
Rupanya baju yang dibeli ustadz Lana ini adalah baju muslim. Menjadikan Grietta teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Wafa. Dimana dulu juga Wafa memberikan pakaian muslim terhadapnya.
"Grietta, ada apa?" tanya Ustadz Lana lirih.
"Apa bajunya tidak cantik? Jika begitu, nanti akan Nana belikan lagi,"
Grietta menjawab, "Baju ini bagus, tapi aku jadi ingat dengan Mama Wafa, hiks, hiks,"
"Aku merindukan Mama Wafa, huaaaa ..."
Gadis kecil itu menangis. Dia merindukan Wafa yang selalu ada untuknya. Kebaikan, kasih sayang dan juga hal baik lainnya yang diberikan oleh Wafa padanya memang sudah tertanam dalam hati.
"Grietta, bagaimana jika Nana menelpon Mama Wafa? Alangkah baiknya mereka tahu keberadaanmu disini. Bagaimana jika Mama Wafa dan Papa mencarimu? Mereka pasti khawatir," Ustadz Lana membelai rambut lembut Grietta.
Setelah diajak bicara baik-baik, barulah Grietta mau untuk dijemput Wafa dan Bian. Setelah melakukan aktivitasnya nanti, barulah Ustadz Lana akan menghubungi Wafa dan Bian. Saat itu, Ustadz Lana ingin Grietta tenang dulu.
***
Pukul tujuh pagi. Wafa terbangun karena ada suara motor anak SMK yang sangat bising.
Brumm ...
Bruum ...
"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa suaranya bising sekali, sih!" kesal Wafa, menutupi telinganya menggunakan telapak tangannya sendiri.
Dia memutar tubuhnya ke arah yang sebelah, membuatnya berhadapan dengan Bian. Sadar jika ada yang bernafas juga di depannya, Wafa pun membuka matanya. Perlahan ia membuka mata, dan ternyata Buan pun juga sama sedang membuka mata.
Kini, keduanya saling berpandangan. Membuka mata setelah terlelap dan memulai hari dengan saling menatap muka.
Deg!
Deg!
Jantung berdegup kencang sekali.
Mata indah Wafa sangat jelas sekali bisa Bian pandang. Mata yang sebelumnya selalu menghindar dari pandangannya, kini mampu Bian lihat. Bahkan kulit putih bersih wajah Wafa pun juga bisa Bian nikmati.
'Bangun tidur saja dia cantik sekali. Mengapa aku baru menyadarinya?' batin Wafa.
__ADS_1
Tapi tak lama setelah itu, Wafa tersadar. "Astaghfirullah hal'adzim," sebutnya lirih.
Gugup sampai menuju canggung menghiasi suasana pagi itu.
"Menyebalkan sekali anak sekolah tadi. Seharusnya, untuk motor berkubikasi kurang dari 80 cc, maksimal bisingnya 77 dB, kubikasi 80 cc – 175 cc, maksimal bisingnya 80 dB. Sementara untuk motor diatas 175 cc, maksimal bisingnya 83 dB. Aku berdoa supaya mereka kena tilang!" Bian sangat kesal.
Wafa sempat menganga dengan pernyataan Bian yang ternyata mengetahui peraturan tentang knalpot racing yang ditetapkan oleh perdana menteri yang bukan di negaranya sendiri.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya Bian.
Wafa langsung memalingkan pandangannya. "Tidak, Pak Bi—Mas Bian," jawabnya gugub.
"Kepala saya jadi pusing sekali. Ayo, sebaiknya saya akan mengantar kamu pulang. Pasti ayahmu sudah menunggu di rumah, siap siap saja kita kena marah."
Bian menghidupkan mesin mobilnya. Tujuan mereka pulang ke pesantren. Selama diperjalanan, keduanya jadi diam saja, keadaan menjadi sunyi.
***
Di sisi lain, Inneke yang mau berangkat ke kampus bertemu dengan Zaka Yang sedang sarapan di salah satu supermarket. Kebetulan juga Inneke juga mau sarapan.
"Buset, bukanya itu ... hmm, ngapain dia ada disini?" gumam Inneke.
Inneke berniat menghampiri Zaka Yang. Gadis itu menepuk bahu pria yang sibuk makan sandwich di tangannya.
Terkejut, Zaka Yang sampai tersedak.
"Eh, bisa-bisanya tersedak. Minum, minum dulu—" Inneke berniat baik, dia membukakan air minum kemasan yang ada di sebelah tangannya Zaka Yang.
Namun, ketika Inneke mau memberikan air minum tersebut, gadis itu dibuat terkejut.
"Woah!"
Air mineralnya tumpah, membasahi kemeja yang Zaka Yang pakai.
"Kau!" Zaka Yang hampir saja marah.
Pria itu baru ingat bahwa dia harus menghemat energinya supaya bisa mencari keberadaan Nona mudanya. Zaka yang menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkan secara perlahan.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu selalu melakukan suatu hal itu—apa kecerobohan itu suatu keunggulan dari kelebihanmu?"
__ADS_1
"Kenapa kamu disini?" tanya Inneke lagi.
"Nona muda kabur dari rumah. Tuan memintaku untuk mencarinya. Jika tidak bisa menemukan Nona muda, maka tidak boleh pulang. Itu sebabnya aku sarapan disini," jelas Zaka Yang.
Inneke bergumam. "Grietta kabur? Memang menyusahkan betul itu anak!"
"Lalu, apa Wafa sudah tahu?" tanyanya. Inneke duduk dan memesan makanan.
Zaka Yang mengangguk. "Seharusnya sudah tahu. Sebab, Nona muda pergi meninggalkan surat bergambar. Lalu, Tuan mengirimkan pada Nona Wafa,"
Diam-diam Inneke menelepon Wafa, tapi aksinya itu langsung dicegah oleh Zaka Yang. "Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu mengambil ponselku?" kesal Inneke, begitu Zaka Yang merebut ponsel miliknya.
"Untuk apa kau—Nona Wafa? Mengapa kamu meneleponnya? Jangan membuat pekerjaanku tambah rumit. Pergilah, aku malah melihatmu!" Zaka Yang juga kesal karena lagi-lagi Inneke bertingkah sembrono.
Bukan Inneke jika tidak melakukan hal merepotkan. Gadis itu merebut kembali ponsel miliknya dari tangan Zaka Yang. "Jangan pernah menghalangiku!" desisnya.
"Kau—" Zaka Yang tak bisa berkata-kata lagi.
Inneke menelepon Wafa.
"Halo, kamu dimana? Apa anakmu sudah ketemu? Tolong katakan pada bapak anakmu itu, jangan menyiksa orang seperti ini. Bisa-bisa dia memberi perintah yang tidak masuk akal!" ketus Inneke.
'Kamu menelepon tiba-tiba mengatakan yang tidak jelas seperti ini, maksudnya apa, Ke?'
"Pak Bian-mu itu menyuruh asistennya mencari putrinya. Apakah kau tahu, apa yang Pak Bian suruh? Dia meminta asistennya mencari putrinya yang kabur, jika tidak bisa menemukan tidak boleh pulang, hish, menyebalkan. Bye!" Inneke langsung mematikan ponselnya.
Mendengar kekesalan Inneke mampu membuat Zaka Yang tersenyum. Selama hidupnya, ia belum pernah mendapatkan pembelaan seperti itu. 'Gadis ini ...' batinnya.
"Gadis sekecil itu kenapa nekat saja kabur dari rumah tengah malam? Apa dia tidak bisa mikir kalau ... sialan, dia anak kecil. Kenapa juga aku harus heboh?"
Sejak dulu memang Inneke selalu seperti itu. Selalu heboh, tapi juga selalu mendapatkan solusi dalam setiap masalahnya. Calon hakim yang masih malas pergi kuliah ini sebenarnya memiliki jiwa kepemimpinan yang hebat.
"Dari suaranya Wafa, dia jelas sekali tenangnya. Aku yakin jika Wafa sudah menemukan Grietta," celetuk Inneke.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Zaka Yang, melahap habis sandwich-nya.
Tatapan mata Inneke jadi datar. "Apa kamu meragukan pertemanan kami yang sudah terjalin sejak kecil?" ketusnya. "Aku yakin dia sudah mengetahui kabar Grietta, hanya saja gadis cilik menyusahkan itu tak bersamanya!" cetusnya.
"Maksudnya?" Zaka Yang kembali bertanya.
__ADS_1
Yah, sesuai dengan sepengetahuan Inneke bahwa Grietta tidak bersama Wafa meski Wafa sendiri sudah tahu keberadaan Grietta. Zaka Yang menjadi lega jika itu sungguhan, dia pun memastikan kembali dengan mengutus beberapa orangnya untuk pergi ke pesantren Ustadz Lana tinggal.
"Beruntung aku bertemu dirimu disini," kata Zaka Yang.