
Setelah memberikan surat kecil itu, ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar mandi umum di apartemen itu untuk mencuci muka. Ketika dic cermin, Wafa melihat wajahnya sendiri. Kemudian bertanya dalam hati, 'Apa semua ini? Kamu harus berpendirian, Wafa. Jangan kalah dengan hatimu. Ingat, perasaan itu tidak mungkin untuk kalian!'
Gadis ini rupanya menyadari perasaannya, tapi ia masih saja menyangkal karena takut akan salah langkah dengan memiliki perasaan untuk orang yang tak mungkin ia gapai.
Setelah keluar dari kamar mandi, lalu kembali ke ruang tengah, Wafa melihat semua makanannya tinggal setengah porsi.
"Astaghfirullah hal'adzim, Ke. Kamu makan semuanya?" tanya Wafa terkejut.
"Dih, mana ada semuanya? Kamu lihatlah, ini masih ada semua, aku hanya makan separuh. Jadi berbagi aja setiap menunya," jawab Inneke, mengusap-usap perutnya.
"Iya maksudku bener kamu makan setengah setengahnya saja, tapi kan ini makanan banyak jenisnya, Ke," lanjut Wafa
"Ya Tuhan, Wafa. Sudahlah, lagipula ini makanan untuk kita. Orang yang membawanya kenari tadi saja juga mengatakan bahwa ini hanya untuk sarapan. Ya udah, makan dan habiskan saja lah!" ungkapnya dengan merebahkan kepalanya ke sofa.
Alis Wafa mengkerut, ia tak percaya jika Inneke makan sebanyak itu meski Wafa sendiri tahu jika sahabatnya memang makannya banyak. Memang sudah menjadi kebiasaan Inneke, tapi Wafa tak percaya saja jika sahabatnya itu melahap semua makanan yang banyak jenisnya.
"Kamu bilang orang yang membawa makanan ini kemari? Siapa dia? Apa asisten pribadinya?" tanya Wafa.
Inneke menaikkan setengah bibirnya. "Siapa maksudnya? Asisten jomblo berkarat itu? Ya bukanlah!" sahutnya. "Yang membawa makanan ini adalah pelayanan rumahnya." jelasnya.
"Pelayan? Bagaimana kamu bisa tahu bahwa dia adalah pelayan rumah. Apa kamu bicara dengannya, bertanya seperti itu?" Wafa semakin penasaran.
"Haih, tentu saja lah!" seru Inneke. "Mana mungkin aku menerima kiriman makanan yang tak jelas asal-usulnya. Kamu ini gimana, sih!"
Bug!
Tiba-tiba saja Wafa memukul lengan sahabatnya, sehingga membuat sang sahabat menjerit kesakitan
"Duh, sakit woy!" teriak Inneke dengan matanya yang menyulut. "Aku baru aja kenyang kenapa kamu mengajakku berdebat?" kesalnya.
"Katamu, kamu tidak bisa bahasa Mandarin. Kalau begitu, bagaimana mungkin kamu bisa mengobrol dengan pelayan rumahnya?" tanya Wafa.
Seketika Inneke meringis. Melihat ekspresi Inneke seperti itu, membuat Wafa kesal. Ia meraih bantal kecil di sofa dan melemparkannya pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Bug!
"Woy!" teriak Inneke. "Apa salahku?" tanyanya dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Bagaimana caranya kamu bisa bicara dengan pelayan itu? Menggunakan bahasa Mandarin, 'kan?" tanya Wafa dengan raut wajah yang serius.
Inneke memutar bola matanya, memanyunkan bibirnya, tanda jika dirinya memang mengiyakan dugaan Wafa itu memang benar.
"Inneke, astaghfirullah hal'adzim ...." Wafa langsung istighfar ketika ia mulai kesal dengan tingkah sahabatnya.
"Haiya, ayolah," Inneke merangkul Wafa. "Aku memang tidak bisa lancar berbahasa Mandarin. Tapi seharusnya kamu tahu dong, Fa. Aku ini kan etnis Tionghoa, ya jadi bahasa sehari-hari aku di rumah dan di keluarga besar tuh bahasa Mandarin dan bahasa Inggris," lanjutnya.
"Jadi ... Sedikit kosakata aku tahu. Lalu apa yang dikatakan orang dalam bahasa Mandarin juga paham lah! Hehehe," Inneke meringis.
Tak perlu ada yang diperdebatkan lagi, Wafa duduk dan segera menyantap sarapannya. Inneke juga paham hal apa yang membuat sahabatnya kesal, ia telah melihat sahabatnya itu belajar semalaman sampai ketiduran belajar bahasa Mandarin yang sangat sulit itu.
"Coba kamu cicipi kebab ini. Rasanya enak sekali, berbeda dengan kebab yang pernah kita beli di alun-alun, cobalah ...." Inneke mengambilkan kebab untuknya dan juga menyajikannya.
"Bagaimana? Lebih enak, bukan?" tanya Inneke dengan tatapan penuh harap.
Wafa mengangguk.
"Nah!" seru Inneke sampai menggebrak meja dan membuat Wafa terkejut. Tapi Wafa sedang makan, tidak mungkin baginya untuk kesal.
Inneke pun berjanji akan menjadi translator yang baik ketika bersama dengan Wafa di sana. Kini, kedua gadis itu bersikap seperti biasa dan saling tertawa. Namun, kembali tingkah random Inneke muncul, ia mencomot lauk terakhir Wafa menggunakan tangannya.
Meski matanya melotot menatap sahabatnya, tetap saja Wafa tidak mempersalahkan lauknya dicomot oleh sahabatnya. Makanan di depannya sungguh sangat banyak, jadi tak masalah baginya jika salah satu lauknya dimakan sahabatnya.
***
Pukul 11 siang, Bian menjemput Wafa seperti janjinya.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Bian.
__ADS_1
"Iya," jawab Wafa ragu-ragu.
"Kalian mau pergi berdua saja dan meninggalkan aku sendirian di sini? Kalian begitu tega? Hah!" sulut Inneke, tidak terima jika dia hanya berdiam diri di apartemen.
Bian merogoh teleponnya. Tampak ia sedang ingin menelepon seseorang. Ponsel keluaran terbaru itu membuat mata Inneke berbinar-binar. Dari merek pakaian dan ponsel yang Bian miliki, gadis penuh dengan kehebohan itu bisa menebak jika Bian memang bukan pengusaha biasa saja.
"Datanglah kemari, aku akan menambahkan bonus pada gajimu bukan ini. Tinggalkan rapat, berikan itu pada A-Mee (sekretaris Bian). Cepatlah, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!" perintahnya.
Kemudian, Bian menutup teleponnya. Wafa tidak tahu apa yang Bian ucapkan karena ia menggunakan bahasa yang tidak diketahui oleh Wafa.
"Sstt, apa yang Pak Bian ucapkan? Sepertinya beliau sangat serius, kamu bisa paham bahasa Mandarin 'kan? Sesuai janjimu, Kamu harus menjadi translator yang baik untukku," Wafa memberikan kode mata, supaya Inneke mau mengartikan apa yang Bian ucapkan. Dia berbisik pada Inneke karena enak hati jika sampai didengar oleh Bian.
Inneke memutar bola matanya. "Haih, aku tidak fokus apa yang dikatakan oleh Pak Bian tadi." sahutnya lirih.
"Tatapan matamu terus melirik pada Pak Bian. Tidak mungkin Jika kamu tidak mendengarkan apa yang beliau ucapkan," bisik Wafa lagi.
"Iyaa, Wafaku sayang. Aku memang meliriknya, tapi memang tidak mendengarkan apa yang dia ucapkan," ucap Inneke. "Aku mengamati ponselnya. Itu adalah ponsel keluaran terbaru, mahal juga harganya, keren!" timpalnya.
"Astaghfirullah hal'adzim ...." sebut Wafa.
Tidak lama setelah itu ada suara bel. Wafa segara membukakan pintu karena saat itu Bian sedang menelepon.
Ting~ suara bel pintu berbunyi.
"Tuan Zaka? Silahkan masuk ...." Wafa mempersilahkannya.
Ya, Zaka Yang yang datang. Orang yang ditelepon oleh Bian sebelumnya adalah dia. Senyum keramahan Wafa membuat suasana hati pria yang berprofesi sebagai asisten pribadinya Bian itu menjadi bahagia. Akan tetapi, senyum indahnya itu lenyap seketika kalah melihat Inneke—lawan debatnya.
"Njiiir, ngapain kamu kesini? Merusak hatiku saja!" umpat Inneke, ia memalingkan wajahnya dari Zaka Yang.
"Memangnya, kamu pikir saya juga mau datang kesini? Tidak!" sahut Zaka Yang juga tak ingin kalah. "Saya datang kemari atas perintah dari Tuhan Huang Ji Xie," imbuhnya.
Wafa tersenyum melihat tingkah keduanya karena baginya perdebatan antara mereka sangat lucu.
__ADS_1