tidak ada salahnya jika jadi salah tingkah.
Jantung pria ini berdebar kencang, tapi hatinya hanya bisa istighfar dan istighfar saja karena Wafa masih belum bisa digapainya.