Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Lamaran?


__ADS_3

Di dalam mobil.


"Bapak nyetir sendiri?" tanya Wafa.


Bian tersenyum. "Bukankah saya sudah menjawab tadi. Saya datang kemarin setelah meeting selesai. Zaka adalah asisten pribadi saya, dia bukan supir." jawabnya.


"Haduh, kan bisa jawab intinya saja. Kenapa masih dibahas kalau dia datang kemari sehabis meeting?" gumam Wafa dalam hati.


Situasi di perjalan masih senyap. Keduanya belum membuka obrolan karena canggung. 18 hari tidak bertemu dan jarang sekali berkomunikasi. Antara Wafa dan Bian hanya fokus pandangannya menuju ke depan saja. Namun, Wafa seolah telah melunturkan suatu hal tentang dimana wanita harus menundukkan kepala kepada yang bukan mahramnya. Saat itu, sesekali Wafa melirik ke arah Bian dan masih tidak percaya jika pria yang di sampingnya adalah Bian, papinya Grietta.


"Mengapa dia hanya diam saja? Apa dia tidak akan bertanya tentang Grietta atau aku?" batin Bian, berharap.


"Kenapa Pak Bian hanya diam, sih? Begini kan, jadi canggung sekali. Cerita tentang Grietta kek, atau dirinya gitu," sahut Wafa juga bicara dalam hati.


Dipertengahan jalan, barulah Bian membuka obrolan. Dia menanyakan kabar Wafa saat itu. "Bagaimana kabarmu?" tanya Bian.


"Alhamdulillah, baik," jawab Wafa semangat. "Bapak sendiri, bagaimana? Lalu, bagaimana dengan Grietta? Apa dia sudah baik-baik saja?" tanyanya.


"Aku dan Grietta dalam keadaan baik. Grietta selalu menanyakan dirimu. Sering sekali memintaku untuk menghubungimu. Tapi sayangnya, aku selalu sibuk. Jadi belum bisa memenuhi keinginannya." jelas Bian.


Wafa mengangguk-angguk paham. Suasana kembali canggung semula. Suasana tidak mengenakkan itu berakhir ketika mereka sudah sampai depan gerbang pesantren.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak. Bisa tolong bukakan gerbangnya?" pinta Wafa dengan lembut kepada penjaga gerbang.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, siap, Mbak!" sahut beliau.


Sesampainya di depan rumah, Wafa dan Bian bingung karena ada beberapa mobil terparkir di sana yang bukan milik keluarga. Bahkan, di dalam juga sudah banyak orang yang Wafa sendiri juga tidak tahu siapa.

__ADS_1


"Ada acara apa di rumah kamu?" tanya Bian.


"Saya sendiri juga tidak tahu, Pak," jawab Wafa bingung.


"Jika memang sedang ada acara, lebih baik saya langsung pulang saja. Tidak enak juga jika berlama-lama di sini, takut mengganggu," ujar Bian.


"Bapak te—" ucapan Wafa belum selesai, tapi Sari sudah mengetuk pintu mobilnya. "Mbak Sari? Kapan dia datang?" Wafa bergumam.


Tuk ... tuk ...


Wafa pun membuka kaca mobilnya. Memang random sekali mereka. Padahal Wafa bisa saja langsung membuka pintu mobil dan keluar. "Mbak Sari? Kapan Mbak datang?" tanyanya.


"Kamu sama Pak Bian?" tanya Sari kembali. "Halo, Pak Bian," sapanya.


Sari pun menceritakan tentang siapa saja yang hadir di rumahnya. Rombongan itu dari keluarga pesantren Al-Ikhlas. Pesantren dari luar kota yang dimana Kyai-nya memang masih teman Pak Kyai Abinya Wafa dan Sari. Sari tidak menceritakan kedatangan rombongan tersebut karena memang dirinya tidak tahu. Wafa pun memiliki perasaan tidak enak saat mendengar cerita dari kakaknya.


"Pesantren Al-Ikhlas? Kok, aku baru tahu, ya ada nama pesantren seperti nama masjid. Aku juga baru tahu kalau Abi memiliki teman yang juga memiliki pesantren di luar kota sana," ujar Wafa. "Lalu, apa tujuan mereka datang kemari, Mbak?" tanya Wafa penasaran.


Entah perasaan apa yang Wafa rasakan, Tapi saat itu dia merasa berat ketika tidak turun dari mobilnya Bian. Tidak ingin mengacaukan acara penting keluarganya Wafa, Bian pun tersenyum dan mempersilahkan jika Wafa ingin turun lebih dulu dan dirinya langsung mau pulang.


"Pak Bian ...." sebut Wafa lirih dengan tatapan gelisah.


"Tidak masalah. Kamu turun dan sambut mereka. Saya akan langsung pulang. Nanti kita bicara lewat telpon, hm?" usul Bian.


"Pak, jika Anda tidak keberatan, Anda bisa, kok, hadir bersama dengan kami menyambut tamunya Abi," ajak Sari sekalian.


Wafa pun mengangguk senang. Bukan, senyum manis dari bibir Wafa terlukis jelas. Dari sana, Sari merasa jika Wafa ini seperti agak lain cara menatap Bian. Akan tetapi, Sari masih teringat kata-kata para santriwati yang berada di dapur ketika mengatakan jika Wafa menyukai Ustadz Zamil. Dia pun tiba-tiba menjadi sedih, menundukkan kepala.

__ADS_1


"Wafa, ini adalah acara keluarga kamu. Bagaimana mungkin saya turut hadir? Sudahlah, kita akan bicara lagi nanti lewat telepon," tolak Bian dengan lembut.


"Baiklah kalau begitu. Pak Bian pulangnya hati-hati, ya. Saya pamit dulu."


Jantung Wafa terasa sesak saat turun dari mobil Bian. Dia melambaikan tangannya kepada Bian dan Sari pun membawa Wafa masuk. Setelah melihat Wafa sudah masuk ke dalam rumah, Bian pun menerima telepon dari asisten pribadinya jika Grietta sudah siap mau pulang sore itu dari Tiongkok.


Sementara itu, Wafa juga melihat semua keluarganya ada di rumah tersebut. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Loh, Zira, Dian, kalian masih disini juga? Budhe, Pakdhe? Ada acara apa sih, ini? Kenapa kalian juga ada disini?" salam Wafa dengan raut wajahnya yang masih bingung sambil bertanya. "Kapan kalian sampai sini? Bukannya masih di luar negeri, ya?" Imbuhnya semakin bingung.


"Aku akan menceritakannya. Ayo, aku antar kamu ganti baju dan berhias sedikit," Zira dengan cepat meraih tangan Wafa dan mengajaknya ke kamar.


"Memangnya ada acara apa? Aku bingung juga mengapa kalian masih disini sejak pagi hari tadi," sahut Wafa mengikuti langkah Zira.


Melihat Wafa dari kejauhan, Ustadz Zamil merasa sedikit menyesal karena telah mengecewakan hati gadis manis berusia 20 tahunan itu. Sebenarnya, Ustadz Zamil ini juga memiliki perasaan dengan Wafa. Hanya saja, karena Abinya Wafa, Pak Kyai, adalah guru darinya, jadi Ustadz Zamil merasa insecure dengan itu. Dia tidak berani menikahi anak dari gurunya sendiri. Maka dari itu, dia memilih Sari yang memang bukan anak kandung dari Pak Kyai.


"Mbak, duduk," pinta Dian, memecah lamunan Sari yang sejak tadi melihat Sari.


Pelan-pelan, Sari duduk di samping Dian dan menanyakan tentang acara yang terjadi dadakan hari itu. "Dian, ini ada acara apa, ya? Pagi-pagi tadi, aku diberi kabar oleh Mas kamu kalau aku dan Ustadz harus datang hari ini?" tanyanya.


"Ini adalah acara lamarannya Ustadz Lana kepada Wafa," jawab Dian lirih.


"Astaghfirullah hal'adzim, apa?" tentu saja tidak salah jika Sari kaget. "Dian, yang benar saja?" sambungnya.


"Sttt ... jangan keras-keras ngapa, dah!" Dian langsung menutup mulut Sari.


Acara lamaran yang dadakan itu memang tidak diketahui oleh Sari dan Wafa sendiri. Sari tidak habis pikir dengan Pak Kyai yang tidak membicarakan hal penting itu dulu kepadanya. "Ada apa dengan Abi? Kenapa juga mengadakan acara lamaran se-mendadak ini dan juga tidak memberitahu aku?" protesnya.


"Aku juga tidak tahu, Mbak. Aku hanya merasa kasihan saja dengan Wafa. Dia pasti tidak mau adanya perjodohan seperti ini. Apalagi, dia baru saja merubah jurusan kuliahnya," timpal Dian, dengan suaranya yang lemas karena kekenyangan.

__ADS_1


Tanpa bicara apapun kepada Dian, Sari langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi menuju kamar Wafa untuk memberitahukan acara tersebut. Bukannya Sari tidak setuju atau mengacaukan acaranya, hanya saja, perjodohan itu memang sangat tidak disukai oleh adiknya.


Lalu, apa yang akan Sari katakan?


__ADS_2