Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Keluarga Cemara Mode BPJS


__ADS_3

"APA!"


Barulah Wafa tahu arti dari keinginan Grietta. Gadis manis itu terlihat syok mendengar penjelasan dari Bian


"Pak Bian—" lirih Wafa.


Bian mengangkat bahunya. Grietta terlihat sedih karena tahu bahwa Wafa akan menolak keinginannya. Melihat wajah sedih gadis kecil itu, membuat Wafa tidak tega. Hatinya begitu lembut sampai tidak bisa melihat kesedihan Grietta.


"Astaghfirullah hal'adzim," sebut Wafa dalam hati.


"Grietta. Kakak akan cium pipi kamu seperti orang tua teman kamu itu. Tapi, cium pipinya gantian, ya. Bisa, tidak?" ujar Wafa. "Jadi, Papi kamu dulu yang cium pipi mulus kamu ini, kemudian baru Kakak!" lanjut Wafa bernegosiasi.


Grietta memandang wajah ayahnya. Lalu, memandang temannya yang sedang di manja-manja oleh orang tuanya itu. Kemudian, gadis kecil itu kembali menatap ayahnya yang tampan.


"Stt, bagaimana?" Wafa ini memang sedikit lucu. Dia sampai bertanya lagi untuk memastikan jika Grietta menyetujui usulnya.


Tatapan mata Grietta seperti memancar rasa tidak setuju. Hal itu membuat Wafa sedikit lesu dan menunduk lemas karena tidak mungkin baginya mencium pipi Grietta bersamaan dengan Bian, yang dimana memang pria berusia 30 tahun itu bukanlah mahramnya.


"Sayang, jangan keras kepala. Mungkin, menurut Tuhan Kakak Wafa, memang tidak boleh jika Papi dan Kakak Wafa mencium kamu secara bersamaan. Bagaimana jika bergantian saja?" Bian pun angkat bicara.


Mendengar itu, membuat Wafa bernapas lega. "iya, Sayang. Kakak akan tepati janji, kok! Kakak pasti cium kamu. Kanan-kiri, bagaimana?"


Setelah berpikir lumayan lama, Grietta pun tersenyum sambil mengangguk setuju. Bian sangat bersyukur bisa melihat senyum putrinya lagi. Dia langsung mencium kedua pipi putrinya itu dengan semangat. Disusul oleh Wafa juga mencium pipi Grietta dengan kelembutannya.


"Sudah, mari kita jalan-jalan. Tuan Putri Papi, hari ini mau jalan-jalan kemana?" Bian menggendong putri kecilnya itu.


Grietta kembali seperti berpikir. Lalu, menunjuk ke arah jalan raya yang berlawanan dengan arah jalan pulang.


"Um, kemana? Tidak bisakah kamu bicara sedikit saja, Nak?" Bian sangat tidak sabar ingin mendengar suara putrinya yang pendiam itu.


Gadis berusia lima tahun itu langsung tertunduk. Dia merasa sedih karena merasa ayahnya memaksa dirinya. Melihat hal itu, Wafa pun langsung menyela. "Grietta mau ke mall, kah? Mau bermain di timezone?" tanyanya.

__ADS_1


Grietta langsung mengangguk senang. Bahkan Grietta begitu semangat ketika mengangguk. Dengan wajah seperti orang sombong, Wafa menunjukkan kepada Bian jika putrinya itu sangat patuh kepadanya.


"Kamu bawa masuk dulu Grietta. Saya akan menelpon asisten saya supaya dia tidak kebingungan mencari saya nanti," Bian memberikan putrinya kepada Wafa.


"Iya, Pak," jawab Wafa patuh saja.


"Halo, saya ada di depan sekolah Grietta. Kamu jangan menunggu saya dan segeralah kembali ke kantor. Hari ini saya ingin mengajak putri saya jalan-jalan bersama dengan Nona Wafa," Bian menelpon Zaka Yang.


"Oh, baiklah, Tuan Muda. Saya akan kembali ke kantor lebih dulu. Semoga hari anda dan Nona Muda bahagia." sahut Zaka Yang.


Panggilan Zaka Yang memang berubah-ubah. Terkadang memanggil Bian dengan sebutan tuan muda dan terkadang juga memanggil majikannya itu dengan sebutan 'Pak'.


Di perjalanan, Grietta terus tersenyum senang di pangkuan Wafa. Gadis kecil itu terus mengusap pipi Wafa dengan lembut. Sementara Wafa, dia sedang menceritakan kisah Cinderella yang bukunya memang ada di dalam mobil yang mereka kendarai. Grietta sangat nyaman di pangkuan Wafa. Membuat Bian, sang ayah terheran-heran dengan putrinya.


"Kenapa Grietta bisa welcome dengan Nona Wafa? Biasanya, dia tidak akan mudah bisa dekat dengan orang asing," batin Bian masih heran.


"Bahkan, Grietta juga memberikan kalung warisan itu. Tapi, bagaimana ingin menjalin hubungan dengan Nona Wafa? Tembok kita terlalu tinggi." lanjut Bian dalam hati.


Selesai bermain, mereka melanjutkan makan di Chinese food. Memang Grietta dan Bian adalah keturunan Tionghoa, jadi tidak heran jika mereka sangat suka makanan Cina.


"Um, apa di sini halal saya makan, Pak? Maksudnya, tidak ada daging pork gitu?" tanya Wafa melihat-lihat situasi.


"Kamu bisa makan yang bukan porknya. Tapi setahu saya, di sini tidak menjual daging itu," jawab Bian, memberikan menunya.


Wafa pun melihat-lihat menu terlebih dahulu. Mau ada daging sapi dan ayam pun, jika di dalam restoran tersebut menyediakan menu pork, tetap saja Wafa tidak bisa memakannya karena tidak tahu bagaimana tempatnya ketika memasak.


"Memangnya kenapa kalau ada daging porknya? Bukankah mereka pasti juga mencuci terlebih dahulu ketika memasak menu yang lain?" tanya Bian.


"Bukan begitu, Pak Bian. Jika memang mau memasak menu lain, alangkah baiknya ganti wadahnya atau alat masaknya. Tidak boleh dijadikan menjadi satu antara untuk daging halal dan non halal," jelas Wafa.


"Apa itu halal?" tanya Pak Bian.

__ADS_1


Maklum saja jika Bian kurang paham. Sebab, memang jarang sekali Bian makam diluar seperti itu. Bian dan Grietta selalu saja makan makanan masakan rumahan yang dimasak oleh pelayan.


"Daging halal itu, daging yang diperbolehkan Tuhan saya untuk dimakan, Pak. Penyembelihannya juga harus sesuai syariat agama saya. Tapi, untuk pork, darah, dan juga mamalia, sangat diharamkan dalam agama saya," jelas Wafa dengan hati-hati, takut jika salah penyampaian.


"Oh, begitu. Susah juga, ya. Tapi nanti kalau waitersnya datang, kita tanya saja," Bian mencoba memahami perbedaan itu.


Tidak lama kemudian, datanglah waiters. Tanpa menunggu Wafa bertanya, Bian lebih dulu bertanya kepada waiters tersebut tentang menu yang ada dalam restoran itu.


"Apakah di restoran ini menyediakan menu pork?" tanya Bian.


"Oh, tidak, Pak. Di sini hanya ada daging ayam dan sapi saja. Ada yang lain, itupun kambing. Kami memang restoran Chinese food. Tapi hanya menyediakan dari bahan yang halal saja," jawab waiters tersebut.


Mata Bian menatap Wafa. Gadis berusia 20 tahun itu pun mengangguk paham. Lalu, memesan apa yang ingin dia makan. Seperti yang sudah diketahui, Wafa memesankan sup jagung untuk Grietta.


"Darimana dia tahu kalau Putriku menyukai sup jagung?" batin Bian.


"Grietta, selain sup jagung, kamu mau apa lagi? Tunjuk saja. Papi pasti akan membelikanmu," bisik Wafa dengan lembut.


Grietta menatap ayahnya. Lalu, menunjuk menu ice cream coklat dan juga waffle rasa matcha. Bian menatap dengan tajam. "Apa? Kamu mau gigimu bermasalah?" ketus Bian.


Mendengar itu, gadis kecil itu langsung mengkerut menyembunyikan wajahnya ke tubuh Wafa. Pelukan kecil itu dirasakan oleh Wafa dan membuatnya tidak tega. Langsung dengan berani, Wafa menatap Bian dengan tatapan kesal. "Lihatlah, Putri anda ketakutan, Pak. Tak bisakah kali ini dituruti saja?" ucapnya.


"Anda mana tahu perkembangan anak, Nona Wafa. Anda belum memiliki anak. Grietta sudah sering sakit gigi karena pengasuhnya yang dulu selalu memberikan makanan yang manis-manis," jelas Bian dengan keangkuhannya.


Wafa menghela napas. "Huft, Pak Bian. Saya memang belum memiliki anak. Tapi, apakah Bapak lupa—jika saya memiliki banyak anak asuh?"


"Mbak, ice cream coklat dan waffle matchanya masing-masing satu, ya. Lalu, ayam bakar dengan sambalnya yang dipisah. Yang lain, biarkan saja pesan sendiri. Terima kasih!" saking kesalnya, Wafa sampai membuang muka kepada Bian.


"Apa?" batin Bian.


Tidak mau berdebat, Bian pun memesan apa yang hendak dia makan. Grietta terlihat senang sekali, memeluk Wafa dan mencium pipinya dengan gemasnya. Seolah, mengatakan jika dirinya berterima kasih dengan Wafa.

__ADS_1


__ADS_2