Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Dibalik Duka


__ADS_3

"Nona Wafa, jadi yang di samping garmen baru itu ... tanah punya kamu?" tanya Bian.


"Iya, Pak Bian," jawab Wafa lemas.


"Mohon maaf Bapak, sebelumnya pernah ada yang datang ke rumah untuk menanyakan tanah tersebut belum, ya?" tanya Bian lagi.


Pak Kyai langsung menjawab benar adanya jika ada yang tengah menanyakan tanah milik Wafa tersebut. Di mana ternyata orang itu adalah asisten pribadi Bian sendiri. Yakni, Zaka Yang. Dia pun menunjukkan foto Zaka Yang kepada Pak Kyai.


"Wah, betul! Ini yang pernah datang ke rumah. Sari, lihatlah ... Coba kamu ingat-ingat lagi. Mas Mas ini kan yang datang ke rumah waktu itu?" Pak Kyai menunjukkan foto Zaka Yang kepada Putri sulungnya.


"Nggeh, Abi. Benar. Mas Mas ini yang pernah datang ke rumah buat membicarakan masalah tanah milik Wafa," jawab Sari.


"Wah saya bersyukur banget ini bisa bertemu dengan Bapak, Ibu dan juga Nona Wafa. Um, saya bukan berniat tidak sopan atau kurang ajar karena sahabat dari Nona Wafa baru saja meninggal malah ngebahas pekerjaan. Tapi bisakah nanti kita membahas masalah tanah ini ketika sampai di rumah?" Bian bener-bener gila akan pekerjaan. Dia sampai ingin membahas pekerjaan di hari kematian sahabat Wafa.


"Pak Bian, Anda—"


Sebenarnya Wafa tidak marah ataupun mempunyai pikiran negatif kepada Bian malam itu. Tapi gadis manis itu hanya takut jika suatu saat ketika bicara nanti Bian salah-salah kata dan keceplosan tentang hubungan mereka berdua. Mereka pun saling berbisik sampai membuat Pak Kyai dan juga Sari terheran-heran.


"Kenapa malam mereka berbisik-bisik?" bisik Kyai kepada Sari.


"Sari juga tidak tahu, Bi. Mana mereka saling berbisik nya seperti suami istri lagi," sahut Sari.


"Astaghfirullah hal'adzim, kamu ini kalau bicara. Eh, tapi benar juga, sih ..."


Ketika mereka saling kode mengkode, antara Bian dan juga Wafa ini memiliki titik terang. Wafa pun setuju jika mereka setelah pulang nanti membicarakan tentang tanah tersebut. Bagaimanapun juga, Wafa masih membutuhkan dana untuk anak-anaknya yang berada di yayasannya.

__ADS_1


Pakai Kyai berbisik lagi kepada Sari. "Selama ini belum pernah ada yang bisa mengalahkan keras kepalanya adikmu. Tapi kenapa dengan pengusaha ini malah bisa mengalah? Apakah dia masih adikmu?"


"Astaghfirullah hal'adzim, Abi. Abi ini malah dari tadi ngelawak terus, sih? Ya, dia Wafa Putri kedua pesantren, siapa lagi?" sahut Sari.


"Tapi Abi, kok, tidak yakin, ya?" gumam Pak Kyai.


Pagi hari ini memang biasanya suka bercanda. Hanya saja memang masalah kasih sayang kepada anak selalu saja kasih sayangnya jauh lebih besar kepada Sari dibandingkan dengan Wafa, putri kandungnya sendiri.


Sesampainya di pesantren, Dian disambut baik oleh ayah dan juga kakak Wafa. Bahkan sudah selarut itu, Sari masih mau membuatkan camilan untuk disuguhkan kepada Bian.


"Ini dia sertifikat tanah itu," Wafa memberikan sertifikat tanah miliknya.


"Saya lihat dulu, ya," ucap Bian ramah.


Setelah beberapa kali bolak-balik dan juga dibaca, Bian pun menutup sertifikat tersebut. Dian ini orangnya sangat teliti sekali. Semuanya dipikirkan secara matang-matang sebelum menyatakan keputusannya. Tapi malam itu ada hal yang membuat Wafa terkejut. Apa itu?


"Terserah Anda saja, Pak Bian," jawab Wafa.


"Loh, jangan seperti itu. Yang namanya bisnis itu tidak ada kata terserah. Saya penyewa, kamu yang menyewakan. Jadi kamu harus mematok harga sehingga saya bisa bernegosiasi dengan kamu," ucap Bian.


"Sejujurnya saya belum bisa berbisnis. Saya membutuhkan uang itu karena untuk masa depan anak-anak di yayasan. Jadi saya ikut aja Pak Bian ingin menyewa tanah saya berapapun," Wafa sangat jujur dan polos sekali.


Beruntung saja yang ingin menyewa tanah tersebut adalah Bian. Coba saja jika ada calo atau pengusaha yang culas. Bisa jadi tanah milik Wafa lepas tangan dengan mudah. Bian pun memberikan harga yang menarik untuk Wafa. Harga yang lumayan tinggi, tapi kontrak sewa juga Bian mengambil 15 tahunan. Biasanya, pengusaha hanya akan ambil kontrak 10 tahun saja.


"Ini serius, Pak Bian mau menyewa tanah dengan harga segini? Pak Bian tidak rugi?" pak Kyai pun ikut terkejut.

__ADS_1


Bian menggelengkan kepala. "Tidak. Saya tidak akan merugi karena nantinya saya juga akan menitipkan Putri saya kepada Nona Wafa selagi Nona Wafa tidak sibuk. Biarkan dia belajar hal positif dengannya, bagaimana? Apa Bapak setuju?"


Cara yang dilakukan oleh Bian ini benar-benar fantastis. Secara tidak langsung, dia membuka rahasia kontrak yang terjadi kepadanya dan juga Wafa. Mendengar kata positif, Pak Kyai mengangguk tanda setuju. Biar bagaimanapun juga, meskipun berbeda keyakinan dan bahkan budayanya, hal positif tetap harus diajarkan kepada anak-anak supaya menjadi anak-anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.


"Abi main setuju saja? Abi, anak dari Pak Bian ini kan berbeda agama dengan kita. Lalu, hal apa yang harus Wafa kepadanya?" Wafa mencoba menutupi hubungan antara dirinya dengan Pak Bian.


"Ya, banyak. Kamu bisa ajari hal lainnya seperti kesopanan, bicara dengan baik, bernyanyi atau semacamnya. Kan hal positif bukan hanya tentang agama saja," jawab Pak Kyai. "Kalau boleh tahu, usia anaknya Pak Bian ini berapa tahun?" lanjut beliau.


"Tahun ini mau 6 tahun, Pak. Putri saya itu mau naik ke TK besar," jawab Bian.


"Tuh, masih kecil. Banyak yang harus diajarkan. Monggo, Pak Bian. Boleh, saya setuju supaya Wafa juga memiliki kegiatan. Soalnya dia sudah mogol kuliah," ungkap Pak Kyai.


Sebenarnya Bian tidak tahu apa arti mogol. Tapi dia hanya mengangguk saja supaya Pak Kyai senang jika dirinya paham dengan maksud beliau. Bian sendiri juga sesekali mencuri pandang dengan Wafa. Wajah teduh Wafa sekali lagi membuat hati Bian bahagia.


Malam itu, semuanya sudah clear. Tanah Wafa yang sebelumnya bingung mau diapakan, sekarang sudah disewa oleh Bian selama 15 tahun. Uang juga sudah ditransfer, sudah menandatangani kontrak juga sebagai tanda kerja sama. Sudah waktunya Bian pamit karena hari juga mau pagi.


Pak Kyai mengantar Bian keluar, sementara Wafa membantu Sari membersihkan perkakas yang sebelumnya buat suguhan Bian. Dari situ, Sari mulai bertanya tentang ucapan Wafa ketika marah sore tadi.


"Wafa," panggil Sari.


"Hm?"


"Mbak boleh nanya, nggak?"


"Boleh saja. Tapi kalau masalah yang sore tadi, aku tidak mau jawab.

__ADS_1


Sari sudah melempem duluan. Adiknya sudah menolak untuk menjawab pertanyaan yang belum dia tanyakan. Akhirnya, Sari pun bertanya hal lain untuk menutupi rasa curiganya. Hati Sari masih mengganjal saja tentang ucapan adiknya yang di mana menyebutkan nama Ustadz Zamil ketika dirinya marah. Jika tidak jadi bertanya hal itu, lalu Sari kau bertanya apa?


__ADS_2