Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Sahabat Lucknut


__ADS_3

'Aku sangat tahu ini akan menjadi semakin rumit. Ya Allah, tolong maafkan aku.' batin Wafa.


Setelah Bian dan Zaka Yang pulang membawa Grietta, Wafa duduk diam di ruang tengah dengan lampu yang padam. Ia masih kepikiran dengan kata-kata Bian yang mengatakan jika akan ada banyak keluarganya yang datang ke rumah untuk mengikuti acara peringatan kematian ayahnya itu. Tentu saja hal tersebut membuat Wafa menjadi gugup.


Sementara itu, Bian yang berada di rumah sedang berdebat dengan Zaka Yang. Bian tahu jika Zaka Yang menceritakan tentang apartemen barunya itu.


"Tuan, saya melakukan ini hanya untuk anda. Saya hanya takut jika Nona Wafa akan pergi setelah ...." ucapan Zaka Yang terhenti, ada rahasia yang tidak seharusnya ia katakan.


"Setelah apa?" tanya Bian dengan raut wajahnya yang ketus. "Setelah apa, katakan!" sentaknya.


Zaka Yang menunduk, "Tidak, Tuan. Saya hanya ingin membuat Nona Wafa berada di sisi Tuan, saja. Tidak lebih. Maafkan saya jika perbuatan saya menjadikan keadaan Tuan lebih buruk." ucapnya lirih.


Pria gagah itu membalikkan tubuhnya, tak ada yang perlu diperbaiki karena memang itu sudah menjadi resikonya memutuskan sesuatu tanpa berdiskusi. Bian menatap Zaka Yang dengan tajam, "Sudahlah, lebih baik kau istirahat saja. Besok kau harus mengurus teman Wafa itu. Dia sangat berisik!"


Zaka Yang membungkukkan badannya, lalu pamit pergi dari ruangan itu. Grietta pun juga sudah bersama dengan pengasuhnya yang baru saja tiba juga.


Di ruangan yang gelap, ruangan dimana itu hanya Bian yang bisa masuk, pria bertubuh tegap itu memandangi sebuah bingkai yang pecah dengan tatapan kebencian. Tak terlihat foto siapa yang ada di bingkai tersebut, tapi tatapan sengit Bian sudah menunjukkan jika dia tengah menyimpan sebuah dendam.


"Aku tahu kalian semua akan datang nanti malam. Lihat saja, aku akan membuat kalian terbungkam malam nanti," desis Bian.


"Sudah saatnya untuk membahas hak waris, bukan? Hm, aku akan membuat kalian tidak dapat apapun dari harta ayahku." sambungnya dengan senyum sinis.


Malam semakin larut, Inneke terbangun di tengah malam karena gadis itu kelaparan.


"Ash, sialan. Mengapa aku jadi sering kebangun tengah malam seperti ini? Sungguh kebiasaan buruk, bisa-bisa aku nambah berat badan jika terus kelaparan di jam segini?" keluhnya.


Ketika hendak masuk dapur, ia mendengar ada suara yang mengaji di ruang tengah. Tentu saja itu adalah Wafa. Inneke tak mengganggunya, ia langsung masuk dapur dan memasak apa yang bisa ia makan malam itu.

__ADS_1


Beruntung saja makanan cepat saji yang ia pesan sore tadi masih sisa satu porsi. Jadi Inneke tak repot-repot lagi pesan makanan di jam tersebut. "Syukurlah, masih ada sisa satu porsi makanan. Ini jatah Grietta, untung saja tadi dia makan barengan sama Wafa," celetuknya.


"Astaga, iya! Wafa makan barengan Grietta. Pasti dia juga kelaparan," gumamnya. "Jangan-jangan dia tadarus karena menahan lapar? Wah, tidak bisa ini. Aku harus kongsi dengannya."


Sahabat sejati memang seperti itu, saking lamanya mereka bersahabat, Inneke sampai tahu jika Wafa sedang menahan lapar dengan bertadarus. Hal itu pernah Wafa lakukan ketika ia menginap di rumah Inneke dan disana tidak ada makanan sama sekali karena pembantu di rumah Inneke pulang kampung tanpa memberinya kabar.


Inneke rela menunggu Wafa selesai tadarus. Ia duduk manis di sampingnya sambil merebahkan punggungnya ke sofa disana.


"Shadaqallahul adzim ...." Wafa menutup tadarusnya.


"Kamu ngapain bangun jam segini?" tanya Wafa, menoleh ke arah sahabatnya.


Inneke langsung duduk dengan tegak, kemudian menunjukkan ayam dan ramen yang sudah ia panasi kembali. "Makan, yuk!" ajaknya. "Laper nih," sambungnya dengan mengusap perutnya.


"Buat kamu saja, aku tidak lapar," ucap Wafa, dengan senyuman.


Mendengar celetukan sahabatnya membuat Wafa tersenyum, kemudian membuka mulutnya dan menerima suapan darinya. Waga juga menyuapi Inneke dan mereka pun tertawa bersama.


"Oh, iya. Aku tidak sengaja dengar sore tadi ... si jomblo berkarat tanpa sertifikat itu membicarakan tentang apartemen ini, ya?" tanya Inneke penasaran.


Wafa mengerutkan keningnya. "Siapa jomblo berkarat tanpa sertifikat itu?" tanyanya


"Hish, siapa lagi jika bukan asisten Pak Bian, Zaka Yang!" jawab Inneke.


"Oh, aku pikir siapa. Bisa-bisanya Kamu menjuluki orang yang jauh lebih tua darimu dengan julukan buruk seperti itu. Tidak sopan namanya, Ke," tutur Wafa lirih.


Inneke memutar bola matanya. "Astaga, jawab saja pertanyaanku yang tadi. Emang benarkah apartemen ini dibeli Pak Bian untukmu?"

__ADS_1


Wafa meletakkan potongan ayam yang baru ia makan. Kemudian memalingkan wajahnya dari sahabatnya. Tak selang kemudian, barulah ia menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Untuk kejelasannya aku tidak tahu. Tapi yang aku baca di surat itu, pemilik dari apartemen ini adalah namaku," ungkapnya.


"DAEBAK!"


Sorakan Inneke sampai membuat Wafa terkejut. Gadis itu sampai istighfar dan mengelus-elus dadanya.


"Daebak! Daebak, Wafa! Kau sungguh keren sekali. Tidak menyangka saja jika kau adalah suhu yang sebenarnya," kata Inneke, menyentil lengan Wafa.


"Aku tidak menyangka saja, bisa-bisanya kamu memikat seorang duda kaya raya dan sampai mendapatkan apartemen semewah ini. Jika aku Jadi dirimu, aku akan pepet terus itu si duda sampai hartanya habis untukku, hahahaha ...." tawa Inneke membuat Wafa ikut tertawa.


Wafa mengatakan jika dirinya tidak tahu juga alasan Bian membelikannya sebuah apartemen mewah untuknya. Ia selalu beranggapan sejak sore tadi, jika apartemen itu dibeli dengan atas namanya hanya karena suatu saat akan diberikan pada Grietta.


"Apa katamu? Mana mungkin seperti itu, anjjirrr!" seru Inneke tidak terima dengan pemikiran Wafa.


"Aku sangat yakin jika apartemen ini memang dia beli untukmu, Wafa. Nikmati saja apa yang ada saat ini, suatu saat nanti jika kamu sudah tidak cocok dengan duda kaya itu, kamu bisa aja menjual apartemen ini, kemudian uangnya bisa buat kita foya-foya deh!" sambungnya bahagia.


Tetap saja itu hanyalah lelucon dari Inneke. Gadis yang penuh dengan kehebohan ini sangat yakin pada sahabatnya tidak mungkin memiliki pemikiran sepicik itu.


"Entahlah, Ke. Aku sendiri sejak tadi memikirkan mengapa apartemen nama kepemilikannya adalah namaku," ucap Wafa lirih. "Aku yakin Pak Bian memiliki suatu rencana yang tidak aku ketahui," imbuhnya.


"Tapi apa yang kamu katakan ini ada benarnya juga. Apa mungkin dia sedang bermasalah dengan keluarga besarnya, kemudian dia memintamu datang kemari untuk membantunya," tebak Inneke.


"Tidak mungkin kalau dia memintamu datang kemari hanya untuk menemani Grietta. Memangnya sebelumnya bagaimana, sebelum kamu hadir dalam kehidupan mereka? Wafa, seharusnya kau bertanya saja. Akan lebih baik jika suatu hal yang penting itu dibicarakan dan didiskusikan bersama-sama." tukas Inneke, bijak.


Apa yang dipikirkan oleh sahabatnya memang terpikirkan oleh Wafa juga. Wafa sangat yakin jika Bian mengajaknya kembali ke negaranya karena ada suatu hal yang memang membutuhkan kehadiran dirinya.

__ADS_1


Lalu, apakah benar seperti itu?


__ADS_2