Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kesadaran Ustadz Lana


__ADS_3

Pak kyai melihat Wafa dengan tatapannya yang tajam. Seperti ada sesuatu yang hendak beliau katakan pada Wafa, namun situasinya tidak tepat. Pak kyai hanya menghampiri Grietta dan membuka tangan mungilnya yang masih menutupi wajahnya.


"Nak, bukalah ...." ucap pak kyai dengan pelan.


Suara itu terdengar seperti kelembutan yang pak kyai berikan kepada Sari. Wafa bisa membedakan itu karena dirinyalah yang selalu mendengar kelembutan bicaranya ayahnya terhadap kakaknya, tapi tidak dengan diri.


"Namamu Grietta, ya?" tanya pak kyai lagi setelah Grietta mau membuka tangannya.


Gadis kecil itu mengangguk pelan, menatap pak kyai dengan penuh kewaspadaan.


"Jangan takut, Abi tidak akan gigit, kok. Lihat, Abi, dari wajahnya saja pasti sudah baik, 'kan?" celetuk pria yang sudah berusia setengah abad itu.


'Cara bicara Abi ini membuatku teringat dengan perlakuan lembut beliau pada Mbak Sari. Aku sedikit tidak terima waktu itu, tapi melihat kelembutan Abi pada Grietta, entah kenapa aku merasa sangat bahagia.' batin Wafa.


Grietta memiringkan kepalanya, menatap lekat-lekat seorang yang memiliki wibawa hebat itu. Pak kyai dan lainnya juga ikut memelengkan kepala, kemudian dikejutkan dengan sebutan Grietta pada pak kyai.


"Yeye?" sebut gadis mungil itu.


Semua orang saling memandang, mereka tahu bahwa Grietta belum fasih berbicara karena kecelakaan yang menimpa dirinya. Tapi tidak menyangka saja jika gadis kecil itu bisa menyebut pak kyai dengan sebutan 'Yeye'.


"Eh, dia mau nderek kah?" tanya Abi pada yang lainnya.


(Nderek dan Yeye memiliki pelafalan yang sama. Jika Nderek adalah ikut, arti Yeye adalah kakek)


"Sepertinya dia memanggil Abi dengan sebutan kakek," ucap Wafa. "Zira, coba kamu browsing di internet apa arti yeye," pintanya.


"Okay, kak!"

__ADS_1


Langsung saja Zira mencari tahu apa artinya Yeye dalam bahasa Indonesia. Ternyata benar apa yang diduga oleh Wafa jika artinya Yeye adalah kakek. Pak Kyai pun merasa sangat terharu karena ada seorang anak kecil yang menyebutnya sebagai kakek. Di mana memang itu sudah keinginan beliau menjadi seorang kakek.


"MasyaAllah, dia bisa bicara, loh!" seru pak kyai kelihatan girang. "Wafa, apa dia akan menginap? Siapa namanya tadi—Grietta. Iya, Grietta. Apa Grietta mau menginap disini?"


Wafa mengangguk pelan.


"Bagus kalau gitu, hahahaha. Abi ada teman bermain. Ayo, Grietta, ikut Yeye ke ruang tengah, Yeye akan berikan sesuatu untukmu," pak kyai menggenggam tangan kecil Grietta dan mengajaknya ke ruang tengah.


Sari dan Ustadz Zamil saling memberi kontak mata. Ustadz Zamil minta Sari membawa adik-adiknya menyiapkan makan malam, sementara dia mengajak Ustadz Lana berbicara sebentar di luar.


Sari mematuhi apa yang suaminya perintahkan. Dia mengajak Wafa, Zira dan juga Dian ke dapur. Tapi Wafa sendiri merasa heran mengapa abinya sangat welcome dengan Grietta dan seolah permasalahan mereka berdua sudah reda begitu saja.


"Wafa, ayo!" ajak Sari lagi.


Wafa mengangguk.


"Ngomong-ngomong ... makanan seperti apa yang Grietta sukai? Dia anak orang kaya pasti makanannya berbeda dengan kita," tanya Zira.


"Yang pasti bukan makanan nusantara. Bukankah Wafa pernah cerita kalau Grietta kecilnya ada di luar negeri?" sahut Dian.


"Wafa, sepupumu pada nanya itu. Kenapa kamu diam saja?" Sari merasa heran dengan adiknya yang sejak tadi diam dan seperti menyimpan rahasia.


"Intinya jangan ada kecambah di dalam makanan tersebut. Selain itu dia pasti menerimanya. Jangan juga dibuatkan coklat karena ini sudah malam, Grietta sudah makan ice cream banyak sekali tadi sore," jelas Wafa.


"Kalian masak dulu saja, aku ingin mandi dan ganti baju terlebih dahulu. Assalamu'alaikum," Wafa pamit dengan wajah kebingungan.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh."

__ADS_1


Jika Wafa bingung, bagaimana dengan kakak dan para sepupunya? Mereka pastinya juga bingung dengan sikap Wafa yang tidak biasa. Padahal Sari juga sudah bersyukur karena ayah dan adiknya hubungannya membaik dikarenakan kehadiran Grietta.


'Abi tadi sudah mau bicara dengan Wafa meski sebentar. Senyum Abi juga sudah kembali karena Grietta. Gadis kecil ini apakah obat dalam kekacauan di rumah ini? Jika benar, apakah Wafa dan Pak Bian—akan bersama?' batin Sari.


Meninggalkan para perempuan di dapur sibuk di dapur, Ustadz Zamil dan Ustadz Lana sedang duduk menikmati angin segar ba'da magrib sambil menunggu isya. Sebelumnya mereka beradu argumen tentang Wafa yang tidak dan belum bisa mereka miliki. Namun malam itu, pembasahan mereka sudah lain lagi.


"Sejak kapan kamu pergi bersama dengan Wafa, Ustadz Lana?" tanya Ustadz Zamil mengeluarkan rokoknya.


"Ba'da dzuhur sepertinya. Kamu mengantar gadis kecil itu ke les piano terlebih dahulu, kemudian bermain bersama di Timezone, lalu menemani Grietta makan ice cream juga," jawab Ustadz Lana.


Ustadz Zamil mengerutkan keningnya. "Kalian hanya pergi bertiga saja?" tanyanya.


"Iya, tentu," jawab Ustadz Lana.


"Hm, anda itu seorang Ustadz. Masa iya pergi dengan wanita yang bukan mahramnya selama itu," lanjut Ustadz Zamil.


Ustadz Lana menghela nafas pelan. Meski yang dikatakan Ustadz Zamil singkat, dia tahu betul Apa makna dari ucapannya.


"Ustadz, jika anda pernah menyukai Wafa, alangkah baiknya jangan pernah ditunjukkan kembali sekarang. Anda sudah menikah dengan kakaknya—Mbak Sari. Kenapa harus bersikap seperti ini? Bukankah ini hanya akan menjadi kekanak-kanakan saja?" tutur Ustadz Lana.


Apa yang dikatakan Ustadz Lana tidak ditampik oleh Ustadz Zamil. Memang ada benarnya dan Ustadz Zamil paham dengan ucapan pria berusia 27 tahun di sampingnya itu. Dirinya sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Sudah seharusnya Ustadz Zamil melupakan perasaannya terhadap Wafa. Sebab, dahulu juga itu sudah menjadi keputusannya untuk menikah dengan Sari dibandingkan mengungkapkan perasaannya kepada Wafa sampai melukai perasaan gadis berusia 20 tahun itu.


"Ustadz, saya bukan siapa-siapanya Wafa saat ini. Tapi apakah Ustadz tidak merasa jika hubungan antara Wafa dan Pak Bian ini sudah terlalu jauh?" lanjut Ustadz Lana lirih.


"Maksud kamu apa, Ustadz? Wafa memiliki hubungan dengan Pak Bian, begitu?" desis Ustadz Zamil seperti tidak terima. "Itu tidak mungkin!" serunya.


Meski Ustadz Zamil tidak merasakan kedekatan Wafa dan Bian tidak seperti biasa, tapi bagi Ustadz Lana, dia mampu melihat semua itu. Wafa terlihat begitu nyaman ketika pergi dengan Bian sampai seharian penuh dibandingkan dengan dirinya yang terus-menerus melihat arloji, seolah jika Wafa ingin segera pulang karena tidak nyaman bersamanya.

__ADS_1


'Aku memang belum mendapatkan hatinya Wafa. Tapi melihat kedekatannya dengan Pak Bian, entah kenapa itu membuat hatiku terasa sakit. Apakah suatu saat nanti Wafa akan mengetahui bagaimana besarnya usahaku ini?' batin Ustadz Lana.


__ADS_2