
Malam telah datang.
Malam itu, Wafa sedikit merasa terobati karena Bian mengirim beberapa foto Grietta kepada Wafa. Itu mampu membuat mengobati kerinduan Wafa kepada gadis cilik itu.
Ketika Wafa bangun, semua sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tak seperti biasa Zira mengundang beberapa santriwati untuk membantunya masak. Dan kali ini masaknya banyak, menunya juga bukan menu biasanya.
Pak Kyai dan beberapa santri pun juga tengah sibuk membersihkan ruang tamu dan halaman rumah. Wafa nampak bingung, ia juga tak melihat Dian dan juga Reyhan di sana. Wafa pun mencoba bertanya ke beberapa santri, namun mereka tak tahu pasti kenapa Pak Kyai menyuruh mereka membersihkan halaman yang sudah bersih itu.
Tidak sedikit yang bekerja di dapur bersama dengan Zira.
"Zi, ada acara apa ini? Rame bener, dah! Boleh lah jika aku bantu. Tapi bentar, aku mau mandi dulu," kata Wafa dengan wajah sumringah.
"Eh, jangan. Mending kamu siap-siap dulu sana pergi ke kampus. Kamu juga pasti 'kan? Biarkan kami yang di rumah yang mikirin," Zira menolak niat baik Wafa.
"Lah, kenapa gitu?" tanya Wafa.
"Sudahlah, sana siap-siap saja ke kampusnya. Jangan ganggu kami di sini," sahut salah satu santri yang sudah kenal akrab dengan Wafa.
Wafa merasa ada yang disembunyikan antara Zira dan ayahnya. Sampai ada acara masak-masak saja, dirinya sampai tidak diberi kesempatan untuk membantu. Tapi, tiba-tiba datanglah Dian. Dia tiba-tiba sekali ingin mengantar Wafa ke kampusnya.
"Wafa, ayo aku antar," ajak Dian.
"Males kalau bawa mobil. Motoran saja lah ...." Wafa negosiasi.
"Enakan pakai mobil dong, Fa. Ayo, biar adem juga ber-AC," ujar Dian.
"Males, ah. Kalau ke kampus naik mobil itu mencolok banget, Dian. Lebih baik aku naik ojek saja. Terima kasih sebelumnya sudah menawarkan tumpangan."
Wafa menolak tumpangan dari Dian karena memang seluruh kampus tahunya bahwa dirinya adalah seorang gadis miskin. Jadi tidak mungkin hari itu Wafa pergi ke kampus diantar mengendarai mobil yang memang Dian ini memiliki mobil yang mewah. Di sisi lain, Wafa juga tidak ingin menjadi pusat perhatian di kampus. Hal itu malah akan menjadi dirinya tidak akan bisa fokus untuk belajar.
Ketika Wafa ingin ke pangakalan tukang ojek, Reyhan lewat dan menawari tumpangan, karena kampus di mana Reyhan kuliah melewati kampus Wafa. Saat itu, Reyhan tengah mengendarai motor Honda Astrea jadul. Jadi Wafa pun setuju untuk diantar oleh Reyhan.
"Tumben banget ke kampus pakai motor ini?" tanya Wafa.
"Mobil yang biasanya aku pakai katanya mau dipakai sama Zira. Daripada aku naik mobil pick up, Lebih baik aku naik motor lah!" jawab Reyhan.
"Hilih, kaya Mas Reyhan kemarin, Mas mau pulang ..." sahut Wafa sedikit meledek.
__ADS_1
"Tertunda, Abah dan Umi belum sampai. Ayo, ah!" balas Reyhan.
Wafa dan Reyhan ini sama-sama suka dengan kesederhanaan. Bahkan penampilan mereka pun juga tidak mencolok sama sekali. Wafa lebih suka mengenakan tunik dan jilbab menutupi dadanya. Terkadang hanya mengenakan hoodie saja. Sekalipun ia menggunakan hijab yang dilipat lipat, pasti ia memakai hoodie sederhana.
"Mau diantar sampai mana? Parkiran lagi?" tanya Reyhan.
"Boleh, Mas. Tapi Mas keburu tidak? Takutnya Mas juga mau buru-buru gitu?" tanya Wafa balik.
Reyhan mengatakan jika dirinya tidak sedang terburu-buru. Reyhan ingin menikmati situasi macet pagi hari saja. Sebab itulah dia berangkat pagi-pagi ke kampus. Aslinya, Reyhan sendiri tidak memiliki kelas pagi hari.
"Cowok yang kemaren siapa, Fa?" Reyhan pun penasaran.
"Senior," jawab Wafa singkat.
"Tumben di ajak pulang. Jarang banget aku ngajak pulang teman kuliah atau sekolah gitu kecuali si bawel Inneke," lanjut Reyhan bertanya.
"Dia sudah ada di depan, Mas. Masa iya aku bicara sama orang yang bukan mahram di pinggir jalan seperti itu. Apalagi kemarin itu kan persis banget di depan gerbang pesantren. Daripada dia penasaran malah mengendap-ngendap seperti maling, lebih baik aku suruh masuk lah!" jawab Wafa sedikit tidak santai.
"Sudahlah, males banget aku bahas dia. Tidak penting dan malah menyebalkan bagiku," imbuh Wafa.
Sesuai dengan kemauan adik sepupunya, Reyhan pun tidak meneruskan pertanyaan lagi tentang Ferdian.
"Pasangan yang serasi sekali. Pasangan miskin, hahaha—" tatapan Mayumi seperti orang yang jijik. Mayumi tertawa bahagia kala melihat orang yang dibenci, sangat rendah di pandangannya.
"Diantar pacar pakai motor butut saja dia bahagia hahahaha apa lagi kemarin di antar Kak Ferdian menggunakan mobil mewah? Pasti semalam tuh cewek kampung tidak bisa tidur!" seru Lalita sembari tertawa menghina.
"Memangnya dia pacarnya? Bukannya cewek model Wafa itu anti pacaran, ya?" tanya Dani tidak percaya jika gadis yang dia kagumi memiliki seorang kekasih.
"Paling juga dia pernah ngamar! Cih, munafik!" kebencian Mayumi ini sudah mendarah daging. Dia terus saja menghina Wafa sesuka hatinya.
"Lihat aja. Hari ini gue akan memberinya pelajaran, hingga dia malu dan tidak berangkat ke kampus lagi." batin Mayumi, sedang merencanakan sesuatu hal yang jahat untuk Wafa.
Ferdian ini yang sudah mengetahui status Wafa hanya bisa diam dan tidak mengatakan kebenaran itu kepada Mayumi tentang siapa Wafa sebenarnya. Dia tidak ingin jika Wafa membencinya hanya karena membongkar identitasnya.
"Kalau gue bongkar status Wafa, itu tidak akan menjadi asyik lagi melihat pertunjukan Mayumi semakin mempermalukan diri. Hanya Wafa yang mampu melawan Mayumi saat ini soalnya." ucap Ferdian dalam hati, sambil minum jusnya.
***
__ADS_1
Ospek hari kedua dimulai. Mayumi sudah menyiapkan cara untuk membully Wafa lagi. Kali itu, menggunakan cara yang hina. Mayumi menyuruh dua orang mahasiswa paling nakal untuk menyentuh Wafa. Cara yang murah hari itu akan digunakan oleh Mayumi untuk menjebak Wafa.
"Kalian tunggu di gudang, oke?" kata Wafa kepada dua mahasiswa brandal itu.
Sayangnya, dari balik tembok di mana Mayumi dengan dua pria itu berdiskusi dan mau melancarkan aksinya, tak sengaja Ferdian mendengarnya. Ferdian saja sampai jijik dengan cara Mayumi memberikan Wafa pelajaran. Tidak rela jika Wafa sampai kenapa-napa, Wafa pun mengikuti dua pria itu.
Apa yang terjadi saat itu, adalah skenario dari Mayumi. Tidak lama setelah itu, Wafa pun datang di tempat dimana dia akan dijebak. Dia disuruh oleh Mayumi untuk mengambil pel baru di gudang. Namun ternyata, pel baru itu sama sekali tidak ada di gudang.
"Ini senior tidak ada henti-hentinya mengerjai aku. Mana ada pel di sini?" kesal Wafa. Wafa berniat kembali ke lapangan dan memberitahu Mayumi jika pel yang dimintanya tidak ada.
Belum juga Wafa keluar, Wafa sudah di hadang oleh dua pria kampus itu suruhan Mayumi. Alih-alih menjadi panik, Wafa malah menanggapinya dengan santai dan hanya diam.
"Hey cantik, buka dong jilbabnya," goda dua pria itu.
"Kalian kalau tidak mau sampai kenapa-napa, lebih baik jangan ganggu aku," ucap Wafa.
"Uuhhh, galak sekali cewek cantik ini," salah satu dari dua pria itu mencoba untuk menyentuh Wafa.
Saat itu, Ferdian hanya bisa melihat semua itu dari luar gudang. Ferdian belum bisa masuk ke gudang tersebut karena dua mahasiswa nakal itu belum juga melakukan aksinya.
"Hey, sombong sekali lu. Cantik memang, tapi sombong. Kita ajak main, tamat lu!" ketus salah satu dari dua pria itu. Lagi-lagi, mereka ingin mencolek pipi Wafa.
Wafa menepis tangan berandal itu dan membuat tangannya terkilir. Ketika yang satunya ingin menyergap dari belakang, Wafa menendangnya sangat keras tepat di dadanya, hingga brandal itu tersungkur di lantai.
"Lepasin tangan gue!" teriak berandalan yang tangannya di pelintir oleh Wafa.
Wafa terlalu sibuk dengan pria yang di depannya. Sampai pria yang satunya lagi ada dibelakangnya mulai menyerang menggunakan pisau cutter, Wafa tidak mengetahuinya.
Tiba-tiba saja ...
Tes, tes, tes, darah segar menetes di lantai.
Darah yang menetes itu milik Ferdian, yang sejak tadi sudah sigap menjadi perisai bagi Wafa. "Aw, sialan!" suara Ferdian teriak terdengar begitu jelas.
Wafa menoleh dan terkejut melihat tangan Ferdian terluka. Wafa sedikit menyesali hal itu terjadi karena, itu sama saja dirinya berhutang budi kepada Ferdian. Wafa sangat tidak bisa terima jika sudah berhutang budi dengan seseorang.
"Ash," desis Wafa.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga, Wafa menyeret pria itu ke ruang dosen. Wafa meminta Ferdian membawa satu pria yang lain itu juga. Setelah beberapa pertanyaan mereka tidak mengakui apa motif dan tujuan mereka ingin mencelakai Wafa, mereka malah mengatakan jika mereka hanyalah suruhan Mayumi untuk mencabuli Wafa.
Wafa merasa lega semua sudah selesai. Dia membawa Ferdian ke klinik kampus dan mengobati lukanya. Beruntung saja luka Ferdian tidaklah parah. Tapi Wafa masih sedikit kesal karena harus memiliki hutang budi kepada Ferdian.