Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Mama Grietta


__ADS_3

Setelah puas berjalan-jalan, Bian mengajak Wafa untuk duduk di dekat Grietta menjalani kelas edukasi. Mereka juga duduk diantara wali murid lainnya. Saat itu, Wafa sudah mulai terbiasa. Salah satu dari wali murid mendekati Wafa dan bertanya, "Apa anda Ibunya Grietta?"


Wafa menatap wanita itu. Wanita yang penampilannya begitu sederhana, tapi tidak main-main dengan harga yang ia kenakan.


"Em, saya tidak maksud menyinggung anda Ibu Grietta," lanjut wanita itu.


Begitu disebut dengan panggilan 'Mama Grietta', Wafa merasa tersentuh hatinya. Seperti ada makna yang sangat dalam dengan sebutan itu. Sudah biasa baginya dipanggil Ibu oleh anak-anak asuhnya. Namun Wafa sendiri juga tidak perasaannya begitu hari ketika salah satu wali murid menyebutnya dengan sebutan, 'Mama Grietta'


"Saya tahu jika anda bukan ibu kandungnya, Grietta. Tapi saya salut sekali dengan anda," wanita itu melanjutkan pembicaraan.


"Maksudnya apa, ya?" tanya Wafa tidak mengerti.


"Sekitar kurang lebih dua bulan yang lalu, anak saya bercerita tentang putri anda-Grietta. Katanya dia melukis seseorang yang mengenakan tudung di kepalanya," ungkap wanita itu.


"Ketika putri saya bertanya, siapa yang ia gambar. Grietta tetap masih diam saja. Tapi ketika putri saya menyebut kata Mama, barulah Grietta mengangguk,"


"Nyonya Hutomo, saya benar-benar kagum kepada anda karena bisa menaklukkan hatinya gadis kecil malang itu,"


"Anda tenang saja. Saya tahu betul kisah keluarga Grietta. Saya teman dari ibu kandungnya, tapi saya selalu berpihak pada Tuan Hutomo," wanita itu menyentuh tangan Wafa dan menggenggamnya. Menghela nafas panjang, kemudian berkata, "Terima kasih telah hadir untuk Grietta."


Deg!


Jantung Wafa kali itu berdebat bukan karena Bian, melainkan saking hatinya dengan ucapan Mama dari teman Grietta. Namanya Hana Shafira, seorang teman dari Flanella—ibu kandung Grietta.


"Tuan Hutomo, pilihan anda kali ini sudah sangat tepat. Saya bangga pada anda." celetuk Hana.


Wafa tersipu. Dia tidak menyangka jika dirinya akan melangkah sejauh itu meski hanya berpura-pura. Membuatnya merasa bersalah karena telah membohongi semua orang.


"Siapa nama anda, boleh saya berkenalan?" Hana mengulurkan tangannya.


"Wafa. Anda bisa memanggil saya dengan nama saja. Itu malah terdengar nyaman di telinga dibandingkan memanggil saya dengan sebutan anda," balas Wafa.

__ADS_1


Keduanya berkenalan dan saling bertukar kontak. Wafa sana sekali tidak mencurigai Hana, tapi Hana juga ingin berteman tulus dengan Wafa karena ia telah kehilangan sosok sahabat seperti Flanella. Mulailah mereka saling mengobrol.


Ketika edukasi sudah mau selesai, seorang pemandu edukasi memanggil Grietta dan memintanya untuk bicara. Ketika nama Putri kecilnya dipanggil, Bian dan Wafa langsung berdiri. Semua wali murid yang tau kondisi Grietta juga saling berbisik.


"Kenapa anak itu dipanggil? Bukankah dia tidak bisa bicara?"


"Aku tidak tahu pasti. Tapi setelah Papanya menikah lagi, tingkat rasa percaya dirinya sudah meningkat bagus,"


"Ibunya seorang muslim, jadi kenapa Grietta masih harus sekolah di sekolah khusus anak Chinese?"


Semua perkataan orang-orang disana membuat Wafa tidak tenang. Dia terus memainkan jari dan telapak tangannya, Hana yang menyadari itu langsung ikut berdiri dan memintanya untuk tenang.


"Tenanglah, pasti semuanya akan baik-baik saja. Aku akan meminta Miss untuk me—" Hana yang sudah mulai akrab saat itu sudah bicara dengan santai.


"Tidak perlu!" perintah Bian menyela ucapan Hana dan membuat Wafa menatapnya. "Sebaiknya kita percaya dengan Grietta. Kita dengarkan saja apa yang ingin dia katakan dan dilakukannya." Imbuhnya.


Grietta terlihat diam saja, pandangan matanya penuh dengan ketakutan, Wafa menjadi khawatir. Tetap tidak tenang karena gadis kecilnya belum bisa bicara.


Grietta menatap Wafa, kemudian Wafa tersenyum padanya dan memberikan semangat dengan mengangkat tangannya sebagai tanda.


Grietta menunjukkan name tagnya.


Oh, Grietta Hutomo. Cantik sekali namamu, Sayang. Persis seperti orangnya. Jika kakak boleh tahu, kesini kami bersama dengan siapa kecuali Miss dan teman-teman? - tanya pemandu lagi.


Grietta melihat Wafa lagi. Malah saat itu Wafa yang panik. Sedangkan Bian masih tenang menatap putrinya supaya bisa menjawab. Akan menjadi momen yang indah jika Grietta mau bicara. Disampingnya, Hana siap-siap merekam momen itu.


"Papa ... Mama," suara itu keluar dari bibir mungil Grietta.


Bagaimana reaksi Wafa dipanggil dengan sebutan Mama? Lalu bagaimana reaksi Bian juga ketika putrinya berhasil memanggilnya dengan sebutan Papa?


Hati Wafa bergetar, seluruh tubuhnya menjadi terasa dingin. Bingung, haru, gelisah, bahkan senang menjadi satu. Sama sekali tidak bisa menunjukkan ekspresi pada Grietta. Sementara Bian, dia tersenyum puas dengan putrinya karena sekian lama baru bisa menyebutnya lagi.

__ADS_1


Jika boleh tahu, dimana Papa dan Mamanya Grietta? - tanya pemandu itu lagi.


Selang beberapa detik, Grietta menunjuk ke arah Bian dan Wafa yang dari kejauhan memantaunya.


Apakah Mama Grietta yang memakai jilbab itu? - tanya pemandu tersebut.


Grietta mengangguk. Hati Wafa langsung nyes—dingin seperti terkena siraman air es. Panggilan yang begitu istimewa diberikan padanya oleh gadis kecil yang ia tolong dua bulan lalu.


Wah cantik sekali, Mama Grietta. Bisakah Mama dan Papa Grietta untuk naik naik ke atas panggung? Kita mau foto bersama, apakah boleh? - pemandu itu memanggil Bian dan Grietta.


Hana mendorong Wafa, menyadarkan lamunan Wafa. Bisikan halus Hana membuat Wafa terkejut, "Pergilah, anakmu memanggilmu. Kamu hebat, Wafa!" serunya.


'Ha? Sampai kapan aku terus membohongi orang seperti ini? Terlihat sekali kalau Nyonya Hana adalah orang baik. Aku merasa bersalah, Ya Allah.' batin Wafa.


Bian tersenyum tipis padanya, lalu mengajak Wafa pergi ke panggung menghampiri Grietta. Penuh dengan keraguan, ketakutan dan juga kegelisahan, Wafa akhirnya mengikuti langkah pria bertubuh tegap itu.


Wah, ini dia kedua orang tua teman kita Grietta. Papa dan Mamanya, tampan dan cantik sekali, ya. Pantas saja Grietta juga cantik. - celetuk pemandu edukasi.


Guru dan pemandu wisata berfoto dengan Bian, Wafa dan juga Grietta. Setelah puas berfoto, Grietta meminta juru kamera untuk memotret Bian dan Wafa berdua.


"Ada apa?" tanya Bian ketika Wafa menarik celananya.


Grietta menunjuk orang yang membawa kamera digital.


"Kamu ingin kita memfoto orang tuamu, ya?" tanya pemegang kamera itu, peka.


Grietta mengangguk senang.


"Boleh! Let's go!"


Awalnya Wafa tidak mau, tapi melihat mata Grietta yang berbinar-binar membuatnya tidak tega menolak. Bian dan Wafa pun foto berdua saja. Foto itu menjadi foto terindah bagi Grietta. Gadis kecil itu menemukan sosok ibu dalam diri Wafa, itu sebabnya Grietta memanggilnya dengan panggilan, 'Mama'.

__ADS_1


Setelah acara edukasi selesai, kini tiba acara makan siang bersama di tempat wisata yang sama. Grietta duduk bersama dengan Bian dan juga Wafa. Meminta keduanya untuk menyuapinya. Apapun akan Bian lakukan dan bahkan memohon pada Wafa supaya mau menuruti kemauan Grietta.


__ADS_2