Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Disukai Pria


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa. Rutinitas seorang santri tiap pagi, yakni shalat subuh dan mengaji. Ketika Wafa hendak pergi ke mushola, ia melihat ada pesan masuk di ponselnya.


[Selamat pagi, cantikku]


Pesan tersemat itu dari ternyata dari Ferdian. Masih merasa terganggu, Wafa pun hanya mengabaikannya. Dalam pikirannya, mungkin saja Ferdian ini adalah laki-laki yang sama seperti kebanyakan pria di luaran sana yang hanya menggoda wanita saja.


Wafa ini juga termasuk salah satu murid cerdas di kelas. Dia sering mendapat peringkat pertama. Membuat Kyai begitu bangga adalah tujuannya, karena dia selalu merasa di sisihkan dari Kyai karena prestasi kakaknya yang menonjol. Ia telah mondok di Pesantren selama hampir 3 tahun saja lamanya.


Dalam benaknya, Wafa merasa jika selama hidupnya, kurang perhatian dari Kyai, Abinya. Merasa jika orang tuanya lebih menyayangi Sari, sang kakak perempuannya, dibandingkan dengan dirinya yang anak kandungnya. Itu sebabnya, dia tidak pernah mau lama-lama di rumah dan malah kerasan di pondok pesantren.


Namun, meski begitu, pikiran itu hanya sebatas pikiran saja. Wafa tak pernah kecil hati dan tak pernah berpikir negatif tentang orang tuanya. Bagaimanapun juga, Wafa tahu jika orang tuanya pasti sudah memberikan kasih sayang secara adil terhadap anak-anaknya.


Semula, tujuan sang Kyai memasukkannya ke Pesantren memang dari awal adalah bukan keinginan Wafa sendiri. Tapi di perjalanan mondok, akhirannya Wafa ingin menambah ilmu dan meluaskan pengetahuannya tentang agama.


Wafa ini juga tidak pernah iri hati jika Kyai lebih mencintai saudaranya. Sebab, dirinya sudah dibekali ilmu agama, mana mungkin seorang Ayah akan mengabaikan seorang putrinya, yang dimana kelak, akan menjadi penolongnya juga di akhirat nanti. Mendidik dan merawat anak perempuan tidak semudah yang terbayangkan. Sungguh berat dan besar tanggung jawab yang akan dihisab nantinya ketika di akhirat nanti.


***


Kembali ke masa kini.


"Kamu ingat ketika pertemuanku pertama kali dengan lelaki yang bernama Ferdian?" tanya Wafa di nisan Qia.


"Ketika kita SMP, ketika kita suatu Pesantren dulu, aku pernah ceritakan ... yah, kamu juga tahu sendiri jika ada seorang lelaki yang mendekatiku,"

__ADS_1


"Tahu, tidak? Hari ini aku ketemu lagi sama dia. Tapi kami hanya bertemu sebentar saja. Aku juga melihat saat itu dia sedang mengurus jenazah Ibunya. Qia, aku mulai merindukanmu—"


Wafa tak bisa membendung rasa sedihnya. Qia adalah sahabatnya yang terlama bagi Wafa. Jauh lebih lama dibandingkan dengan persahabatannya bersama dengan Inneke.


"Wafa, ikhlaskan saja. Jangan sampai air matamu menetes di tanah liang lahatnya. Dia sudah pergi, kamu harus bisa lebih tegar," ucap Sari menenangkan hati adiknya.


"Wafa, ayo kita pulang. Hari juga sudah mau pagi. Bukankah besok kamu harus mengurus bayi dari temanmu ini?" imbuh Pak Kyai.


"Saat itu, aku masih ingat sekali ada orang yang mengatakan begini kepadaku, Abi," kata Wafa.


'Nduk, monggo, Umi-nya di cium dulu sebelum kain kafannya tak tutup. Ingat, air matanya jangan sampai menetes, ya ....'


"Sejak saat itu, hidupku selalu tidak baik-baik saja," imbuh Wafa, meneteskan air matanya kala mengingat kepergian ibunya dua belas tahun yang lalu.


Pak Kyai dan Sari langsung memeluk Wafa dengan erat. Hati mana yang tak hancur ketika menyaksikan kematian ibunya sendiri. Memandikan, mengkafani, dan bahkan juga ikut melihat ibunya dimasukkan ke liang lahat.


"Aku jadi semakin penasaran dengannya. Gadis ini sangat menarik dan juga baik. Grietta, apakah Papi bisa membuat Kakak Wafa-mu ini menjadi milikmu?" Bian pun sedang berdebat dengan hati dan pikirannya.


Setelah beberapa saat, Wafa akhirnya mau diajak pulang. Saat itu Wafa dan juga keluarganya diantar pulang oleh Bian. Pak Kyai masih belum mengenal siapa Bian sampai beliau pun bertanya kepadanya sebelum sampai rumah.


"Maaf jika boleh tahu, Anda ini siapa ya?" tanya Pak Kyai menatap Bian dengan teliti. "Maksudnya, ada hubungan apa dengan Wafa. Kok, sampai malam begini masih mau ngurus semuanya dengan Putri saya?" Pak Kyai pun juga menjaga lisannya supaya tidak menyinggung orang lain.


"Oh, sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Bian Hutomo. Saya akan kerja dan juga salah satu penyayang anak-anak yang ada di yayasan milik Nona Wafa," jawab Bian.

__ADS_1


"Jadi Anda yang namanya Pak Bian Hutomo? Yang tadi jawab telepon dari saya, bukan? Saya kakaknya Wafa," sahut Sari.


"Benar. Saya Bian Hutomo yang tadi menjawab telepon dari Anda. Salam kenal semuanya." Bian tidak ada kegugupan sama sekali. Hanya saja bingung karena tidak tahu harus berkomunikasi dengan cara apa kepada keluarganya Wafa yang berlatar belakang sebagai pemuka agama.


Setelah melihat adanya patung Buddha di mobil Bian, Pak Kyai pun memahami jika Bian tidak mengucapkan salam ataupun hal-hal yang berbau agama Islam, seperti Alhamdulillah atau yang lainnya ketika pengenalan.


Sebenarnya Bian ini bukan beragama Buddha, Hindu, maupun Kristen. Bian tidak memiliki agama tapi percaya dengan adanya Tuhan. Hanya saja seluruh keluarganya memang menganut agama Kristen.


"Maaf sebelumnya jika saya tidak bisa basa-basi, Pak, Bu. Saya baru tiba di kota ini beberapa bulan ini. Saya masih menjadi warga negara asing. Jadi belum paham sekali bagaimana tata cara bicara orang di sini," lanjut Bian.


"Tapi bahasa Indonesia Anda lancar, loh! Memangnya Anda berasal dari mana, Pak Bian?" tanya Pak Kyai semakin penasaran.


"Abi, kenapa jadi tidak sopan begini, sih? Itu kan privasi orang, Bi," sela Wafa. Dia hanya takut Bian keceplosan tentang kontrak yang ada di antara mereka berdua.


Sementara Sari malah masih berpikir mengapa dirinya disebut ibu. Sampai sehari berkali-kali mengaca lewat ponselnya untuk memastikan jika wajahnya belum terlihat seperti ibu-ibu.


"Tidak masalah, Nona Wafa," timpa Bian.


"Saya berasal dari Tiongkok, Pak. Ibu saya berasal dari kota ini, lalu ayah saya asli Tiongkok. Tapi karena ada hal yang membuat mereka harus berpisah, jadi saya ikut ayah saya di Tiongkok dan sesekali pulang ke sini karena mengurus urusan pekerjaan saja," ungkap Bian dengan senang hati.


"Owalah, begitu," Pak Kyai sok paham. "Lalu, usaha apa yang Pak Bian miliki? Apakah perusahaan keluarga atau milik Pak Bian sendiri?" lanjut Pak Kyai.


"Abi—" bisik Wafa.

__ADS_1


Bian pun menceritakan jika dirinya baru merintis usaha pabrik garmen. Dia juga mengatakan kepada Pak Kyai jika dirinya masih membutuhkan lahan yang ingin dijadikan tempat parkir atau gudang untuk perusahaannya. Setelah bercerita banyak ternyata perusahaan yang didirikan oleh Bian ini persis sekali di samping tanah yang hendak Wafa jual. Dengan entengnya Pak Kyai pun menawarkan tanah milik Wafa tersebut.


Bian sendiri juga baru tahu jika lahan kosong yang ada di samping pabriknya berdiri itu milik Wafa. Akhirnya Bian pun memiliki ide untuk menambah kerjasama dengan Wafa malam itu juga. Lalu, bagaimana tanggapan Wafa?


__ADS_2