Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kontrak Melelahkan


__ADS_3

Wafa melepaskan genggaman tangan Bian, kemudian mendekati Jia Mee. "Nona, saya benar-benar tidak tahu jika Mas Bian—maksudnya Tuan muda Huang Ji Xie telah memiliki tunangan sejak kecil. Jika saya tahu, saya tidak akan pernah mengiyakan apa yang dikatakan olehnya sejak tadi," ucap Wafa lirih.


"Kehadiran saya di sini hanya semata-mata untuk menemani putrinya saja. Tidak ada yang lain. Anda tidak perlu khawatir tentangnya, dia—dia akan tetap menjadi milik anda, Nona,"


Wafa juga meminta maaf pada Bian karena sudah mengacaukan acaranya. Tapi lagi-lagi Bian masih ngotot jika dirinya sangat membutuhkan Wafa. Dia juga mengatakan bahwa dia sama sekali tidak masalah karena baginya, Wafa adalah hal yang paling penting. Perkataan Bian membuat Wafa tersentuh.


"Terima kasih atas kebaikan anda selama ini. Kita hanya bersama karena kontrak sebelumnya, saya sudah menjalankan tugas saya seperti yang anda minta selama ini, Mas Bian," ucap Wafa.


"Putrimu sudah bisa bicara dengan baik seperti semula. Tugas saya sudah selesai. Akan ada baiknya jika kita segera menyudahi kontrak kita. Supaya masing-masing dari kita bisa melanjutkan hidup dengan damai," lanjut Wafa


"Berhenti bicara!" sentak Bian.


Wafa tahu apa yang ia katakan. Resikonya memungkinkan akan besar dengan kemarahan Bian yang sulit dipadamkan.


"Maafkan saya ..." ucap Wafa lirih, kemudian pergi begitu saja.


Gadis itu meninggalkan tempat acara, Jia Mee mengakui kesadaran Wafa dengan bertepuk tangan. Bian yang marah, sempat menampar Jia Mee dan meminta Zaka Yang untuk membubarkan acara. Menutup rapat-rapat jika ada berita yang akan terbit esok hari di media. Sementara Bian mengejar Wafa.


"Kemana dia, kenapa larinya begitu cepat?"


"Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu padamu, Wafa,"


"Kemana dia pergi?"


Bian menyalakan mesin mobilnya dan mulai mencari Wafa.


Sementara Wafa, ia masih berjalan dengan raut wajah sedihnya. Berjalan menyusuri jalanan, Wafa terus mengingat-ingat arah yang menuju ke apartemen.


"Kenapa hatiku sakit? Bukankah bagus jika aku mengakhiri kontrak itu? Ini adalah kesempatan yang baik, bukan? Kenapa hatiku sangat sakit?" gumamnya, menggenggam erat dadanya.

__ADS_1


"Ini juga, kenapa air matanya mengalir. Janganlah keluar, aku tidak mau menangis!"


Semakin ditahan, air mata itu semakin menetes banyak ke pipinya. Dadanya semakin sesak dan membuatnya sulit mengapresiasikan diri. Akhirnya, Wafa memilih untuk menuruti perasaan. Ia duduk di kursi panjang di pinggir jalan, kemudian menangis tersedu-sedu.


"Ini menyakitkan, sangat menyakitkan. Rasanya malah lebih sakit daripada melihat Ustadz Zamil menikah waktu itu,"


"Pasti karena aku belum sanggup berpisah dengan Grietta. Iya, gadis kecil itu sejak tadi membelaku. Tapi aku belum sempat berterima kasih dan berpamitan dengannya,"


"Iya, itu alasannya hatiku sakit. Aku sudah terlanjur menyayangi Grietta."


Wafa masih meyakinkan diri jika luka hatinya karena belum bisa berpisah dengan Grietta saja. Ia tak menyadari perasaannya pada Bian karena tak ingin terlalu berharap dengan duda kaya itu.


Malam itu, Wafa berhasil sampai apartemen sendiri. Entah Bian mencairnya lewat mana, tapi mereka tidak saling bertemu di jalan. Sementara Inneke bersama dengan Zaka Yang pulang dipenuhi kekhawatiran.


"Bagaimana? Apa Nona Wafa sudah di kamarnya?" tanya Zaka Yang begitu sampai apartemen.


Inneke mengangguk. "Iya, dia ada di kamar. Tidur sangat pulas, aku pikir dia kelelahan karena berjalan dengan jarak yang lumayan jauh." jawabnya.


"Tadi aku sangat mencemaskannya. Dia pergi dengan kesedihan hatinya dan berjalan sendirian di negara orang yang belum pernah ia kunjungi. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri Jika ada apa-apa yang terjadi padanya,"


"Abi dan Mbak Sari pasti tidak akan memaafkanku." tukas Inneke, ia meneteskan air mata karena gagal menjaga Wafa.


Ingin sekali bagi Zaka Yang menyeka air mata Inneke. Namun tidak mungkin ia lakukan karena mengingat mereka selalu saja berdebat. Zaka Yang hanya memberikan ucapan sabar dan langsung pamit.


***


Pagi-pagi sekali, ketika Wafa sudah selesai berbenah, tiba-tiba ia menjadi pusing kepalanya. Saat itu Inneke baru keluar membeli pewangi pakaian dan juga ke salon sebentar.


"Kenapa aku sangat pusing, ya?" gumamnya, memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Jangan-jangan karena aku bangun sedikit terlambat dan langsung berbenah,"


"Shhhh, kepalaku ...."


Tak disangka, ketika sedang tidak enak badan, Bian datang membawakan makanan untuknya. Bian mengetahui pin apartemen, jadi dia langsung masuk saja tanpa memencet bel atau mengetuk pintu.


"Itu ... Pak Bian, untuk apa anda kemari?" tanya Wafa, suaranya gemetar karena tidak enak badannya itu.


"Hush, tentu saja untuk menemui Wafa, apalagi?" Bian langsung mendekatinya.


Wafa sedikit menjauh, kejadian semalam membuat suasana menjadi canggung bagi gadis itu.


"Untuk apa Bapak datang ke departemen ini? Bukankah ini sudah menjadi tempat saya? Jadi anda tidak boleh sembarangan masuk sebelum saya mempersilahkan," tutur Wafa.


Bian memutar bola matanya. "Ikut saya!" bukan mendengarkan apa kata Wafa, Bian malah menarik tangan wanita itu.


"Pak, kenapa lagi-lagi anda seperti ini? Bisakah kita bicara tanpa anda menyentuh saya?" Wafa sedikit kesal, ia akan lebih tegas lagi pada Bian yang tiba-tiba selalu menarik tangannya, meski masih terhalang kain pakaiannya.


"Saya ingin mengajakmu sarapan bersama. Lihat, saya membawa makanan untuk kita sarapan. Dengar, saya tidak ingin mendengar penolakan dan alasan apapun darimu," Bian mode memaksa.


Wafa hanya mengaga dengan pemaksaan yang dilakukan oleh Bian. "Pak, apa anda ini—ah, saya menolak ajakan anda. Sebelumnya terima kasih karena Anda telah berbaik hati untuk mengajak saya sarapan bersama. Tapi pikiran saya sedang lelah dan saya hanya ingin sendiri dulu!"


Bian kesal dengan penolakan itu. Tapi sekali lagi, dengan penuh kesabaran Bian memberikan pengertian kepada Wafa, jika dirinya sudah cukup lelah dengan pekerjaan di kantor jadi hanya Wafa tempat ia pulang menenangkan diri.


"Hmm, ini masih pagi. Bagaimana mungkin anda baru pulang dari kantor, Pak Bian?" Wafa rupanya tidak mudah dikelabui.


"Baiklah, jika kamu lelah. Lain kali saya tidak akan nyelonong masuk begitu saja. Pagi ini kita hanya sarapan saja disini. Kali ini, saya tidak menerima penolakan lagi!" tegas Bian.


Wafa dengan helaan nafas kasarnya sudah sangat bersahabat. Ia menolak apa yang diinginkan Bian karena dirinya memang ingin istirahat saja hari itu. Kemarin malam sudah membuatnya sangat lelah, tidur saja Wafa harus berusaha, tidak mungkin baginya pagi-pagi akan berdebat dengan Jia Mee lagi karena Bian.

__ADS_1


"Tolong, jangan ganggu saya dulu saat ini. Hanya sebentar saja, Pak Bian. Saya butuh waktu untuk menata diri," Wafa sampai memohon. "Tidak ada tempat nyaman lain selain apartemen ini disini, Pak. Sekarang saya sedang pusing sekali, tubuh saya juga lelah."


Penolakan itu tidak mungkin menjadi pemaksaan lagi. Bian juga tidak ingin melihat Wafa semakin tertekan dengan masalahnya.


__ADS_2