
"Wafa~" Inneke memanggilnya.
Wafa menoleh dengan senyuman. Inneke masih terkesan dengan raut ayu sahabatnya itu. Tiba-tiba, gadis itu memeluknya, dan tak sengaja air matanya menetes.
'Aku yakin Pak Bian merencanakan sesuatu yang indah untukmu, Wafa. Aku juga yakin jika kalian ini saling memiliki satu sama lain dalam hati kalian. Wafa, apapun itu, bagaimana yang akan terjadi di masa depan, aku akan tetap mendukung dalam setiap langkahmu,' batin Inneke.
Merasa tidak biasa, Wafa pun bertanya, "Ke, ada apa? Mengapa kamu memelukku begitu lama?"
Inneke melepas pelukannya, segera menyembunyikan buliran putih basah yang merembes di sudut matanya. Kepercayaan jika Wafa akan bahagia bersama dengan Bian, meski tidak memilikinya semakin meningkat saja.
"Tidak," jawabnya menggelengkan kepala.
Gadis itu meraih tangan sahabatnya. "Aku baru pertama kali ini melihatmu berdandan seperti ini. Jadi, aku sangat terharu hehe," katanya.
"Yah—tentu saja tidak secantik dirimu." celetuknya.
Wafa tersenyum tipis, sangat paham dengan tingkah laku sahabatnya yang aneh. Tak ingin berburuk sangka dan tak ingin tahu apa yang sahabatnya rasakan, Wafa pun mengajaknya keluar.
"Ayo, kita keluar. Mereka sudah menunggu kita di luar," ajak Wafa.
"Iya. Kita akan melihat, bagaimana reaksi si duda kaya raya itu melihat penampilanmu yang seperti ini," goda Inneke.
"Ke ...."
"Wafa ...."
Kedua gadis itu segera keluar dari kamar. Sayangnya, begitu keluar Wafa tidak melihat Bian ada di ruang tamu. Hanya Zaka Yang yang berada di sana. Pria itu sampai tak berkedip menatap Wafa.
'Nona ini jika dipandang seperti ini terus, wajahnya memang meneduhkan hati. Pantas saja Tuan begitu perhatian. Sangat cantik,' sanjung Zaka Yang dalam hati.
Ekspresi Zaka Yang memandang Wafa malah membuat Inneke tidak menyukainya. Gadis itu langsung menamparnya begitu tiba di hadapannya.
Plak!
Tamparan itu membuat semua orang yang ada di sana, termasuk Wafa menjadi terkejut. "Astaghfirullah hal'adzim," sebut Wafa lirih.
__ADS_1
Pria yang berprofesi sebagai asisten pribadi Bian itu langsung menyentuh pipinya. Matanya yang membulat mulai memandang Inneke dengan sengit. "Apa yang kau lakukan!" sulutnya.
"Apa? Kau tak terima?" ketus Inneke. "Kau memandang sahabatku sampai matamu hampir lepas. Jika aku adukan pada Tuan-mu, di jamin ....." tangan Inneke mempraktekkan orang menggores lehernya sendiri.
Wafa mulai terbiasa dengan perdebatan keduanya. Dia hanya memalingkan pandangannya dan mulai mencari di setiap sudut apartemen jika Bian memang menjemputnya sampai di sana.
'Tidak ada, dia tidak ada. Apa yang aku harapkan? Apakah aku bermimpi menjadi seorang putri yang dijemput oleh pangeran dan berjalan bersama ke kereta kencana? Astaghfirullah hal'adzim, ya Allah, maafkan hambamu ini yang banyak sekali berkhayal,' batin Wafa.
'Bahkan tanpa sadar aku juga memikirkan pria yang bukan mahramku, astaghfirullah hal'adzim.'
Seperti perintah yang Bian katakan, Zaka Yang mengatakan kepada Wafa untuk segera turun karena Bian sudah menunggunya di bawah. Seperti biasa Inneke akan pergi bersama dengan Zaka Yang menggunakan mobil yang berbeda dengan Wafa dan Bian. Keduanya pun sempat berdebat.
"Hish, kenapa Tuan-mu itu meminta kita di mobil yang beda? Kita pergi ke tujuan yang sama, mengapa harus beda mobil?" protes Inneke.
"Saya hanya melaksanakan perintah. Jika kamu tidak terima, kamu bisa tetap tinggal," tegas Zaka Yang.
Ketegasan bicara Zaka Yang menguat Inneke menciut. Tak biasanya nada bicaranya seperti itu. Biasanya Inneke akan membalas dengan ketus lagi, tapi saat itu dia lebih memilih diam.
'Eh? Dia tidak membalasku dengan ocehannya? Hmm, rupanya cara ini efektif juga untuk menghindari perang dengannya.' batin Zaka Yang.
"Selamat malam, Tuan. Saya sudah membawa Nona dan temannya keluar," lapor Zaka Yang.
Tak ada jawaban dari Bian. Duda itu bahkan tidak merespon asisten pribadinya yang berdiri di sampingnya.
"Tuan, Tuan!"
"Hm?" Bian baru sadar.
"Nona dan temannya sudah disini," bisik Zaka Yang.
"Oh, begitu." sahut Bian gugup. "kau pergi dengan si cerewet itu. Cepatlah!" sambungnya dengan memberikan kunci mobil pada Zaka Yang.
Tanpa bicara apapun, Zaka Yang pamit dengan membungkukkan badannya, menarik tangan Inneke dengan paksa supaya tidak banyak protes. Kini, tinggallah mereka berdua di sana.
"Selamat malam, Wafa," sapa Bian.
__ADS_1
"Malam, Pak Bian. Maksud saya ... mas Bian," hampir saja Wafa kepleset lagi panggilannya.
"Tak perlu memaksakan diri. Jika kamu belum siap untuk memanggil saya dengan sebutan itu, panggil lah saya sesuai dengan keinginanmu yang membuatmu nyaman," tutur Bian, membuka kacamatanya.
Bian pun mengajak Wafa untuk segera masuk ke mobil. Iya juga membantu merapikan gaun yang dipakai oleh Wafa malam itu. Ketika Bian sedang merapikan gaun bagian bawah Wafa, keduanya memiliki nafas yang buruk karena sama-sama gugup. Tapi tetap mempertahankan image satu sama lain.
"Nanti begitu sampai di sana, jangan pernah jauh dari sisi saya, apa kamu mengerti?" pinta Bian, menatap Wafa.
Wafa pun menoleh, dengan anggukan pekan, ia mengiyakannya. Dalam situasi saat itu, keduanya sepertimu dengan sebuah halaman biola yang indah, udara yang sepoi-sepoi dan juga seperti banyak bunga yang bermekaran memenuhi mobil.
"Kamu sangat cantik malam ini." sanjung Bian tiba-tiba.
Setelah mengatakan itu, Bian memacu mobilnya. Suasana menjadi canggung dan keduanya memilih untuk diam.
***
Sampai di kediaman Huang.
Bian mengajak Wafa ke ruang doa, memperkenalkan gadis yang ia bawa pada mendiang ayahnya. Bian mencurahkan hatinya tanpa canggung di depan Wafa.
"Ayah, hari ini adalah hari dimana Ayah pergi meninggalkan aku sendiri di dunia ini. Terima kasih karena Ayah telah menghancurkan duniaku," ucapnya.
"Terima kasih juga karena setelah Ayah pergi, Ayah tidak pernah membiarkan aku dalam kesulitan apapun. Semua orang yang berada di pihak Ayah menjagaku dengan baik. Beristirahatlah dengan tenang di sana."
Walaupun memang tidak tahu seberapa besar luka yang telah diderita oleh Bian. Tapi dari setiap kata-katanya dan juga seorang mata yang seakan menahan air matanya untuk dibendung, Wafa sangat yakin jika ada perjuangan yang sangat keras dibalik semua itu.
"Malam ini aku tidak membawa Grietta menemuimu. Dia sedang bersama dengan pengasuhnya karena sedang aku hukum, Ayah," lanjut Bian.
Wafa langsung menoleh ke arah Bian. 'Grietta dihukum? Kenapa?' batinnya.
"Dia telah berbohong padaku. Dia sudah bisa bicara tapi tidak mau bicara padaku. Bahkan dia terus saja bicara tentang seorang pria yang tidak ingin aku dengar kisahnya," Bian mode cemburu.
'Ya Allah, apakah yang dimaksud adalah Ustadz Lana? Grietta cukup dekat dengan beliau soalnya.' batin Wafa lagi.
"Bahkan ada seseorang yang terlibat karena ini," Bian mengatakan itu juga. "Tapi Malam ini aku tidak datang sendirian, Ayah," lanjutnya.
__ADS_1
"Aku membawa wanita yang sangat spesial yang belum pernah aku temui dalam hidupku,"