Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Bertemu Dengan Kenalan Lama


__ADS_3

Terakhir, Wafa meminta tanda tangan dari Dani. Wafa sebenarnya tidak mau melakukan hukuman yang diberikan oleh Mayumi. Apalagi harus bertemu dengan Dani, kekasihnya. Itu sama saja akan membuat masalah baru yang nantinya menimbulkan kesalahpahaman lagi antara dirinya dengan Mayumi.


"Huh, tetap saja yang keren di mataku adalah Pak Bian. Bahkan Kak Ferdi saja tidak bisa dibandingkan dengan Pak Bian," gumam Wafa dalam hati. Tetap saja yang ada di pikirannya adalah Bian Hutomo.


Wafa sendiri juga bingung dengan perasaannya. Setiap kali melihat seorang pria, pasti akan teringat dengan Bian yang masih jauh di Tiongkok sana. Wafa yakin jika dirinya belum memiliki perasaan. Hanya saja, ingatan tentang Bian itu selalu dikaitkan dengan kerinduannya bersama Grietta.


"Eh, Wafa, ya? Pasti mau minta tanda tangan. Kemarilah, aku akan memberikanmu tanda tangan yang bagus sekali supaya Mayumi tidak lagi marah-marah dengan kamu," celetuk Dani.


"Iya," jawab Wafa dengan malas, seraya memberikan kertas yang dia bawa kepada Dani.


"Omongan Mayumi tadi jangan diambil hati, ya. Dia memang gitu sifatnya. Yah, maklum anak manja," jelas Dani. "Jika Mayumi berkata kasar lagi, kamu diam saja. Jika kamu terus melawan, maka kamu akan jadi sasaran empuknya, hm?" sambung Dani dengan perhatian murahnya.


Wafa hanya menunduk dan mengangguk pelan. Saat ia berbalik, di belakangnya sudah ada Mayumi di kejauhan sana, yang terlihat seperti tidak suka akan kedekatan dirinya dengan kekasihnya.


"Yah, lihat dia lagi," batin Wafa. "Pasti akan salah paham lagi. Huft, sangat menyebalkan! Astaghfirullah hal'adzim …"


Mayumi berjalan ke arah Wafa. Tatapan matanya sudah bisa ditebak jika dirinya benar-benar marah. Sebenarnya Wafa tidak ingin menjadi keributan di kampus. Dia hanya ingin fokus belajar supaya bisa segera lulus dan mengurus anak-anak asuhnya dengan baik.


"Sayang, kamu jangan galak-galak seperti itulah. Kasihan dong junior kita jadi takut," pinta Dani dengan manja.


"Bodo amat, sini kertasnya!" Mayumi merebut kertas yang sudah di tanda tangani oleh beberapa seniornya.


Setelah memeriksa kertas milik Wafa, Mayumi berkata kepada Wafa. "Gila! Dia bisa dapetin tanda tangan Kak Ferdian lagi. Baru pertama kali ini Kak Ferdian mau tanda tangan untuk junior. Hem, nih anak emang penggoda ternyata!" batinnya.


"Gimana, kakak senior yang cantik. Apakah sudah benar tanda tangan semua orang yang diminta? Sebenarnya itu memang semuanya pada tanda tangan senior yang Kakak Mayumi cantik ini minta. Sudah waktunya istirahat, saya istirahat dulu, ya. Babai ..." ucap Wafa dengan senyum puas.

__ADS_1


Mayumi kalah, dia hanya mengganggu saja. Ia tak menyangka jika Ferdian, lelaki yang sangat dingin di kampus, pendiam dan tak mau diganggu oleh siapapun, berhasil Wafa taklukan. Mayumi tidak tahu saja siapa Ferdian ini.


"Kamu kenapa sih, Yang? Mlongo gitu, jelek tau!" tegur Dani kepada Mayumi.


Mayumi memberikan kertas tanda tangan milik Wafa kepada Dani. "Kamu lihat saja sendiri lah!" serunya.


"Ferdian? Yang benar saja? Bahkan dia bisa mendapatkan data dengan senior kita dengan mudah? Lihat, teman-temannya Ferdian juga ikut tanda tangan. Seangkatan kita hanya beberapa saja yang dimintai tanda tangan?" Dani sampai heran tidak percaya. "Hebat bener ini cewek." imbuhnya.


Mayumi semakin yakin jika Wafa adalah musuhnya. Sebenarnya Wafa tidak ingin mencari musuh. Hanya saja orang lain yang tidak bisa berbuat baik kepadanya dan Wafa pun juga tidak bisa berbuat baik dengan orang yang tidak pernah baik kepadanya.


***


Ketika Wafa berada di kantin, semua orang melihat Wafa penuh dengan tatapan penasaran. Berita Ferdian mau memberikan tanda tangannya kepada Wafa pun membuat semua orang heran dan penasaran dengan wajah Wafa.


"Kamu tuh hebat lho, Wafa!? Pol hebate, pokoknya!" seru Tian bertepuk tangan.


"Hebat kenapa? Kayaknya aku tidak melakukan apapun deh!" Wafa pun menjadi bingung.


"Kamu itu tadi bisa melawan senior yang galak itu. Lalu kamu bisa mendapatkan tanda tangan senior juga yang bernama Ferdian. Kamu tahu siapa Ferdian itu? Dia adalah senior yang tidak pernah ramah dengan juniornya. Jangankan junior, teman seangkatannya saja jarang sekali di siapa oleh Ferdian," jelas Tian.


"Perlu kamu ketahui. Ferdian ini 3 tahun lebih tua dari kita. Sedangkan senior kita yang ada di sini itu jauh lebih mudah dari kita. Hahaha, kita saja yang akal-akalan pindah universitas dan mengikuti ospek lagi," lanjut Tian, sebelum menyantap baksonya.


Sebenarnya Wafa tidak pernah berpikir jika dirinya adalah orang yang hebat. Tapi mau gimana lagi, dirinya juga tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya mengenal seorang Ferdian. Meski saat itu hanya beberapa bulan mengenal Ferdian, tapi jujur mereka pernah dekat meski itu hanya sebagai seorang teman. Sesuai dengan perkataan Ferdian tadi ketika Wafa meminta tanda tangannya, Ferdian mengatakan tidak perlu bagi Wafa untuk mengekspos jika mereka saling mengenal.


Bukan masalah Ferdian tidak ingin mengenal Wafa atau melupakan seorang Wafa. Tapi semua itu demi kebaikan Wafa supaya tidak terus dibully oleh Mayumi dan juga gengnya. Ferdian pun mengatakan bahwa mereka harus mulai dari nol lagi seperti sebelum saling mengenal.

__ADS_1


"Ferdian itu—" ucapan Tian terpotong karena Wafa menerima chat masuk.


[Selamat siang, Wafa. Bagaimana hari pertama di kampus barumu? Jangan lupa makan siang, ya. Oh iya, ada kabar baik untuk kamu. Satu bulan lagi, aku akan mengadakan pembukaan pabrik baru yang ada di Jogja bersama dengan Grietta. Bahkan, aku juga memiliki tempat nongkrong baru yang sudah siap di Jogja atas namamu. Kita bisa bertemu setiap saat!]


Wafa menjadi tersipu malu membaca pesan dari Bian.


"Siang juga, Pak Bian. Wahhh, selamat ya. Semoga usahanya semakin jaya. Jadi, kapan Pak Bian pulang? Lama sekali tidak berkabar. Wahhh asik nih, saya bisa makan gratis 'kan? Hahaha, bercanda, Pak. Semoga sukses ya] - balas Wafa.


Tian menjadi heran dengan Wafa yang tersenyum-senyum sendiri melihat ponselnya. Tian tidak tahu saja jika Wafa sedang berbahagia karena Bian sudah menghubunginya. Itu menjadi mood booster banget buat Wafa.


"Wafa, woy. Senyum-senyum sendiri, sih? Ada apa dengan ponselmu?" tanya Tian penasaran.


"Tidak ada. Hanya ingin tersenyum saja," jawab Wafa berbohong. Tidak mungkin juga mengatakan yang sebenarnya kepada Tian.


"Lihat tu, itu namanya Ferdian datang. Huft, tampan sekali, ya ..." tunjuk Tian.


"Semua laki-laki, ya pasti tampan lah, Tian. Jangan pernah insecure sebanyak itu kepada sesama kaummu!" seru Wafa.


Di kantin, Ferdian dan Dani terus saja curi-curi pandang dengan Wafa. Mayumi yang menyadari itu pun semakin kesal di buatnya. Dua pria paling spesial di kampus tergila dengan junior tua dalam pikiran Mayumi.


"Apa sih spesialnya cewek itu? Dasar penggoda, pelakor!" ucap Mayumi dalam hati, dia sedang kesal.


Saat Wafa hendak memakan makan siangnya lagi, muncullah Mayumi dan Lalita yang tiba-tiba menyiramkan air mineral ke jilbab Wafa. Membuat Wafa terkejut saja. Sebab, air itu sangat dingin di kepala Wafa.


Awalnya Wafa tak ingin membalasnya. Itu hanya akan membuatnya sama saja di balas dendam. Dan dendam itu sangat dibenci oleh Allah. Tapi jika Wafa tidak membalas, dia akan terus-menerus di bully oleh Mayumi, karena dianggap rendah.

__ADS_1


__ADS_2