
Resiko mencintai dalam diam memang seperti itu. Jika tidak jujur, ya, pasti sakit hati karena memang cintanya tidak akan terbalaskan. Wafa duduk di balik jendela kamarnya sembari menghirup udara segar. Kembali ponselnya berdering mendapat panggilan telepon dari pria yang sedang dekat dengannya itu.
"Iya," jawab Wafa.
"Kita bertemu 15 menit lagi, bagaimana? Pekerjaan saya sudah selesai. Jika bisa, kita bertemu sesegera mungkin," ucap Bian tiba-tiba.
"Hah? Bagaimana mungkin saya menemui Bapak dalam waktu 15 menit? Pak, saya sedang acara di rumah, loh!" seru Wafa meski masih berbisik-bisik.
"Baiklah. Kalau begitu ... bagaimana jika saya ke rumah kamu saja? Kalau kamu hemat waktu, bukan?"
Wafa menjadi geram sendiri. Tapi tidak tahu mengapa dirinya tidak bisa marah kepada Bian. Alhasil, Wafa pun mengatakan bahwa dirinya akan segera sampai ke yayasan dalam waktu 15 menit.
"Saya akan ke yayasan. Bapak tunggu saja saya di sana, ya?"
Tanpa mengatakan apapun, Wafa bersiap untuk menemui Bian. Dia mengganti pakaiannya dan juga memakai kalung yang diberikan oleh Grietta kepadanya. Melihat dirinya di depan cermin besar di kamarnya, kemudian berusaha menutupi kantung matanya yang baru saja dipakai menangis.
"Bismillah aku kuat. Ustadz Zamil bukan jodohku dan aku harus ikhlas," gumamnya. "Mbak Sari juga cocok dengan Ustadz Zamil. Jadi, aku harus mendukungnya!" imbuhnya.
"Baiklah, Wafa. Pasang bibir senyummu dan tunjukkan jika kamu baik-baik saja! Semangat!"
Setelah menyemangati dirinya sendiri, Wafa keluar dari kamar dengan pakaiannya yang sudah rapi. Bertemulah Wafa dengan kakaknya. "Loh, Wafa. Kamu mau kemana?" tanyanya.
"Um, mau ke yayasan sebentar, Mbak, boleh?" jawab Wafa dengan senyuman terpaksa.
"Yayasan? Memangnya apa yang terjadi di sana, sehingga kamu harus kesana saat ini juga?" tanya Sari.
"Sebenarnya ada donatur yang mau datang tadi pagi. Tapi karena aku harus bantu Mbak Sari dan juga Abi mempersiapkan segalanya untuk menyambut keluarganya Ustadz Zamil, jadi ditunda deh!" jelas Wafa.
__ADS_1
"Nah, saat ini ... donatur itu tidak bisa lagi menunggu. Jadi mau tidak mau aku harus kayak yayasan saat ini juga," lanjut Wafa dengan hati-hati.
Sari terdiam. Dia melihat kesedihan di mata adiknya. Sangat jelas jika Wafa baru saja menangis. Tapi tetap saja Sari tidak pernah peka jika adiknya juga menyukai Ustadz Zamil.
"Memangnya kamu tidak mau makan bersama dengan kita? Jika tidak keberatan, yang mengatur itu bisa kamu undang ke rumah dan makan bersama dengan kita, bagaimana?" usul Sari.
"Haduh, usulan Mbak Sari ini malah membuatku semakin gelisah, galau, merana. Bagaimana mungkin aku membawa Pak Bian datang ke sini. Bagaimana cara aku menjelaskan kepada Mbak Sari dan Abi, bahwa aku menjalin hubungan dengan Pak Bian karena terpaksa?" batin Wafa.
Melihat adiknya yang bingung, Sari pun mengizinkan adiknya untuk pergi. Bagaimanapun juga, memang Wafa membutuhkan waktu untuk menata hatinya karena baru saja patah hati. Pria yang diidamkan melamar kakaknya.
"Pergilah—" ucap Sari lirih.
"Hah?" Wafa tidak mendengar.
"Pergilah. Mbak mengizinkan kamu pergi ke yayasan. Tapi bisa tidak balas sebentar saja? Tidak enak hati juga dengan keluarga Ustadz Zamil yang sudah jauh-jauh datang kemari," ujar Sari. "Tapi sebelum kamu pergi, kamu pamit dulu dengan Abi dan juga keluarga Ustadz Zamil, ya ...." lanjut Sari menyentuh bahu Wafa.
Wafa hanya mengangguk saja. Dia segera keluar menemui keluarga Ustadz Zamil lagi dan berpamitan jika ada hal yang mendesak di yayasan. Awalnya, sang Abi tidak mengizinkannya pergi. Tapi, berkat Sari, Abinya pun mengizinkan Wafa pergi sebentar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak Imin. Bisa antar saya ke yayasan sekarang?" Wafa sampai di pangkalan ojek di depan pesantren.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Walah, Mbak Wafa lagi. Ada apa to? Kok, kelihatannya terburu-buru?" tanya pak Imin.
"Ada tamu yang mau datang, Pak. Apa Bapak mau lihat Mbak Nur?" Wafa pun masih bisa menggoda di kala gempuran hatinya yang sedang terluka.
Diketahui, Pak Imin ini memang seorang bujang lapuk. Tapi, pak Imin memang memiliki seorang anak angkat laki-laki yang usianya tidak jauh dari Wafa. Pak Imin naksir dengan mbak Nur sudah sejak lama. Tapi, pak Imin hanya bisa sebatas mengagumi saja tanpa bisa memiliki karena memang kesadaran pak Imin sendiri.
"Hehehe, bukan seperti itu, Mbak Wafa. Lagipula, Mbak Nur juga dekat dengan Mas Benu nasi goreng. Saya mah apa!" seru pak Imin malu-malu.
__ADS_1
"Halah, Pak. Kalau suka jangan ditahan. Ntar, Mbak Nur sama Mas Benu duluan, Bapak malah sakit hati nanti. Sakit hati itu tidak enak, Pak. Beneran deh!" Wafa pun berlagak menasihati masalah hati. Padahal, dirinya sendiri juga sedang mengalami masalah hati.
Sekitar 15 menitan, Wafa sampai di yayasan. Di sana, sudah ada mobil milik Bian yang terparkir. Wafa turun dengan pelan dari motor dan bergumam dalam hatinya. "Astaghfirullah hal'adzim, bahkan dia sudah sampai?"
"Haduh, kenapa jantungku jadi deg-degan gini, ya? Jadi takut aku."
"Pak Imin, ini ongkosnya. Jangan jemput saya, soalnya saya nanti pulang sama Mbak Nur, sepertinya," ucap Wafa, memberikan ongkos ojeknya kepada pak Imin.
"Beres, Mbak Wafa. Terima kasih dan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" seru Pak Imin langsung pamit pulang.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati, Pak."
Setelah melihat Pak Imin jauh, Wafa pun masuk ke yayasan dengan langkah hati-hati. Memastikan jika memang tamunya itu adalah Bian. "Ternyata benar Pak Bian. Kenapa denganku ini, ya? Kok, jadi deg-degan gini?" batin Wafa mulai tidak karuan.
Sebelum masuk, Wafa menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan dengan perlahan. Mengucapkan salam dan berjalan dengan anggun di depan Bian dan Zaka Yang. "Selamat siang, Pak Bian." sapa Wafa dengan senyuman.
"Selamat siang juga, Nona Wafa," sahut Bian.
"Heh, sejak kapan manggilnya jadi Nona Wafa? Biasanya langsung bicara saja," batin Wafa bergejolak.
"Baik, Pak Bian. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Wafa, mencoba untuk profesional.
Bian menghela napas. "Saya ingin mengajak kamu keluar hari ini. Setengah jam lagi Grietta keluar dari sekolah. Bisakah kita keluar bertiga saja?" ajaknya.
Ting!
Seperti terdengar suara denting lonceng di telinga Wafa. Tidak paham dengan ajakan Bian itu. Wafa tiba-tiba menjadi gugup karena di sana juga ada mbak Nur yang terus saja menatapnya dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"Um, mohon maaf sebelumnya, Pak Bian. Tapi dalam rangka apa, ya, Pak Bian mengajak saya keluar?" Wafa mencoba untuk menyembunyikan perjanjiannya dengan Bian sehari lalu.
Bian paham. Dia menghela napas lagi dan menatap asisten pribadinya itu. Arti dari tatapan Bian itu adalah, meminta Zaka Yang supaya membawa Mbak Nur untuk keluar dari ruang tamu tersebut.