Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Wafa Dalam Keadaan Baik.


__ADS_3

"Astaga, Wafa!"


"WAFA!"


Bian turun dari mobilnya dan berteriak memanggil nama Wafa. Mobil Wafa sudah langsung dikerumuni orang karena memang tempat di mana Wafa mengalami kecelakaan sangat dekat dengan angkringan.


"Wafa, Wafa?"


Menyebut nama Wafa, Bian tidak menyadari bahwa dirinya begitu peduli kepada Wafa sampai meneteskan air matanya ke kepalanya. Masih sangat jelas betul kecelakaan beberapa tahun lalu sampai merenggut nyawa ayah angkatnya dan juga membuat hubungannya dengan mantan istri keruh, hingga akhirnya berpisah.


"Bapak ini siapa, ya?" tanya salah satu pemuda yang tadinya nongkrong di angkringan.


"Saya mengenal dia. Tolong bawa dia masuk ke mobil saya, ya. Saya akan membawanya ke rumah sakit," jawab Bian masih panik.


"Owalah, ya, Pak."


Setelah melihat cara membawa Wafa, Bian meminta pemuda itu untuk menurunkan Wafa kembali. Lalu, Bian ingin menggendong Wafa sendiri saja. Hal itu membuat pemuda yang sebelumnya menjadi terheran-heran.


"Huh, bisa-bisanya aku mengizinkan orang lain menyentuh Wafa. Biarkan aku sendiri sajalah yang membawanya," batin Bian.


Setelah menyandarkan Wafa ke mobilnya, Bian menitipkan mobil yang ringsek bagian depannya itu kepada pemilik angkringan. Sebab, pemilik angkringan itu pemilik dari bengkel mobil yang berada di belakang gerobak angkringannya. Awalnya Bian tidak percaya. Namun setelah bengkel tersebut dibuka dan pemilik angkringan itu mampu menunjukkan bahwa dirinya adalah pemilik bengkel mobil tersebut, Bian pun akhirnya percaya dan memasrahkan mobil itu untuk diperbaiki di sana.


Setelah satu masalah mobil selesai, barulah Bian membawa Wafa segera ke rumah sakit. Bian terus saja memantau keadaan Wafa yang disandarkan di jok sampingnya. Wafa masih pingsan, darah di keningnya terus mengalir dan membuat Bian semakin khawatir.


"Kenapa kamu ini? Bukankah tadi kamu baru saja dilamar? Seharusnya kamu bahagia, kenapa malah sebaliknya? Tapi, apa yang membuatmu mengemudi sendiri?" gumam Bian bingung.

__ADS_1


Ingin sekali Bian menyentuh wajah Wafa. Namun, setiap kali ia hendak menyentuh wajah gadis itu, tangannya terhenti dan memilih untuk mengurungkan niatnya.


"Aku baru saja ingat jika tuhanmu tidak membiarkan aku menyentuhmu. Wafa, jangan berani-beraninya kamu terluka parah atau sampai amnesia. Aku akan marah padamu nanti kalau hal itu sampai terjadi."


Pengusaha muda kaya raya ini terus saja bergumam dan merasa menyesal karena tidak bisa menyentuh Wafa secara langsung. Keinginannya hanyalah ingin membelai Wafa sebentar saja. Walaupun begitu, Bian juga tidak melakukannya karena tahu jika Wafa benar-benar bukan wanita yang bisa sembarang disentuh oleh tangan orang lain, terutama seorang pria.


Sesampainya di rumah sakit, Wafa langsung ditangani oleh dokter. Bian terus saja mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan. Sampai kemudian, setelah 10 menitan, dokter keluar.


"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Bian nampak khawatir.


"Anda tidak perlu khawatir. Pasien tidak terluka parah. Keningnya terluka karena terkena tasbih digital yang pasien pakai di jarinya. Sekarang, pasien sedang istirahat. Mungkin beliau kelelahan sampai tidak berdaya ingin bangun."


Penjelasan dokter membuat Bian lega. Setelah dokter dan beberapa perawat pergi, barulah Bian masuk melihat kondisi Wafa. Perlahan, langkah kakinya masuk menuju tubuh Wafa yang saat itu terbaring di atas ranjang pasien.


"Apa yang terjadi padamu? Mengapa dokter mengatakan jika kamu mengalami kelelahan?" lirih Bian, duduk di samping tubuh Wafa yang terbaring dengan duduk di bangku.


"Padahal aku tahu, jika dia tidak ada memiliki kesempatan waktu untuk memanjakan dirinya. Wafa, kamu ini telah mengetuk hatiku sejak pertama kali bertemu. Apakah kamu tahu itu?" imbuhnya dengan senyuman kali itu.


Bian tidak tahu ingin menghubungi keluarga Wafa atau tidaknya. Sebab, jika di dalami masalah Wafa yang kelelahan, Bian takut saja jika Wafa sedang tidak baik-baik saja dengan keluarganya. Pria ini pun memutuskan untuk tetap menunggu Wafa sampai gadisnya itu sadarkan diri.


Malam semakin larut, Wafa belum juga terbangun dan Bian sudah merasa mengantuk. Pada akhirnya Bian pun tertunduk, tertidur tepat di atas tangan Wafa yang sangat halus. Begitu terlihat nyaman setelah melihat senyum manis Bian saat tidur di atas tangan Wafa.


Pukul 11 malam, Wafa terbangun. Tatapan terus menelusuri ruangan tersebut dan nampak jelas jika ruangan tersebut adalah IGD. Sebenarnya dokter sudah menyarankan Wafa untuk rawat inap supaya Bian sendiri juga bisa tidur dengan nyaman. Namun Bian menolak dengan alasan, Wafa baik-baik saja dan dirinya merasa belum mendapatkan izin dari Wafa untuk rawat inap. Beda lagi jika Wafa mengalami luka serius dan mengharuskannya untuk rawat inap.


"Ini di ruang IGD? Aku kenapa, ya? Lalu, pria ini ... Pak Bian?" Wafa seketika panik ketika mengetahui Pak Bian tidur di atas tangannya.

__ADS_1


"Haduh, gimana cara membangunkannya? Pasti Pak Bian juga yang membawaku kemari," imbuhnya. "Malaikat pencatat amal buruk pasti sudah mencatatnya. Tanganku, ternodai oleh pipinya yang terasa halus, astaghfirullah hal'adzim."


Wafa mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Memang tidak mengalami amnesia atau pusing karena memang tidak terluka parah. Dia berhasil mengingat jika dirinya menabrak pohon sampai naik ke trotoar. Lalu, yang membuatnya pingsan karena dirinya belum makan sejak sore hari dan mengalami kelelahan karena pikiran dan juga berdebat dengan keluarganya.


"Bagaimana caranya membangunkannya? Astaghfirullah hal'adzim, ini malaikat pasti masih mencatat amal buruk karena kulit tanganku tersentuh oleh pria yang bukan mahramku," batin Wafa.


"Haduh, pasti ini malaikat Atid ada di sini. Tidak, sepertinya aku harus segera membuat malaikat Atid berhenti mencatat amal burukku!" serunya dalam hati.


Wafa mencoba menggerak-gerakkan jari tangannya. Memberi tanda tanda kepada Bian bahwa dirinya sudah terbangun. Namun sepertinya Bian tidur terlalu lelap. Sehingga tidak merasakan gerakan jari tangan Wafa.


"MasyaAllah, mana dia tidak bangun-bangun pula. Tidur apa pingsan, sih, sebenarnya?" Wafa mulai kesal.


Tidak ingin semakin lama malaikat Atid mencatat amal buruknya, Wafa terus menggerakkan jarinya. Bahkan, saat itu Wafa gerakan tangannya berusaha lepas dari pipinya Bian. Namun, tetap saja tidak bisa. Mau tidak mau Wafa harus mengambil keputusan memberanikan diri membangunkan Bian.


"Pak Bian, Pak Bian bangun, Pak,"


"Pak Bian, ini sepertinya sudah jam sebelas malam. Bapak tidak ada niatan gitu mengantar saya pulang atau Bapak yang pulang?"


"Pak Bian ...." suara yang terakhir ini terdengar sangat lembut.


Setelah dibangunkan beberapa kali dengan suara kelembutannya Wafa, akhirnya Bian terbangun juga. Ketika Bian bangun, dia langsung menanyakan kabar Wafa saat itu. "Bagaimana keadaanmu? Apa kamu sekarang merasa jauh lebih baik?" tanyanya.


"Alhamdulillah, atas izin Allah saya masih baik-baik saja. Lihat, saya masih bisa bernafas dan tubuh saya juga tidak ada luka sama sekali," jawab Wafa sedikit gugup karena saat itu Bian begitu dekat wajahnya dengan wajah Wafa.


Tatapan Bian begitu dalam sampai membuat Wafa tergugah perasaannya. "Baguslah kalau seperti itu. Kita mau ke mana setelah ini?" pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya Bian.

__ADS_1


Bagaimana jawaban Wafa?


__ADS_2