
Makanan yang sudah dibuka itu kembali dikemasi oleh Bian. Duda itu juga tak mengatakan apapun, niat baiknya ditolak oleh Wafa yang masih lelah hati dan pikirannya.
"Tunggu!"
"A-ayo, kita sarapan bersama," akhirnya Wafa luluh juga.
Saat itu Bian bersemangat sekali melayani Wafa. Tulus sekali perlakuan Bian pada Wafa. Tapi hal yang tak terduga terjadi, Wafa tiba-tiba pingsan. Beruntung saja Bian langsung sigap menangkapnya.
"Wafa?"
"Wafa!"
Bian bingung, ia tak mungkin menyentuh Wafa secara langsung karena memang agamanya melarang. Namun apakah daya, ia tak tahan diri ketika melihat wanita spesialnya pingsan seperti itu.
Segera Bian menelpon dokter dan Zaka Yang supaya memberikan kabar pingsannya pada Inneke. Zaka Yang yang awalnya ogah-ogahan tetap melaksanakan tugas menghubungi Inneke.
'Hei, apa katamu? Sakna pingsan? Tidak sadarkan diri? Lalu dia sekarang ada di mana?' Inneke masih bicara lewat telepon dengan Zaka Yang.
"Nona Wafa berada di rumah Tuan muda Huang. Sebenarnya aku malas memberitahumu, tapi karena ini perintah Tuan, so, i try to be a good assistant to obey his every order—" kata-kata Zaka Yang belum selesai, tapi sudah disela oleh Inneke.
'Bajing dan an! Apa maksud ucapanmu itu, hah! Sekarang juga, kamu harus jemput aku!' perintah Inneke.
Mendengar perkataan kasar Inneke, membuat Zaka Yang tercengang. Memang seharusnya ia tak berurusan dengan seorang Inneke jika tidak ingin direpotkan seperti yang akan terjadi sebentar lagi.
"Hei, aku sendiri juga masih di luar. Kenapa kamu tidak datang saja ke apartemen Tuan Ji Xie sendiri? Tuan Ji Xie menyewa apartemen lantai atas, jadi kau tinggal naikkan saja tombol lift nya satu lantai. Aku sibuk!" bentak Zaka Yang, mematikan teleponnya.
"Wanita ini benar-benar membuatku kesal saja. Selalu saja dia itu mengajakku bertengkar dan terus memperdebatkan hal yang tidak penting. Huft, sangat menyusahkan." keluhnya, melanjutkan pekerjaannya sebentar.
__ADS_1
Di tempat lain, Inneke yang baru saja selesai perawatan diri, langsung bergegas menuju ke apartemen. Membuka pintu mobil yang ia sewa secara kasar, kemudian juga membanting pintu mobil ketika menutup.
"Sialan, pria lajang tidak laku itu. Berani-beraninya dia membentakku. Lihat saja nanti, bagaimana aku akan mengurusnya," dengus Inneke.
Jgerrr .... jgerr....
Ketika menstarter mobilnya, Inneke mengalami kesulitan. Mobilnya tidak mau nyala.
"Oh, astaga ... Apa lagi ini?"
Kembali Inneke berusaha menstarter mobilnya, tetap saja mobil kesayangannya itu tidak mau menyala. Wanita itu berakhir mengumpat di dalam mobil dan menelepon Zaka Yang kembali.
"Dia tidak menjawab teleponku? Kurang ajar!"
Sekali lagi Inneke menelepon Zaka Yang, tetap saja asisten pribadi Bian itu tidak menjawab teleponnya. Inneke turun dari mobilnya, berusaha melihat apa yang terjadi dengan mobil yang baru ia sewa. Sayangnya, kuku yang cantik dengan nail art barunya membuatnya mengulurkan niatnya untuk membuka kap mobilnya.
Inneke kembali ke mobilnya, kemudian meraih telepon genggamnya dan melakukan panggilan telepon dengan Zaka Yang. Sudah hampir sepuluh kali Inneke mencoba menelepon, tapi tetap saja Zaka Yang mengabaikannya. Dia sedang ada kepentingan kantor saat itu.
"Sialan! Pria jomblo berkarat ini benar-benar mengajakku ribut!" keluh Inneke.
'Ada apa dengan wanita satu ini? Kenapa dia gemar sekali mengganggu diriku. Seharusnya dia sekarang sedang menuju ke apartemen, bukan? Mengapa malah mengganggu?' batin Zaka Yang.
"Tuan, ini adalah surat kontrak yang sudah disetujui oleh Tuan muda Huang. Silahkan anda baca terlebih dahulu, kemudian jika sudah pasti, silahkan ditandatangani di sini," ucap Zaka Yang dengan teliti.
"Memangnya Tuan muda Huang sedang ada di mana atau kemana? Saya ada keperluan penting dengan beliau. Kenapa dia malah mengutusmu?" tanya klien tersebut.
"Kalau itu saya tidak tahu, Tuan. Silahkan anda menghubungi Tuan muda Huang saja. Saya hanya selaku asistennya saja dan tidak tahu menang tentang urusan yang lain kecuali menyangkut pekerjaan," jawab Zaka Yang dengan jelas.
__ADS_1
Kliennya mengangguk paham dan memuji kerja sanga asisten hebat ini yang bagus. Tanda tangan kontrak sudah terlaksana, kini mereka sedang mengobrol sebentar tentang proyek baru yang akan perusahaan keduanya jalankan.
Sedang asyik-asyiknya mengobrol santai, telpon Zaka Yang kembali berdering. Klien sampai terkejut karena dering yang Zaka Yang pasang di ponselnya.
"Oh, Tuhan. Tuan Zaka Yang, alangkah baiknya kamu menjawab telepon tersebut karena sudah saya hitung, telepon masuk saat kita bersama di ponsel anda sudah berdering sampai 11 kali ini," ujar klien tersebut.
Hal itu membuat Zaka Yang menjadi gugup dan tidak enak hati. "Tuan, maaf sebelumnya. Apa saya bisa menjawab teleponnya dulu?" tanyanya meminta izin.
"Tentu saja. Siapa tahu memang itu telepon penting. Ayo, Tuan Zaka Yang, jawab dulu saja. Saya akan menunggu disini." sahut klien dengan ramah.
Zaua Yang pamit undur diri dengan sopan. Raut wajahnya yang hangat itu langsung berubah drastis ketika berpaling dari klien. Menjawab dengan ketus telepon yang sedari tadi berdering.
"Apa?! Kamu mau apa lagi!" sentak Zaka Yang.
"Selalu saja kau menggangguku, apa kau tidak lelah? Aku sedang bekerja, kenapa kau terus mengganggu. Bisakah kamu tenang sebentar saja, hah!"
'Dasar lelaki konyol, kau berani membentakku? Katakan sekali lagi, ayo bentak aku lagi!' nada suara Inneke malah meninggi.
Keduanya berdebat lagi. Inneke membuat Zaka Yang kesal karena wanita itu memintanya mengantarkan ke apartemen. Zaka Yang jelas paham sekali hal itu sangat konyol karen Inneke satu apartemen dengan Wafa, meski Inneke bisa menyewa apartemen sendiri jika dia mau.
"Apa kau mau membodohiku?" desisnya. "Dengar gadis berisik, aku sedang ada pekerjaan penting. Nanti aku juga mau langsung pulang. Kau ... kau satu apartemen dengan Nona Wafa, bukan? UNTUK APA KAU MEMINTAKU MENGANTARMU!!!" nada yang awalnya pelan menjadi sebuah bentakan karena Zaka Yang tak sanggup lagi menahan amarahnya.
'Bodoh! Kau memang pantas jika dibodohi. Jomblo berkata tua, jika aku saat ini di apartemen, untuk apa Tuan mudamu itu menyuruhmu untuk menelponku, memberitahukan kondisi Wafa yang sedang pingsan?' sahut Inneke masih lewat telepon.
Suara helaan nafas kasar terdengar jelas. 'Huh, ya itu karena aku sedang tidak ada di sana, bodoh! Setidaknya kalau kau sudah tampan, minimal otakmu jangan sampai bodoh. Cepat jemput aku atau kau akan menyesal!'
Inneke ini adalah orang kaya juga, dia bisa saja menyewa apartemen untuk dirinya sendiri. Sayangnya, sisa apartemen kosong hanya ada di lantai atasnya apartemen Wafa. Jadi ia tidak sanggup jauh dari sahabatnya. Apalagi Inneke tahu, bahwa apartemen lantai atasnya, adalah tempat Zaka Yang tinggal. Di sebelahnya juga sudah di sewa oleh Bian yang kaya raya.
__ADS_1
"Aku juga bingung, mengapa Tuan malah menyewa apartemen lagi." gumam Zaka Yang. .