Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Makan Malam Lagi


__ADS_3

"Sepertinya anda ini tahu betul bagaimana tentang sifat saya," kata Wafa. "Saya katakan kepada Bu Sadana sekali lagi, saya adalah calon istrinya saat ini. Jadi, hal-hal sepeti ini, mohon jangan lakukan lagi didepan saya. Apa anda mengerti, Bu Sadana?"


Sedana pergi begitu saja, Wafa menghela nafas panjang dan merenggangkan kedua tangannya.


Diam-diam Bian menatap Wafa dengan senyum tipis. Tidak tahu kenapa dirinya begitu bahagia mendengar jawaban dari Wafa.


"Ayo kita pulang." ajak duda kaya itu.


Di mobil, Bian memacu kendaraannya dengan pelan. Wafa masih diam saja sejak keluar dari pabrik kayu milik Bian. Sesekali, Bian juga lirik gadis muda itu. Masih ingat betul dalam ingatannya ketika Wafa menyebut dirinya calon istri. Kata-kata itu ternyata menggetarkan hati seorang Tuan Huang Jie Xi.


"Akan menjadi dosa Jika Bapak terus-terusan menatap saya seperti itu," tegur Wafa, rupanya gadis itu sadar dirinya ditatap.


Bian menyudutkan bibirnya. "Hm, saya tidak menyangka jika kamu memiliki tingkat percaya diri yang tinggi." sahutnya.


"Sebagai seorang wanita memang harus percaya diri. Tapi juga harus memiliki rasa malu supaya tidak ... um, tidak apa, ya?" Wafa malah ngelag sendiri.


Wafa kembali memikirkan apa yang hendak ia katakan kepada Bian. Sayangnya Wafa tidak ingat apa yang ingin Ia katakan. "Ah, saya lupa!" serunya.


"Tapi Pak Bian," lanjut Wafa.


"Hm?" sahutan suara Bian malah terdengar begitu candu di telinga Wafa. Sehingga membuat gadis berusia dua puluh tahun ini langsung istighfar.


"Astaghfirullah hal'adzim, Pak Bian. Ya Allah ...." ucap Wafa lirih.


Wafa melanjutkan apa yang ingin dia katakan kepada Bian mengenai kontrak pura-pura mereka memiliki hubungan sebagai calon suami istri. Kontrak tersebut sebenarnya menuai pro kontra dalam hati Wafa. Lagi pada aku juga bahwa tidak ingin membohongi siapapun, termasuk Grietta.


"Maksudnya apa?" tanya Bian.


"Saya ingin kita berhenti berpura-pura sebagai calon suami istri. Ada hal yang saya takuti ketika kita melakukan hubungan kerjasama dengan membangun sebuah hubungan didasari dengan kata kebohongan demi kebaikan," terang Wafa. Ia menghela nafas pelan.


"Pak Bian, sesungguhnya tidak ada kebaikan yang didasari dengan kebohongan. Sekali bohong tetaplah berbohong. Saya hanya tidak ingin kebohongan kita ini menjadi bumerang bagi kita sendiri," imbuh Wafa.

__ADS_1


Bian tahu maksud dari pernyataan Wafa. Dia juga tidak menyangkalnya, tapi semua itu sudah terlanjur. Bian tidak ingin kontrak itu berkahir cepat sebelum Grietta bisa bicara kembali.


"Jika memang harus seperti itu. Bagaimana kalau kita membawa Grietta ke spesialis, atau bisa kita segera melaksanakan upaya untuk membuat mental Grietta kembali membaik," usul Wafa.


"Kamu benar. Kita memang jangan menunda waktu lagi. Tapi bagaimana dengan lamaranmu? Apakah pernikahanmu akan cepat dilaksanakan, takutnya tidak ada waktu lagi untukmu membantu saya memulihkan mental putri saya," fokus menyetir, tapi Buan juga bisa diajak berdiskusi.


Malam itu, mereka pun memutuskan untuk memikirkan apa yang harus dilakukan supaya bisa membuat Grietta bisa bicara lagi. Belum ada keputusan yang tepat, mereka sudah sampai saja di pesantren.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, Pak!" salam Wafa memanggil petugas penjaga gerbang pesantren. "Tolong buka pintunya, dong!"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Owalah, Mbak Wafa, to? Tak kira siapa. Oke, tunggu sebentar."


Petugas dan santri yang jaga di gerbang segera membuka gerbangnya.


"Terima kasih, ya, Pak, Mas. Mari, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh ...."


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh, sama-sama Mbak Wafa." balas penjaga gerbang dengan ramah.


'Itu mobilnya ustadz Lana, bukan, sih? Berati bener beliau ada di sini?' batin Wafa.


Bian memperhatikan ke sekeliling halaman rumah Wafa yang luas meski berada di belakang pesantren. Di sana terparkir mobil Ustadz Lana, dan membuat Bian bertanya. "Mobil siapa itu? Sepertinya di rumahmu sedang ada tamu."


Wafa tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala saja.


Setelah sampai, Wafa mengucap syukur dan Bian segera turun membukakan pintu mobilnya untuk Wafa.


"Hati-hati turunnya—" tak lupa Bian juga melindungi kepala Wafa supaya tidak kejedot.


"Terima kasih, Pak Bian. Sudah mengantar saya sering ke rumah dengan selamat. Terima kasih juga sudah mengajak saya berkeliling ke pabrik kayu milik Pak Bian," ucap Wafa dengan lembut. "Pengalaman ini benar-benar sangat berharga bagi saya." imbuhnya.


Bian tersenyum dengan tatapannya yang hangat.

__ADS_1


"Terima kasih kembali. Karena kamu sudah menemani saya ke pabrik. Lain kali, bisakah kamu menemani saya ke garmen?" balas Bian. "Kebetulan sekali bukan, kamu punya usaha konveksi? Kali saja kita bisa menjalin kerja sama lagi?" tawar Bian.


"InsyaAllah, Pak ...."


Keduanya saling tersenyum. Disinari oleh rembulan malam, wajah Wafa terlihat begitu ayu dan matanya indah dipandang Bian. Dari sana, Bian merasa jika ada sesuatu yang menarik hatinya dari diri Wafa.


Ketika keduanya sedang berbincang-bincang sebentar, keluarlah Zira dari dalam rumah.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, eh, kalian ... loh, Pak Bian, ya? Selamat malam!" sapanya.


"Selamat malam," balas Bian, keramahannya membuat Zira jatuh hati.


'Ya Allah, anda saja pria ini bukan milik Wafa. Pasti sudah aku kejar nih!' batin Zira.


Lamunan Zira dikejutkan oleh Wafa. Zira sampai lupa apa yang ingin dia katakan kepada sepupunya itu. Tapi Zira mengatakan bahwa Ustadz Lana masih di dalam menunggu Wafa pulang.


"Jadi, Ustadz Lana masih di sini?" tanya Wafa.


Zira menunjuk mobil Ustadz Lana. "Kamu bisa lihat, bahkan kendaraannya saja masih stay di sini. Ayo, segera masuk supaya Abi-mu tidak lagi ribut mempertanyakan dimana putrinya," ajaknya.


"Kalau begitu, Wafa. Saya pamit saja dulu. Selamat malam dan selamat menikmati, ya. Salam juga untuk Ayahmu dan yang lainnya," pamit Bian.


"Eh, anda mau kemana?" Zira menahan Bian dengan merentangkan tangannya di depannya. "Sekalian saja makan malam bersama dengan kami. Hehehe, aman ... porsinya lebih, kok!" imbuhnya.


Mendengar kata 'makan malam' membuat Bian menoleh ke arah Wafa. Keduanya baru saja selesai makan, tidak mungkin bagi Bian untuk makan lagi. Ketika pria ini hendak menolak ajakan Zira, Pak Kyai keluar dan mengajak Pak Bian sekalian.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Zira, kamu bersama dengan siapa, Nduk?" tanya Pak Kyai. "Apa itu Wafa?" tanyanya.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Benar, paman. Ini Wafa dan Pak Bian. Paman, tolong kesini sebantar," sahut Zira.


Pak Kyai menghampiri mereka. Zira menyampaikan keinginannya untuk mengundang Bian untuk makan malam bersama sekalian. Pak Kyai setuju dan mengajak Bian. Kali itu, Bian enggan untuk menolak.

__ADS_1


Bagaimana cara Bian menerima ajakan Pak Kyai? Apakah dia akan malam lagi?


__ADS_2