Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Rahasia Si Kecil Terbongkar


__ADS_3

Tarr!!!


Terdengar sebuah benda jatuh dari dapur. Bian dan Zaka Yang langsung berlari ke dapur. Melihat ketiga wanita dewasa disana sedang menunduk memungut serpihan-serpihan kaca beling cangkir yang jatuh.


Beberapa saat lalu ketika Wafa dan lainnya sampai di dapur, semua barang segera diturunkan dari tempatnya. Menata dapur dengan semua peralatannya serta isi kulkas juga disusun rapi.


"Hubunganmu dengan si dudu ternyata sudah sejauh itu? Huft, sungguh menganu, Wafa!" hardik Inneke.


"Dudu? Siapa dudu?" tanya Wafa lirih.


"Heleh, kau tahu pasti siapa yang aku maksud. Mamas dudu terbarumu itu. Astaga, tak kusangka saja kau memilih Mas dudu dibanding dengan si nunu," cetus Inneke, dengan pemikirannya yang negatif.


"Siapa lagi itu nunu? Ke, bicara yang jelas lah. Jadi ngelantur gitu, ih!"


Sebutan sebutan aneh dari Inneke memang sulit dimengerti. Bahkan ustadz Lana saja bisa menjadi nunu. Sungguh kreatif sekali idenya, karena Zaka Yang pula yang sebelumnya menjadi jomblo berkarat, ditambah lagi jadi ceting berkat.


"Apa kamu dan si dudu sudah anu—"


Tarr!!


Gelas cantik di tangan Grietta melesat dari tangannya. Membuat semua orang jadi terkejut.


"Ada apa?" Zaka Yang bertanya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bian pada Wafa.


Raut wajah ketakutan terlukis di wajah Grietta, membuat Wafa heran pada Bian mengapa duda itu malah mengkhawatirkan dirinya dibandingkan dengan putrinya.


"Grietta ..." bisik Wafa.


Bian berdiri, menunjuk pengasuh Grietta, "Kau, bersihkan pecahan gelasnya." perintahnya. "Lalu kau, lanjutkan membereskan semua bahan makanan itu," imbuhnya, menunjuk Inneke.


"Aku? Why should I be with this man?" protes Inneke.


"Zaka—"

__ADS_1


Zaka Yang sudah mengerti. Bian mengajak Wafa dan Grietta ke kamar. Semangat Inneke yang masih kesal pun terpaksa mau mengemas semuanya bersama dengan Zaka Yang.


Di kamar, Grietta masih tampak ketakutan. Ia sama sekali tidak menatap ke arah dua orang dewasa itu. Pandangan matanya terus menunduk dan juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


"Katakan padaku, kenapa gelasnya sampai terjatuh? Jika kamu tidak bisa membantu dengan barang yang berat, kamu bisa membantunya yang berukuran kecil, kenapa ka—" ucapan Bian terhenti, karena Wafa menyentuh dagu Grietta yang terus menundukkan wajahnya.


"Sayang, apa kamu terluka? Katakan, mana yang sakit?" tanya Wafa penuh kelembutan.


Bian menatap Wafa.


"Nak, bisa melihat wajahku. Apakah kamu tidak audi melihat Mama?" kembali Wafa menegakkan kepala gadis kecil itu.


Begitu Grietta menatap mata Wafa, tentu saja Wafa langsung tersenyum, memeluknya dengan erat dan mengatakan jika semuanya sudah baik-baik saja.


'Wanita seperti apa dia? Kenapa bisa selembut itu menangani anak kecil yang nakal. Bukankah cangkir itu adalah miliknya yang baru dibeli karena dia menyukainya?' batin Bian.


Ada sebuah pepatah yang mengatakan jika menjadi seorang anak perempuan itu ketika menasehatinya dengan cara menatap lembut mata anak tersebut, kemudian membelai wajahnya. Berikan pelukan hangat serta mengatakan jika hal yang menimpa dirinya akan segera baik-baik saja. Baru kemudian membicarakan agar permasalahannya.


'Sudah berbulan-bulan Griatta bersamanya. Tidak heran jika monster kecil ini patuh padanya,' batin Bian lagi.


Wafa hanya tersenyum mendengar permintaan maaf Grietta, tapi Bian terkejut karena putrinya akhirnya bisa bicara meski yang ia dengar baru kaya maaf.


"Maafkan aku, Mama Wafa," imbuh Grietta.


Rupanya karena emosi di hati kecil Grietta meluap, dia sampai tidak sadar jika ayahnya masih ada disampingnya.


"Kamu bisa bicara?" tanya Bian, mendekatinya.


"Papa?" sebutnya lirih dari bibir kecil itu.


Grietta langsung menunduk.


"Grietta, katakan sesuatu lagi. Apa kamu sudah bisa bicara?" Bian yang tidak sabaran mencengkram pundak kecil putrinya sampai Grietta ketakutan.


"Jangan seperti ini, Mas Bian!" Wafa menepis tangan kasar Bian. "Saya akan ceritakan nanti pada anda. Biarkan Grietta sendiri dulu disini. Ayo, ikut bersama saya!" lanjutnya, meminta Grietta untuk tetap tinggal di kamar.

__ADS_1


Amarah Bian mengumpul dalam perasaannya. Ketika berjalan dibelakang Wafa, rasanya Bian ingin sekali membentaknya seperti perlakuannya pada Zaka Yang jika asistennya itu melakukan kesalahan. Tapi Bian sendiri juga heran mengapa ia tak bisa marah pada Wafa. Begitu Wafa berbalik badan, tiba-tiba amarah itu sirna seketika.


"Saya akan ceritakan semuanya," ucap Wafa dengan suara merdunya bagi Bian.


Bian mengangguk-angguk.


"Sebenarnya selamat tinggal di pesantren bersama saya, Grietta sudah mulai bisa bicara. Kami berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya bisa bicara kembali. Orang yang sangat semangat dan dekat dengan putri anda itu adalah ustadz Lana. Beliau berperan penting dalam perkembangan Grietta," ungkap Wafa.


Mendengar Wafa memuji pria lain, membuat Bian tidak terima. Apalagi Wafa seperti bangga sekali menceritakan kebaikan ustadz Lana, meski biarpun tidak menampik kemuliaan hati ustadz muda itu.


"Berhenti mengatakan apapun tentangnya. Katakan pada saya, mengapa kamu merahasiakan hal besar seperti ini dari saya. Kamu sendiri tahu bahwa saya sangat menantikan putri saya bisa bicara kembali 'kan?" Bian masih mempertahankan wibawanya.


"Saya belum selesai, Mas Bian," sahut Wafa.


"Oke, lanjutkan!" Bian patuh.


Wafa pun mengungkapkan apa yang pernah Grietta katakan padanya tentang alasan mengapa dirinya tidak mau mengetahui jika dirinya sudah bisa bicara. Sangat jelas bagaimana reaksi Bian ketika mendengar itu.


"Maksudnya apa? Bagaimana mungkin saya akan mengembalikannya ke ibunya yang telah meninggalkan dia sejak usianya masih berusia 1 tahun?" tegas Bian.


"Memang ada suatu hal yang belum bisa saya ceritakan padamu, Wafa. Tapi tidak mungkin bagi saya untuk mengembalikan Grietta pada ibunya, dia ini mengatakan itu dasarnya dari mana? Saya akan bertanya padanya!" sedikit kesal, tapi Bian sendiri juga tidak ada niatan mengembalikan Grietta pada Flanella.


"Tunggu!" Wafa menghentikan langkah duda kaya itu.


Langkah kaki yang terburu-buru itu tetap saja berhenti ketika Wafa memintanya.


"Alangkah baiknya Mas Bian meluruskan kesalahpahaman ini. Grietta masih kecil, tidak seharusnya dia terlibat dalam masalah orang dewasa," tutur Wafa dengan lembut.


Hati Bian langsung luluh. Memang Bian sudah menemukan pawangnya, namun tidak bisa disadari karena kontrak yang membelenggu hubungan mereka. Untuk memberikan waktu supaya anak dan ayah itu menyelesaikan kesalahpahamannya, Wafa meninggalkan Bian bersama dengan Grietta di kamar. Kemudian ia pergi ke dapur membantu yang lain.


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Inneke.


Helaan nafas lembut diselingi dengan istighfar, Wafa menjawab jika semuanya baik-baik saja. Wafa meminta pengasuh Grietta untuk menyiapkan cemilan untuk gadis kecil itu. Sementara dia ingin sekali bicara berdua dengan Inneke di tempat lain.


"Bisa aku bicara denganmu, Ke? Berdua?"

__ADS_1


Jika Wafa sudah bertanya seperti itu, Inneke sudah paham apa maksudnya. Inneke pun mengangguk dan mengajak Wafa ke kamarnya. Sementara Zaka Yang yang tidak paham, hanya bisa menatap kepergian dua gadis itu dengan penuh tanda tanya.


__ADS_2